Lutut Elara terasa kebas, bukan karena dinginnya lantai marmer, melainkan karena rasa malu yang telah membekukan seluruh saraf di tubuhnya. Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekam, hanya diisi oleh suara napas Dante yang teratur di atas kepalanya. Pria itu berdiri di sana seperti dewa kematian yang baru saja memanen satu jiwa lagi. "Berdiri." Perintah itu terdengar datar, tanpa emosi, namun memiliki otoritas yang mutlak. Elara mencoba bangkit, namun kakinya goyah. Ia terhuyung, nyaris jatuh kembali jika bukan karena tangan besar Dante yang menyambar lengannya. Cengkeraman itu kuat, menyakitkan, dan panas. Untuk sepersekian detik, Elara merasakan sengatan listrik yang familiar—sisa-sisa kenangan saat sentuhan Dante adalah satu-satunya rumah baginya. Namun, Dante segera melepaskannya seolah kulit Elara adalah bara api yang membakar tangannya. "Jangan berpikir aku membantumu karena peduli," ujar Dante dingin, sambil merapikan manset kemejanya yang tak kusut sedikit pun. "Aku hanya tidak ingin kau pingsan dan menunda jadwalku. Kita punya waktu satu jam untuk meresmikan lelucon ini." Elara menopang tubuhnya pada tepi meja kerja Dante. Kepalanya masih pening. "Meresmikan... apa?" Dante menekan tombol interkom di mejanya. "Bawa masuk berkas pelunasan dan panggil sopir. Kita berangkat sekarang." Ia melepas jarinya dari tombol dan menatap Elara dengan tatapan mencemooh. "Pernikahan kita, tentu saja. Kau pikir aku akan membiarkanmu pulang, mengepak barang, dan menangis semalaman di bantalmu? Tidak, Elara. Saat kau menandatangani kertas itu, kau adalah milikku. Detik ini juga." Pintu ruangan terbuka. Seorang asisten pria berwajah kaku masuk membawa map merah dan bukti transfer. Ia tidak berani menatap Elara yang berantakan dengan mata sembab dan lutut kotor. "Utang ayah Anda di Bank Sentral Asia dan tiga kreditur swasta lainnya sudah dilunasi, Nona Winata," kata asisten itu dengan nada formal, menyerahkan bukti transfer pada Elara. "Total lima puluh dua miliar rupiah, termasuk bunga keterlambatan." Elara menatap kertas di tangannya. Angka-angka itu berbaris rapi, bukti bahwa kebebasannya telah resmi terbeli. Ayahnya selamat. Perusahaan keluarga mungkin masih bisa bernapas. Tapi dirinya? Ia baru saja menjual masa depannya. "Ayo," Dante sudah melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh. "Jangan membuatku menunggu."
Perjalanan menuju kantor catatan sipil terasa seperti iring-iringan menuju tiang gantungan. Elara duduk di kursi belakang Rolls-Royce Phantom milik Dante, terpisah jarak sejauh mungkin dari pria itu. Dante sibuk dengan tabletnya, memeriksa saham dan membalas email, seolah wanita di sebelahnya hanyalah tas belanjaan yang baru ia beli dan lemparkan ke kursi belakang. Elara menatap pantulan dirinya di jendela mobil yang gelap. Ia tampak menyedihkan. Gaun kerjanya kusut, rambutnya yang dulu selalu tertata rapi kini sedikit acak-acakan, dan matanya bengkak. "Kau tidak akan memberiku kesempatan berganti pakaian?" tanya Elara lirih, memecah keheningan yang menyesakkan itu. Dante tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet. "Untuk apa? Tidak akan ada tamu. Tidak ada pesta. Tidak ada fotografer majalah sosialita yang akan memujimu. Kau hanya akan menandatangani akta pernikahan di depan petugas dan pengacara." Jari Dante berhenti mengetuk layar. Ia menoleh perlahan, tatapannya menyapu penampilan Elara dengan sorot mata menilai yang kejam. "Lagipula," lanjutnya dengan seringai tipis yang menyakitkan, "penampilanmu yang berantakan sangat cocok dengan situasi ini. Seorang putri yang jatuh, dijual dengan harga diskon. Mengapa harus repot-repot membungkus sampah dengan kertas kado yang indah?" Kata-kata itu menembus dada Elara, tapi ia tidak membalas. Ia telah belajar satu hal dalam satu jam terakhir: melawan Dante hanya akan memberi pria itu kepuasan. Dante ingin melihatnya marah, ingin melihatnya hancur. Elara bersumpah, ia tidak akan memberikan kepuasan itu. Ia akan menjadi patung. Dingin, bisu, dan tak tersentuh. Mobil berhenti di depan sebuah gedung pemerintahan. Bukan gereja megah dengan dekorasi bunga lili putih seperti pernikahan impian Elara dulu. Ini hanya bangunan beton abu-abu yang suram. Mereka turun. Dante berjalan cepat, memaksa Elara setengah berlari untuk menyamakan langkah. Di sebuah ruangan kecil di lantai dua, seorang petugas catatan sipil dan dua orang pengacara Dante sudah menunggu. Ruangan itu berbau kertas tua dan debu. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, menambah kesan suram suasana itu. Tidak ada janji suci yang diucapkan dengan penuh haru. Tidak ada "dalam suka dan duka". Petugas itu membaca pasal-pasal pernikahan dengan nada monoton, seolah sedang membacakan menu makan siang. "Saudara Dante Ragnor, apakah Anda bersedia menerima Elara Winata sebagai istri sah Anda?" Dante menatap lurus ke depan, ke dinding kosong di belakang petugas. Rahangnya mengeras. "Saya bersedia." Suaranya berat, tanpa keraguan, namun terdengar seperti seseorang yang sedang menyetujui kontrak bisnis yang berisiko tinggi. "Saudari Elara Winata?" Elara merasakan tenggorokannya tercekat. Ia melirik Dante dari sudut matanya. Pria itu sama sekali tidak melihatnya. Sosoknya begitu dekat, namun terasa beribu-ribu kilometer jauhnya. Tujuh tahun lalu, Elara pernah membayangkan momen ini. Ia membayangkan Dante menggenggam tangannya, menatap matanya dengan penuh cinta, dan berjanji akan membahagiakannya seumur hidup. Kini, momen itu terjadi, tapi rasanya seperti mimpi buruk. "Saudari Elara?" Petugas itu mengulangi, sedikit tidak sabar. Elara menarik napas gemetar. "Saya... bersedia." "Silakan tanda tangan di sini." Setelah pena diletakkan kembali, pengacara Dante menyodorkan sebuah kotak beludru hitam. Dante mengambilnya dan membukanya. Di dalamnya, berkilau sebuah cincin berlian solitaire yang sangat besar. Terlalu besar. Itu bukan cincin pernikahan yang elegan; itu adalah cincin yang berteriak tentang kekayaan dan kepemilikan. Cincin yang dirancang untuk pamer, bukan untuk dicintai. Dante meraih tangan kiri Elara dengan kasar. Ia menyematkan cincin itu di jari manis Elara. Cincin itu sedikit longgar, terasa berat dan dingin di kulit Elara. "Mulai hari ini," bisik Dante saat wajahnya mendekat, seolah hendak mencium Elara namun berbelok ke telinganya. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Elara meremang. "Kau bukan lagi Elara Winata. Kau adalah Nyonya Ragnor. Dan menjadi Nyonya Ragnor berarti kau tidak memiliki hak suara, tidak memiliki kehendak, dan tidak memiliki jalan keluar. Kau milikku sampai aku bosan memainkanku." Dante menarik wajahnya menjauh. Tidak ada ciuman pengantin. Ia hanya membalikkan badan dan berkata pada pengacaranya, "Selesai. Urus sisanya."
Malam itu, Elara dibawa ke Penthouse Dante yang terletak di lantai teratas gedung pencakar langit tertinggi di Jakarta. Tempat itu luar biasa mewah, dengan dinding kaca yang menyajikan pemandangan kelap-kelip lampu kota yang memukau. Namun, seperti pemiliknya, tempat itu terasa dingin dan tanpa jiwa. Semuanya berwarna monokrom—hitam, abu-abu, putih. Tidak ada foto keluarga, tidak ada tanaman, tidak ada sentuhan personal. Seperti ruang pameran furnitur yang tidak dihuni manusia. "Kamar pelayan ada di ujung lorong dekat dapur," ujar Dante sambil melemparkan jasnya ke sofa kulit seharga ratusan juta. "Barang-barangmu dari rumah lamamu sudah dipindahkan ke sana." Elara terpaku di tengah ruang tamu yang luas. "Kamar... pelayan?" Dante melonggarkan dasinya, menatap Elara dengan alis terangkat. "Tentu saja. Kau pikir kau akan tidur di kamar utama? Di ranjangku?" Ia tertawa meremehkan. "Ranjangku hanya untuk wanita yang kuinginkan, Elara. Dan saat ini, menatapmu saja sudah membuatku kehilangan selera." Penghinaan itu datang bertubi-tubi, tak memberi Elara waktu untuk bernapas. Ia menelan ludah, menahan rasa perih yang merambati dadanya. "Baik. Apa tugasku?" "Tugasmu?" Dante berjalan menuju minibar, menuangkan wiski ke dalam gelas. "Malam ini, tugasmu adalah tidak terlihat olehku. Masuk ke kamarmu, kunci pintunya, dan jangan keluar sampai aku panggil." Elara mengangguk kaku. Ia berbalik hendak menuju lorong yang ditunjuk Dante, tapi suara pria itu menghentikannya lagi. "Oh, dan satu lagi," kata Dante sebelum menyesap wiskinya. "Jangan menungguku malam ini." Elara menoleh. "Kau mau ke mana? Ini... ini malam pertama kita." Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Elara karena kebiasaan norma sosial, dan ia langsung menyesalinya begitu melihat kilatan geli di mata Dante. "Malam pertama?" Dante terkekeh, lalu berjalan mendekati Elara dengan langkah santai namun mengintimidasi. "Jangan bilang kau mengharapkan hubungan suami istri yang romantis, Sayang? Kau berharap aku menggendongmu ke tempat tidur dan bercinta denganmu sampai pagi?" Wajah Elara memanas. "Bukan... bukan begitu maksudku." "Aku akan pergi ke Club Vois," potong Dante tajam. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat. "Ada pesta pembukaan. Banyak model, banyak teman lama, dan banyak wanita yang jauh lebih tahu cara memuaskan pria daripada seorang putri bangkrut yang kaku sepertimu." Dante menyambar kunci mobil sport-nya dari meja. Ia berjalan melewati Elara, bahunya sengaja menabrak bahu wanita itu dengan cukup keras hingga Elara terhuyung. "Tidur yang nyenyak, Istriku," ujar Dante tanpa menoleh. "Nikmati sangkar emasmu." Pintu penthouse terbanting tertutup, meninggalkan gema yang memantul di dinding-dinding kosong. Elara berdiri sendiri di tengah kemewahan yang sunyi itu. Ia menatap cincin berlian raksasa di jari manisnya yang terasa semakin berat. Perlahan, ia berjalan menuju lorong pelayan. Ia membuka pintu kamar yang ditunjuk Dante. Kamar itu sempit. Hanya ada satu ranjang kecil seukuran asrama, sebuah lemari kayu sederhana, dan jendela kecil yang menghadap ke tembok gedung sebelah. Di sudut ruangan, tertumpuk koper-koper berisi pakaian lamanya—satu-satunya harta yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya. Elara duduk di tepi ranjang yang keras. Ketahanan yang ia bangun sejak pagi perlahan retak. Ia tidak menangis karena sedih. Ia menangis karena ia sadar, Dante tidak main-main. Pria itu benar-benar berniat menghapus keberadaannya secara perlahan. Elara memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. Di luar sana, di kelab malam yang gemerlap, suaminya mungkin sedang tertawa bersama wanita lain, merayakan "pembelian" terbarunya. Sementara di sini, di kamar pelayan yang sempit ini, Elara Winata menyadari bahwa penjara yang sesungguhnya tidak selalu memiliki jeruji besi. Kadang, penjara itu berupa penthouse mewah dan cincin berlian yang mencekik jari manisnya. Dan ini baru hari pertama.