Selasa, 14 Mei 2024. Pukul 04.15 WIB.
Dunia belum sepenuhnya terbangun. Namun di sebuah petak kontrakan sempit berukuran 3x4 meter di kawasan padat penduduk Manggarai Selatan, kehidupan sudah dimulai dengan nada minor. Bukan kicauan burung gereja. Bukan kokok ayam jago. Terdengar suara beeping konstan, tajam, menusuk gendang telinga.
Tit… tit… tit… tit…
Meteran listrik prabayar merek Itron menempel miring di tembok depan. Cat hijau dinding itu sudah mengelupas, tampak seperti kulit terbakar matahari. Angka di layar LCD berkedip merah memancarkan digit mengerikan: 3.05 kWh. Sinyal ancaman dari alam semesta. Isi ulang sekarang atau gelap-gelapan nanti malam.
Rizal menggeliat di atas kasur busa tipis yang digelar langsung di lantai semen. Punggungnya berbunyi krek. Orkestra tulang memprotes keras. Terlalu lama dihajar angin malam dan jok motor yang kerasnya minta ampun. Ia membuka satu mata. Melirik ke arah Narti, istrinya, yang masih terlelap dengan mulut sedikit terbuka. Di sebelahnya, Maya, putri semata wayang mereka, tidur dengan posisi aneh. Kaki mungil anak tujuh tahun itu entah bagaimana sudah mendarat mulus di rahang Rizal.
"May, ya ampun, Nak. Bapak mau cari duit, bukan mau dikaraté," gumam Rizal pelan. Tangan kasarnya memindahkan kaki kecil Maya dengan sangat hati-hati.
Bangkit perlahan. Melangkahi tumpukan baju yang belum sempat disetrika. Mungkin tidak akan pernah disetrika karena Narti kehabisan pelicin pakaian kemarin sore. Rizal berjalan menuju kamar mandi di luar. Harus berbagi dengan dua pintu kontrakan lain. Bau selokan pagi hari di Gang Kelinci ini punya strata tersendiri. Campuran deterjen sisa cucian semalam, minyak goreng jelantah dari warung Mpok Minah, dan lumur got mampet dijejali plastik bekas cireng.
Air keran mengalir kecil. Dingin menusuk kulit. Setelah membasuh muka dan wudhu, Rizal kembali ke dalam. Menatap kalender dari toko material "Sinar Jaya" yang tergantung miring bertumpuk debu. Tanggal 14. Enam hari lagi jatuh tempo bayar kontrakan. Nominalnya Rp 1.200.000. Haji Dudung, sang pemilik tanah, kalau menagih suaranya lebih nyaring dari knalpot brong motor matic.
"Mas..." Suara serak Narti memecah hening. Perempuan itu mengucek mata. "Itu token bunyi mulu kayak detak jantung orang lagi lari maraton. Udah diisi?"
Rizal menyengir. Narti tak bisa melihatnya jelas dalam remang lampu lima watt. "Tenang, Bun. Nanti Bapak gacorin hari ini. Si Bledek udah dikasih mantra semalem."
"Mantra apaan? Mantra kredit macet?" Narti bangun. Melipat selimut gambar Hello Kitty yang warnanya sudah pudar memudar jadi abu-abu kusam.
"Jangan gitu dong. Optimis. Hari ini tanggal merah buat orang kantoran, tapi tanggal hijau buat ojol. Orang males keluar, pesen makanan semua. Yakin deh." Rizal mengenakan jaket hijaunya. Kain parasut itu menyimpan aroma sejarah perjuangan: campuran keringat kering, asap knalpot Metro Mini, dan parfum refill aroma Bulgari Aqua seharga lima belas ribu perak per botol kecil.
Narti menghela napas panjang. Bibirnya tersenyum kecil. Ia hafal tabiat suaminya. Dompet boleh setipis kertas tisu, tapi urat pesimisnya sudah lama putus. "Yaudah. Ini sisa duit belanja kemarin ada lima belas ribu. Beliin token dulu ceban. Sisanya buat bensin kamu."
"Siap, Komandan!" Rizal mengambil uang lecek bergambar Cut Meutia itu dengan gaya hormat militer berlebihan. Narti tertawa kecil, memperlihatkan gurat lelah di sudut matanya.
"Maya bekel apa hari ini?" tanya Rizal.
"Nasi goreng kecap sisa semalem. Telurnya dibagi dua sama kamu." Narti berjalan ke arah magic com yang penutupnya sudah retak dilakban hitam.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang gemar melumat mimpi warganya, gedung pencakar langit Sudirman seolah menertawakan atap seng rumah mereka yang bocor. Saldo rekening bank digital Rizal pagi itu tercatat Rp 4.350 perak. Tidak bisa ditarik tunai. Tidak bisa buat beli cilok. Tapi mereka masih bisa bernapas.
Pukul 06.30 WIB.
Honda Vario 125 keluaran 2018 milik Rizal sudah mendarung di Jalan Saharjo. "Si Bledek", begitu ia menyebutnya, meski tarikannya lebih sering menyerupai siput asma kalau bertemu tanjakan flyover. Rizal menyalakan aplikasi di ponsel Xiaomi Redmi Note 10. Layarnya retak parah di pojok kanan atas. Tragedi bulan lalu saat ia kaget disalip kurir paket ugal-ugalan.
"Bismillah, gacor... gacor... anyep minggir dulu," bisiknya pada layar retak tersebut. Jempolnya mengusap layar, sebuah ritual tolak bala digital.
Ting!
Suara notifikasi memecah deru mesin sekeliling. Lebih merdu dari lantunan lagu hits di radio. Orderan masuk. Layanan penumpang. Penjemputan: Stasiun Manggarai. Tujuan: Menara Imperium, Kuningan. Tarif: Rp 18.000.
"Alhamdulillah, penglaris!" seru Rizal di balik helm half-face baretnya. Gas ditarik. Si Bledek meluncur menembus pagi.
Namun, aspal Jakarta tidak pernah semudah teori. Tiba di titik penjemputan Stasiun Manggarai, kekacauan menyambut. Lautan manusia memuntahkan diri dari gerbong kereta. Ratusan orang berkemeja rapi, lanyard menggantung di leher, wajah-wajah stres berebut ojek, bajaj, dan angkot. Udara terasa panas bercampur bau keringat masal dan uap rem kereta.
"Atas nama Mas Budi!" teriak Rizal. Suaranya tenggelam oleh klakson angkot 06 yang mengamuk minta jalan.
Lima menit berlalu. Tidak ada tanda-tanda Mas Budi. Rizal mengecek layar Redmi Note 10-nya. "Mas, saya pake baju biru, deket tiang listrik."
Rizal menoleh ke kiri dan kanan. Ada setidaknya dua puluh orang berbaju biru berdiri di dekat deretan tiang listrik berkarat. "Mas Budi, saya di depan tukang cilok gerobak kuning," ketik Rizal cepat.
Seorang pria bertubuh gempal dengan kemeja biru muda ketat menghampiri dengan wajah ditekuk. "Lama banget sih, Mas! Saya udah telat meeting!" Omelan meluncur bahkan sebelum pantatnya menyentuh jok belakang Si Bledek.
Rizal tersenyum di balik masker kainnya yang mulai melar. "Siap, Pak Bos. Maaf, traffic manusia lagi padat merayap. Pegangan ya, kita mode selap-selip nih."
Perjalanan menuju Kuningan menguji kewarasan. Pukul 07.15 WIB di terowongan bawah tanah Manggarai adalah simulasi neraka bocor. Suara knalpot berdengung memantul di dinding beton, memekakkan telinga. Mobil-mobil mewah merayap bak monster besi lamban. Pajero, Fortuner, Alphard. Rizal menyelinap presisi. Jarak spion Si Bledek dengan bodi mulus mobil Eropa hanya terpaut dua sentimeter. Napas ditahan. Perut ditarik.
"Mas, jangan ngebut-ngebut napa!" protes Mas Budi. Tangannya mencengkeram behel motor saat Rizal mengerem mendadak. Seekor kucing kampung berlari melintasi Halte Transjakarta Pasar Rumput tanpa menoleh.
"Waduh, Pak. Kalau pelan kita diamuk bos Bapak. Kalau ngebut diamuk Bapak. Serba salah kayak nyari parkiran di mal pas weekend," canda Rizal santai.
Mas Budi bungkam. Sibuk mengetik di layar ponselnya. Bau parfum mahal Mas Budi bertabrakan dengan bau knalpot bus kota, menciptakan pusing level menengah di kepala Rizal.
Sampai di pelataran Menara Imperium, Mas Budi turun tergesa. Menyodorkan helm dan langsung berlari menembus pintu putar kaca tanpa menoleh. Rizal menghela napas. Tiba-tiba layar ponselnya menyala. Tip Rp 5.000.
"Alhamdulillah. Muka garang dompet hello kitty," gumam Rizal terkekeh. Total saldo pagi ini dua puluh tiga ribu perak. Masih harus mendaki tebing terjal menuju target harian dua ratus ribu.
Pukul 11.00 WIB. Matahari Jakarta menunjukkan taring aslinya. Suhu tercatat 34 derajat Celcius, tapi aspal mendidih memantulkan uap panas yang membakar betis. Rizal menepi di warung kopi pinggir jalan daerah Cikini, tepat di bawah pohon mahoni besar.
Bang Jampang, driver senior dengan rambut memutih penuh, duduk bersila menyeruput kopi hitam pekat. Asap kretek mengepul dari mulutnya.
"Dapet berapa, Zal?" tanya Bang Jampang. Suaranya serak berat.
"Baru enam trip, Bang. Campur-campur. Tadi dapet orderan beli martabak jam sepuluh pagi. Aneh bener usus orang Menteng, pagi-pagi makan martabak manis," kekeh Rizal. Ia membuka ritsleting jaket. Kaos dalamnya basah kuyup menempel di dada. Angin sepoi-sepoi memberi sedikit belas kasihan.
"Syukurin aje. Gue dari subuh anyep bener. Baru dua biji. Algoritma lagi musuhan ama gue kayaknya. Minta diruwat nih HP," keluh Bang Jampang, menunjuk ponsel pintarnya yang retaknya lebih parah dari milik Rizal.
Sementara Rizal bertarung dengan aspal mendidih, Narti melancarkan perang gerilya di Pasar Bukit Duri.
Pukul 08.00 WIB. Pasar tradisional ini becek parah. Bau amis ikan bercampur lumpur hitam menguar kuat. Narti menenteng tas belanja anyaman plastik hijau. Misi hari ini masuk kategori tingkat dewa: meracik makan malam bergizi dengan anggaran tiga puluh lima ribu perak.
Langkah kakinya berhenti di lapak sayur Bang Togar. "Bang, cabe rawit merah seperempat berapa?" "Dua puluh ribu, Bu Narti. Lagi naik, dari sananya mahal. Gara-gara ujan mulu di gunung," jawab Bang Togar santai sambil menyusun tomat merah ke dalam keranjang bambu.
Mata Narti melotot. "Buset, Bang! Itu cabe apa serpihan emas? Minggu lalu masih lima belas!"
"Ya protes sama Menteri Pertanian dong, Bu. Jangan sama saya. Saya mah cuma reseller kelas teri," canda Bang Togar terkekeh, memperlihatkan gigi seri yang tanggal satu.
Otak Narti berputar cepat bak prosesor komputer. Kalau beli cabai dua puluh ribu, sisa lima belas ribu. Cuma cukup buat tahu dan tempe. Maya butuh protein hewani. Anak itu sedang masa pertumbuhan.
"Yaudah, Bang. Cabai keriting aja campur rawit ijo dikit. Lima ribu dapet nggak?" Narti mengeluarkan jurus memelas tingkat kecamatan. Alis diturunkan, nada suara dilembutkan.
"Yaelah, Bu. Dikit amat. Buat pakan burung itu mah. Yaudah nih, ambil." Bang Togar menyerah, memasukkan segenggam cabai ke kantong plastik kecil.
Hasil manuver Narti: Cabai campur lima ribu. Tahu kuning lima potong lima ribu. Kangkung dua ikat empat ribu. Ikan kembung tiga ekor dua puluh ribu. Total tiga puluh empat ribu. Sisa seribu perak buat bayar 'uang keamanan' preman pasar yang duduk di mulut gang.
Tiba di rumah, istirahat hanyalah mitos. Narti membuka 'pabrik' kecilnya di teras kontrakan. Jasa cuci baju manual. Tanpa mesin. Murni tenaga tangan, papan gilas kayu, dan sikat plastik keras. Tarifnya empat ribu per kilo, jauh di bawah harga laundry mesin di ruko depan.
Tumpukan baju Mas Rian, anak kos sebelah yang bekerja di start-up, sudah menanti. Empat kilogram. Potensi pendapatan: enam belas ribu rupiah.
Tangan Narti yang mulai kasar mencelupkan kemeja ke dalam ember merah besar. Busa deterjen murah melimpah, terasa panas di kulit sela-sela jarinya. Ia mengucek dengan irama konsisten. Srek... srek... srek... Pinggangnya berteriak ngilu. Tapi bayangan sepatu sekolah Maya menahan keluhannya. Sepatu hitam anak itu jempolnya sudah menganga lebar. Narti menargetkan minggu depan harus bisa beli sepatu baru di Jatinegara. Harganya sekitar delapan puluh lima ribu. Harus bisa.
Pukul 11.30 WIB, Narti menjemput Maya di SDN Manggarai 01. Anak itu berlari keluar gerbang dengan wajah memerah dipanggang matahari. Keringat bercucuran di pelipisnya.
"Mak! Tadi aku dapet bintang dari Bu Guru!" seru Maya bersemangat. Ia memamerkan buku gambar lecek.
Gambar itu sangat sederhana. Tiga sosok manusia lidi. Satu besar memakai jaket hijau. Satu memakai daster. Satu kecil di tengah. Di pojok kanan atas ada matahari tersenyum dengan kacamata hitam. Judulnya ditulis dengan krayon merah: "Keluarga Bahagia".
Dada Narti sesak. Gambar itu mengabaikan atap bocor. Mengabaikan alarm token listrik. Gambar itu murni merekam cinta.
"Bagus banget, Nak. Nanti kita tempel di tembok ya," kata Narti. Tangan kasarnya menggandeng jari-jari kecil Maya, berjalan menembus debu jalanan.
"Mak, haus. Boleh beli es teh poci?" Maya menunjuk gerobak di pinggir jalan. Spanduk kuningnya bertuliskan harga tiga ribu rupiah.
Jari Narti meraba saku dasternya. Kosong. Uang cucian Mas Rian baru cair nanti sore. "Nanti ya di rumah. Mamak bikin es sirup melon. Lebih enak, lebih manis, gelasnya gede!" bujuk Narti cepat.
Maya mengangguk polos. "Oke, Mak!"
Sebuah kebohongan domestik demi bertahan hidup. Botol sirup di rumah tinggal menyisakan cairan hijau dua sentimeter di dasarnya. Harus dicampur air segayung agar cukup.
Pukul 12.15 WIB. Di bawah pohon Cikini, ponsel Rizal bergetar brutal. Notifikasi menyala hijau terang. Orderan makanan.
Restoran: Sushi Tei, Grand Indonesia. Pengantaran: Apartemen Thamrin Residence. Nilai Belanja: Rp 450.000. TUNAI.
Napas Rizal tercekat. Darah berdesir cepat ke kepala. Orderan tunai empat ratus lima puluh ribu! Saldo dompet digitalnya hanya tersisa lima puluh ribu perak. Entah sistem sedang mabuk atau tidak ada driver lain di radius terdekat.
Jarum jam di layar menghitung mundur. Sepuluh detik untuk menerima. Kalau ditolak, performa hancur. Akun bisa gagu berhari-hari. Tapi dari mana uang talangannya?
Ia menatap Bang Jampang. "Bang, lu ada cash nggak? Gue dapet orderan kakap nih, tapi cash-nya kurang. Talangin dulu dong, ntar pas dianterduitnya balik langsung gue transfer."
Bang Jampang merogoh saku celana jeans kumalnya. Kosong melompong. "Yah, gue juga cashless semua hari ini, Zal. Cuma ada gocap lecek."
Detik ke-lima. Detik ke-empat.
Jari Rizal menekan tombol "Terima". Nekat. Urusan belakangan.
Si Bledek dipacu membelah kemacetan menuju mal raksasa tersebut. Sambil meliuk di antara mobil, Rizal menelepon customer. Jantungnya berdegup kencang. Pertaruhan harga diri dimulai.
"Halo, selamat siang Kak. Saya driver Gojek. Maaf Kak, ini pemesanannya tunai ya? Boleh minta tolong ditransfer saja ke GoPay saya sekarang? Soalnya uang tunai saya kurang buat nalangin di kasir restoran," suara Rizal merendah maksimal. Halus, nyaris memohon.
Hening di ujung sana. Lalu terdengar decak kesal. "Aduh, Pak. Saya lagi meeting! Nggak bisa buka m-banking. Ribet amat sih. Biasanya juga driver nyiapin modal!" Suara perempuan muda itu tajam mengiris telinga.
"Iya maaf banget Kak. Uang saya baru saja kepakai buat setoran. Tolong dibantu ya Kak, biar pesanannya bisa langsung saya buatkan," bujuk Rizal lagi. Urat malunya sudah ia simpan rapat-rapat di bagasi motor.
"Ya udah! Nanti saya titipin uangnya di resepsionis lobi apartemen. Bapak ambil dulu duitnya, baru beli makanannya ke mal. Tapi jangan lama! Saya laper!" Klik. Sambungan diputus sepihak.
Rizal mengusap wajah kasarnya. Lega bercampur perih. Ia harus memutar rute. Ke apartemen dulu ambil uang, balik ke mal antre makanan, lalu balik lagi ke apartemen mengantar. Waktu tempuh membengkak. Bensin terbakar sia-sia. Tapi demi poin dan keuntungan bersih yang mungkin hanya belasan ribu, ia telan semuanya.
Pukul 16.00 WIB. Langit Jakarta mendadak gelap gulita. Awan hitam pekat menggulung di atas kawasan Bendungan Hilir. Tetes air raksasa mulai menghantam aspal. Bukan gerimis romantis. Ini badai tropis khas ibukota. Sinyal kemacetan total dan tarif melonjak.
Rizal baru saja menurunkan penumpang di depan Gedung BRI saat hujan mengamuk. Aplikasi menyala merah. Surge pricing. Tarif naik dua kali lipat. Kesempatan emas.
Ia menyambar jas hujan model kelelawar warna biru dari dalam jok. Ada sobekan besar di bagian leher yang hanya direkatkan lakban hitam. Orderan masuk. Penjemputan di Atma Jaya, tujuan Stasiun Tebet. Tarif empat puluh lima ribu.
Penumpang kali ini seorang wanita muda berpakaian necis. Sepatu pantofelnya sudah basah separuh. "Mas, buruan ya! Saya mau ngejar kereta!"
"Siap, Mbak. Tapi banjir nih di depan," teriak Rizal menembus suara gemuruh hujan.
Benar saja. Di depan kampus, air keruh berwarna cokelat teh susu sudah menggenang setinggi betis. Motor-motor menepi pasrah. Mobil merayap pelan menciptakan ombak buatan.
Rizal ragu. Si Bledek ini motor tua. Kalau nekat menerjang dan air masuk ke filter udara, mesin tamat. Biaya turun mesin bisa setengah juta. Hilang sudah uang kontrakan. Tapi membatalkan orderan sekarang sama dengan bunuh diri performa.
"Mas, bisa nggak??" desak si penumpang panik.
"Bismillah. Angkat kaki ya, Mbak!"
Rizal mengambil jalur paling kanan, mepet separator busway. Ia menahan selongsong gas agar putaran mesin tetap tinggi, mencegah air masuk lewat knalpot. Brrrrrmmmm... brmmmm... Bodi motor bergetar hebat. Air got menciprat membasahi celana dan masuk ke dalam sepatunya. Dingin menjalar meremangkan bulu kuduk. Kutu air menanti.
Tiba-tiba... Pletak!
Suara mematikan itu terdengar dari area mesin. Roda belakang terkunci. Si Bledek mati mendadak di tengah genangan cokelat.
Napas Rizal tercekat. Tubuhnya kaku seketika. "Yah, Mas! Kok mati?!" jerit si penumpang.
Rizal menekan tombol starter. Cekekekekekek... Kosong. Tidak ada kompresi. Sekali lagi. Cekekekek... Hanya suara dinamo yang merintih.
"Mbak, turun dulu di trotoar," kata Rizal tenang, meski ulu hatinya nyeri membayangkan biaya bengkel. Ia mendorong motor seberat seratus sepuluh kilogram itu menembus banjir. Otot lengannya menegang keras. Hujan deras menghantam wajahnya tanpa ampun.
Si penumpang tidak mau menunggu. Ia langsung memesan mobil online. Pergi begitu saja tanpa menoleh. Orderan batal.
Rizal jongkok di trotoar beton yang dingin. Hujan mengguyur tubuhnya. Jas hujan sobeknya tak mampu menahan air menyusup ke punggung. Di seberang jalan, sebuah baliho raksasa menyala terang menampilkan iklan apartemen mewah: "Living in Luxury, Start from 2 Billion."
Ia menatap baliho itu. Menatap motornya yang diam membisu. Lalu, ia tertawa. Tawa keras yang tenggelam oleh suara hujan. "Hahaha! Dasar Bledek! Dikasih air dikit aja manja lu! Kayak kucing kampung!" Ia menepuk keras jok motornya.
Tangan keriputnya mengeluarkan Redmi Note 10 yang dibungkus plastik es mambo bening. Ia membuka grup WhatsApp komunitas ojol. Menekan tombol Voice Note. "Woy, Komandan! Posisi Benhil. Si Bledek masuk angin nih, keselek air got. Ada yang melipir kagak? Bawa kunci busi dong."
Dua puluh menit kemudian, di tengah guyuran hujan, Bang Ocit merapat. Solidaritas aspal Jakarta bekerja lebih cepat dari ambulans. Mereka membongkar busi, membakarnya dengan korek gas agar kering, lalu mengamplas ujungnya ke beton trotoar. Modus operandi montir jalanan.
Greng! Mesin menyala memuntahkan asap putih. Rizal menghela napas panjang. Nyawanya kembali.
Pukul 20.45 WIB.
Rizal memarkir Si Bledek di depan petak kontrakan. Suara knalpot tik-tik-tik berpadu dengan jangkrik malam. Bau masakan menyambutnya dari balik pintu tipis. Aroma ikan kembung goreng dan sambal terasi. Surga duniawi.
"Assalamualaikum," ucapnya pelan sambil membuka pintu.
Maya langsung berlari memeluk kaki bapaknya yang masih lembap. "Bapaaak!"
"Nih, Bapak bawain Martabak Manis." Rizal menyodorkan kantong plastik putih. Sebuah kebohongan kecil lagi. Itu hanya martabak polos tanpa isi seharga sepuluh ribu dari pedagang stasiun. Tapi mata Maya berbinar seolah melihat kue tart istimewa.
Narti menyodorkan segelas teh hangat. Matanya memancarkan pertanyaan tak terucap: Duitnya gimana?
Rizal duduk bersandar di dinding. Mengeluarkan gulungan uang tunai lecek dari balik jaketnya. Lembaran lima puluh ribu, dua puluh ribu, dan ribuan kusut. Ia menyusunnya di lantai semen.
"Total bersih hari ini dua ratus tiga puluh lima ribu, Bun," lapor Rizal. Wajah lelahnya tersenyum lebar.
Mata Narti berkaca-kaca. "Alhamdulillah! Cukup buat nabung kontrakan sama besok."
"Iya. Sepatu Maya aman hari Minggu besok," bisik Rizal sambil menyeruput teh hangatnya. Rasa manis cairan itu mengalir ke tenggorokan, menghapus sedikit pegal di tulang punggungnya.
Mereka makan malam dalam damai. Suara kunyahan dan tawa Maya mengisi ruangan 3x4 meter itu. Rizal merasa menang. Ia berhasil menaklukkan aspal neraka hari ini. Besok ia akan bertarung lagi.
Setelah piring dicuci, Rizal merebahkan diri di kasur busa. Ia meraih ponselnya untuk mengecek saldo akhir di aplikasi. Layar retak itu menyala terang. Matanya menyipit membaca satu notifikasi kotak merah yang baru saja masuk.
[AKUN ANDA DIBEKUKAN SEMENTARA. PELANGGARAN KODE ETIK: MEMINTA TRANSFER DI LUAR APLIKASI.]
Jantung Rizal serasa copot. Darahnya berdesir beku. Penumpang apartemen mewah tadi melaporkannya ke sistem.
Napasnya memburu. Layar ponsel perlahan meredup, menyisakan pantulan wajahnya yang pias. Di luar, suara klakson kereta api malam menjerit panjang membelah keheningan Gang Kelinci. Ticking clock baru saja diatur ulang. Dan kali ini, angkanya nol.