Cinta Di Langit Senja

26 February 2026

Bab 25

  • Resonansi Tanpa Luka

Sari terbangun dengan sensasi dingin yang membelai pipinya. Angin pagi yang membawa aroma rumput basah masuk melalui jendela yang terbuka lebar.

Cahaya matahari pukul delapan menyapu lantai putih ruangan itu, memberikan kesan hangat yang semu.Di kejauhan, melalui bingkai jendela, Sari melihat pemandangan yang terasa seperti potongan surga yang mustahil.

Di bawah pohon trembesi di taman rumah sakit, ayahnya sedang menyesap kopi dari termos kecil, ibunya sibuk merapikan syal di leher, dan Dewi kakaknya yang terakhir ia temui saat pesta ulang tahun perak orang tua mereka di Kuta sedang tertawa sambil menunjuk ke arah sekawanan burung.

Sari berkedip berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang. Apakah ini akhirat? Ataukah Aris berhasil mengunduh kesadarannya ke dalam simulasi utopia yang sempurna?

"Sari? Hei, kau sudah bangun?"Suara itu. Berat, hangat, dan nyata.Sari menoleh ke samping.

Bagas duduk di kursi kayu yang sama, tangan kanannya menggenggam jemari Sari dengan erat. Wajahnya tampak bersih, segar, bahkan terlihat lebih muda.

Sari tidak menjawab. Matanya langsung melesat ke arah bahu Bagas, tempat di mana ia melihat belati Lukas menghujam sedalam tulang. Ia juga mencari bekas luka di kening Bagas akibat benturan, atau jelaga hitam yang seharusnya mengerak di pori-pori kulitnya. Bekas luka di tangannya.Tapi tidak ada apa-apa.

Dengan gerakan panik dan tangan yang gemetar, Sari menyambar lengan Bagas. Ia menarik lengan baju pria itu ke atas, membolak-baliknya dengan kasar. Kosong. Kulit Bagas bersih, hanya ada bulu-bulu halus dan urat nadi yang berdenyut tenang.

Sari beralih ke tangan satunya, memeriksa punggung tangan, telapak, hingga ke leher Bagas. Ia mencari bekas jahitan, memar biru, atau sekadar goresan kecil sisa pelarian maut mereka dari pipa pembuangan limbah.

"Di mana?" desis Sari, suaranya parau dan pecah. "Di mana bekas luka-luka itu, Gas?"

Bagas membiarkan Sari membolak-balik tangannya, namun keningnya berkerut dalam. Ia menatap Sari dengan tatapan yang bercampur antara kasih sayang dan keheranan yang tulus. "Luka apa, Sari? Apa yang sedang kau cari?"

"Luka tikaman Lukas! Ledakan di pintu palka! Darah... ada begitu banyak darah di bajumu saat kita keluar dari sana!" Sari mulai terisak, napasnya memburu.Ia meraba tengkuknya sendiri, mencari benjolan chip atau bekas operasi, namun kulitnya terasa rata dan halus.

Bagas memegang kedua bahu Sari, mencoba menenangkannya. "Sari, dengarkan aku. Kau baru saja melewati masa sulit. Dokter bilang demammu sangat tinggi. Kau pingsan kembali saat kesadaranmu kembali, tiga hari yang lalu. Saat itu kamu tidak mau dipanggilkan orang tuamu, karena ada om Aris disana katamu."

Sari membeku. "Sadar...siuman? Tidak... kita di laboratorium bawah tanah. Kita melihat mumi itu. Aris... Lukas mati menembaki pasukan elit agar kita bisa lari!"

Bagas menggeleng pelan, senyum tipis yang penuh simpati muncul di wajahnya. "Sari, Lukas itu sepupumu yang tinggal di luar kota. Dia bahkan tidak ada di sini. Dan Aris? Dia itu pamanmu.

"Bagas mengusap punggung tangan Sari dengan ibu jarinya. "Kau sudah tertidur selama tiga hari penuh, Sari. Kau mengigau hebat. Kau terus menerus meneriakkan nama-nama yang tidak ku pahami dan bicara tentang frekuensi atau kabel. Mungkin itu efek samping dari stres pekerjaanmu, kelelahan, atau akibat benturan saat kecelakaan itu. Tapi..bukankah ada Bimo, mitra bisnismu?."

Sari menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia menatap Bagas seolah pria itu adalah orang asing yang paling menakutkan.

Di luar jendela, keluarganya masih tampak bahagia di taman, namun bagi Sari, keceriaan itu kini terasa seperti cat dinding yang mulai mengelupas, menunjukkan kegelapan di baliknya.

Jika luka-luka di tubuh Bagas hilang, berarti pelarian itu tidak pernah terjadi. Tapi jika pelarian itu tidak terjadi, bagaimana mungkin ia merasa sangat merindukan kebebasan yang ia rasakan saat menghancurkan tabung itu?

Sari menunduk, menatap pergelangan tangannya sendiri. Tidak ada tanda lahir. Bersih.

"Tiga hari, Gas?" bisik Sari, matanya menatap kosong ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat. "Kau yakin aku cuma tertidur?"

"Tidur yang sangat panjang," jawab Bagas lembut, namun matanya tidak berkedip saat menatap Sari. "Tapi sekarang kau sudah pulang. Semuanya sudah kembali ke tempat yang seharusnya."

Sari merinding. Kata-kata itu... pulang adalah kata terakhir yang diucapkan Aris sebelum semuanya meledak. Ia menatap Bagas lagi, dan untuk sepersekian detik, ia merasa melihat kilatan cahaya kuning redup di pupil mata pria itu, persis seperti cahaya dari tabung kriogenik yang ia pecahkan.

Keheningan di ruangan itu mendadak terasa menyesakkan. Sari tidak tahu mana yang lebih mengerikan, kenyataan bahwa semua perjuangannya hanyalah mimpi buruk saat demam, atau kenyataan bahwa ia mungkin tidak pernah benar-benar bangun dari laboratorium itu.

Pintu kamar rawat itu terdorong terbuka dengan bunyi klik logam yang tajam, memutus kontak mata antara Sari dan Bagas yang terasa kaku. Tiga orang pria berjubah putih masuk diiringi oleh perawat dengan langkah yang terlalu sinkron, seolah mereka adalah bagian dari mesin yang sama.

Dokter Januar, spesialis saraf dengan kacamata perak yang selalu berkilat, berdiri paling depan. Di belakangnya mengikuti seorang dokter internis paruh baya dan dokter jaga yang sibuk mencatat di tablet digitalnya.

"Selamat pagi, Sari. Tidurmu nyenyak?" tanya Januar. Ia memutar lampu senter kecil, memeriksa pupil mata Sari.

Cahayanya terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke pusat otaknya. "Refleksmu sangat bagus. Sinkronisasi... maksud saya, koordinasi motorikmu sudah kembali seratus persen."

Sari menyipitkan mata. Sinkronisasi? Kenapa dokter itu menggunakan istilah yang sama dengan Aris?

Dokter internis maju, memeriksa selang infus yang kini sudah kosong. "Tekanan darah stabil, fungsi organ dalam tanpa hambatan. Secara klinis, kau adalah keajaiban kecil. Kecelakaan mobil itu tidak mengakibatkan hal yang buruk bagimu."

Bagas berdiri dari kursinya, memberikan ruang bagi para dokter. "Jadi, dia sudah bisa pulang hari ini, Dok?"

"Tentu saja," jawab Januar sambil memberikan senyum profesional yang tidak sampai ke mata. "Kami sudah menyiapkan berkas kepulangannya. Administrasi sudah diselesaikan oleh keluarga pagi tadi. Kau hanya perlu menandatangani beberapa formulir pelepasan tanggung jawab di depan."

Sari memperhatikan Dokter Januar yang sedang memeriksa catatan medisnya. "Dokter... apakah selama aku tidak sadar, ada operasi di leherku? Atau mungkin bekas luka di punggung tangan?"

Dokter Januar tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. "Operasi? Sari, kau hanya mengalami nervous breakdown akibat kelelahan kronis. Tidak ada pisau bedah yang menyentuhmu. Kulitmu bersih sehalus porselen."

Sari terdiam saat suster masuk membawa kursi roda dan tas berisi pakaian ganti miliknya. Pakaian itu adalah pakaian yang sama dengan yang ia kenakan saat 'makan malam, di saat ulang tahun perak orang tua nya, yang disebutkan Bagas.

Wangi detergen rumahnya tercium kuat, seolah berusaha meyakinkannya bahwa semuanya normal. Proses kepulangan itu berlangsung cepat, terlalu cepat. Bagas dengan sigap membantu Sari berdiri.

Saat jemari Bagas menyentuh pinggangnya untuk memapah, Sari kembali merasakan sensasi dingin yang aneh, namun ia hanya bisa pasrah. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang panjang.

Sari terus memperhatikan sekelilingnya dengan saksama. Setiap suster yang lewat, setiap bunyi beep dari kamar pasien, hingga pantulan dirinya di pintu kaca, semuanya tampak terlalu sempurna.

Tidak ada ubin yang retak, tidak ada cat yang mengelupas. Di lobi, keluarganya sudah menunggu. Ayah, Ibu, dan Dewi berdiri di dekat pintu otomatis. Mereka melambai dengan antusiasme yang seragam.

"Ayo, Sari. Mobil sudah menunggu di depan," ajak Bagas lembut, tangannya masih setia menggenggam jemari Sari.

Sari melangkah menuju pintu kaca otomatis itu. Saat kakinya menginjak garis batas antara ubin rumah sakit dan aspal parkiran, ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Dokter Januar berdiri di lantai dua, menatapnya dari balik jendela kaca besar sambil memegang sebuah tablet.Januar tidak melambai. Ia hanya mengangguk pelan, seolah sedang memverifikasi bahwa sebuah unit baru saja berhasil meninggalkan fasilitas.

Sari masuk ke dalam mobil. Bagas duduk di sampingnya, menutup pintu dengan bunyi blam yang berat dan kedap suara.

Saat mobil mulai melaju meninggalkan area rumah sakit, Sari menatap kaca spion. Dia melihat kesamping, disana, ada seseorang yang memandangnya sambil tersenyum. Paman Aris. Yang tersenyum padanya, senyum yang tidak sampai kemata.

Sari menatap tak percaya, sementara gedung rumah sakit itu perlahan mengecil, namun di dalam kepalanya, satu pertanyaan terus berdenyut lebih keras dari suara mesin mobil. Tanpa tau pada siapa dia harus bertanya. Dan siapa yang dapat menjawab semua pertanyaannya.