Gending dalam Kepala

Penulis djoedo
11 February 2026

Mesin diesel tua itu meraung kasar, beradu dengan hantam hujan di atap kanvas.

Guncangan.

Tubuh Maya terlempar ke sisi pintu besi. Dingin. Logam itu sedingin mayat. Ia tidak merasakan sakit. Syarafnya mati rasa, tebal oleh guncangan teror yang baru saja ia lewati.

Di kursi belakang, Andi tergeletak seperti karung basah. Napasnya pendek-pendek, berbunyi ngik setiap kali dadanya naik. Bau hangus menguar dari tubuh pemuda itu. Bukan bau daging bakar biasa. Itu bau anyir, bercampur aroma manis minyak tanah tua dan belerang.

Bau dosa yang terbakar.

"Jangan menoleh," suara berat terdengar dari balik kemudi.

Pria itu. Penyelamat mereka. Sosok paruh baya dengan kemeja flanel lusuh dan topi rimba yang menutupi separuh wajah. Tangannya yang kasar mencengkeram setir Hardtop dengan tenang, seolah sedang menyetir di jalan tol, bukan di jalan lumpur licin di lereng gunung terkutuk.

Maya tidak patuh. Lehernya kaku, tapi instingnya memaksanya bergerak.

Ia memutar kepala. Menatap kaca belakang yang buram oleh embun dan lumpur.

Jantungnya berhenti sejenak.

Tidak ada api.

Seharusnya ada kobaran api raksasa. Seharusnya ada asap hitam membumbung ke langit, menandakan pohon beringin purba yang Andi bakar dengan minyak sisa ruwatan tahun 65 itu yang sedang mengamuk. Seharusnya ada reruntuhan rumah-rumah desa yang ambruk.

Tapi di sana, di balik tirai hujan yang pekat... hanya ada hutan.

Pohon-pohon jati berdiri rapat. Hitam. Diam. Batang-batang mereka menjulang seperti jeruji penjara alam.

Jalan setapak menuju desa itu lenyap. Gapura desa hilang. Rumah tua tempat ia disekap, warung Pak Tejo, pendopo... semuanya tidak ada.

Hanya dinding hutan yang padat. Semak belukar berduri menutup rapat celah di antara pepohonan, seolah tanah itu tidak pernah diinjak manusia selama ratusan tahun.

"Di mana..." Suara Maya pecah. Tenggorokannya perih, seakan ia baru saja menelan parutan kaca. "Di mana desanya?"

Pria bertopi rimba itu memindahkan gigi persneling. Krak. Suara besi beradu kasar.

"Sudah kubilang. Jangan menoleh."

"Desanya..." Maya menempelkan wajah ke kaca dingin. Matanya membelalak, mencari satu saja tanda kehidupan. "Tadi ada di sana. Kita baru saja keluar dari sana."

"Tidak ada apa-apa di sana, Nduk," jawab pria itu datar. Ia merogoh saku, mengeluarkan rokok klobot, lalu menyulutnya dengan pemantik minyak. Bau tembakau menyengat memenuhi kabin, sedikit menyamarkan bau anyir darah. "Kalimati sudah mati sejak lama. Hutan sudah menelannya bulat-bulat."

"Tapi kami..." Maya menunjuk Andi yang sekarat di belakang. "Luka-lukanya... Apinya..."

"Kadang hutan memuntahkan apa yang tidak bisa dicernanya," potong pria itu. Asap rokok keluar dari sela bibirnya, tebal dan abu-abu. "Kalian beruntung. Rasanya Sing Baurekso keracunan darah kalian."

Maya merosot kembali ke kursi.

Tubuhnya menggigil hebat. Giginya beradu. Gemeretak hebat.

Ia memeluk dirinya sendiri. Bajunya basah kuyup, lengket oleh lumpur dan sisa cairan hitam yang sempat dimuntahkan dari mulutnya saat ritual tadi.

Mobil jip itu terus menuruni lereng, menembus kabut yang semakin tebal. Sorot lampu kuning hanya mampu menembus dua meter ke depan. Kanan-kiri mereka jurang gelap.

Senyap.

Hanya suara mesin dengan iringan bunyi hujan.

Namun, bagi Maya, keheningan ini lebih bising dari teriakan.

Telinganya berdenging. Di sela-sela suara hujan, ia mendengar lamat-lamat suara gamelan.

Ting... Tung...

Maya menyentakkan kepala. Menoleh ke kiri. Ke arah hutan gelap di pinggir jalan.

Kosong. Hanya bayangan dahan jati yang melambai tertiup angin. Seperti tangan-tangan kurus yang ingin meraihnya kembali.

"Kau dengar itu?" bisik Maya.

"Dengar apa?" Pria itu tidak menoleh. Matanya tajam menatap jalan berlumpur.

"Gamelan."

Pria itu terdiam sejenak. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam. Bara apinya menyala terang, satu-satunya warna merah di tengah kegelapan biru itu.

"Suara hutan," katanya singkat. "Jangan didengarkan. Nanti dia ikut."

Maya menutup telinga. Ia memejamkan mata rapat-rapat.

Bayangan itu kembali. Kilasan-kilasan memori yang bukan miliknya.

Tanah basah. Akar yang melilit leher. Rasa lapar yang purba. Ribuan janin cahaya yang terperangkap dalam selaput lendir hitam.

Maya tersentak. Napasnya tertahan.

Ia meraba perutnya.

Ada sensasi aneh di sana. Di ulu hati.

Hangat.

Bukan hangat yang nyaman. Ini panas yang menjalar pelan, seperti ada bara api kecil yang tertelan dan tersangkut di lambung.

Ia ingat saat Eyang Sukma merasukinya. Ia ingat rasa minyak hitam yang membanjiri kerongkongannya. Ia ingat saat Andi membakar pohon itu, dan ia merasa dirinya ikut terbakar.

Lalu pria ini datang. Menarik mereka keluar dari neraka tepat sebelum semuanya runtuh.

Tapi apakah ia benar-benar sudah keluar?

"Pak," panggil Maya lirih. "Bapak siapa?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia memutar setir tajam ke kanan, menghindari batu besar yang longsor ke tengah jalan. Ban mobil selip sebentar sebelum kembali mencengkeram tanah.

"Anggap saja tukang bersih-bersih," jawabnya samar. "Dulu... saya punya utang sama bapakmu. Utang nyawa."

Ayah? Maya bahkan tidak ingat wajah ayahnya. Ibunya selalu bilang ayahnya meninggal kecelakaan saat Maya bayi.

"Bapak saya..."

"Sudah. Simpan suaramu," potong pria itu. Nada bicaranya tegas, menutup percakapan. "Sebentar lagi sampai aspal. Kalau sudah kena aspal, mereka tidak bisa mengejar."

Mereka.

Maya menelan ludah.

Ia menoleh ke belakang lagi, memeriksa Andi.

Dada Andi naik turun lebih tenang sekarang. Tapi wajahnya...

Dalam remang cahaya dasbor, Maya melihat sesuatu di leher Andi.

Bekas cekikan. Ungu kehitaman.

Bukan. Itu bukan memar.

Maya menyipitkan mata. Ia mengulurkan tangan gemetar, menyentuh leher sahabatnya.

Kulit itu terasa kasar.

Itu bukan bekas jari. Itu bekas akar. Pola pembuluh darah di leher Andi menghitam, bercabang-cabang seperti akar serabut yang tertanam di bawah kulit pucatnya.

Andi mengerang dalam tidurnya. "Sakit... Enak..."

Maya menarik tangannya cepat. Mundur hingga punggungnya menabrak pintu.

Kalimat itu.

Itu kalimat yang diucapkan Eyang Sukma saat merasukinya.

"Pak!" seru Maya panik. "Andi... lehernya..."

"Duduk diam!" bentak pria itu.

Mobil menghantam lubang. Maya terpelanting.

Saat ia kembali duduk tegak, ia merasakan sesuatu bergerak di dalam tubuhnya sendiri.

Di perutnya.

Kedut.

Sekali. Lemah. Seperti tendangan bayi, atau... geliat cacing.

Maya menahan napas. Tangannya meraba perutnya yang rata.

Kembali sunyi...

Lalu... Kedut.

Lagi. Lebih kuat.

Rasa mual menyerang seketika. Maya membekap mulut, menahan muntah. Rasa di lidahnya berubah. Pahit. Getir. Dan... bau tanah.

Ia melirik spion tengah.

Mata pria bertopi itu menatapnya dari pantulan cermin. Tatapan yang dingin. Menilai. Curiga.

"Kenapa, Nduk?" tanya pria itu pelan. "Ada yang gerak?"

Pertanyaan itu membuat darah Maya dingin.

"Ti-tidak," bohong Maya. Suaranya gemetar. "Cuma mual. Masuk angin."

Pria itu tidak memalingkan pandangan dari spion selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Asap rokok mengepul di sekitar wajahnya, membuatnya tampak seperti hantu.

"Tahan," gumamnya kemudian, kembali melihat jalan. "Jangan dimuntahkan di sini. Nanti mobilku kotor."

Maya bersandar lemas. Keringat dingin mengucur di pelipis.

Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.

Di sela-sela kuku jarinya, masih ada sisa tanah hitam dari Desa Kalimati. Tanah itu tampak basah, seolah-olah hidup.

Dan di telinganya, suara gamelan itu terdengar lagi. Bukan dari hutan. Bukan dari luar jendela.

Suara Gending Kematian itu mengalun dari dalam kepalanya sendiri. Berdentum seirama dengan detak jantungnya.

Tung... Tung... Dung...

Maya memejamkan mata, air mata meleleh di pipi.

Desa Kalimati mungkin sudah hilang dari peta. Pohon beringin itu mungkin sudah hangus.

Tapi akarnya...

Akarnya sudah terlanjur menjalar.

Dan sekarang, ia bukan lagi sekadar Maya. Ia adalah pot yang retak, membawa benih kegelapan turun ke kota.

Mobil Hardtop itu akhirnya menyentuh aspal jalan raya. Ban berdecit.

Dunia modern menyambut mereka dengan lampu jalan yang remang dan tiang listrik yang berjejer kaku. Tapi bagi Maya, dunia ini terasa asing. Palsu.

Hanya kegelapan di dalam perutnya yang terasa nyata.

Dan sesuatu itu... lapar.