Akar yang Tertinggal

Penulis djoedo
12 February 2026

Raungan mesin diesel tua mendominasi malam. Kasar. Berisik.

Hanya dengung ban pacul-ban bergerigi kasar khusus lumpur-yang terdengar mendesis saat roda-roda besar itu akhirnya mencium aspal basah. Mobil jip Hardtop tua itu merangkak keluar dari jalan tanah, meninggalkan kegelapan hutan jati yang rapat di belakang.

Lampu-lampu penerangan jalan berwarna kuning temaram mulai menyapa. Tiang listrik beton. Warung tegal yang sudah tutup. Peradaban.

Maya menyandarkan punggung ke jok kulit yang pecah-pecah. Tubuhnya remuk. Tangannya kotor oleh tanah merah, minyak, dan kerak darah kering.

Tangan itu gemetar.

Bukan gemetar karena dingin.

Bergetar.

Dug... dug... dug...

Jantungnya memompa. Irama manusia yang bertahan hidup.

Namun, di sela-sela detak itu, menyusup ritme lain.

Lebih lambat. Lebih berat. Sayup-sayup, seperti gema dari dasar sumur mati.

Maya meraba ulu hati. Tepat di bawah pertemuan tulang rusuk.

Dingin.

Bukan dingin angin malam yang menampar wajah dari jendela terbuka. Ini dingin yang ganjil. Beku yang bersarang di balik daging, meringkuk di antara organ-organ hangat tubuhnya. Rasa dingin yang anehnya... terasa akrab.

Ingatannya ditarik paksa ke momen beberapa jam lalu. Di Dunia Belakang. Saat ia berhadapan dengan Jantung Eyang Sukma-gumpalan hitam berminyak berisi ribuan janin cahaya. Saat Andi nekat menyiramkan minyak tanah sisa ruwatan tahun 65 ke tubuhnya dan menyulut api.

Ada satu momen. Sepersekian detik sebelum api melahap segalanya. Gumpalan hitam itu tidak menjerit.

Ia meledak.

Cipratan cairan hitam pekat dari jantung itu. Maya ingat cairan itu mengenai dadanya. Bukan membakar, tapi meresap. Menembus kaos, menembus pori-pori kulit, secepat air hujan ditelan tanah gersang.

Saat itu ia tidak merasakannya karena adrenalin.

Tapi sekarang...

"Pak," panggil Maya. Suaranya parau, nyaris hilang ditelan suara mesin. "Bisa matikan AC-nya?"

Pria paruh baya di balik kemudi itu melirik sekilas dari kaca spion tengah. Tatapannya datar di bawah bayangan topi rimba. "Hardtop ini tidak punya AC, Nduk. Kaca belakangmu bolong."

Maya terdiam. Lidahnya terasa kelu.

Ia mendekap tubuhnya sendiri. Jaket denim yang ia kenakan tak lagi memberi hangat. Dingin itu bukan dari luar. Dingin itu berasal dari pusat tubuhnya sendiri. Menyebar ke bahu, merayap ke lambung, menjalar ke ujung-ujung jari kaki.

Seperti ada balok es yang kini menjadi tulang punggungnya.

Dan kemudian, ia mendengarnya.

Di tengah deru mesin diesel yang bising, menyusup suara lain.

Nong...

Sebuah denting. Jernih. Logam beradu.

Maya menoleh cepat ke kiri dan kanan. Jalanan sepi. Hanya hutan jati yang mulai menipis di sisi kiri dan sawah gelap di sisi kanan. Tidak ada gamelan. Tidak ada penabuh.

Ning...

Suara itu terdengar lagi. Lebih dekat.

Nung...

Bukan di telinga. Suara itu tidak masuk lewat gendang telinga. Suara itu bergema langsung di dalam tempurung kepalanya. Menggetarkan batang otaknya.

Gong...

Berat. Rendah. Menggetarkan ulu hati.

Maya membekap mulut. Rasa mual menghantam. Perutnya bergejolak, seolah ada sesuatu yang hidup dan menggeliat di dalam sana.

"Kenapa, Nduk? Mabuk?" tanya si pengemudi datar, tanpa menoleh. Tangannya sibuk memutar setir besar yang berat.

Maya menggeleng kuat-kuat. "Enggak... mungkin cuma masuk angin."

Ia berbohong. Ia tahu persis rasa ini.

Ini rasa saat ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah tua itu. Rasa saat ia melihat nisan kayu bertuliskan ꦮꦢꦃ (Wadah). Rasa saat Nenek Sumirah menyeringai padanya di bawah naungan beringin purba.

Ia teringat bisikan terakhir wanita tua itu sebelum lehernya patah.

"Warisan tidak bisa ditolak, Nduk. Warisan itu hakikat. Kalau rumahnya dibakar, penghuninya harus pindah."

Maya menunduk, menatap perutnya sendiri.

Di balik kulit dan dagingnya, rasa dingin itu bergerak. Bergeser. Mencari posisi nyaman di antara paru-paru dan lambung. Seperti janin yang baru saja menemukan rahim yang hangat.

Minyak tanah itu memang membakar pohonnya. Menghancurkan fisik beringin itu.

Tapi isinya?

Ribuan tahun kelaparan itu? Jutaan doa sesat dan tumbal darah itu?

Itu bukan sekadar energi. Itu kehendak.

Kehendak purba tidak bisa mati, hanya bisa mencari tempat baru. Seperti air bah yang mencari celah retakan. Seperti asap yang mencari lubang angin.

Dan tempat terdekat saat pohon itu runtuh adalah dirinya.

Darahnya adalah cairan merah Penjaga Janji. Tubuhnya sudah disiapkan sejak lahir. Ritual itu... ritual Pembersihan yang dilakukan penduduk desa... bukan untuk membunuhnya.

Tapi untuk mengosongkannya.

Ketakutan yang ia rasakan selama ini. Teror yang mengikis logikanya. Rasa bersalah yang melubangi jiwanya. Itu semua hanyalah proses renovasi. Meluaskan ruang di dalam batinnya.

Supaya muat. Supaya Dia bisa masuk.

"Hhhkk..." Maya menahan muntah. Rasa dingin di dadanya kini berubah menjadi sensasi penuh. Sesak. Seolah-olah paru-parunya kini harus berbagi ruang dengan tamu yang rakus.

Di dalam sana, di balik dinding perutnya, sesuatu sedang mencengkeram. Mengakar.

Mobil terus melaju kencang, meninggalkan wilayah pegunungan, menuju lampu-lampu kota yang terang benderang.

Mobil mulai memasuki pinggiran kota. Lampu-lampu jalan merkuri berwarna oranye berderet rapi. Ruko-ruko yang tertutup rolling door. Indomaret 24 jam dengan lampu neon yang menyilaukan. Peradaban. Jakarta menunggu di ujung jalan tol.

Jantung Maya berdegup kencang karena teror, tapi rasa dingin di dadanya justru terasa... tenang.

Puas. Kenyang.

Ia memberanikan diri menatap kaca spion tengah.

Di sana, di antara pantulan jok kulit yang sobek dan kegelapan malam, ia melihat wajahnya sendiri.

Pucat. Kotor. Mata cekung dengan lingkar hitam. Rambut berantakan penuh debu.

Namun, saat mobil melewati sorot lampu jalan merkuri yang berkedip, bayangan di cermin itu berubah.

Hanya sepersekian detik...

Bayangan itu tidak terlihat ketakutan. Maya seperti bukan melihat dirinya sendiri di cermin itu.

Bayangan di cermin itu tersenyum.

Senyum tipis. Miring. Bibir yang terangkat di satu sisi. Tatapan mata yang tua, purba, dan penuh ejekan.

Senyum Nenek Sumirah. Atau mungkin... senyum Ratu yang baru.

Ekspresi yang begitu tenang. Hanya sekejap mata.

Maya sontak membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya hilang ditelan dingin yang kini membekukan pita suaranya.

Bayangan di cermin itu kembali normal. Wajah Maya yang ketakutan kembali menatapnya dengan nanar.

Tapi Maya tahu. Ia sudah terlambat.

Mereka pikir mereka meninggalkan neraka itu di Desa Kalimati. Bahwa dengan hilangnya desa itu dari peta, mimpi buruk ini berakhir.

Salah.

Eyang Sukma tidak butuh desa. Tidak butuh tanah gersang. Tidak butuh pohon beringin tua.

Ia hanya butuh Wadah.

Dan benih itu... sisa abu dari pohon terkutuk itu... kini bersemayam nyaman di dalam dirinya. Terlindungi oleh tulang rusuk Maya. Menunggu waktu untuk tumbuh kembali, berakar pada dagingnya, meminum darahnya di tengah hiruk pikuk kota yang penuh dosa.

Mobil terus melaju membelah malam, membawa serta penumpang gelap yang paling mengerikan menuju jantung Ibu Kota.

Teror di Kalimati mungkin sudah berakhir. Desa itu sudah hilang ditelan bumi.

Tapi bagi Maya, malam Jumat baru saja dimulai. Dan malam ini tidak akan pernah berakhir.

TAMAT