"Sebenarnya tak ingin merepotkanmu.." ucap Naufal. Siang itu sengaja ia menyempatkan makan siang bersama Clara untuk membahas soal Raisa.
"Tidak apa-apa. Biar tenang dulu. Raisa juga sudah nyaman di rumahku. Sudah 1 minggu, dan aku sudah bisa melihat keceriaan di wajahnya," ucap Clara.
"Terimakasih. Tidak menyangka kalau pertemuan kita yang tidak sengaja justru membuatku jadi membebanimu."
"Tidak gratis ya?" Clara mengedipkan mata.
"Maksudmu?"
Clara tertawa.
"Aku bercanda. Tampangmu jangan kaget begitu," ejek Clara.
Naufal ikut tertawa.
"Aku juga bingung harus membayar berapa pada bu dokter untuk menjadi pengasuh anak," ucap Naufal.
"Aku senang bisa membantumu. Rumah juga tidak sepi dengan adanya Raisa," ucap Clara.
Ponsel Naufal berdering, memecah kesunyian di antara mereka. Nama Sinta terpampang di layar.
"Sebentar," kata Naufal, lalu mengangkat teleponnya. "Hallo," sapanya.
"Kamu di mana?" suara Sinta terdengar dari seberang.
"Di luar, makan siang. Kenapa?"
"Tidak apa-apa... Ya sudah, kamu makan saja. Nanti malam kita ngobrol, ya?"
"Iya."
"Sayangnya mana?" Sinta bertanya, suaranya terdengar manja.
Naufal melirik Clara sesaat sebelum menjawab. Ia merasa sedikit canggung, mengingat Clara ada di hadapannya.
"Iya, sayang..." jawabnya, berusaha terdengar natural.
"I love you, Komandan," Sinta menutup teleponnya. Naufal tersenyum, menyimpan ponselnya.
Clara mengamati Naufal dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pacarmu?" tebaknya, suaranya tenang namun terdengar sedikit sendu.
Naufal hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Clara secara langsung. Ia merasa tak perlu menjelaskan lebih jauh.
"Ah, aku kalah cepat," gumam Clara, tertawa pelan. Ada sedikit rasa kecewa yang tersirat dalam tawanya.
"Ayo, makan. Aku harus kembali bertugas. Kasus narkoba baru saja masuk," ucap Naufal, berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia ingin menghindari pertanyaan lebih lanjut. Dunia kepolisiannya menuntut fokus penuh.
Clara tersenyum tipis, mengangguk. Ia tahu Naufal seorang polisi yang sangat sibuk, apalagi di satuan Resnarkoba. Namun, di balik kesibukannya, ada seorang wanita yang telah berhasil merebut hatinya, dan sebuah rahasia keluarga yang berat dipikulnya. Rahasia yang kontras dengan citra polisi yang tegar dan tangguh.
Udara panas hari itu terasa menusuk kulit, bahkan di dalam ruangan ber-AC kantor Satresnarkoba Unit 1. Kipas angin berputar kencang, mencoba melawan hawa pengap yang menyelimuti ruangan yang dipenuhi tumpukan berkas kasus dan aroma kopi instan. Aretha mengetik cepat di keyboard, jari-jarinya lincah menari di atas tuts. Di sebelahnya, Wishnu, dengan wajah serius, menatap layar ponselnya. Suasana tegang terasa mencekam, diselingi sesekali oleh dering telepon dan suara ketikan keyboard yang nyaring.
Dimas, dengan gaya santai khasnya, bersandar di kursinya, kaki terentang di atas meja. Ia mengamati Aretha dan Wishnu bekerja, sesekali melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang. Namun fokusnya tertuju pada percakapan diam-diam antara Aretha dan Wishnu. Ada sesuatu yang terasa berbeda hari ini.
"Pak Naufal mana, Ret?" tanya Dimas, suaranya memecah kesunyian, sedikit lebih keras dari biasanya.
Aretha menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya, namun matanya tampak sedikit redup. "Keluar, makan siang katanya. Sama Dokter Clara," jawabnya singkat, nada suaranya datar, namun ada sedikit getar yang tak dapat disembunyikan.
Dimas mendengus, matanya berkilat-kilat, sedikit iseng. "Hm.. Sepertinya komandan kita mulai bermain hati," ucapnya, nada bercanda namun sedikit getir. "Mulai punya nama lain selain pacarnya yang di Jakarta itu ya?" Ia sengaja memancing, ingin melihat reaksi Aretha.
Aretha mengerutkan dahi, nada cemburunya tak dapat disembunyikan. "Aku tidak tahu. Tapi sepertinya memang mereka sedang sangat dekat," jawabnya, suaranya terdengar sedikit tertahan. Seutas benang cemburu terjalin dalam nada bicaranya.
Dimas terkekeh, namun ia merasakan getaran lain dalam respon Aretha. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Aretha. "Jangan berkecil hati Aretha sayang. Belum ada upacara Pedang Pora, masih milik bersama dan masih bisa diperjuangkan," katanya, tangannya menepuk bahu Aretha dengan ringan, mencoba menghiburnya.
Aretha menepis tangan Dimas, wajahnya memerah. "Pak Dimas, jangan menggodaku!" ucapnya, sedikit kesal, namun ada sedikit kelembutan dalam nada suaranya. Ia tahu Dimas hanya bercanda, namun perasaannya sedang sensitif.
Tiba-tiba, Razak, anggota tim lainnya, masuk dengan tergesa-gesa. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, lalu menunjuk ke arah pintu. "Stt, Diam. Dia pulang," bisiknya. "Masih di depan, ngobrol sama Pak Rian."
Dimas buru-buru meraih berkas di atas meja Aretha, menyembunyikannya di bawah tumpukan kertas lainnya. Langkah kaki terdengar semakin dekat, dan suasana ruangan berubah tegang. Naufal masuk dengan langkah mantap. Ia membawa map merah di tangannya, wajahnya tampak serius.
"Pak," sapa Dimas, mencoba bersikap tenang.
Naufal mengangguk singkat, lalu berjalan menghampiri meja Aretha. Ia meletakkan map merah di atas meja, tatapannya tajam. "Belum dapat info tentang Maya?" tanyanya langsung pada intinya, suaranya sedikit berat.
Aretha melirik Wishnu, seakan meminta bantuan. Wishnu mengangguk, lalu menjawab, "Nomor yang menelpon abang waktu itu sampai hari ini tidak aktif. Nomor itu juga menggunakan identitas palsu, Bang. Kami sudah mencoba melacak, tapi semuanya mengarah pada jalan buntu."
Naufal mengerutkan kening, tampak frustasi. Ia mengeluarkan ponselnya, sebuah pesan chat baru masuk. Ia membacanya, lalu menunjukkan pada Dimas.
"Hallo, lelaki tampan yang membuat wanita akan membawa wajahmu ke dalam mimpi. Jangan mencariku sayang. Nanti, akan tiba masanya aku menemuimu dan membolak-balikkan hatimu. Oya, dokter yang makan siang denganmu siang ini cantik sekali," demikian bunyi pesan chat itu, tertulis dengan gaya bahasa yang penuh teka-teki. Pesan itu terasa mengancam, namun juga menggoda.
Dimas membacanya dengan seksama, mengerutkan kening.
"Maya.. Aku yakin itu dia," ucap Naufal. "Dia menggunakan nomor yang selalu berbeda setiap mengirimkan pesan.
"Dia tahu gerak gerik anda. Artinya dia mengawasi setiap langkah anda," ucap Dimas.
"Tapi tidak satupun para pengedar yang kita tangkap pernah melihat wajah perempuan itu."
"Dia sengaja ingin membuat abang penasaran, bahkan mungkin sedang memainkan abang," ucap Aretha. Kecemasannya semakin terasa.
Naufal menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, tampak lelah. "Kita harus menemukannya sebelum dia melakukan sesuatu yang lebih berbahaya," katanya, suaranya terdengar putus asa. "Kejahatan yang dilakukan Maya bukan hanya kejahatan biasa, ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini."
"Kita perlu melacak nomor ini lebih dalam," saran Wishnu. "Mungkin ada jejak digital yang bisa kita telusuri. Saya akan mencoba pendekatan lain, mungkin ada celah yang terlewatkan."
"Benar," kata Dimas, "kita perlu memeriksa koneksi Maya dengan jaringan kriminal lain."
Razak menambahkan, "Kita bisa meminta bantuan tim cyber crime untuk melacak identitas pemilik nomor tersebut. Mereka memiliki teknologi yang lebih canggih."
Naufal mengangguk setuju. "Baiklah, kita bagi tugas. Dimas, kau fokus pada koneksi Maya dengan jaringan kriminal. Wishnu, kau kerjakan pelacakan digital dengan pendekatan baru. Razak, hubungi tim cyber crime. Aretha, kau fokus pada analisis data yang sudah kita kumpulkan, dan coba cari pola yang mungkin terlewatkan."
"Siap, Dan!"
Mereka mulai bekerja dengan efisien, masing-masing menjalankan tugasnya dengan serius. Suasana ruangan kembali tegang, dipenuhi dengan ketikan keyboard, dering telepon, dan bisikan-bisikan. Waktu berlalu begitu cepat, hingga matahari mulai terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Bayangan panjang menari di dinding-dinding ruangan, seakan menggambarkan kerumitan kasus yang mereka hadapi. Bayangan Maya, sosok misterius yang menjadi pusat perhatian, semakin membayangi mereka. Perburuan belum berakhir.