Sienna tiba di gedung kantor dengan perasaan yang masih campur aduk antara lelah, canggung, dan sedikit euforia dari kejadian semalam. Sebagai seorang manajer pemasaran, ia sudah terbiasa datang lebih pagi dari kebanyakan karyawan. Mengenakan blazer rapi dan tas kerja di bahu, ia melangkah masuk ke lobi dengan langkah profesional seperti biasanya.
Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, suasana terasa berbeda. Beberapa karyawan yang biasanya hanya menyapa sekilas kini tersenyum lebih lebar. Ada yang menunduk sopan, ada pula yang berbisik pelan sambil melirik ke arahnya dengan ekspresi tak biasa. Sienna baru saja hendak bertanya-tanya dalam hati ketika sebuah tangan menarik lengannya dengan cepat.
“Sienna!” suara itu nyaris berbisik tapi penuh semangat. “Ikut aku sebentar!”
Itu Laras.
Asisten pribadinya sekaligus sahabat terdekatnya sejak kuliah. Rambut Laras yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, wajahnya memerah karena terlalu bersemangat. Ia menarik Sienna ke sudut koridor dekat ruang arsip yang relatif sepi.
Sienna mengerjap bingung. “Ada apa, Laras? Kamu kelihatan seperti habis melihat hantu.”
“Bukan hantu,” bisik Laras heboh. “Lebih heboh dari itu. Kamu tahu nggak? Kamu dan suamimu jadi hot topik di kantor sejak pagi!”
“Apa?” dahi Sienna langsung berkerut. “Maksudmu?”
Laras memegang bahu Sienna dengan kedua tangannya. “Semalam, banyak klien penting dan rekan bisnis yang menghadiri pernikahan itu. Ternyata beberapa dari mereka juga punya relasi dengan perusahaan kita. Dan begitu mereka tahu kamu adalah Sienna manajer pemasaran di sini— beritanya langsung menyebar!”
Sienna terdiam beberapa detik, mencoba mencerna. “Menyebar … soal apa?”
“Soal kamu datang ke pesta itu dengan sangat memukau bersama suamimu,” jawab Laras cepat-cepat. “Dan terutama … kalung berlian yang kamu pakai!”
Sienna refleks menyentuh lehernya. Kosong. Hari ini ia hanya mengenakan kalung perak sederhana.
“Kalung berlian?” ulangnya pelan.
“Iya!” Laras mendengus kecil penuh penyesalan. “Yang biru itu! Yang berkilau seperti bintang jatuh! Semua orang membicarakannya. Bahkan ada yang bilang itu koleksi yang belum dirilis ke publik. Tapi kenapa kamu nggak memakainya sekarang?”
Sienna terkekeh kecil. “Tentu saja aku nggak memakainya ke kantor, Laras. Ini tempat kerja.”
Laras memandangnya dramatis. “Justru itu sayangnya! Andai kamu memakainya, lantai ini mungkin langsung berubah seperti runway.” Ia menggeleng-geleng. “Kamu tahu nggak, beberapa staf senior saja tadi pagi sampai mencari-cari kamu.”
Sienna tercengang. “Mencari aku? Buat apa?”
Laras menurunkan suaranya. “Katanya, mereka baru tahu siapa sebenarnya suamimu. Meski dia masih sangat muda, tapi reputasi keluarganya … bukan main.”
Sienna terdiam sejenak. Ia teringat ucapan Arden semalam, bahwa berita itu akan menyebar cepat. Ternyata jauh lebih cepat dari dugaannya.
Mereka akhirnya berjalan menuju ruang kerja Sienna. Saat melintasi open office, benar saja, perubahan sikap orang-orang semakin terasa nyata. Beberapa karyawan yang biasanya bersikap biasa kini berdiri memberi salam lebih formal. Ada yang tersenyum gugup, ada pula yang mengangguk penuh hormat.
“Selamat pagi, Bu Sienna.” “Pagi, Bu.” “Semoga harinya menyenangkan, Bu Sienna.”
Sienna hanya membalas dengan senyum sopan, meski hatinya terasa geli sekaligus kaku. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Selama ini ia dikenal karena kinerjanya, bukan karena kehidupannya di luar kantor.
Begitu sampai di ruangannya, Laras menutup pintu dan menatap Sienna penuh arti. “Lihat, kan? Semua orang berubah.”
Sienna meletakkan tas di meja dengan gerakan pelan. “Aku nggak menyukai perlakuan berlebihan seperti ini.”
“Tapi ini realitasnya, Sienna,” ujar Laras lebih serius. “Semalam kamu nggak hanya tampil sebagai kakak pengantin. Kamu tampil sebagai istri seorang pria yang … punya pengaruh besar.”
Sienna bersandar di kursinya, mengembuskan napas pelan. “Aku hanya datang untuk memberi selamat pada adikku. Nggak lebih.”
Laras tersenyum kecil. “Tapi dunia nggak melihatnya sesederhana itu.”
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, pintu diketuk. Seorang manajer divisi lain masuk dengan wajah yang jauh lebih ramah dari biasanya.
“Selamat pagi, Bu Sienna. Saya hanya ingin memastikan jadwal meeting siang ini. Dan … selamat atas pernikahan adik Anda,” ucapnya sopan dengan senyum dibuat-buat.
Sienna mengangguk tenang. “Terima kasih. Jadwal masih sesuai seperti semula.”
Pria itu mengangguk cepat dan segera pamit, meninggalkan suasana canggung. Begitu pintu tertutup, Laras langsung berbisik, “Biasanya dia nyaris nggak pernah menyapamu sepagi ini.”
Sienna hanya tersenyum tipis. “Aku ingin mereka tetap melihatku sebagai Sienna, manajer pemasaran yang bekerja dengan target dan strategi. Bukan karena siapa suamiku.”
Laras menepuk bahunya dengan lembut. “Aku tahu. Tapi hari ini … sepertinya kamu akan merasakan perbedaan itu di setiap sudut kantor.”
Dan benar saja, hari itu berjalan dengan suasana yang benar-benar berbeda. Setiap ide yang disampaikan Sienna dalam rapat didengarkan dengan lebih serius. Setiap keputusan yang ia ambil hampir tidak lagi diperdebatkan. Rasa hormat yang biasanya dibangun bertahun-tahun, pagi itu seperti datang dalam sekejap, bukan karena kemampuannya saja, tetapi karena sosok di sampingnya semalam.
Di balik semua itu, Sienna justru merasa ada beban tak terlihat yang ikut menempel pada langkahnya.
Ia menatap leher kosongnya sejenak dalam pantulan kaca jendela ruangannya. Tanpa kalung berlian itu, nyatanya dunia masih melihatnya … berbeda.
Rapat baru saja selesai ketika para manajer mulai berdiri dan berkemas, tetapi Sienna belum sempat bangkit dari kursinya saat seseorang memanggil namanya dengan nada setengah formal, setengah penuh maksud.
“Sienna, sebentar saja.”
Sienna menoleh. Pak Herman, wakil direktur utama, berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun. Ia memberi isyarat agar Sienna mengikutinya keluar ruangan. Dengan sopan, Sienna berdiri dan mengikuti langkah pria paruh baya itu menuju salah satu sudut lorong yang lebih tenang.
Pak Herman berhenti dan berdeham kecil. “Sienna, saya ingin menyampaikan sesuatu yang … sebenarnya sudah ingin saya bicarakan sejak pagi.”
Sienna mengangguk, menunggu. “Saya mendengar kabar mengenai acara semalam.” Pak Herman tersenyum makin lebar. “Saya juga melihat beberapa foto yang tersebar. Anda dan suami Anda terlihat sangat … luar biasa.”
Sienna hanya mampu tersenyum kaku. “Terima kasih, Pak. Itu hanya acara keluarga.”
“Nah, justru itu.” Pak Herman merapat sedikit, seolah ingin memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar. “Saya berpikir … bagaimana kalau kita mengadakan makan malam bersama? Saya, istri saya, Anda, dan suami Anda.”
Sienna langsung terbelalak. “Makan malam … berempat, Pak?”
“Iya!” jawabnya cepat dan penuh semangat. “Saya ingin berkenalan dengan beliau. Selain itu, menurut saya akan sangat baik jika kita bisa menjalin hubungan lebih dekat secara personal. Kalau Anda berkenan, tentu saja.”
Sienna menelan ludah. Ia tahu apa maksudnya. Ini bukan sekadar makan malam. Ini adalah kesempatan emas bagi seorang wakil direktur untuk memperkuat relasi dengan suami Sienna, yang kini dianggap seseorang dengan status dan pengaruh besar.
“Pak Herman ….” Sienna mencoba berbicara hati-hati. “Sejujurnya saya nggak yakin suami saya akan setuju. Dia … bukan tipe yang suka acara formal.”
“Ah, saya mengerti!” Pak Herman mengangkat tangan, tetapi rautnya berubah memohon. “Tapi tolong coba dibicarakan, ya, Sienna. Saya dan istri benar-benar akan merasa terhormat.”
“Baiklah, Pak.” Akhirnya Sienna menjawab pelan. “Saya akan … memikirkannya dulu. Dan saya akan tanyakan pada suami saya.”
Wajah Pak Herman langsung berseri-seri seperti lampu yang baru dinyalakan. “Wah, bagus sekali! Silakan, silakan. Nggak perlu terburu-buru. Saya tunggu kabarnya.”
Sienna membungkuk sopan dan melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, napasnya terasa berat.