Non-fiksi #petualangan

RAMADHAN DI ATAS LAUT

Penulis Mashar67
22 February 2026

Cerita soal musang pemakan daging, crew party, atau kelompok sister di atas kapal pesiar, dapat mewakili sisi gelap kehidupan. Ada sisi lain yang dapat mewakili sisi terang dari dinamika kehidupan kapal pesiar. Contohnya adalah ketika bulan Ramadhan tiba. Ini adalah momen penting sepanjang perjalanan hidup di atas kapal pesiar. Ujian puasa di atas kapal pesiar bisa dua tiga kali lipat dibandingkan di darat. Pahala menanti bagi orang-orang yang bermiman. Subhana’allah.

Bulan Ramadhan selalu disambut dengan berbagai reaksi oleh mereka yang bekerja di kapal pesiar. Kru Indonesia yang didominasi oleh kaum muslim pun menyambutnya dengan meriah, meskipun tidak seragam. Ada yang senang, ada yang merasa berat mengingat harus berpuasa di tempat yang mengharuskan kita tetap bekerja keras. Ada juga yang saja tidak peduli dengan momentum malam seribu bulan ini. Tapi sebagian besar menyambutnya dengan suka cita, marhaban ya Ramadhan! Panitia Ramadhan pun dibentuk, ada seksi penyedia sahur, seksi tarawih, seksi kotbah, seksi konsumsi setelah tarawih, seksi pengajian atau istilah lainnya tadarusan. Heboh, seperti DKM mesjid jamie satu desa yang pindah ke atas kapal.

Pada malam tarawih pertama hampir semua kru Indonesia yang beragama Islam berbondong-bondong memadati mushola yang besarnya tidak jauh beda dengan wc umum di Blok M, Jakarta, sampai koridor kapal pun penuh sesak tak ada ruang buat bergerak. Kasihan kepada mereka yang non-muslim ketika akan lewat menjadi sedikit terhambat. Macet.

Saya lihat banyak yang tiba-tiba menjadi lebih santri dari santri Gontor sekali pun, beratribut baju takwa, sorban yang dipasang di bahu, kopiah haji, sambil menenteng sajadah. Padahal kalau tidak salah lihat, biasanya selama ini mereka tidak seperti itu. Walau bagaimanapun, alhamdulillah melihat mereka begitu adem dan sejuk dengan segala atribut yang ada.

Mushola jadi sedikit gerah persis seperti suasana dalam bis kota non-AC. Kipas angin yang coba dipasang panitia tampaknya tak banyak pengaruhnya. Keringat pun bercucuran, apalagi bagi mereka yang beratribut lengkap bak Zainudin MZ. Tapi semangat Ramadhan tidak menggoyahkan mereka gara-gara kegerahan. Tarawih pun dilangsungkan dengan khusyuk.

Urusan sahur lain lagi ceritanya. Kaset rohani diputar keras-keras di pagi buta. Seolah mereka tidak peduli jam segitu kru lain sedang terlelap kelelahan. Yang sedang memutar kaset rohani itu barangkali sedang membayangkan berada di kampung sendiri. Dia pikir semua kru ikut sahur di bulan Ramadahan. Makanya kalau maniak fanatik yang tidak tahu diri itu sedang lengah dengan urusan kaset rohani itu, volumenya buru-buru kami kecilkan supaya tidak buat resah orang lain. Niatnya ibadah koq malah bikin jengkel orang. Saya juga tidak paham apa yang ada di kepala mereka itu. Mungkin mereka mengira itu adalah cara paling ampuh untuk mencari perhatian Tuhan. Jadinya, kasihan mereka yang non-muslim.

Selama puasa, urusan menjadi runyam bagi seorang waiter seperti saya kalau pas bertugas di Lido Restaurant. Masalahnya di situ selain ada restoran, ada kolam renangnya. Mata ini rasanya tidak bisa ikut puasa, habis banyak tubuh-tubuh sentosa sedang berenang dan berjemur ria. Hati kecil berbisik: ini godaan, jangan ditengok, dosa! Memangnya siapa yang niat untuk menengok? Kita kan tidak perlu nengok, repot! Soalnya tempat itu penuh sesak dengan mereka yang sedang berjemur, jadi yah serba repot. Tatap aja kali, yah….! Buka puasa juga menjadi urusan yang paling tidak mengenakkan, terutama bagi kru dining room saat dinner. Beda dengan anak cabin steward. Jam-jam seperti itu mereka sudah bebas tugas dan bisa berbuka dengan leluasa di mess room.

Lebih sengsara lagi kalau bulan Ramadhan berlangsung saat musim panas, sebab waktu berbuka sangat telat, sekitar jam 9 sampai jam 10 malam! Kesempatan berbuka biasanya diambil saat ada pesanan makanan buat para penumpang di kicthen. Paling banter saya sempatkan minum atau paling banter makan fruit cocktail beserta danish pastry sisa breakfast tadi pagi yang sudah tentu keras bagai sandal. Kalau tidak hati-hati saat memakannya, bisa-bisa tersedak dan berhenti di tenggorokan. Puasa di musim begini sungguh berat. Untuk dapat berbuka dengan leluasa mesti sabar untuk ditunda dulu nanti malam, setelah semua urusan pekerjaan beres. Berat memang. Tapi namanya juga ujian……

Pada minggu pertama puasa, messroom penuh sesak dengan manusia saat acara sahur tiba, begitu juga mushola saat sholat tarawih. Minggu kedua, mereka yang saur dan tarawih mulai berkurang. Minggu ketiga, makin berkurang, bahkan minggu keeempat tinggal segelintirn orang. Tapi kalau pas malam takbiran, mushola pun ramai kembali. Malam takbiran menggema hingga terdengar di koridor-koridor. Tapi tentu tidak boleh lama-lama. Paling lama jam 12 malam acara takbiran pun selesai, soalnya esok hari tugas rutin nan berat sudah siap menanti.

Besok harinya adalah sholat Ied. Biasanya sholat Ied berlangsung di dek belakang, menghadap laut. Ritual pun dilakukan sebagaimana mestinya dan diusahakan berlangsung secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, sebab dikejar waktu. Lepas itu salam-salaman terus buru-buru berlari ke kabin buat ganti baju. Masak kerja masih memakai baju takwa, repot kan?

Sehabis itu semua berlangsung, jangan harap ada yang namanya nuansa lebaran. Garing habis! Yang ada adalah nuansa rutin, kerja, kerja dan kerja….! Saat sesama muslim lainnya di dunia saat itu merayakan lebaran bersama keluarga, mengunjungi makam keluarga, keliling kampung atau ke sanak famili bersama anak isteri atau pacar, memakai baju terbaru, bermain petasan renteng yang digantung di pohon dukuh sebelah rumah, makan ketupat dengan sambel goreng hati yang ditaburi petai, atau makan dodol Condet.

Kami yang terpaksa bekerja membanting tulang di atas kapal pesiar justru sedang sibuk berat melayani para tamu makan, membersihkan kamar tamu yang seperti kapal pecah, membersihkan dek, karpet kapal, mengecat ulang bodi kapal, memastikan mesin kapal bekerja dengan sempurna. Pokoknya kerja dan kerja. Kontras dengan suasana di tanah air tercinta. Ironis sekali, soalnya yang ada di rumah sedang heboh berlebaran dari uang yang kami kirim. Mereka mungkin kurang menyadari bahwa kami masih saja terus bekerja di bulan penuh rahmat dan ampunan ini. Semestinya kami juga boleh beristirahat barang sehari buat melepas penat sepanjang pelayaran ini, minimal pada bulan Ramadhan ini.

Adalah sebuah kemewahan bagi kami yang bekerja di tempat ini, bila bisa berlebaran di rumah. Hal ini pula yang membuat agen pengirim tenaga kerja sedikit jengkel tapi mahfum. Sebab kru yang sedang berlibur saat puasa tiba, biasanya akan memperpanjang liburannya hingga lebaran. Meski dipanggil berkali-kali tetap saja akan jual mahal. Soalnya, lebaran di rumah itu sungguh tidak bisa dihargai dengan dolar