Lumpur, Darah, dan Doa Sunyi

Penulis djoedo
11 February 2026

Napas pertama rasanya seperti menelan parutan kaca.

Maya tersentak bangun. Bukan di kasur, melainkan di atas hamparan lumpur panas. Matanya perih, dipaksa terbuka oleh insting purba yang menjeritkan satu kata: Lari.

Dunia di sekelilingnya bukan lagi Desa Kalimati yang ia kenal.

Kabut tebal yang biasanya dingin kini berganti asap hitam pekat. Baunya menyengat. Campuran antara daging terbakar, belerang, dan aroma khas yang membuat perut mual-bau Minyak Tanah Sisa Ruwatan Tahun 65. Bau tua yang anyir dan berat, seolah menyimpan memori pembantaian di setiap molekul asapnya.

"Andi..." Suara Maya keluar sebagai cicitan parau. Tenggorokannya kering kerontang.

Ia mencoba bangkit, namun tangannya tergelincir. Tanah di bawahnya bukan tanah padat. Itu bubur abu. Sisa-sisa akar pohon beringin purba yang telah menjadi arang.

Hujan turun deras, menghantam punggungnya tanpa ampun. Air langit itu mendesis saat menyentuh tanah yang masih membara. Uap panas mengepul, menciptakan tirai putih yang menyamarkan pandangan.

Di depannya, bangkai sang raksasa berdiri menyedihkan.

Pohon beringin itu-Eyang Sukma-kini tinggal kerangka. Batang utamanya yang dulu seukuran rumah, kini terbelah dua, hangus menghitam seperti tunggul rokok raksasa yang diinjak raksasa. Tidak ada lagi daun rimbun yang menaungi desa. Tidak ada lagi akar gantung yang menyerupai rambut mayat. Hanya sisa pembakaran masif yang masih memercikkan api kecil di sela-sela hujan.

Krak.

Suara dahan patah. Jatuh ke tanah.

Maya menyeret tubuhnya. Kakinya terasa berat, seolah ada besi yang diikatkan pada pergelangan kaki. Rasa sakit menjalar dari ulu hati-bekas tempat entitas itu mencoba masuk, sebelum api menyulutnya keluar.

"Andi!" panggilnya lagi, lebih keras.

Matanya menyapu kekacauan di pelataran pohon keramat itu.

Beberapa meter darinya, gundukan hitam tergeletak diam.

Jantung Maya berdegup kencang, menabrak rusuk. Ia merangkak, mengabaikan perih di lutut yang terparut kerikil tajam.

Itu Andi.

Pemuda itu telungkup. Separuh kemeja flanelnya habis terbakar, menyatu dengan kulit punggung yang melepuh merah. Bau rambut hangus menguar tajam.

Maya membalikkan tubuh Andi dengan gemetar. Wajah pemuda itu pucat, bibirnya membiru, kontras dengan luka bakar di leher dan bahu kirinya.

"Ndi... Bangun, Ndi..." Maya menepuk pipi Andi. Dingin.

Tidak ada respons.

Air mata Maya tumpah, bercampur dengan lumpur di wajahnya. Ia mendekatkan telinga ke dada Andi.

Dug. Jeda panjang. Dug.

Lemah. Sangat lemah. Tapi masih ada.

"Bertahan, bodoh. Jangan mati sekarang," isak Maya. Ia menyeka wajah Andi dengan ujung bajunya yang basah, mencoba membersihkan abu yang menempel di kelopak mata temannya.

Tiba-tiba, tanah bergetar.

Bukan gempa tektonik. Ini getaran dari dalam perut bumi, seolah fondasi desa ini sedang ditarik paksa.

BRUKKK!

Di kejauhan, suara bangunan runtuh terdengar. Salah satu rumah penduduk-mungkin rumah Pak Tejo-amblas ke dalam tanah.

Maya mendongak. Ngeri merayapi tengkuknya.

Desa Kalimati sedang sekarat.

Tanpa "Pohon Inang" yang mengikat tanah ini dengan perjanjian darah, struktur geologis desa yang tidak masuk akal itu mulai kembali ke hukum alam. Tanah lereng gunung yang gersang itu mulai longsor, menuntut haknya kembali.

Dan bukan hanya tanah yang runtuh.

Di sela-sela kilatan petir, Maya melihat mereka.

Para pagar. Penduduk desa.

Mereka berdiri kaku di pinggiran hutan, mengelilingi pelataran beringin yang kini jadi neraka kecil. Puluhan orang. Tua, muda, anak-anak.

Mereka tidak menyerang. Tidak ada lagi seringai setan atau tatapan lapar yang dulu Maya lihat.

Tubuh mereka diam. Mata mereka menatap kosong ke arah bangkai pohon beringin. Seperti boneka tali yang dalangnya tiba-tiba mati mendadak. Benang yang mengikat jiwa mereka pada Eyang Sukma telah putus.

Satu per satu, mereka ambruk. Jatuh ke tanah seperti gedebog pisang ditebas parang. Tidak sadarkan diri. Atau mungkin mati. Maya tidak peduli.

Yang ia tahu, ia harus keluar dari sini. Sekarang.

"Ayo, Ndi. Kita pulang," bisik Maya.

Ia menyelipkan lengannya di bawah ketiak Andi. Menggigit bibir, Maya mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk berdiri.

Berat.

Tubuh Andi terasa seperti karung beras basah. Kaki Maya goyah, hampir terlipat.

"Argh!" Maya mengerang. Otot punggungnya menjerit protes.

Ia menyeret Andi, selangkah demi selangkah. Menjauh dari bangkai pohon. Menjauh dari mayat Nenek Sumirah yang mungkin sudah terkubur di bawah reruntuhan akar, atau mungkin hancur menjadi debu bersama tuannya.

Lumpur setinggi betis menghisap langkah mereka. Hujan semakin gila, seolah langit ingin menghapus Desa Kalimati dari peta malam ini juga.

Sreeet... Sreeet...

Suara kaki Andi yang terseret di tanah basah terdengar menyedihkan di antara gemuruh guntur.

"Sedikit lagi... jalan keluar..." gumam Maya, merapalkan kalimat itu seperti mantra. Meski ia tahu, jalan keluar desa ini selalu berputar kembali.

Tapi pohon itu sudah mati. Lingkaran setan itu harusnya sudah putus. Harusnya.

Tiba-tiba, seberkas cahaya menembus tirai hujan.

Silau. Tajam. Membelah kegelapan hutan jati.

Maya menyipitkan mata, menahan napas. Jantungnya mencelos.

Apakah itu mereka? Apakah ada entitas lain yang datang menagih sisa utang?

Suara deru mesin terdengar. Kasar. Berat.

GRUNG... GRUNG...

Bukan suara gamelan. Bukan suara kidung.

Itu suara mesin diesel tua yang dipaksa bekerja keras. Roda-roda besar melindas ranting dan lumpur.

Sepasang lampu sorot kuning tua muncul dari balik tikungan jalan setapak. Sebuah jip Hardtop tua, penuh lumpur dan karat, merangsek masuk ke area terlarang.

Mobil itu berhenti sepuluh meter dari Maya. Mesinnya tidak dimatikan, menderu rendah seperti binatang buas yang waspada.

Pintu pengemudi terbuka.

Maya mundur selangkah, mempererat pegangannya pada tubuh Andi. Tangannya meraba-raba saku celana, mencari apa saja-batu, kayu-untuk senjata. Ia tidak akan menyerah. Tidak setelah semua ini.

Sosok tinggi besar turun dari jip. Menggunakan jas hujan ponco hijau tentara yang kusam. Wajahnya tertutup tudung kepala dan curahan hujan.

Sosok itu berjalan mendekat. Langkahnya tegap, sepatunya memecah genangan air dengan mantap.

Maya menegang. "Jangan mendekat!" teriaknya, suaranya hilang ditelan angin.

Sosok itu berhenti. Ia mengangkat kedua tangan, menunjukkan telapak tangan kosong.

Perlahan, ia menyibakkan tudung kepalanya.

Kilat menyambar, menerangi wajah itu sesaat. Wajah seorang pria paruh baya, dengan bekas luka bakar lama di pipi kiri dan tatapan mata yang tajam namun lelah. Di lehernya, tergantung kalung dengan liontin taring babi hutan.

Maya tidak mengenalnya. Tapi ia mengenali aura yang dibawa pria itu. Bau tembakau klembak menyan dan... rasa aman.

Pria itu menatap bangkai pohon beringin di belakang Maya, lalu beralih menatap Maya dan Andi yang sekarat.

"Gila," gumam pria itu. Suaranya berat, serak basah. "Kalian benar-benar membakarnya pakai minyak itu."

Pria itu maju, tidak mempedulikan sikap defensif Maya.

"Siapa kau?" desis Maya.

"Bukan musuh," jawab pria itu singkat. Ia berjongkok, memeriksa nadi di leher Andi dengan cekatan. "Dia butuh rumah sakit. Sekarang."

Pria itu menatap Maya. "Desa ini sedang runtuh, Nduk. Tanah ini mau menelan segalanya untuk menutupi lubang neraka yang kalian buka. Kalau mau hidup, naik ke mobil. Cepat."

Tanah di bawah kaki Maya retak. Sebuah celah menganga lebar hanya satu meter di sampingnya, menelan aliran lumpur hitam ke dalam kegelapan tak berdasar.

Maya menatap Andi yang tak sadarkan diri, lalu menatap pria asing itu, dan terakhir menatap bangkai pohon beringin yang masih mengepulkan asap hitam.

Pilihan. Selalu tentang pilihan.

"Bantu aku angkat dia," kata Maya dingin.

Tanpa banyak bicara, pria itu mengangkat tubuh Andi semudah mengangkat bantal, lalu membaringkannya di jok belakang jip.

Maya naik ke kursi penumpang depan. Ia membanting pintu besi itu keras-keras.

Jip menderu. Ban paculnya mencakar lumpur, berputar liar mencari cengkeraman, sebelum akhirnya melesat menjauh, meninggalkan jantung hutan yang mulai amblas ditelan bumi.

Di kaca spion, Maya melihat bayangan terakhir Desa Kalimati. Rumah-rumah tua, pendopo, dan pohon terkutuk itu... perlahan lenyap ditelan kabut dan tanah, seolah desa itu tidak pernah ada.

Tapi Maya tahu.

Di dalam dirinya, di sela-sela tulang rusuknya, ada hawa dingin yang tertinggal. Sisa abu dari pohon itu.

Teror mungkin sudah berakhir di Kalimati. Tapi malam belum selesai.