Urban #Bola #Dukun

Sepak Bola Jalur Langit

Penulis djoedo
07 March 2026

Aroma balsem otot kedaluwarsa beradu sengit dengan bau got mampet yang menguap dari parit di belakang Stadion Gajayana Lama. Di sinilah markas Persada Jaya, klub Liga 3 yang nasibnya lebih mengenaskan daripada kerupuk yang terendam kuah soto: lembek, hancur, dan tak ada yang mau memakan.

Herman, manajer tim yang uban di kepalanya bertambah satu helai setiap kali tagihan katering datang, menatap nanar ke arah lapangan gersang. Rumputnya botak-botak seperti kepala Pak RT, sementara gawang sebelah utara miring ke kiri seolah lelah menanggung dosa kekalahan beruntun. Sepuluh kali main, sepuluh kali kalah. Rekor “MURI” yang tidak membanggakan.

"Pak Man! Ini gimana urusan laundry jersi? Tukang cucinya nyandera kostum kiper!" Teriakan Waluyo, asisten pelatih yang merangkap tukang urut dan seksi sibuk, memecah lamunan Herman.

"Bilang padanya, lusa cair! Dana hibah dari kelurahan masih nyangkut di meja Bu Lurah!" Herman membalas dengan nada panik. Ia menyulut rokok kretek, menyesap asap cengkeh dalam-dalam untuk mengusir pening.

Di tengah lapangan, Reza, kapten tim, berlari sendirian. Napasnya memburu, keringat membasahi kaos oblong lusuh bertuliskan "Pemuda Pancasila" yang sudah pudar warnanya. Teman-temannya yang lain sudah pulang, lebih memilih nongkrong di warkop atau sibuk membalas komentar pedas netizen di akun Instagram klub yang followers-nya cuma dua ratus-itu pun seratusnya akun bot jual peninggi badan.

Reza menendang bola sekuat tenaga. Dug! Bola melambung, menghantam mistar gawang, lalu memantul masuk ke selokan. Byurr. Air hitam memuncrat.

"Sialan!" umpat Reza. Ia berkacak pinggang, menatap langit sore yang mulai jingga kemerahan, warnanya mirip sirup orson murahan.

Herman mengamati dari balik jendela kantornya yang retak. Logika sepak bola modern-statistik, gegenpressing, diet nutrisi-sudah ia coba. Hasilnya nihil. Para pemainnya lari seperti dikejar rentenir: kencang tapi tanpa arah. Malam itu, Herman memutuskan untuk membuang buku taktik Pep Guardiola ke tempat sampah. Ia mengambil ponsel, mencari nomor yang diberikan oleh sepupunya yang sukses jadi Caleg DPRD berkat "jalur langit".

Kontak itu bernama: Mbah Gatho (Spesialis Puter Giling & Promosi Jabatan).


Mbah Gatho tidak datang dengan menyan mengepul atau jubah hitam. Ia turun dari ojek online mengenakan kemeja batik KORPRI yang agak kesempitan di bagian perut dan celana bahan kain yang mengkilap. Di tangannya bukan tongkat sakti, melainkan tas laptop branded tiruan.

"Energi di sini... chaos," gumam Mbah Gatho begitu menginjakkan kaki di lobi mes pemain. Ia mengendus udara, hidungnya kembang-kempis seperti mendeteksi durian jatuh. "Banyak jin insecure di pojok sana."

Para pemain berkumpul di ruang tengah, duduk bersila di atas karpet berbau apek. Reza duduk paling belakang, melipat tangan di dada dengan wajah masam. Ia lulusan Sarjana Olahraga, baginya ini adalah penghinaan terhadap ilmu fisiologi.

"Begini, Mas-mas sekalian," Mbah Gatho membuka suara, nadanya berwibawa seperti pejabat yang sedang memberi klarifikasi korupsi. "Kalian ini mainnya bagus, tapi sengkolo-nya berat. Gawang lawan itu ada yang jaga. Genderuwo kiper. Makanya bola kalian selalu kena tiang."

"Terus solusinya gimana, Mbah?" tanya Tino, striker yang lima kali gagal penalti musim ini.

Mbah Gatho tersenyum misterius. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik hitam dari tasnya. Isinya bukan keris, melainkan celana dalam bekas berenda merah muda dan kembang kantil yang sudah layu.

"Ini syarat. Syariat jalan tikus," bisik Mbah Gatho. "Nanti malam, pas jam dua belas, Kapten tim harus mengencingi tiang gawang lawan sambil membayangkan wajah mantan terindah. Itu akan memecah konsentrasi khodam penjaga gawang."

"Gila!" Reza berdiri, matanya melotot. "Saya nggak mau! Ini pelecehan logika!"

"Diam kau, Za!" Herman menyergah, matanya memancarkan keputusasaan seorang pria yang mempertaruhkan sertifikat rumah mertua. "Lakukan saja! Anggap ini latihan akurasi!"

Malam itu, di bawah sorotan bulan yang tertutup awan mendung, ritual gila itu terjadi. Reza, dengan harga diri yang hancur lebur, melakukan instruksi Mbah Gatho. Bau anyir kencing bercampur aroma tanah basah menyeruak. Di pinggir lapangan, Mbah Gatho komat-kamit membaca mantra yang terdengar mencurigakan-lebih mirip resep masakan Padang yang dibaca terbalik.


Keajaiban-atau kebetulan yang dipaksakan-terjadi.

Pertandingan hari Minggu melawan PS Bantul Sakti. Tim lawan yang biasanya trengginas, tiba-tiba bermain seperti orang mabuk kecubung. Kiper mereka tiga kali terpeleset kulit pisang imajiner. Bola tendangan Reza yang harusnya melenceng ke tribun, tiba-tiba berbelok tajam di udara-seolah ditiup angin puyuh-dan masuk ke gawang.

Skor akhir: 3-0 untuk Persada Jaya.

"Mbah Gatho sakti mandraguna!" seru Waluyo di ruang ganti, mencium tangan sang dukun yang sedang asyik merokok Dji Sam Soe.

Kemenangan demi kemenangan menyusul. Persada Jaya menjadi buah bibir. Viral di TikTok dengan tagar #KlubSantet. Setiap sebelum tanding, ritual Mbah Gatho makin aneh. Mulai dari mewajibkan pemain memakai celana dalam terbalik, hingga melarang mereka makan nasi putih dan menggantinya dengan singkong rebus yang sudah didoakan.

Reza merasa muak, tapi ia tak bisa membantah papan skor. Ia mencetak gol terus-menerus. Tapi setiap gol terasa hampa. Ia merasa kakinya digerakkan oleh sesuatu yang lain, bukan skill-nya.

Hingga tibalah hari penentuan. Final Playoff Promosi Liga 2 melawan musuh bebuyutan: Garuda Mataram FC. Tim kaya raya yang disponsori pabrik semen.

Suasana mes pagi itu mencekam. Jam dinding berdetak lambat, menyiksa batin. Herman mondar-mandir di depan pintu, keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.

"Mbah Gatho mana?" desisnya.

Sudah pukul sepuluh pagi. Kick-off pukul tiga sore. Sang dukun belum menampakkan batang hidungnya. Ponselnya tidak aktif. WhatsApp hanya centang satu.

Pukul dua belas siang, sebuah mobil patroli polisi berhenti di depan mes. Sirine nguik-nguik singkat membuat jantung Herman serasa copot. Dua petugas turun, menggiring seseorang yang wajahnya ditutupi jaket.

Bukan, itu bukan Mbah Gatho. Itu Pak RT sebelah.

"Permisi, Pak Manajer," kata polisi itu sopan tapi tegas. "Kami mencari Saudara Gatho. Ada laporan penipuan berkedok penggandaan uang dan penjualan jimat palsu di tiga kabupaten. Beliau buron."

Dunia Herman runtuh. Langit-langit mes berputar. Para pemain yang mengintip dari jendela langsung lemas. Tino bahkan muntah di tempat sampah.

"Jadi... selama ini bohong?" suara Reza memecah keheningan. Nadanya bukan marah, tapi... lega.

"Habis kita, Bos," rintih Waluyo. "Tanpa Mbah Gatho, kaki anak-anak bakal berat kayak dikasih pemberat timah. Sugesti mereka putus!"

Di ruang ganti stadion, satu jam sebelum laga. Suasana seperti tahlilan hari ketujuh. Sepi, muram, berbau minyak angin. Tak ada semangat. Mereka merasa telanjang tanpa perisai gaib.

Reza berdiri di atas bangku panjang. Ia menatap rekan-rekannya yang sudah kalah sebelum bertanding.

"Heh! Bangun!" bentak Reza. Suaranya menggema, memantul di dinding keramik.

"Kalian dengar tadi? Mbah Gatho itu penipu! Dia buronan! Artinya apa? Artinya jimat air kencing, celana dalam terbalik, singkong rebus... ITU SEMUA OMONG KOSONG!"

Reza melempar ban kaptennya ke lantai, lalu memungutnya lagi dengan dramatis.

"Gol-gol kemarin? Itu kaki kalian! Kiper lawan yang blundernya minta ampun? Itu karena mereka grogi lihat muka jelek kalian yang sok sangar! Bukan karena setan!"

"Tapi Za..." Tino menyela, bibirnya pucat. "Kakiku gemetar..."

"Gemetar itu wajar! Itu tandanya kamu hidup!" Reza mendekat, mencengkeram kerah baju Tino. "Sekarang pilihannya cuma dua. Mau kalah sebagai pengecut yang nangis ditinggal dukun palsu, atau mau main bola kayak laki-laki? Ingat, utang gaji kita cair kalau kita naik kasta! Pikirkan cicilan motor kalian!"

Kalimat terakhir itu lebih manjur dari mantra apapun. Mata para pemain mulai menyala. Motif ekonomi selalu menjadi pendorong paling logis di negeri ini.


Peluit kick-off berbunyi.

Babak pertama adalah neraka. Tanpa keyakinan pada jimat, Persada Jaya digempur habis-habisan. Garuda Mataram bermain rapi, taktis, dan scientific. Menit ke-20, gawang Persada kebobolan. 0-1.

Suporter lawan bernyanyi mengejek, "Dukunnya mana? Dukunnya mana? Dukunnya mati dimakan baya!"

Di pinggir lapangan, Herman sudah pasrah. Ia membayangkan dirinya dikejar-kejar debt collector besok pagi.

Namun, di babak kedua, sesuatu berubah. Rasa malu mulai membakar dada para pemain Persada. Bukan malu karena kalah, tapi malu karena sempat percaya bahwa nasib mereka ditentukan oleh orang asing berbaju batik KORPRI.

Reza memimpin serangan. Ia berlari seperti kesetanan, menabrak bek lawan, jatuh, bangun lagi. Keringat dan darah dari pelipisnya yang sobek bercampur debu.

Menit ke-88. Serangan balik cepat. Tino, yang biasanya mengandalkan jimat, kali ini mengandalkan naluri bertahan hidup demi cicilan NMAX. Ia mengirim umpan silang melengkung ke kotak penalti.

Reza melompat. Di udara, waktu seolah berhenti. Ia tidak melihat gawang. Ia hanya melihat wajah Herman yang putus asa, wajah rekan-rekannya yang lelah, dan bayangan Mbah Gatho yang menyeringai.

Bugh!

Kepalanya menghantam bola. Keras. Telak.

Bola meluncur deras ke pojok kanan atas. Kiper Garuda Mataram terbang, tapi tangannya hanya menepis angin. Jaring bergetar.

GOLLL!

Skor 1-1. Karena aturan gol tandang (di sistem turnamen aneh ini), Persada Jaya butuh satu gol lagi. Atau bertahan sampai adu penalti.

Tapi wasit memberikan tambahan waktu 4 menit.

Di detik-detik terakhir, terjadi kemelut di depan gawang lawan. Bola liar memantul tak tentu arah. Bek lawan panik, mencoba membuang bola, tapi malah menendang pantat temannya sendiri. Bola bergulir pelan... sangat pelan... melewati garis gawang saat kiper sedang sibuk membetulkan sarung tangannya yang lepas.

Peluit panjang berbunyi. Persada Jaya menang 2-1.

Stadion meledak. Herman pingsan saking syoknya. Para pemain menangis histeris, berpelukan di lumpur. Mereka menang. Tanpa kencing. Tanpa kembang. Murni karena kekacauan dan blunder lawan.


Malam harinya, di kantor polisi.

Herman dan Reza dipanggil untuk memberikan kesaksian terkait kasus Mbah Gatho. Di ruang interogasi, Mbah Gatho duduk dengan tangan terborgol, tapi wajahnya tetap tenang, bahkan tersenyum licik.

"Selamat ya, Pak Manajer. Menang kan?" sapa Mbah Gatho santai.

Herman mendengus. "Menang gundulmu! Kami menang karena usaha sendiri! Kamu penipu!"

Mbah Gatho tertawa kekeh. "Lho, sampeyan salah paham. Saya memang penipu soal penggandaan uang. Tapi soal bola? Saya tidak pernah bohong."

"Maksud lo?" Reza bertanya, emosinya naik.

"Kalian pikir kenapa saya suruh kalian ritual aneh-aneh?" Mbah Gatho mencondongkan tubuhnya. "Itu bukan buat kalian. Itu buat ngerjain lawan."

"Hah?" Herman dan Reza berpandangan bingung.

"Saya ini sebenernya agen ganda," bisik Mbah Gatho sambil kedip mata. "Manajer Garuda Mataram juga bayar saya. Lebih mahal malah. Saya kasih mereka jimat 'Kekebalan'. Syaratnya: Kiper mereka harus pakai sarung tangan yang diolesi minyak babi hutan biar licin rezekinya, dan bek mereka nggak boleh komunikasi verbal di lapangan, harus pakai telepati batin."

Reza ternganga. "Jadi... kiper mereka tadi sarung tangannya lepas dan bek mereka tabrakan..."

"Ya karena sarung tangannya licin kena minyak, dan beknya diem-dieman kayak orang sariawan!" Mbah Gatho tertawa terbahak-bahak sampai batuk. "Kalian menang bukan karena jago, Mas. Tapi karena lawan kalian lebih goblok percaya sama saya daripada kalian!"

Hening. Sunyi senyap. Hanya suara kipas angin tua yang berderit di sudut ruangan.

Reza menatap Herman. Herman memandang Reza.

Mereka baru sadar. Kemenangan ini bukan tentang perjuangan heroik melawan takhayul. Kemenangan ini adalah satire birokrasi tingkat tinggi: Siapa yang paling sedikit melakukan kesalahan bodoh akibat percaya hoax, dialah yang menang.

"Jancuk," bisik Reza pelan, lalu tertawa. Tawa yang getir, tapi lepas.

Di luar kantor polisi, spanduk ucapan selamat untuk Persada Jaya mulai dipasang. Di bawahnya, tukang gorengan sibuk mengipasi tahu isi, asapnya mengepul berbaur dengan debu jalanan, menutup kisah konyol tentang sepak bola, dukun palsu, dan sebuah kemenangan yang lahir dari kebodohan massal.