"Jika kau datang ke sini untuk meminta belas kasihan, sebaiknya kau lompat saja dari jendela itu sekarang. Itu akan lebih cepat dan tidak terlalu menyakitkan dibandingkan apa yang akan kulakukan padamu." Suara itu berat, dingin, dan tidak memiliki sepercik pun kehangatan manusiawi. Elara Winata membeku di ambang pintu mahoni raksasa itu. Kakinya yang gemetar terasa dipaku ke lantai marmer yang dingin, seolah gravitasi di ruangan ini bekerja dua kali lebih kuat hanya untuk menghancurkannya. Di ujung ruangan yang luasnya menyerupai lapangan tenis itu, duduk seorang pria di balik meja kerja dari kayu eboni hitam yang mengilap. Pria itu membelakanginya, menatap hamparan langit kelabu kota Jakarta dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Dante Ragnor. Nama yang tujuh tahun lalu ia ucapkan dengan penuh cinta di sela-sela ciuman manis di atas motor tua, kini menjadi nama yang ia takuti melebihi kematian. "Aku... aku tidak datang untuk meminta belas kasihan," suara Elara terdengar parau, tercekik oleh gumpalan rasa malu yang menyumbat tenggorokannya. Ia meremas ujung roknya yang sudah pudar warnanya, satu-satunya pakaian layak yang tersisa di lemarinya. Kursi kulit itu berputar perlahan. Suara mekanik halusnya terdengar seperti kokangan senjata di telinga Elara. Saat wajah Dante akhirnya terlihat, napas Elara tercekat. Pria itu bukan lagi pemuda kurus dengan senyum matahari yang dulu ia kenal. Dante yang duduk di sana adalah jelmaan kekuasaan absolut. Bahunya lebar terbalut setelan jas handmade Italia yang harganya mungkin bisa membeli rumah Elara yang kini disita bank. Wajahnya keras, rahangnya tegas seolah dipahat dari batu granit, dan matanya... mata itu segelap malam tanpa bintang. Tajam, menghunus, dan penuh dengan kebencian yang menyala-nyala. Dante menatap Elara dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang merendahkan. Ia melihat sepatu hak rendah Elara yang kulitnya mulai mengelupas, gaun kerjanya yang murahan, dan wajahnya yang pucat tanpa riasan mahal. "Tentu saja," desis Dante, bibirnya melengkung membentuk senyuman sinis yang mengerikan. "Kau adalah Elara Winata. Putri tunggal konglomerat properti. Wanita yang menganggap debu di sepatunya lebih berharga daripada nyawa orang miskin. Mana mungkin kau meminta belas kasihan?" Dante berdiri, menjulang tinggi dan mendominasi ruangan. Ia berjalan perlahan memutari mejanya, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal, seperti predator yang mengitari mangsanya yang terluka. "Jadi, katakan padaku, Nona Winata," Dante berhenti tepat dua langkah di depan Elara. Aroma musk, tembakau mahal, dan bahaya menguar darinya, membuat kepala Elara pening. "Angin sial apa yang membawamu ke gedung Ragnor Enterprise? Apakah kau tersesat saat mencari butik Paris, atau kau datang untuk menghinaku lagi?" Elara memejamkan mata sejenak, menahan perih di dadanya. Ingatan masa lalu menghantamnya tanpa ampun. Tujuh tahun lalu, di bawah hujan deras, ia harus mematahkan hati Dante demi menyelamatkan nyawa ibu pria itu dari ancaman ayahnya sendiri. "Kau hanya anak sopir, Dante! Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Aku hanya bosan dan butuh mainan!" Kata-kata itu. Kebohongan itu. Itu adalah pisau yang ia tancapkan sendiri ke jantung Dante, dan kini pisau itu kembali untuk menggorok lehernya. Elara membuka matanya, menatap lurus ke dada bidang Dante karena ia tak sanggup menatap matanya. "Perusahaan Ayah... bangkrut. Kami memiliki utang lima puluh miliar rupiah yang jatuh tempo besok. Jika tidak dibayar, Ayah akan dipenjara." Keheningan yang menyiksa menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar detak jam dinding antik yang seirama dengan detak jantung Elara yang memburu. Dante tertawa pelan. Tawa yang kering dan tanpa humor. "Lima puluh miliar. Jumlah yang fantastis untuk orang biasa, tapi hanya uang receh bagiku saat ini." Ia melangkah lebih dekat, menundukkan wajahnya hingga napas hangatnya menyapu telinga Elara. "Dan kau pikir, aku akan peduli? Kau pikir aku akan membuka dompetku dan menyelamatkan pria tua sombong yang dulu pernah menyuruh satpam menyeret ibuku keluar dari rumah kalian seperti anjing?" Tubuh Elara tersentak. Rasa bersalah itu menggerogotinya. Ia tahu betapa kejamnya ayahnya dulu. Tapi bagaimanapun, itu ayahnya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah ibunya meninggal. "Aku akan melakukan apa saja," bisik Elara, suaranya hampir tak terdengar. "Aku akan bekerja. Aku akan menjadi pelayanmu, sekretarismu, apapun... Tolong, Dante. Hanya kau yang bisa menolong kami. Bank menolak kami, teman-teman Ayah menghilang..." "Teman," potong Dante tajam. Ia kembali berjalan menuju mejanya, mengambil sebuah gelas kristal berisi cairan ambar, lalu meminumnya sekali teguk. "Kau baru belajar sekarang, Elara? Bahwa uang adalah satu-satunya bahasa yang dimengerti dunia ini? Saat kau punya uang, kau adalah tuhan. Saat kau miskin, kau adalah sampah. Itu pelajaran yang kau ajarkan padaku tujuh tahun lalu." Dante membanting gelas kristal itu ke dinding. PRANG! Pecahan kaca berserakan di lantai. Elara memekik tertahan, mundur selangkah. Bahunya gemetar hebat. Ketakutan mulai merayapi tulang punggungnya, tapi ia menanamkan kakinya kuat-kuat. Ia tidak boleh lari. Ia tidak punya tempat untuk lari. "Aku butuh pinjaman itu," kata Elara, mencoba terdengar tegas meski suaranya bergetar. "Aku akan membayarnya kembali. Aku janji. Beri aku bunga berapa pun yang kau mau." Dante menatap pecahan gelas di lantai, lalu menatap Elara dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kilatan kepuasan di sana, bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih gelap—obsesi. "Kau tidak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan, Elara. Rumahmu sudah disita. Asetmu nol. Namamu sudah masuk daftar hitam bank. Jaminan apa yang bisa kau tawarkan padaku? Ginjalmu? Harganya tidak sampai satu miliar." Elara terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, panas dan menyengat. Ia tahu Dante benar. Ia tidak punya apa-apa lagi selain nyawanya yang tidak berharga. "Apa yang kau inginkan, Dante?" tanya Elara akhirnya, menyerahkan sisa-sisa pertahanannya. Dante tersenyum miring. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah map berwarna hitam, dan melemparkannya ke ujung meja. Map itu meluncur dan berhenti tepat di depan Elara. "Buka." Dengan tangan gemetar, Elara meraih map itu. Ia membukanya dan membaca judul dokumen di dalamnya. PERJANJIAN PERNIKAHAN. Mata Elara membelalak. Ia mendongak menatap Dante, bingung dan terkejut. "Pernikahan? Kau... kau ingin menikahiku?" Ada seberkas harapan liar di dadanya. Apakah mungkin Dante masih mencintainya? Apakah di balik semua kebencian ini, pria itu masih menginginkannya kembali? Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat ia melihat ekspresi Dante. Itu bukan ekspresi seorang pria yang melamar kekasihnya. Itu adalah ekspresi seorang pembeli yang sedang menawar barang dagangan di pasar loak. "Jangan salah paham, Sayang," ujar Dante dingin, seolah bisa membaca pikiran Elara. "Aku tidak menikahimu karena cinta. Cinta itu ilusi untuk orang bodoh. Aku menikahimu karena aku butuh istri untuk membungkam para pemegang saham yang rewel tentang citra 'pria lajang liar'-ku. Dan siapa yang lebih baik untuk peran itu selain wanita yang pernah menginjak-injak hatiku?" Dante berjalan mendekat lagi, kali ini ia mencengkeram dagu Elara dengan kasar, memaksanya mendongak. Jari-jarinya terasa panas di kulit Elara yang dingin. "Pernikahan ini bukan tentang bahagia selamanya, Elara. Ini adalah akuisisi. Aku membeli hidupmu seharga lima puluh miliar. Kau akan menjadi istriku, tinggal di rumahku, melayaniku, dan mematuhi setiap perintahku." Dante mendekatkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Elara yang basah. "Kau akan menjadi trofi kemenanganku. Setiap hari, aku ingin melihatmu di rumahku dan mengingatkan diriku sendiri bahwa wanita yang dulu menolakku karena aku miskin, sekarang hanyalah pelacur berkelas yang kubeli untuk menghangatkan ranjangku dan membersihkan rumahku." Air mata Elara akhirnya tumpah, mengalir membasahi jari-jari Dante yang mencengkeram rahangnya. Sakit. Rasanya jauh lebih sakit daripada saat ia kelaparan berhari-hari. Dante tidak hanya ingin uangnya kembali, ia ingin menghancurkan jiwa Elara. Ia ingin membalas dendam dengan cara yang paling lambat dan menyiksa. "Bagaimana jika aku menolak?" tanya Elara lirih. Dante melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat wajah Elara terpaling. "Silakan. Pintu keluar ada di sana. Tapi ingat, saat kau melangkah keluar dari ruangan ini, aku akan menelepon kenalanku di kejaksaan untuk mempercepat proses penahanan ayahmu. Dia akan membusuk di sel penjara yang penuh dengan tikus dan penjahat yang tidak sabar bertemu dengan mantan orang kaya." Elara terisak pelan. Ia membayangkan wajah ayahnya yang tua dan sakit-sakitan. Ayahnya tidak akan bertahan seminggu di penjara. Pilihan itu bukanlah pilihan. Itu adalah vonis mati. Elara menatap dokumen di tangannya. Huruf-huruf di kertas itu tampak kabur oleh air matanya. Hak asuh penuh atas kehidupan pihak kedua... Kepatuhan mutlak... Larangan bekerja... Larangan keluar rumah tanpa izin... Ini bukan pernikahan. Ini perbudakan yang disahkan oleh hukum dan agama. Tapi kemudian, bayangan wajah Dante tujuh tahun lalu—saat pria itu tersenyum tulus memberikannya sebungkus nasi goreng yang ia beli dari hasil ngojek seharian—melintas di benaknya. Cinta itu. Cinta yang dulu ia korbankan, kini telah berubah menjadi monster. Dan Elara tahu, dialah yang menciptakan monster ini. Ini adalah hukumannya. Ini adalah penebusan dosanya. Elara mengambil pena emas yang tergeletak di meja. Tangannya gemetar begitu hebat hingga ia harus memegang pergelangan tangannya sendiri dengan tangan kiri agar bisa menulis. "Bagus," bisik Dante, suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Tanda tangani jiwamu untukku, Elara." Ujung pena menyentuh kertas. Tinta hitam menggoreskan nama Elara Winata di atas garis yang tersedia. Dengan goresan terakhir itu, Elara tahu hidupnya sebagai manusia merdeka telah berakhir. Ia meletakkan pena itu dan menunduk, tidak berani menatap Dante. "Sudah. Sekarang... tolong transfer uangnya. Penagih utang ada di rumah sakit tempat Ayah dirawat." Dante mengambil kertas itu, memeriksa tanda tangannya dengan puas, lalu melipatnya dan memasukkannya ke saku jasnya. Ia tidak langsung menjawab. Ia berjalan kembali ke kursi kebesarannya, duduk dengan santai, dan menatap Elara yang berdiri kaku di tengah ruangan. "Transfer uangnya?" Dante terkekeh pelan. "Aku akan mengurusnya nanti. Tapi sebelum itu, ada satu hal lagi yang harus kau lakukan untuk meresmikan kesepakatan ini." Elara mendongak, matanya yang sembab menyiratkan ketakutan. "A-apa lagi? Aku sudah menandatanganinya." Wajah Dante berubah datar, dingin, dan kejam. Ia menunjuk lantai marmer tepat di samping sepatu kulit mahalnya yang mengkilap. "Aku ingin melihat seberapa rendah kau bisa jatuh demi uang ini, Elara." Suara Dante menggelegar memenuhi ruangan, membuat kaca-kaca jendela bergetar. "Berlutut." Jantung Elara berhenti berdetak sesaat. Harga dirinya menjerit, memberontak. Ia adalah Elara Winata. Ia dididik untuk tidak pernah menunduk pada siapa pun. "Dante... tolong..." "Berlutut!" bentak Dante, kali ini suaranya penuh amarah yang meledak. "Atau kontrak ini batal dan ayahmu mati di penjara!" Elara memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata terakhir jatuh membasahi pipinya. Ia menarik napas panjang yang gemetar, lalu perlahan-lahan menekuk lututnya. Bruk. Lututnya menghantam lantai keras yang dingin. Ia menundukkan kepalanya, merendahkan dirinya di hadapan pria yang dulu memuja tanah yang ia pijak. Di atas sana, Dante menatap puncak kepala Elara. Tidak ada rasa puas di matanya seperti yang ia harapkan. Yang ada hanya rasa hampa yang menyakitkan di dadanya, seolah melihat Elara berlutut justru melukai dirinya sendiri lebih dalam. Namun, ia segera menepis perasaan itu dan menggantinya dengan topeng kebencian yang sempurna. "Selamat datang di neraka barumu, Istriku," bisik Dante dingin. "Permainan baru saja dimulai."
Sumpah Di Atas Luka-Membayar Dendam-Bab 1
Penulis
Miss_Eunoia
22 January 2026