Tahukah Anda binatang yang disebut musang? Binatang berkaki empat yang sifatnya nocturnal atau aktif di malam hari, dan berbau pandan yang dikategorikan sebagai makhluk omnivora, meski orang lebih banyak menganggapnya pemakan daging? Nama lainnya adalah luwak atau luwek. Habitatnya melingkupi Asia Tenggara dan populasinya makin menyusut karena banyak diburu.
Ada persepsi salah pada masyarakat kita tentang ciptaan Tuhan yang satu ini. Masyarakat menganggapnya sebagai hama karena sering dituduh memakan ayam-ayam mereka, sampai ada peribahasa musang berbulu ayam. Padahal di beberapa daerah, orang banyak yang menyukai biji kopi yang keluar dari tinja sang musang. Itulah sebabnya kemudian ada satu produsen kopi yang menamai produknya dengan ”Kopi Tjap Tugu Luwak.” Bahkan si musang ini turut membantu penghijauan sebab mereka suka sekali makan buah atep atau buah nira. Ketika mereka melepaskan hajat besarnya berarti sekaligus menebarkan benih buah atep atau buah nira tadi.
Ternyata ada jenis musang lain yang bisa kita temukan di kapal pesiar. Makhluk yang satu ini sama-sama omnivora namun aktif baik nocturnal maupun diurnal. Di kapal orang juga lebih banyak menganggap makhluk ini sebagai “pemakan daging”. Musang-musang mempunyai kecenderungan aktif secara nocturnal saat mencari mangsanya karena bila siang hari takut tercium “anjing penjaga” yang dimajikani kapten. Padahal malam haripun “anjing penjaga” itu tetap aktif, bahkan lebih akif dibanding siang hari. Namun si musang suka sekali main petak umpet di kegelapan malam saat berburu mangsa. Bedanya musang kapal adalah peminum kopi dan bukan penghasil biji kopi. Mereka juga tidak suka buah atep kecuali kalau sudah dijadikan kolang-kaling. Di kapal mereka lebih suka buah dada! Ketika mereka sebagai musang bisa melepaskan “hajat besarnya”, mereka tidak ikut menebarkan benihnya sebab mereka banyak yang menggunakan kondom!
Beda lainnya adalah masa kawin musang kapal biasanya sepanjang tahun, namun mereka akan lebih sering kawin pada musim yang disebut Holiday Cruise. Musim ini menjelang Natal hingga tahun baru. Alasannya di musim ini banyak sekali penumpang keluarga yang membawa anak-anak mereka, baik yang masih teenager maupun dewasa muda. Pokoknya mangsa utamanya adalah yang masih ranum-ranum dan muda. Tapi kalau sampai ketahuan orang tua mereka, tiket pulang kampung sudah ada di depan mata! Yah namanya juga musang, tetap saja kadang mereka nekat walau berpotensi dijebloskan dibalik jeruji besi di negeri Paman Sam.
Namun ada juga jenis musang kapal yang bermain aman ketika berburu “daging”. Mereka hanya mencari mangsa dewasa sehingga terhindar dari minor abused, paling sialnya mereka dapat tuduhan sexual harassement kalau mangsanya mengadu ke kapten atau Hotel Manager. Konsekuensinya sama saja, dapat tiket pulang. Beda lainnya adalah musang kapal selain yang hetero, ada juga yang mempunyai kecenderungan homo. Jenis ini incarannya ada yang berbuah dada ada pula yang berbuah zakar. Ada pula musang yang berkecenderungan oedipus complex, jadi mereka mencari mangsa-mangsa yang sudah masuk kategori ibu-ibu. Mungkin musang jenis ini suka daging alot. Ada juga musang yang suka mangsa gemuk, makin gemuk makin bikin pusing jenis musang ini.
Jangan dulu keburu menyalahkan para musang kapal pesiar, kadang ada “daging” yang sengaja minta "dimusangin.” Biasanya kalau dinner menjelang usai mereka bertanya, ”Can I see you after dinner?” atau “Do you have time for me after dinner?”. Tentu saya tak bermaksud menyudutkan sebagian besar pekerja di kapal pesiar adalah musang berbulu ayam. Mereka hanya golongan minoritas saja. Populasi mereka tidak banyak namun enak untuk dijadikan topik. Maklum obrolan seputar syahwat akan selalu asyik sekali dijadikan bahan gosip.
Ada sensasi seksual yang penuh dengan fantasi, maka bener juga kata pakar psikoanalisa, Sigmund Freud. Manusia hanyalah sebatas makhluk seksual, jadi hal yang berbau seks memang mengasyikan. Apalagi di kapal pesiar, jauh dari tetangga, saudara, pacar, isteri, hansip bahkan Tuhan! Kadang kita lupa bahwa malaikat mengawasi kita sampai kontrak hidup kita berakhir dan manusia suka bandel padahal Tuhan Maha Tahu.
Nah, godaan duniawi tak berhenti pada urusan seksual, ada godaan lain yang bakal memabukkan. Dalam budaya kita dikenal sebuah ritual yang dikenal dengan istilah selamatan, yaitu sebuah acara syukuran atas sebuah kegiatan atau peristiwa. Ritual itu bisa berupa penutupan panitia tujuhbelasan, kenaikan kelas, kelahiran anak, panen, atau upacara perkawinan. Pokoknya banyak sekali acara dalam konteks budaya kita yang ditutup acara selamatan ini.
Selamatan ternyata bukan monopoli bangsa timur seperti kita namun sifatnya sangat universal. Dunia barat juga mengenal acara sejenis, thanks giving contohnya. Jadi sebuah kewajaran bila di kapal pesiar pun, kami mengenal acara yang disebut crew party. Dalam setahun kami banyak mengadakan crew party, mulai dari hari kemerdekaan orang Amerika, orang Filipina, hari kemerdekaan Indonesia, ulang tahun Ratu Belanda, tahun baru, goodbye alaska-welcome caribbea, atau goodbye europe-welcome caribbea, dan masih banyak acara lainnya.
Acara ini biasanya diadakan di messroom. Kadang acara berlangsung di mooring deck. Tempat ini sebenarnya adalah tempat digulungnya tambang kapal sebesar belalai gajah dan rantai jangkar kapal. Acara dimulai dari jam sebelas malam sampai jam dua pagi. Kalau sudah pesta, siapa peduli dengan jadwal kerja esok hari? Yang penting pesta!
Makanan dan minuman disajikan di meja. Makanan yang disajikan biasanya ada nasi goreng, mie goreng, chicken wing, kalby beef, panggang babi, roti Filipina, kerupuk udang dan banyak panganan lainnya yang dijamin bakal menambah daftar gangguan kegemukan. Minuman yang disediakan tidak jauh dari softdrink, bir beserta liqour, biasanya vodka, whiskey, gin dan rum. Minuman-minuman itu cukup membuat kepala pusing tujuh keliling sampai pagi!
Jam sebelas tepat, musik pun dipasang keras-keras! Bikin pantat sampai kepala maunya diajak bergoyang. Pesta telah dimulai! Sambutan pembukaan dari panitia acara tampaknya tak menarik buat didengar. Perhatian orang lebih terpusat kepada jenis makanan dan minuman yang tersedia di meja, plus wanita incaran yang mudah-mudahan bisa diajak one night stand alias ajojing sepanjang malam.
Para awak pun mulai berkumpul, baik pria, wanita dan “kelompok nggak jelas”. Semua tumpah ruah di acara pesta makan, minum dan dansa. Dandanan yang dipakai sebenarnya tidak ada aturannya. Jadi lebih kearah bebas tapi sopan, tapi banyak juga yang masih berseragam terutama anak-anak waiter yang memang panjang jam kerjanya. Ada juga sekelompok ”pria” yang berpakaian bak peragawati kelas atas! Saya yakin orang tua mereka bakal merinding melihat kelakuan anaknya jadi seperti itu di atas kapal. Kelompok ini biasa dikenal dengan kelompok yang tidak jelas orientasi seksualnya, yaitu kelompok yang bukan pria bukan pula wanita atau lebih dikenal dengan nama binan atau bencong. Hebatnya lagi kebanyakan dari mereka adalah orang Indonesia!
Karakter tiap bangsa jelas sekali terlihat di sini. Kelompok kru kulit putih dan kelompok kru Filipina lebih banyak berkumpul di sudut tempat minuman, hanya sedikit orang Indonesia punya niat untuk bergabung di situ. Kelompok Indonesia lebih sering menjadi penonton di acara pesta semacam itu, meskipun ada segelintir kecil yang ikut larut. Orang Indonesia lebih banyak duduk dengan manis sambil menikmati musik dan hidangan.
Harus diakui bahwa bangsa Indonesia kadang dianggap pemalu di tengah kelompok internasional. Sebenarnya hal ini lebih kepada budaya kita yang membuat kita kurang bisa assertive dalam berkomunikasi antar budaya. Menurut teori komunikasi, dalam konteks timur khususnya kita dikategorikan kedalam high level context, yang berarti dalam berkomunikasi, bangsa kita lebih menuntut lawan bicara kita lebih mengerti hal-hal yang non-verbal. Sedangkan bangsa barat lebih mengarah ke low level context, yang berarti lebih banyak menuntut komunikasi verbal dengan lawan bicaranya.
Malam makin larut, irama musik pun sudah mulai naik turun. Pas giliran musik slow diputar, kru berjenis kelamin wanita menjadi rebutan untuk diajak dansa, maklum perbandingannya tidak seimbang. Di ujung lorong saya lihat ada kru kulit putih yang sedang beruntung mendapat wanita Filipina yang lumayan cantik dan berbadan aduhai. Lumayanlah bisa memeluk dan merapatkan tubuh ketika musik berirama slow mulai mengalun. Setelah itu tergantung kelihaian masing-masing untuk saling merayu.
Jam dua tepat, crew party pun usai, ditandai dengan\ dihentikannya musik dan dinyalakannya lampu. Kini yang tersisa tinggal sampah bertebaran di mana-mana. Dengan langkah gontai saya kembali ke kabin, kecuali mereka yang beruntung dapat pasangan.
Satu pesta telah berlalu dan besok pagi kami harus mulai dengan rutinitas seperti biasa. Sedikit tidur lumayanlah untuk mengurangi kepala yang berat karena pengaruh alkohol. Tenang saja, masih banyak pesta-pesta lainnya menunggu di hari-hari mendatang. Bila malam ini tidak beruntung dapat pasangan, bukan tidak mungkin pada putaran pesta selanjutnya bakal dapat giliran.