Elara terbangun saat matahari pagi menyentuh jendela kecil kamarnya, namun cahaya itu terasa dingin dan tak menjanjikan apa-apa. Tubuhnya sakit dan kaku, sisa-sisa tekanan mental dan fisik dari hari sebelumnya. Ia bangkit dari ranjang kecilnya, berjalan pelan ke kamar mandi. Dalam cermin, ia melihat sosok yang asing—wanita dengan mata sembab yang tampak lebih tua sepuluh tahun dari usianya yang sebenarnya. "Hari ini, aku adalah pelayan," bisiknya pada bayangannya sendiri, menguatkan hati. "Aku melakukan ini untuk Ayah." Kepatuhan total adalah satu-satunya mata uang yang ia miliki sekarang. Jika Dante ingin dia menjadi budak, maka dia akan menjadi budak terbaik, sampai Dante bosan dan melepaskannya. Elara mengganti pakaiannya dengan kemeja katun dan celana panjang yang paling sederhana. Ia meninggalkan cincin berlian raksasa itu di atas meja kecil. Cincin itu terasa seperti belenggu, dan ia tak sanggup menanggung bebannya sepagi ini. Saat ia memasuki dapur penthouse, ia langsung disambut oleh aroma steril yang khas. Dapur itu luas, didominasi stainless steel dan marmer putih. Ada kompor induksi canggih, oven built-in, dan kulkas raksasa yang diisi bahan makanan yang tak terjamah. Elara tak tahu harus mulai dari mana. Sejak kecil, ia hanya tahu bagaimana menyuruh koki memasak, bukan bagaimana mengupas kentang. Ia menyalakan mesin kopi otomatis, satu-satunya hal yang ia kuasai. Suara bising mesin itu memecah keheningan rumah. Ia membuatkan dirinya selembar toast hambar, tapi bahkan itu terasa sulit ia telan. Pukul tujuh pagi, tepat ketika Elara sedang mencuci cangkirnya, suara pintu utama terbuka dan dua pasang langkah kaki terdengar memasuki ruang tamu. Elara menegang. "Terima kasih atas malam yang... luar biasa, Dante," terdengar suara wanita yang melengking, manja, dan genit. "Kau tahu aku selalu tahu cara bersenang-senang, Clarissa," jawab Dante, suaranya terdengar jernih dan santai, seolah baru saja bangun dari tidur nyenyak, bukan baru pulang dari kelab malam. Elara buru-buru menyeka tangannya dan menyembunyikan dirinya di balik kabinet dapur, berharap mereka tidak menyadari kehadirannya. Namun, harapan itu sia-sia. Dante melangkah masuk ke dapur. Ia tampak sempurna, tanpa cela. Rambutnya disisir rapi, dan meski ia hanya mengenakan celana lounge mewah tanpa baju, tubuhnya yang atletis dan dingin terlihat memikat sekaligus mengancam. Di belakangnya, seorang model berambut pirang dengan kaki jenjang melingkarkan lengannya di pinggang Dante. Wanita itu mengenakan gaun malam yang mewah, namun kusut dan terbuka di sana-sini. Ia adalah perwujudan keglamoran yang dangkal. Dante melihat Elara. Matanya yang tajam mengunci Elara di tempatnya. Senyuman tipis, penuh kemenangan dan dendam, terukir di bibirnya. "Oh, lihat ini," ujar Dante kepada Clarissa. "Selamat pagi, Istriku." Clarissa menatap Elara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan bingung dan jijik. "Istri? Maksudmu pelayan barumu, Sayang? Bukankah kau bilang kau hanya akan menikahinya sebagai investasi bisnismu?" Dante terkekeh, mencium dahi Clarissa dengan lembut—gestur yang dimaksudkan sepenuhnya untuk menyiksa Elara. "Dia adalah keduanya, Clarissa. Elara, kenalkan, ini Clarissa. Model terbaru kita. Clarissa, ini Elara. Istriku, dan... pelayan baruku. Tentu saja, kau bisa memanggilnya apa pun yang kau mau." Clarissa mendengus, mengangkat hidungnya. "Pakaianmu sangat menyedihkan. Apakah Tuan Ragnor bangkrut sampai harus membiarkan istrinya berpakaian seperti pencuci piring?" Elara diam. Matanya menunduk, fokus pada ujung sepatunya yang mengelupas. Ia menahan rasa perih yang melilit perutnya. Dante ingin melihatnya menangis, ia tidak akan memberikannya kepuasan itu. Ia akan menjadi sepotong furnitur. "Aku lapar, Dante," rengek Clarissa. "Aku ingin French toast dengan maple syrup asli, bacon renyah, dan latte kedelai. Suruh dia memasak!" Dante menyandarkan bahunya di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada. Seluruh perhatiannya tertuju pada Elara. "Kau dengar itu, Elara? Kita butuh sarapan untuk tiga orang. Jangan mengecewakanku," perintah Dante. "Atau kau tahu konsekuensinya." Elara mengangguk kaku. Ia bergerak ke tengah dapur. Meskipun hatinya hancur, otaknya mulai berfungsi dengan efisien. Ia harus memasak. Ia harus melayani. Dengan tangan gemetar, Elara meraih telur, bacon, dan roti. Aroma masakan mulai memenuhi udara, kontras dengan bau parfum mahal Clarissa yang memusingkan. Selama proses memasak, Clarissa terus melontarkan komentar sinis. "Kau tahu, Dante bilang padaku kau dulu seorang sosialita? Tapi gerak-gerikmu seperti pembantu rumah tangga sungguhan, Sayang," ejek Clarissa, tertawa manja di pinggang Dante. Dante tidak membela Elara, ia hanya mengawasi. Matanya tidak beralih dari punggung Elara, mengamati setiap gerakan, setiap getaran bahunya. Ia mencari tanda-tanda kelemahan. Akhirnya, sarapan tersaji. Makanan ditata rapi di piring porselen mewah, diletakkan di meja makan yang terbuat dari kaca kristal. Elara mundur, kembali berdiri di sudut dapur, menunggu perintah selanjutnya. Dante dan Clarissa duduk. Mereka makan dengan lahap. Clarissa terus berceloteh, membahas label-label desainer dan betapa membosankannya pernikahan. "Pernikahan adalah penjara," kata Clarissa, sambil menusuk sepotong bacon. "Untungnya pernikahanmu hanyalah transaksi, Sayang. Jadi kau bebas meniduriku kapan pun kau mau." "Tentu saja," jawab Dante, tapi matanya terpaku pada Elara. Ia sengaja menyendokkan makanan ke mulut Clarissa, menunjukkan kemesraan yang palsu, hanya untuk menguji Elara. Elara tetap diam, tatapannya kosong. Matanya tidak berkedip. Ia membiarkan penghinaan itu mencambuknya. Ia membayangkan ini adalah racun yang ia telan untuk menyelamatkan jiwa ayahnya. Dante mulai kehilangan kesabaran. Sarapan itu tidak berjalan sesuai keinginannya. Elara seharusnya marah, seharusnya menangis, seharusnya memecahkan piring! Tapi Elara hanya berdiri di sana, layaknya robot yang diprogram untuk menerima rasa sakit. Dalam kemarahannya, Dante mengambil segelas air dingin dan sengaja menjatuhkannya ke meja. Air tumpah, membasahi taplak meja linen putih yang mahal. "Ups," kata Dante tanpa sedikit pun penyesalan. "Pelayan! Bersihkan ini." Elara bergerak tanpa ekspresi. Ia mengambil lap kering, berjalan ke meja, dan mulai menyeka tumpahan air, tepat di antara sisa-sisa makanan mereka. "Kau bahkan harus membersihkan kotoranku," bisik Dante saat Elara berada di dekatnya. "Bagaimana rasanya, Nona Winata?" Elara akhirnya berbicara, suaranya sangat lirih, hampir tak terdengar, namun menusuk. "Aku adalah istrimu, Tuan Ragnor. Tugasku adalah melayani kebutuhanmu. Jika membersihkan tumpahanmu adalah kebutuhanmu, maka aku akan melayaninya." Kepatuhan total itu seperti tamparan keras di wajah Dante. Itu membuat Dante merasa jijik pada dirinya sendiri, namun juga semakin terobsesi untuk mematahkan wanita di depannya. Clarissa, yang merasa terabaikan, berdiri dan mencium bibir Dante dengan panjang. "Aku harus pergi, Darling. Telepon aku nanti, ya?" Dante mengangguk, matanya tak lepas dari Elara yang kini membereskan piring kotor. Setelah Clarissa pergi, Dante melangkah ke meja. Ia mengeluarkan selembar uang tunai tebal, sekitar dua puluh juta rupiah, dan melemparkannya ke piring yang sedang dipegang Elara. "Itu upahmu," ujar Dante, nadanya mencemooh. "Ambil. Kau sudah bekerja keras. Anggap saja ini tip dari tamu yang sangat puas." Elara menatap uang itu, lalu menatap Dante. Ada kejengkelan yang kentara di mata Dante, seolah ia berharap Elara akan merebut uang itu dengan rakus. Perlahan, Elara meletakkan piring itu kembali di meja. Ia mengambil uang itu, berjalan ke tempat sampah, dan menjatuhkannya ke sana tanpa ragu-ragu. Dante terkejut. Ekspresinya yang selalu tenang akhirnya retak. "Apa yang kau lakukan?!" "Aku istrimu, Dante," jawab Elara, suaranya kini kembali pada ketenangan yang mematikan. "Aku bukan pelacur yang bisa kau tip. Kau sudah membayarku lima puluh miliar untuk harga diriku, kau tidak perlu membayar lagi untuk pelayanan rumah tangga. Sekarang, izinkan aku membersihkan kekacauanmu." Dante terdiam. Kemarahan memuncak di tenggorokannya. Elara tidak melawan dengan amarah, tapi dengan kepatuhan yang bermartabat. Kepatuhan itu adalah pedang yang jauh lebih tajam daripada air mata. Ia ingin melihat Elara menangis karena benci, bukan karena sakit. Dante mengepalkan tinjunya, lalu berbalik dan pergi, berjalan menuju ruang kerjanya. Pintu dibanting dengan keras. Di dapur yang sepi, Elara menghela napas. Tangan yang tadi kuat membuang uang itu kini gemetar tak terkendali. Ia bersandar di meja dapur, memejamkan mata. "Aku tidak menangis," bisiknya dalam hati. "Aku tidak boleh menangis. Aku sudah mati, Dante. Dan kau tidak bisa membunuh sesuatu yang sudah mati." Di balik pintu ruang kerjanya, Dante berdiri di depan dinding kaca. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Bayangan Elara membuang uang itu terus berputar di kepalanya. Mengapa dia tidak marah? Mengapa dia tidak serakah? Dante ingat, tujuh tahun lalu, Elara pernah berkata: "Cinta itu tidak bisa dibeli dengan uang." Dante menikahi Elara untuk membuktikan bahwa cinta dan harga diri Elara bisa dibeli. Tapi kepatuhan Elara yang tenang di bawah siksaan terburuknya justru membuktikan sebaliknya. Wanita itu, bahkan dalam kebangkrutannya, masih menyimpan martabat yang tak mampu ia beli. "Kau akan hancur, Elara," gumam Dante pada pantulan dirinya di kaca. "Entah dengan cara apa, kau pasti akan hancur di tanganku."
Sumpah Di Atas Luka-Aku Bukan Pelacur-Bab 3
Penulis
Miss_Eunoia
22 January 2026