Non-fiksi #petualangan

SOSIALITA SISTER PAULA

Penulis Mashar67
15 February 2026

Melanjutkan obrolan bertemakan seks, saya masih menyimpan satu dinamika kehidupan di atas kapal pesiar, yaitu tentang komunitas sister! Sekali lagi obrolan seks selalu heboh untuk dibicarakan sambil bisik-bisik. Itulah sebabnya buku Moamar Emka ”Jakarta Undercover” laris manis diburu orang. Dibaca sembunyi-sembunyi sambil ngos-ngosan dengan jakun naik turun menelan ludah yang sudah kering.

Mayoritas kru kapal pesiar berorientasi hetero, dan hanya segelintir saja yang suka sesama jenis. Tulisan Khusus terkait kelompok ini perlu diangkat sebagai early warning bagi siapa saja yang akan memasuki kerja di kapal pesiar. Semacam sinyal tanda bahaya yang siap menerkam siapa saja yang tidak waspada. Kelompok ini nyata ada, bukan gosip, bukan hoaks. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menyudutkan, melainkan sebatas mengungkap fakta pernak-pernik kehidupan di kapal pesiar dari berbagai perspektif. Bahwa kehidupan itu sangatlah kompleks.

Posisi tulisan ini lebih difokuskan pada latar belakang, situasi yang mendukung di kapal pesiar, kompleksitas tangga karir, dan kehidupan asli ketika kembali ke Indonesia. Menjadi kelompok penyuka sesama jenis ini masih menuai kontroversi di Indonesia. Lebih cenderung kontra daripada pro. Hal ini masuk akal karena landasan agama, moral, dan sosial tidak menyisakan ruang untuk kondisi ini. Ujung-ujungnya, menjadi kelompok penyuka jenis lebih baik ditutup rapat di tanah air, dan boleh diumbar ketika berada di atas kapal pesiar.

Kelompok sesama jenis ini dalam sosialita kapal pesiar sebenarnya memiliki latar belakang dari berbagai warna kulit, namun hebatnya ternyata didominasi oleh orang Indonesia. Mungkin karena mayoritas kru Holland America Lines adalah orang Indonesia. Sebagai informasi saja, dalam satu kapal pesiar dengan kapasitas total kru 600 orang, rata-rata orang Indonesianya berjumlah 300 orang lebih.

Mereka tersebar di dining room, housekeeping & laundry, office, front office serta deck & engine. Dari pengalaman sekian tahun bekerja, saya berkesimpulan bahwa orang Indonesia yang masuk kelompok ini didominasi oleh kru dari dining room. Dari hasil investigasi informal dengan mereka terbongkar bahwa peran yang paling banyak dari kelompok homo Indonesia adalah sebagai “perempuan,” sedangkan peran laki-lakinya lebih didominasi oleh para kru kulit putih.

Sister adalah panggilan akrab untuk sesama anggota kelompok ini. Meski terlihat selalu ceria, heboh dan menghibur dengan gaya celetukan khas mereka, namun di balik itu mereka juga memendam masalah berkaitan dengan orientasi seksual mereka. Saat di kapal mereka ini bermekaran bak bunga liar Alaska di musim panas.

Tidak ada rona kekhawatiran terpancar di lingkungan yang serba bebas itu. Namun bila sedang di Indonesia, mereka tidak bisa bermekaran dengan ceria, bahkan layu sebelum berkembang karena banyak faktor sosial yang menghambatnya. Banyak di antara mereka menutup rapat orientasi mereka di hadapan keluarga dan lingkungannya.

Pernah suatu hari saya diundang makan malam oleh komunitas sister ini di kawasan Semanggi, Jakarta. Gaya mereka saat berbicara heboh habis, seheboh penampilan mereka malam itu. Saat saya mengutarakan niat untuk membuat sedikit tulisan tentang komunitas sister ini kepada mereka, nampak ada keengganan di wajah mereka. Alasan mereka hampir seragam: takara bogor! Alias takut bocor ke telinga keluarga, tetangga atau teman-teman mereka! Berbeda sekali saat di kapal pesiar, mereka begitu ”mekar” tanpa dihantui perasaan-perasaan yang membuat mereka layu sebelum berkembang, seperti bunga mawar yang lupa tidak kena siraman air.

Donce, Emmy, Paula, Bembi, Frida, dan sederet nama lainnya adalah legenda hidup komunitas sister ini di kapal pesiar. Nama-nama yang mereka miliki itu hanyalah nama samaran, bukan nama sebenarnya yang tercetak di paspor. Terlepas dari sepak terjang mereka di sana, ada banyak kontribusi yang mereka berikan untuk mengharumkan nama Indonesia di atas kapal pesiar. Kontribusi dalam usaha memperkenalkan budaya Indonesia di mata penumpang yang notabene mata dunia di antaranya ditunjukkan melalui atraksi Indonesian crew show. Sebelumnya, kru berjenis perempuan asal Indonesia memang tidak ada di kapal pesiar Holland America Lines. Maka untuk menggantikan ketiadaan lakon perempuan, kelompok ini akan sangat bersuka cita untuk menggantikannya. Mereka biasanya berperan sebagai Sinta saat lakon sendratari Ramayana, misalnya.

Kontribusi mereka dalam pekerjaan dapat pula disebut di sini, misalnya dalam melakukan beberapa pekerjaan tambahan atau mastiek job di dining room. Hasil karya mereka akan tampak lebih bagus bila ada sentuhan tangan dari mereka. Salah satunya adalah mastiek flower alias pekerjaan tambahan yang berkaitan dengan penataan bunga di kapal pesiar. Rangkaian bunga kreasi mereka tersebar di lounge, dining room, lido restaurant, maupun front office. Dan kemudian mastiek flower itu biasanya menjadi mastiek job tetap mereka.

Lain lagi saat crew party. Mereka akan habis-habisan berekspresi. Pakaian pesta mereka bisa membuat kru perempuan iri hati. Namun bila orang rumah tahu, mungkin bisa pingsan sambil berdiri saat melihat perilaku kelompok sister ini ketika berdandan. Yang paling ”cantik” biasanya mendapat predikat queen atau ratu. Maka terkenallah si anu queen of Maasdam, si anu queen of Rotterdam, si anu queen of Statendam dan sebagainya tergantung di kapal pesiar mana mereka bekerja. Seperti yang saya ceritakan di awal, mereka adalah sosialita kapal. Sangat cair dalam bergaul, mulai dari top officer hingga kru di mess room. “Asal lekong ganteng, hayo saja, ” kata mereka setengah kenes. Kondisi ini semakin diuntungkan lagi apabila Hotel Manager-nya termasuk dalam kelompok ini. Pokoknya klop deh!

Kelompok ini bisa membisiki sang Hotel Manager saat ada brondong ganteng, yang baru saja naik kapal pesiar. Bila si brondong mau berkunjung ke kamar Hotel Manager, meskipun hanya sebatas ngobrol saja, apalagi kalau mau diperlakukan lebih jauh dari pada itu. Jika sudah begitu, maka dapat diramalkan bahwa karirnya akan segera menyalip para seniornya.

Anggota kelompok sister ada yang memang sudah ”jadi” sebelum bergabung, namun kenyataan menunjukkan bahwa ”bakat” untuk jadi sister semakin besar potensinya setelah berada di kapal pesiar. Bahkan ada yang lebih parah lagi, awalnya hetero lambat laun beralih orientasi menjadi homo. ”Iya, bener bo..” kata mereka menegaskan. Lingkungan kapal pesiar seolah telah menjadi kepompong buat mereka untuk bermetamorfosis dari lekong menjadi sister, bila kita tidak bisa jaga diri.

Itulah warna lain dari kehidupan di sebuah komunitas sempit kapal pesiar. Bagi yang mau bekerja di dunia ini mudah-mudahan bisa menjadi gambaran bagaimana bisa mengekspresikan hasrat seksualnya. Komunitas yang bebas dan jauh dari pantauan orang rumah, tetangga ataupun saudara, seolah menyediakan ruang terbuka untuk melakukan apa saja. Ada yang menikmati dan menyatu dengan kebebasan tersebut, ada yang kadang mau bebas kadang bisa menahan diri, bahkan kadang ada juga yang berpegang teguh untuk selalu menahan diri sebab sadar adanya invisible eyes yang mengawasi dan tidak mau berkhianat atas kepercayaan yang diberikan orang tua, anak dan isteri di rumah. Pilihan ada di tangan kita masing-masing.