Setiap kali melintas lorong kabin yang terdapat di dalam perut kapal pesiar, saya mencoba menemukan hal baru atau fenomena baru yang berkembang di sana. Barangkali ada pelajaran hidup di sana. Sepanjang lorong kabin itu pulalah tersimpan kenangan yang ditorehkan oleh para penghuninya. Para penghuni itu tiada lain adalah para kru kapal pesiar, utamanya adalah para kru dari Indonesia dan Filipina. Kedua rumpun bangsa ini paling rajin menyumbang kisah unik dan mengharukan. Kisah tentang perjuangan hidup di tengah himpitan persoalan ekonomi, atau soal gaya hidup yang kadang terasa menggelikan. ”Katro” kata Tukul Arwana.
Lorong kabin itu tidaklah lebar, barang satu depa orang dewasa. Cukuplah buat berpapasan dua orang tanpa bersenggolan. Tiap sekitar 10 meter dibatasi pintu darurat kedap air (water tight door) yang bisa dibuka dan ditutup. Pintu-pintu besi itu kadang membuat saya sedikit cemas dan ngeri, manakala membayangkan apabila kapal tertimpa musibah dan benar-benar tenggelam. Saya ingat pesan sang kapten saat general drill, selalu mengatakan hal yang sama soal pintu kedap air itu, ”if there are some people inside, you don’t have to open!” Pesan pentingnya adalah jangan sekali-kali membuka pintu itu, karena pintu itu memang diciptakan untuk membatasi laju masuknya air laut. Saya bayangkan air bah yang membanjiri setiap lorong dengan daya dorong yang hebat. Menghantam dan menerjang apapun yang ada di depannya. Dan pintupintu itu menjadi pertahanan terakhir sebelum datang tim penyelamat.
Ada aroma khas yang menyebar dari lorong-lorong kabin itu. Aroma itu kini masih tersimpan di kepala, dan saya selalu teringat dengannya pada saat sekarang ini bekerja di sebuh gedung bertingkat di Jakarta, dan mencium aroma itu ketika saya lewat tangga darurat. Aroma yang menebar itu seperti campuran semburan gas freon pada mesin pendingin dengan berbagai aroma lain yang terperangkap di dalam gedung.
Di sepanjang lorong itu seakan menjadi miniatur nafas kehidupan manusia di dalamnya. Mirip gang di perkampungan, tempat orang bertemu atau bertransaksi. Hal yang demikian itu tampaknya juga terjadi di sepanjang lorong kabin itu. Kini muncul fenomena baru, yaitu munculnya penjual rokok dan makanan ringan, ada juga yang menggelar jasa potong rambut di sepanjang lorong.
Rokok memang menjadi barang mewah dan mahal di kapal, terutama rokok kretek macam Dji-Sam-Soe atau Gudang Garam. Harganya bisa melambung menjadi lima kali lipat dengan harga banderol atau harga yang biasa dijual di Indonesia. Bagi perokok berat, cita rasa memang menjadi taruhan utama. Meskipun mahal, tetap saja disikat habis. Ganti pilihan ke rokok putih macam Marlboro atau Lucky Strike? Itu adalah sebuah pilihan sulit bagi para fanatik rokok.
Bisnis rokok ini memang cukup menggiurkan. Taruhlah kita bawa rokok barang satu atau dua dos buat dijual di sini. Bakalan laris dan langsung diserbu habis! Tapi jangan coba-coba bawa banyak-banyak, sebab bisa kena cekal di bandara, karena bisa dituduh melakukan penyelundupan. Kalau diinterogasi petugas bandara, bisa saja berkelit kalau rokok ini untuk konsumsi sendiri. Soal rebutan rokok ini, juga berlaku untuk urusan sambal bajak. Sambal jenis ini jadi barang incaran bagi kami yang sudah sangat rindu dengan rasa pedas khas masakan Indonesia. Saus pedas buatan Amerika sudah tak memapan lagi di lidah kami. Bisnis lain yang menggiurkan adalah potong rambut tadi. Apalagi potong rambut ini adalah sebuah kebutuhan, bukan lagi keinginan. ”It is a need, not want,” begitu kata pakar marketing. Sebagai seseorang yang bekerja di dunia jasa pariwisata dan perhotelan yang mementingkan kerapian penampilan, maka potong rambut rutin adalah sebuah keharusan! Kerapian rambut menjadi ukuran apakah kita bakal dapat nilai bagus atau jelek oleh tuan mandor.
Begitulah, bekerja di negeri orang kita memang dituntut untuk kreatif menangkap peluang usaha. Taruhlah misalnya untuk sekali potong rambut tadi dihargai US $ 5 untuk setiap kepala. Kita bisa menghitung berapa besar uang yang bisa kita kumpulkan dari setiap kepala yang disodorkan ke tukang potong rambut.
Sektor usaha sampingan potong rambut ini sebagian besar sudah diambil oleh kru dari Filipina. Beberapa kali saya memanfaatkan jasa mereka, sambil bercanda, berkelakar dan memperbincangkan bahasa Tagalok dan Indonesia yang ternyata banyak kemiripannya. Untuk sky misalnya, mereka menyebutnya “langit,” dan kalau mata mereka tersorot lampu senter mereka akan berteriak “Silau!” Dalam soal hitung menghitung mereka punya kesamaaan dengan bahasa Jawa, seperti apat, lima, anim, pito, wolu. Jackfruit mereka sebut “langka” (nangka), sedang bebek mereka panggil “itik.” Untuk istilah piring mereka menggunakan “pinggan,” sementara untuk mengetahui berat sesuatu mereka mengatakan “timbang.” Istilah-istilah lain yang juga mirip antara lain “aso” (asu, anjing), “bato” (batu), “kuko” (kuku), “pako” (paku), “tusuk,” “ulam” (lauk), “buka,” “pinto” (pintu).
Dengan alat pencukur rambut seadanya mereka tangkas bekerja. Jangan harap ada kaca besar di depan kita, atau kursi otomatis yang bisa berputar dan naik turun macam di barber shop itu Dengan modal kaca ukuran kecil dan kursi lipat yang dipinjam sebentar dari kabin cukuplah sudah. Jangan harap pula ada kain penutup dengan logo cantik huruf R milik Rudy Hadi Suwarno. Pakai sobekan koran bekaspun jadilah. Bisa dipastikan, habis potong rambut dijamin gatal-gatal disekujur leher dan badan. Oleh karena itu, sehabis potong rambut, saya segera menghambur ke kamar mandi untuk keramas dan mandi besar!
Peluang usaha lain adalah bekerja membersihkan dan merapikan kabin kru kapal pesiar. Adalah hal yang lumrah, ketika habis dihajar kerja seharian, tak ada lagi sisa energi untuk merapikan tempat tidur sendiri, ganti sarung bantal, sprei, apalagi mencuci baju. Peluang ini telah diambil oleh teman-teman cabin steward, yang memang pekerjaanya merapikan dan membersihkan kabin penumpang. Di antara waktu sibuk itu, mereka menyempatkan diri buat merapikan kabin kru kapal. Jasa mereka dihargai dengan upah US $ 20 per bulan. Taruhlah dalam satu kabin saja ada empat orang, maka dalam sebulan sudah ada tambahan pendapatan US $ 80. Belum kalau nekat menambah sekian kabin lagi, pasti bakal dapat lebih banyak lagi.
Ada satu lagi fenomena menarik yang muncul dari lorong-lorong kabin. Suasana yang sebelumnya tenang, kini telah berubah hingar bingar oleh suara loud speaker yang digeber kencang-kencang. Mirip suasana pasar malam atau hajatan komedi putar keliling di kampungkampung. Sebagian besar dari kami memang sedang keranjingan memutar film atau musik dari CD player produk mutakhir. Bahkan ada semacam pamer kekuatan pada tingkat kecanggihan sound system yang dimiliki. Merek-merek ternama macam Bose, Sony, atau Kenwood, menjadi barang yang tidak asing lagi bertengger di dalam kabin.
Sungguhpun demikian, saya tak punya keinginan memiliki barang-barang itu. Bukannya tak mampu beli, toh penghasilan kami sama saja, tapi ini soal beda orientasi saja. Bagi saya sebuah barang harus diletakkan pada fungsinya, bukan pada gengsi. Saya juga tidak mau tunduk untuk terjebak dan menyerah pada gempuran produkproduk kapitalis yang memang pintar memainkan emosi manusia. Produk yang mereka ciptakan sendiri kemarin akan segera dibilang kuno ketika produk baru diluncurkan. Mereka yang ingin disebut makhluk moderen akan selalu merasa perlu untuk selalu memperbaharui produk yang mereka miliki. Fenomena inilah yang sekarang ini merasuki sebagian besar anak muda yang sering berganti model hand phone. Bisa dibayangkan, dalam setahun saja ada sebuah produsen hand phone yang sanggup mengeluarkan 5 hingga 10 seri terbaru, dengan fiture yang sebenarnya cuma dibolak-balik saja. Apalagi sekarang hand phone sudah mulai dilengkapi dengan kamera, video, MP3, browsing internet, 3G dan entah apalagi yang bakal membuat kita semakin tenggelam.
Untuk menikmati musik, sebagai pengusir suntuk cukuplah saya punya walkman saku yang memang cukup didengar seorang diri ketika hendak berangkat tidur. Dengan begitu, selain saya punya ruang pribadi, orang lain juga tidak terganggu dengan bunyi gedebakgedebuk yang mungkin saja tak ingin mereka dengar.
Selera musik setiap orang pasti beda-beda. Jadi rasanya tak adil kalau saya memaksa orang lain harus mendengar aliran musik yang saya punya. Misalnya malam-malam saya ingin mendengarkan cerita wayang kulit dari kaset, apa mereka juga bakal mengerti? Saya juga tidak tega kalau misalnya saatnya saya ingin mendengarkan musik ndank ndut kesukaan saya, lalu saya memutarnya keraskeras, sementara tetangga sebelah sedang sedih diputus sang pacar. Seperti contohnya lagu bang Haji Rhoma Irama yang hampir setiap malam saya putar lagunya, hingga pita kasetnya keriting.
Dalam aku berkelana, Ke ujung dunia, Tiada yang tahu, Gunung tinggi kan kudaki Lautanpun ku sebrangi.....
Pentas drama kecil di atas kapal pesiar masih saja berlangsung...