Langkah tegap. Napas yang memburu. Hujan pun menderas.
Kumpulan massa membelah aspal basah Jalan Wolter Monginsidi, bergerak bagai arus sungai hitam dan hijau yang meluap ke arah distrik bisnis. Di barisan paling depan, pelantang suara merah kusam tergenggam erat di tangan kananku. Plastik kerasnya terasa dingin. Jejak peluh Ucup masih menempel di gagangnya.
Satu jam lalu, sepuluh juta uang basah menghantam dada preman sewaan Maju Jaya Rent. Lunas. Kunci Calya terbuang. Identitas sebagai sapi perah Ko Aseng resmi mati. Orasi di atas kap pikap L300 merobek malam, mengubah kerumunan supir putus asa menjadi Pasukan Jaket Hijau yang beringas. Semua itu kini terekam menjadi kepingan masa lalu. Retrospeksi yang memudar digantikan oleh realitas aspal SCBD di depan mata.
Kami melangkah masuk ke jantung kapital. Gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca menjulang angkuh, memantulkan kilat dan nyala api dari ban bekas yang dibakar massa di persimpangan. Lampu-lampu jalan memendarkan warna kuning pucat, menyorot ribuan wajah lelah kaum pekerja gig. Wajah-wajah dengan kantung mata menghitam akibat Ritual Mata Merah.
Aroma sate taichan Blok S telah lama tertinggal. Kini, udara basah Jakarta membaur dengan bau tajam aspal panas yang tersiram hujan, karbon monoksida dari knalpot motor yang diputar paksa, dan sayup-sayup wangi Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540 yang menguar dari pendingin udara mobil-mobil mewah yang terjebak blokade. Pemandangan kontras. Porsche Carrera dan Alphard hitam mengilap terkurung di tengah lautan jaket hijau lusuh dan jas hujan plastik murahan.
Tuhan Digital sedang koma. Server tumbang. Dan tanpa algoritma yang mengarahkan, kota ini lumpuh total.
Aku menatap lurus ke arah Treasury Tower. Markas besar perusahaan aplikasi. Benteng kaca tempat Desperation Index diracik untuk mencekik leher kami perlahan. Di tengah derap langkah ribuan kaki yang menggetarkan trotoar, pikiranku melayang. Membedah anatomi kekacauan malam ini.
Kami ini spesies apa?
Sebuah refleksi spesies muncul begitu saja di tengah bisingnya klakson dan yel-yel perlawanan. Pekerja lepas. Mitra. Sapi perah. Kami adalah anomali evolusi urban. Manusia-manusia yang direduksi menjadi titik biru berkedip di peta digital. Bergerak berdasarkan tarikan surge pricing, hidup dari notifikasi ke notifikasi. Eksistensi kami diukur dari rating bintang lima dan ancaman suspend sepihak.
Sebuah hyperreal legacy. Warisan hiper-realitas.
Di dunia nyata, kami berdarah, berkeringat, dan menahan lapar. Namun di mata server, kami sekadar baris kode. Angka analitik yang bisa dihapus kapan saja hanya karena satu keluhan penumpang yang suasana hatinya sedang buruk akibat putus cinta di kafe Senopati. Kami membangun kota ini, mengantar kopi susu gula aren ke meja manajer, mengirim dokumen rahasia antar-gedung, mengantar pulang wanita-wanita mabuk dari kelab malam. Tapi kami tidak pernah benar-benar ada. Kami hantu berseragam hijau.
Langkahku sedikit melambat saat melewati deretan kafe elite di kawasan Senopati. Pintu-pintu kaca tertutup rapat. Tirai ditarik. Namun lamat-lamat, alunan musik jazz dari live band di dalam masih terdengar, bertabrakan dengan teriakan parau Dandi di sebelahku yang terus mengayunkan bendera hitam.
Di titik ini, memori masa lalu menyelinap masuk. Mengingatkan kembali pada warisan spesies yang sesungguhnya. Bukan data digital, melainkan jejak kemanusiaan yang tertinggal di jok belakang mobil sewaan.
The Grateful Grandma.
Ingatan itu muncul tajam. Dua tahun lalu. Hujan badai mengguyur kawasan Fatmawati. Sistem aplikasi sedang kejam-kejamnya, memotong Biaya Layanan Mitra Terpadu hingga nyaris tiga puluh persen. Aku menerima pesanan pengantaran obat dari apotek kecil menuju sebuah gang sempit yang tidak bisa dilewati mobil. Terpaksa berjalan kaki menembus banjir selutut, menjaga kantong plastik obat agar tetap kering.
Di ujung gang, seorang nenek renta menunggu di teras rumah petak yang atapnya bocor. Tangan keriputnya gemetar menerima plastik tersebut. Ia tidak punya uang lebih untuk tip di aplikasi. Tapi ia masuk ke dalam, lalu kembali membawa segelas teh jahe panas yang asapnya mengepul tebal.
"Minum dulu, Nak. Biar hangat dadamu," ucapnya waktu itu. Suaranya serak.
Rasa manis dan pedas jahe menuruni kerongkongan, mengusir dingin yang menusuk tulang. Teh murahan. Gelas beling kusam. Tapi malam itu, teh tersebut menyelamatkan kewarasanku. Sebuah legacy kemanusiaan yang tidak pernah tercatat dalam riwayat perjalanan aplikasi.
Lalu, memori kedua menyusul. The Generous Ghost.
Enam bulan lalu. Jam tiga pagi. Aku menjemput seorang pria berjas bespoke dari lobi hotel bintang lima di SCBD. Pria itu tidak banyak bicara. Wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang jok belakang. Aroma wine tua-mungkin Cabernet Sauvignon berumur puluhan tahun-menguar kuat dari napasnya, bercampur dengan parfum mahal yang wanginya tertinggal di kabin Calya selama tiga hari berturut-turut.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen mewahnya di Mega Kuningan, ia hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berlarian. Saat turun, ia tidak membayar lewat aplikasi. Ia meninggalkan sebuah amplop cokelat tebal di jok. Berisi sepuluh lembar uang seratus dolar. Tanpa catatan. Tanpa sepatah kata. Hantu dermawan yang membuang uangnya seolah lembaran itu hanya kertas bekas. Uang itu yang menyelamatkanku dari tarikan debt collector Ko Aseng bulan itu.
Dua kutub ekstrem Jakarta. Nenek miskin dengan teh jahe, dan borjuis patah hati dengan tumpukan dolar. Keduanya membuktikan satu hal: di balik Society of the Squeeze yang kejam, masih ada denyut nadi manusia yang tak bisa diukur oleh mesin.
"Bams! Depan!"
Teriakan Ucup membuyarkan lamunanku.
Aku mengerjapkan mata. Hujan menderas, menyapu sisa-sisa lamunan. Kami telah tiba di pelataran Treasury Tower.
Gedung raksasa itu berdiri angkuh. Kaca-kaca gelapnya memantulkan lautan manusia yang kini mengepung lobi utama. Pasukan anti-huru-hara belum terlihat, jalanan terlalu mampat untuk dilewati truk polisi. Hanya ada barisan satpam gedung yang berdiri gemetar di balik pintu kaca putar, memegang tongkat pemukul dengan wajah pucat pasi.
Udara bergetar. Ribuan mesin motor menderu serempak.
Aku mengangkat pelantang suara, bersiap meneriakkan tuntutan pembukaan data algoritma. Bersiap meruntuhkan dinding ilusi yang membatasi kaum pekerja dan para dewa di lantai empat puluh.
Namun, sebelum jemariku menekan tombol bicara, pintu kaca putar tersebut bergerak.
Seseorang melangkah keluar dari lobi yang terang benderang menuju pelataran yang gelap dan diguyur hujan. Bukan satpam. Bukan polisi.
Seorang pria jangkung. Kemeja putih sutra tanpa dasi, lengannya digulung hingga siku. Celana bahan potongan sempurna. Sepatu kulit oxford yang langsung basah menginjak genangan air. Ia tidak memakai payung. Hujan langsung membasahi rambutnya yang tersisir rapi, menetes di wajahnya yang bersih dan tanpa ekspresi.
Udara di sekitarku mendadak berubah. Hawa dingin yang aneh merayap naik dari aspal.
Pria itu berdiri sendirian menghadapi ribuan massa yang mengamuk. Ia menatap lurus ke arahku, seolah tahu persis siapa yang memegang kendali atas lautan kemarahan ini. Matanya hitam legam, menyerap cahaya dari lampu strobo yang berkedip di kejauhan.
Dandi maju selangkah, mengangkat benderanya. "Siapa lo?! Panggil direktur kalian turun!"
Pria itu tak memedulikan Dandi. Tatapannya terkunci padaku. Ia merogoh saku celananya lambat-lambat. Ratusan supir di belakangku refleks menegang, bersiap jika pria itu mengeluarkan senjata. Namun, ia hanya mengeluarkan sebuah ponsel tipis berlapis logam hitam pekat.
Layar ponsel itu menyala terang. Menampilkan satu baris kode yang langsung kukenali.
Desperation Index: Bambang Sulistyo - Override. Status: God Mode.
Napas tercekat di tenggorokan. Dada sesak.
Pria itu tersenyum miring. Senyum tipis yang merendahkan, namun penuh perhitungan. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga hanya tersisa dua meter di antara kami. Bau parfumnya tercium tajam. Oud dan Bergamot. Aroma kekuasaan yang absolut.
"Bambang Sulistyo," suaranya berat, nyaris tak terdengar di bawah derau hujan, tapi entah bagaimana menembus langsung ke gendang telingaku. "Mantan mandor tekstil. Platinum driver. Dan sekarang... pahlawan jalanan."
Aku mencengkeram pelantang suara. "Siapa lo?"
"Saya yang menulis algoritma yang baru saja kau kutuk mati," jawabnya tenang. Air hujan mengalir di pipinya, tapi ia tampak tak terganggu. "Dan saya turun ke sini bukan untuk bernegosiasi dengan mereka." Ia mengibaskan tangan, menunjuk ribuan massa di belakangku seolah mereka sekadar debu.
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya turun untuk menawari Anda pekerjaan, Bams. Pekerjaan yang sesungguhnya. Di sisi meja yang benar."
Hening. Deru mesin di sekitarku seakan menguap. Pertemuan pengubah hidup ini terjadi di titik nadir kekacauan. Di tengah badai, sang arsitek Tuhan Digital turun ke bumi, bukan membawa keadilan, melainkan sebuah godaan mematikan.
Hujan semakin deras, mengaburkan batas antara pahlawan dan pengkhianat di atas aspal SCBD.