Bab 24
- Wadah Yang Retak
Sari menyeret langkahnya yang berat, membantu Bagas masuk ke dalam celah sempit di balik panel mesin. Udara di dalam jalur itu terasa dingin dan berbau tanah lembap, sangat kontras dengan bau kimia di ruangan laboratorium.
Tepat saat mereka masuk ke dalam kegelapan lorong, pintu laboratorium itu hancur berantakan. Suara rentetan senjata otomatis memecah kesunyian, diikuti oleh teriakan Lukas yang tenggelam dalam kebisingan logam yang menghantam dinding.
Sari ingin menoleh, ingin memastikan, namun Bagas menariknya terus masuk ke dalam labirin pipa beton yang gelap.Mereka merayap dalam diam selama apa yang terasa seperti berjam-jam.
Rasa sakit di bahu Bagas dan rasa kebas di tengkuk Sari menjadi satu-satunya kompas mereka.Cahaya mulai muncul di ujung lorong, bukan cahaya neon biru yang dingin, melainkan cahaya rembulan yang keperakan.
Mereka keluar dari sebuah lubang ventilasi yang tertutup semak belukar, terengah-engah di atas rumput basah.
Di hadapan mereka, gedung rumah sakit pusat berdiri kokoh seperti raksasa yang tertidur, menyembunyikan semua horor yang baru saja mereka lalui di bawah fondasinya.
Sari menatap langit malam. Tidak ada lagi kode biner yang melayang. Tidak ada lagi bisikan Aris. Namun, kata-kata terakhir Bagas di laboratorium tadi masih menggantung di benaknya seperti kabut.
"Bagas," Sari menoleh, wajahnya diterangi lampu jalan yang redup dari kejauhan.
"Lukas sudah tidak ada. Aris sudah mati. Sekarang katakan... siapa bayi di foto itu? Siapa aku sebenarnya?"
Bagas menyandarkan punggungnya di batang pohon besar, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Sari dengan tatapan yang lebih menyakitkan daripada luka peluru.
"Aris tidak pernah menciptakanmu dari ketiadaan, Sari," Bagas menarik napas panjang, suaranya bergetar. "Dia tidak mencarimu karena kau cocok secara genetik. Dia mencarimu karena kau adalah satu-satunya bagian dari dirinya yang masih memiliki nurani. Kau bukan sekadar wadah, Sari. Kau yang ingin dia bunuh demi eksperimen ini sepuluh tahun lalu, dan dia menghapus ingatanmu agar kau tidak membenci dirimu sendiri saat dia mengambil alih tubuhmu."
Sari membeku. Dunia yang baru saja ia selamatkan tiba-tiba terasa jauh lebih kejam daripada kegelapan di dalam pipa limbah tadi.
"Jadi... aku adalah korban ambisnya?" bisik Sari, tangannya gemetar hebat.Bagas tidak menjawab.
Dari kejauhan, sirine polisi dan ambulans mulai meraung-raung mendekati area rumah sakit, namun entah mengapa, Sari merasa semua hanya hampa dan kekosong yang menyelimutinya.
Sari menatap langit malam yang mulai memucat, namun kata-kata Bagas barusan terasa lebih dingin daripada embun yang menusuk kulitnya.
Dia adalah bagian dari ambisi Aris, monster yang baru saja ia saksikan tewas dalam genangan cairan kimia.Rasa mual hebat menghantam ulu hatinya.
Tengkuknya yang tadi kebas kini mulai berdenyut lagi, bukan karena chip, melainkan karena trauma yang memuncak.
Dunia di depannya mulai berputar. Pepohonan, lampu jalan yang berkedip, hingga wajah Bagas yang penuh luka, semuanya melebur menjadi satu pusaran kelabu.
"Sari? Hei, Sari! Bertahanlah!" suara Bagas terdengar sangat jauh, seperti teriakan dari dasar sumur.
Lantai bumi seolah hilang dari bawah kakinya. Sari jatuh terjerembap ke atas rumput basah, dan kegelapan total menelannya sebelum ia sempat mengeluarkan sepatah kata pun.
Bau itu kembali. Bau antiseptik yang tajam, aroma linen bersih yang dicuci dengan pemutih, dan bunyi pip... pip... pip... yang monoton dari mesin EKG.
Sari membuka matanya perlahan. Cahaya lampu neon di langit-langit terasa menyakitkan, memaksanya menyipitkan mata. Untuk sesaat, ia diserang ketakutan luar biasa.
Apakah laboratorium itu hanya mimpi? Apakah Aris masih ada di dalam kepalanya? Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun terasa berat karena selang infus yang tertanam di punggung tangan.
Ia menoleh ke samping.Di sana, di atas kursi besi yang tidak nyaman, Bagas duduk menelungkup. Kepalanya diletakkan di atas lipatan tangan di pinggiran tempat tidur Sari.
Napasnya terdengar berat dan teratur bunyi yang hanya bisa dihasilkan oleh seseorang yang sudah mencapai titik nadir kelelahannya.
Lengan baju Bagas yang tersingkap menunjukkan perban baru yang menutupi luka tikaman Lukas. Wajahnya yang biasa terlihat tegang, kini tampak rapuh di bawah temaram lampu nakas.
Sari memperhatikan tangan Bagas yang letaknya hanya beberapa sentimeter dari jemarinya. Pria ini telah mengikutinya ke neraka, melihat semua aib dan rahasia kelamnya, namun dia masih di sini.Tidak melarikan diri, tidak meninggalkannya sebagai produk gagal eksperimen Aris.
Sari mencoba bangun, namun rasa pening langsung menyerang kepalanya. Gerakannya membuat seprai berkerisik pelan. Bagas tersentak. Kepalanya terangkat dengan cepat, matanya yang merah karena kurang tidur langsung waspada, sebelum akhirnya melunak saat melihat Sari sudah sadar.
"Kau... kau sudah bangun," suara Bagas serak, khas orang yang baru terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan kesadaran.
"Jangan banyak gerak dulu. Dokter bilang kau kolaps karena syok hebat dan kelelahan saraf."
Sari terdiam, menatap langit-langit ruangan yang putih bersih. "Apakah ini nyata, Gas? Atau Aris sedang memainkan simulasi terakhir di otakku?"
Bagas menghela napas panjang. Ia meraih tangan Sari, menggenggamnya dengan jemari yang kasar dan hangat. "Ini nyata. Aris sudah mati. Gedung itu sudah disegel oleh pihak otoritas yang bisa dipercaya, kali ini benar-benar pihak luar. Chip di kepalamu... sudah mati total. Kau bebas, Sari.""Bebas?"
Sari tertawa getir, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh ke pelipisnya. "Bagaimana aku bisa bebas dari kenyataan bahwa aku adalah ambisinya yang dia buru dari dulu? Bahwa semua ingatan masa kecilku mungkin hanya kode yang dia tulis ulang?"
Bagas terdiam sejenak, menatap mata Sari dengan intensitas yang jujur. "Ingatanmu mungkin bisa dimanipulasi, tapi rasa sakit yang kau rasakan saat melawan dia semalam... itu asli. Pilihanmu untuk menghancurkan tabung itu, meski kau pikir kau akan mati, itu juga asli. Aris tidak bisa menulis kode untuk keberanian seperti itu."
Bagas berdiri, mendekatkan kursinya ke tempat tidur. "Kita punya waktu untuk mencari tahu siapa kau sebenarnya. Tapi untuk sekarang, cukup jadilah Sari yang berhasil bertahan hidup. Itu sudah lebih dari cukup."
Sari menatap tangannya yang bebas dari tanda lahir digital. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, kepalanya terasa sunyi. Benar-benar sunyi.
Ia memejamkan mata, membiarkan kehangatan tangan Bagas menjadi satu-satunya frekuensi yang ia rasakan.Di luar jendela rumah sakit, matahari mulai terbit, membasuh kota dengan cahaya oranye yang tenang.
Perang itu berakhir, meski luka-lukanya mungkin akan butuh seumur hidup untuk benar-benar mengering.Karena rasa lelahnya,
Sari jatuh tertidur kembali. Kali ini tidur dalam ketenangan yang nyata, tanpa mimpi apapun. Tidur pulas yang nyenyak