Tiga hari telah berlalu sejak insiden di ruang makan. Tiga hari di mana Elara belajar bahwa diam adalah satu-satunya perisai yang ia miliki, dan kepatuhan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku di Penthouse Ragnor. Dante menepati janjinya. Ia menutup akses ke perpustakaan. Ia mengunci ruang kerja. Sebagai gantinya, ia memberi Elara daftar tugas yang tidak masuk akal untuk ukuran apartemen yang sudah memiliki sistem pembersih otomatis canggih. "Lantai teras kolam renang terlihat kusam," ujar Dante pagi itu sebelum berangkat ke kantor, sambil mengenakan jam tangan Patek Philippe-nya. "Aku ingin kau menyikatnya. Secara manual. Jangan gunakan mesin pembersih tekanan tinggi. Itu bisa merusak lapisan batunya." Itu adalah tugas yang gila. Teras kolam renang di rooftop itu luasnya hampir setengah lapangan basket, terbuat dari batu alam kasar yang menyerap panas matahari Jakarta dengan ganas. Siang itu, matahari berada tepat di atas kepala. Sinar ultraviolet menusuk kulit Elara yang pucat tanpa ampun. Elara berlutut di atas batu panas, tangannya yang dulu hanya memegang pena dan tuts piano, kini memegang sikat kawat kasar. Keringat membasahi punggungnya, membuat seragam pelayan hitamnya lengket dan tidak nyaman. Napasnya memburu. Kepalanya berdenyut hebat karena dehidrasi, tapi ia tidak berani berhenti. CCTV di sudut teras itu berkedip merah—mata Dante yang selalu mengawasi. "Astaga, pemandangan yang menyedihkan." Suara tawa renyah itu membuat gerakan tangan Elara terhenti. Ia mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Bianca berdiri di sana. Kali ini wanita itu mengenakan bikini merah menyala yang memamerkan tubuh modelnya yang sempurna, ditutupi selembar kain tipis transparan. Di tangannya, ia memegang gelas cocktail dingin yang berembun. "Dante benar-benar tidak main-main saat bilang dia mempekerjakanmu sebagai babu," ejek Bianca, melangkah mendekat dengan santai. Ia duduk di kursi jemur yang teduh di bawah payung besar, hanya beberapa meter dari tempat Elara berjemur menyikat lantai. Elara tidak menjawab. Ia kembali menyikat lantai. Srak. Srak. Srak. Bunyi sikat itu menjadi ritme yang menenangkan kemarahannya. "Hei, aku bicara padamu," Bianca melempar sebutir anggur ke arah Elara. Anggur itu mengenai bahu Elara dan menggelinding di lantai. "Sopan sedikit. Aku tamu di sini. Calon Nyonya Ragnor yang sesungguhnya, jika kau mau tahu." Elara berhenti sejenak. "Jika kau calon Nyonya Ragnor, Bianca," jawab Elara tanpa menoleh, suaranya parau karena haus, "seharusnya kau tahu bahwa Dante tidak suka ada orang yang mengganggu pekerjanya. Lantai ini harus selesai sebelum dia pulang." Wajah Bianca memerah karena tersinggung. Ia tidak suka diabaikan, apalagi oleh mantan putri kaya yang kini berlutut di depannya. Bianca berdiri, berjalan menghampiri Elara dengan langkah angkuh. "Kau pikir kau siapa? Kau hanya barang bekas yang dibeli Dante untuk pelampiasan." Wanita itu sengaja menyenggol ember berisi air sabun kotor di samping Elara dengan kakinya. Byur! Air keruh bercampur busa kimia itu tumpah, membasahi rok Elara dan menggenangi hasil kerja kerasnya selama tiga jam terakhir. Elara terkesiap. Ia menatap genangan air kotor itu dengan tatapan kosong. Tubuhnya yang lelah gemetar. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah kering. "Ups," kata Bianca dengan nada mengejek yang dibuat-buat. "Sepertinya kau harus mengulanginya dari awal, Princess." Elara mengepalkan tangannya erat-erat hingga kukunya menancap di telapak tangan. Ia mendongak, menatap Bianca dengan tatapan tajam yang membuat model itu mundur selangkah. "Bersihkan," kata Elara dingin. Bianca terbelalak. "Apa? Kau menyuruhku?" "Kau yang menumpahkannya. Bersihkan." "Kau gila!" pekik Bianca. Ia mengangkat gelas cocktail-nya, bersiap menyiram isinya ke wajah Elara. Namun, sebelum cairan lengket itu menyentuh wajah Elara, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Bianca dengan kuat. "Cukup." Suara baritone yang dalam dan berbahaya itu membuat kedua wanita itu membeku. Dante berdiri di sana. Ia pulang lebih awal. Wajahnya gelap, matanya menatap tajam ke arah kekacauan itu—ember yang terguling, Elara yang basah kuyup dan kotor, serta Bianca yang memegang gelas dengan posisi mengancam. "D-Dante!" Bianca langsung mengubah ekspresinya menjadi manja dan ketakutan. "Untung kau datang! Perempuan gila ini... dia menyuruhku membersihkan lantai! Dia tidak tahu sopan santun!" Dante melepaskan tangan Bianca dengan kasar, membuat gelas itu jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai batu. Prang! Pecahan kaca berserakan di dekat lutut Elara. Satu serpihan tajam menggores betis Elara, meninggalkan luka panjang yang segera mengeluarkan darah segar. Elara mendesis pelan, menahan perih. Mata Dante menyipit melihat darah itu. Rahangnya mengeras seketika. "Aku melihat rekamannya di ponselku saat di jalan," kata Dante dingin, suaranya tenang namun mematikan. Ia tidak melihat ke arah Elara, matanya terpaku pada Bianca. "Kau menendang ember itu." Wajah Bianca memucat. "Itu... itu kecelakaan, Sayang! Aku hanya ingin memberinya pelajaran karena dia bersikap sombong!" Dante melangkah maju, mendesak Bianca hingga wanita itu terpojok ke pagar pembatas rooftop. "Dengar baik-baik, Bianca. Elara memang pelayan di sini. Dia memang budakku. Tapi kata kuncinya adalah: dia milikku." Dante mencondongkan wajahnya, aura membunuhnya menguar begitu kuat hingga Bianca gemetar ketakutan. "Tidak ada orang lain yang berhak menyentuhnya, menghinanya, atau melukainya selain aku. Kau mengerti? Jika aku melihatmu menyentuh sehelai rambutnya lagi, aku akan mematahkan tanganmu. Karir modelingmu akan tamat sebelum matahari terbenam." Air mata ketakutan mengalir di pipi Bianca. "A-aku mengerti... Maafkan aku, Dante." "Keluar," perintah Dante datar. "Dan jangan pernah kembali ke sini." Bianca tidak perlu disuruh dua kali. Ia menyambar tasnya dan berlari masuk ke dalam, meninggalkan suara hak sepatunya yang bergema panik. Keheningan kembali menyelimuti teras rooftop. Hanya suara angin dan napas Elara yang terdengar. Dante berdiri mematung sejenak, mengatur napasnya yang memburu. Ia marah. Bukan hanya pada Bianca, tapi pada dirinya sendiri. Mengapa dadanya sesak melihat darah di kaki Elara? Mengapa ia merasa ingin membunuh Bianca saat melihat wanita itu hendak menyiram Elara? Ia berbalik perlahan. Elara masih berlutut di sana, menatap luka di betisnya yang terus mengeluarkan darah, bercampur dengan air sabun yang kotor. Wajahnya pucat pasi, bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi. "Bangun," perintah Dante. Suaranya tidak lagi membentak, tapi terdengar lelah. Elara mencoba berdiri. Tapi kombinasi panas matahari, kelelahan, dan rasa perih di kakinya membuat keseimbangannya hilang. Tubuhnya limbung ke samping. Dante bergerak secepat kilat. Sebelum tubuh Elara menghantam lantai batu yang keras, lengan Dante sudah menangkapnya. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Elara berada dalam pelukan Dante tanpa paksaan. Ia bisa mencium aroma sandalwood dan keringat maskulin dari kemeja Dante. Tubuh pria itu kokoh, hangat, dan... aman. "Kau bodoh," umpat Dante pelan, tapi ia tidak melepaskan Elara. Sebaliknya, ia menyelipkan satu tangan di bawah lutut Elara dan satu lagi di punggungnya, lalu mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah. Bridal style. "Dante... seragamku kotor," bisik Elara lemah, takut mengotori kemeja mahal suaminya. "Turunkan aku." "Diam," desis Dante. Ia membawa Elara masuk, meninggalkan teras panas itu, menuju kesejukan di dalam penthouse. Ia tidak membawa Elara ke kamar pelayan. Ia membawanya ke kamar mandi tamu yang luas dan mewah. Dante mendudukkan Elara di atas meja wastafel marmer. Tanpa banyak bicara, Dante mengambil kotak P3K dari lemari di bawah wastafel. Ia menggulung lengan kemejanya, lalu berlutut di antara kedua kaki Elara yang menggantung. Jantung Elara berdegup kencang melihat posisi itu. Pria yang bersumpah untuk menghancurkannya, kini berlutut di hadapannya untuk membersihkan lukanya. Dante mengambil kapas dan cairan antiseptik. "Ini akan perih." Ia menempelkan kapas itu ke luka gores di betis Elara. Elara tersentak, tangannya secara refleks mencengkeram bahu Dante untuk menahan sakit. Otot bahu Dante menegang di bawah telapak tangan Elara, tapi dia tidak menepisnya. Ia membersihkan luka itu dengan ketelitian seorang ahli bedah. Sentuhannya tegas, namun anehnya... hati-hati. Seolah ia sedang menangani porselen retak yang berharga, bukan sampah yang ia benci. "Mengapa kau tidak melawannya?" tanya Dante tiba-tiba, matanya tetap fokus pada perban yang sedang ia lilitkan. "Kau punya mulut yang tajam saat melawanku. Mengapa kau diam saja saat Bianca menghinamu?" Elara menunduk, menatap rambut hitam Dante yang legam. "Karena dia tamumu. Dan aku..." Elara menelan ludah. "Aku tahu posisiku. Jika aku melawannya, kau akan marah. Dan jika kau marah, Ayahku yang akan kena imbasnya." Gerakan tangan Dante terhenti. Ia mendongak perlahan. Jarak wajah mereka begitu dekat. Elara bisa melihat manik mata Dante yang kelam, yang kini tidak memancarkan kebencian, melainkan kebingungan yang mendalam. "Kau rela diinjak-injak demi ayahmu?" tanya Dante pelan. "Pria yang bahkan tidak pernah memelukmu saat kau kecil? Aku tahu, Elara. Aku dulu sopirmu. Aku melihat betapa dinginnya dia padamu." "Dia tetap ayahku," jawab Elara lirih. "Sama seperti kau rela melakukan apa saja demi ibumu, Dante. Kita... kita tidak berbeda dalam hal itu." Kalimat itu menohok Dante tepat di jantungnya. Sama. Dante membencinya. Ia membenci betapa Elara memahaminya. Ia membenci fakta bahwa di balik status mereka yang bertolak belakang—Pemburu dan Mangsa—jiwa mereka terbuat dari bahan yang sama: Pengorbanan. Dante selesai membalut luka itu. Ia berdiri, kembali menjulang tinggi, kembali membangun tembok dingin di antara mereka. Ia melepaskan tangan Elara dari bahunya. "Jangan salah paham," kata Dante, suaranya kembali keras. "Aku mengobatinya karena aku tidak mau darah kotormu menodai karpetku. Dan aku mengusir Bianca karena dia terlalu brisik, bukan karena aku membelamu." Elara mengangguk pelan. Ia tahu itu bohong. Ia merasakan getaran tangan Dante tadi. Tapi ia memilih diam. "Bersihkan dirimu," perintah Dante, berbalik menuju pintu. "Dan jangan harap kau bisa istirahat. Setelah ini, kau harus memasak makan malam. Aku ingin Steak au Poivre. Medium rare." Dante memegang gagang pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh. "Dan Elara..." "Ya?" "Besok... kau tidak perlu menyikat teras lagi. Petugas kebersihan gedung akan melakukannya." Pintu tertutup. Elara duduk sendirian di atas wastafel marmer yang dingin, menatap perban rapi di kakinya. Perban itu putih bersih, kontras dengan kulitnya yang kotor. Ia menyentuh perban itu pelan. Ada kehangatan yang tertinggal di sana. Kehangatan yang membingungkan. Untuk pertama kalinya sejak ia memasuki neraka ini, Elara merasakan setitik cahaya. Sangat kecil, sangat redup, tapi ada. Dante Ragnor, monster yang ingin menghancurkannya, baru saja menyelamatkannya dari monsternya sendiri. Dendam dan cinta itu... batasnya setipis benang. Dan hari ini, benang itu bergetar hebat.
Sumpah Di Atas Luka-Dendam Di dalam Cinta-Bab 5
Penulis
Miss_Eunoia
22 January 2026