Hujan tidak membasuh luka. Hujan di Desa Kalimati malam ini berbau karat.
Air yang turun dari langit hitam itu terasa lengket, berminyak, seolah awan di atas sana adalah perut raksasa yang sedang memuntahkan nanah.
Di bawah naungan beringin purba, sosok yang dulu bernama Maya berdiri tegak. Tulang punggungnya bergemeretak, menyesuaikan diri dengan "penghuni" baru yang memaksanya tegak lurus melawan gravitasi. Kulitnya yang pucat kini dialiri urat-urat hitam yang berdenyut, menonjol seperti cacing di bawah permukaan dermis.
Ia tidak bernapas. Dada itu diam, namun dari dalam rongga rusuknya terdengar suara lain.
Dung... Tak... Dung...
Suara kendang. Irama gending pelan yang bukan berasal dari gamelan fisik, melainkan dari detak jantung hitam yang kini bersemayam di sana.
"Lari..."
Andi terperosok di lumpur, tersengal. Punggungnya menghantam akar banir yang keras. Matanya, satu tertutup bengkak, satu lagi menatap ngeri pada wanita di hadapannya.
Itu bukan Maya.
Sorot mata itu terlihat asing. Dingin. Seperti menatap dasar sumur tua yang tak berdasar.
"Lari?" Suara itu keluar dari bibir Maya, namun nadanya ganda-suara wanita muda yang terjepit di antara parau berat ribuan arwah penasaran. "Ke mana, Cah Bagus? Desa ini perutku. Hutan ini kulitku."
Sosok itu mengangkat tangan. Akar-akar gantung beringin di belakangnya bergerak layaknya tentakel gurita, merespons perintah sang induk.
"Eyang..." Nenek Sumirah merangkak mendekat, mengabaikan luka bakarnya sendiri. Wajah keriputnya basah oleh hujan dan air mata ekstase. Ia bersujud mencium kaki Maya yang berlumpur. "Akhirnya... Ratu sudah pulang."
Sosok itu menunduk. Tangan Maya-kini dengan kuku yang memanjang hitam-membelai kepala Sumirah. Gerakannya lembut, keibuan, namun mematikan.
"Kau setia, Sumirah. Tapi tugasmu sudah selesai."
"Dalem, Eyang?" Sumirah mendongak, bingung.
"Aku tidak butuh pelayan lagi. Aku butuh pupuk."
Sebelum Sumirah sempat menjerit, akar gantung menyambar leher wanita tua itu.
KRAK!!!
Tubuh renta Sumirah terangkat ke udara, kakinya menendang-nendang hampa. Matanya melotot, lidah menjulur. Suara tulang leher yang remuk tertelan deru guntur.
Andi membeku. Sumirah, penyihir tua yang menakutkan itu, dimatikan seperti lalat hanya dengan jentikan jari.
Tubuh Sumirah dilempar begitu saja ke rongga akar beringin. Akar-akar halus segera menyelimutinya, menarik mayat itu masuk ke dalam batang pohon. Diserap. Dimakan.
Sosok "Maya" kembali menatap Andi.
"Sekarang giliranmu, Penjaga Kunci. Kau yang membuka pintu, kau juga yang harus menutupnya... dengan darahmu."
Andi memejamkan mata. Habis. Tamat.
Namun, di kegelapan itu, ingatan menghantamnya.
Gudang tua. Bau apek. Sebuah jerigen besi di pojok ruangan.
"Minyak itu bukan sembarang minyak, Ndi," suara bapaknya terngiang. "Itu minyak tanah sisa ruwatan tahun 65. Disimpan buat jaga-jaga kalau Sing Baurekso minta jatah lebih dari perjanjian."
Andi membuka mata. Ia melirik ke sisi kanan altar batu. Di sana, terguling di lumpur, tergeletak jerigen besi tua yang tadi dibawa para warga untuk menyalakan obor ritual. Tutupnya masih segel lilin merah.
Jaraknya tiga meter.
Sosok "Maya" melangkah maju. Langkahnya berat, setiap injakan membuat tanah bergetar.
Andi tidak berpikir. Insting hewaniah mengambil alih.
Ia menyambar segenggam lumpur bercampur kerikil, lalu melemparnya sekuat tenaga ke wajah sosok itu.
"MAKAN INI, SETAN!"
Lemparan itu telak mengenai mata.
Sosok itu meraung-suara yang membuat telinga Andi berdenging sakit. Ia mundur selangkah, menutupi wajahnya.
Satu detik. Itu saja yang Andi butuhkan.
Ia menerjang ke kanan. Tangannya menyambar gagang jerigen besi. Berat. Isinya masih penuh.
"BERHENTI!" seru sosok itu. Akar-akar beringin melesat seperti tombak ke arah Andi.
Andi berguling. Satu akar runcing menancap di tanah, tepat di tempat kepalanya berada sedetik lalu.
Ia bangkit, jari-jarinya yang gemetar merobek segel lilin merah di mulut jerigen. Bau minyak tanah menyengat, tajam dan menusuk, bercampur aroma bunga melati yang aneh.
"Maya! Kalau kau masih di dalam sana... TAHAN NAPAS!"
Andi tidak menyiramkan minyak itu ke pohon. Jaraknya terlalu jauh.
Ia menyiramkan minyak itu ke dirinya sendiri.
Cairan dingin membasahi kaus yang dipakainya, meresap ke dalam kulit, membakar luka-lukanya. Bau minyak tanah kini menutupi bau amis darah.
Sosok "Maya" berhenti bergerak. Hidungnya mengendus.
"Kau..." Sosok itu menyeringai, gigi-giginya tampak hitam. "Kau mau membakar dirimu sendiri sebagai persembahan? Manis sekali."
"Bukan," Andi merogoh saku celananya. Korek api gas bergambar tengkorak. "Aku mau memelukmu."
Andi memantik api.
CTAK.
Api kecil menyala, bergoyang tertiup angin badai.
Mata sosok itu melebar. Bukan takut. Kaget.
Andi berlari. Bukan menjauh, tapi menerjang langsung ke arah Maya.
"JANGAN!" Jeritan itu bukan suara ganda. Itu suara Maya yang asli. "ANDI, JANGAN!"
Andi tidak peduli. Tubuhnya sudah menjadi obor hidup. Api menyambar kemejanya yang basah minyak, menjalar cepat ke lengan dan dada. Panasnya neraka. Kulitnya melepuh seketika.
Ia melompat dan memeluk tubuh Maya erat-erat.
"AAARRRGGGHHH!!!"
Teriakan Andi dan raungan Eyang Sukma menyatu.
Api itu tidak wajar. Api dari minyak ruwatan itu tidak padam oleh hujan. Justru semakin ganas saat menyentuh "wadah" yang penuh energi gelap.
Andi merasakan kulit Maya-atau kulit entitas itu-mendesis seperti daging sapi dilempar ke wajan panas.
"LEPAS! LEPASSSS!"
Akar-akar beringin memukul punggung Andi, mencoba melepaskan pelukannya. Tulang rusuk Andi patah satu per satu. Krak. Krak. Tapi ia tidak melepas. Ia mengunci jemarinya di punggung Maya.
Api merambat. Dari Andi, lidah api menjilat baju Maya, lalu rambut panjangnya. Dan akhirnya... menyambar akar gantung yang menempel di punggung gadis itu.
WUSSSSS!!!!
Seperti sumbu dinamit, api itu melesat naik melalui akar gantung, langsung menuju jantung pohon beringin.
Pohon raksasa itu bergetar hebat.
Daun-daunnya yang rimbun mendesis, layu seketika. Dari dalam batang pohon yang diameternya selebar rumah itu, terdengar suara jeritan.
Bukan satu jeritan. Ribuan.
Jeritan arwah-arwah yang terperangkap selama ratusan tahun.
Dunia Belakang: Jantung Hitam
Maya, yang tenggelam dalam cairan aspal, melihat cahaya.
Di atas sana, langit-langit jantung yang hitam pekat tiba-tiba retak. Cahaya oranye menerobos masuk.
Panas.
Cairan hitam yang membelenggunya mulai mendidih. Gelembung-gelembung udara pecah, melepaskan uap berbau busuk.
Cengkeraman di tangan dan kakinya melonggar.
"Ibu..." Maya menoleh ke arah roh ibunya yang terperangkap di seberang.
Ratna tersenyum. Tubuh rohnya mulai pudar, terurai menjadi partikel cahaya yang terbang menuju retakan api di atas.
"Lari, Nduk. Pintunya sudah terbuka."
Maya menendang sekuat tenaga. Ia berenang ke atas, melawan arus minyak yang kini bergejolak seperti lahar.
Tangan-tangan arwah lain mencoba menarik kakinya, bukan untuk menahan, tapi sebagai pijakan. Mereka ingin keluar. Mereka ingin bebas.
Maya menyembul keluar dari permukaan cairan hitam.
Ia terbatuk. Paru-parunya terasa terbakar.
Di hadapannya, dinding daging pohon beringin itu sedang runtuh, dimakan api biru yang berkobar liar.
Dunia Nyata: Runtuhnya Desa Mati
Andi terlempar ke belakang. Tubuhnya hangus, berasap. Ia jatuh di lumpur, tak sadarkan diri.
Di depannya, pemandangan itu seperti kiamat kecil.
Pohon beringin purba itu kini menjadi tiang api raksasa. Apinya menjulang tinggi menembus kabut, menerangi seluruh Desa Kalimati dengan warna merah darah.
Tubuh Maya, yang tadi dirasuki, kini berlutut di tanah. Asap hitam tebal keluar dari mulut, hidung, dan telinganya, seolah roh jahat itu dipaksa keluar oleh panasnya api suci.
Asap itu menjerit, berputar di udara, mencoba masuk kembali ke pohon, tapi pohon itu sendiri sedang sekarat.
DUARRR!!!
Batang utama pohon beringin meledak.
Serpihan kayu barayang berhamburan ke segala arah.
Dan saat pohon itu mulai tumbang, tanah tempat Desa Kalimati berpijak ikut bereaksi.
Gempa.
Bukan gempa tektonik. Ini tanah yang kehilangan pengikatnya. Akar-akar beringin yang selama ini mencengkeram fondasi desa-yang menahan tanah ini agar tidak longsor ke jurang-kini menjadi abu.
Rumah tua milik keluarga Maya retak. Tiang-tiangnya patah. Atapnya ambruk.
Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh longsor. Jalanan aspal desa terbelah. Rumah-rumah penduduk yang kosong mulai miring, meluncur perlahan ke bawah, ditelan bumi.
Maya terbatuk, memuntahkan cairan hitam terakhir dari perutnya. Ia merangkak, menyeret tubuhnya yang sakit di setiap inci.
"Andi..."
Ia melihat tubuh hangus itu tergeletak beberapa meter darinya.
Maya menggapai tangan Andi. Kulit pemuda itu kasar, melepuh. Tapi masih ada denyut nadi. Lemah. Sangat lemah.
"Bangun, bodoh..." isak Maya. Air matanya menetes di luka bakar Andi. "Kau belum boleh mati. Utangmu belum lunas."
Tanah di bawah mereka retak. Celah menganga lebar, menampakkan kegelapan jurang di bawahnya.
Pohon beringin itu akhirnya menyerah. Dengan suara dentuman yang mengguncang gunung, raksasa itu roboh. Jatuh ke arah jurang, membawa serta sejarah kelam, dosa leluhur, dan ribuan mayat yang terperangkap di akarnya.
Namun, api belum padam.
Dan dari balik asap tebal reruntuhan pohon, sesosok bayangan hitam kecil-seukuran anak kecil gundul-merangkak keluar. Matanya merah menyala menatap Maya.
Tuyul penjaga jantung.
Ia tidak mati. Dan ia marah.
Maya meraba sekeliling. Tidak ada senjata. Hanya ada lumpur, api, dan Andi yang sekarat.
Ia harus berdiri. Ia harus membawa Andi pergi sebelum seluruh desa ini jatuh ke neraka.
Tapi kakinya lumpuh.
"Tolong..." bisik Maya, menatap langit yang kini merah membara.
Langit tidak menjawab. Tapi dari balik hutan pinus, terdengar suara lain. Suara mesin. Menderu. Kasar.
Sebuah jip tua menerobos semak belukar, lampunya menyorot tajam menembus asap.
Bantuan? Atau musuh baru?
Maya tahu di Desa Kalimati, harapan adalah hal yang paling berbahaya.