Secangkir Ilusi di SCBD

Penulis djoedo
11 March 2026

Trrrttt... trrrttt... trrrttt...

Getaran ponsel di atas meja kaca temper itu terdengar seperti gergaji mesin yang membelah tengkorak Dimas. Layar iPhone 17, yang cicilannya baru lunas bulan lalu berkat suntikan dana dari aplikasi DompetDewa - menyala dengan terang, menampilkan deretan notifikasi WhatsApp dari nomor-nomor tak dikenal. Semuanya menggunakan foto profil pria berwajah garang, logo instansi hukum palsu, atau sekadar gambar siluet hitam.

“DIMAS ARYO! KAMI SUDAH PEGANG DATA KONTAK DARURAT ANDA. JANGAN JADI MALING! BAYAR TAGIHAN RUPIAHKILAT SEKARANG ATAU KAMI SEBAR DATA KE SELURUH KONTAK PERUSAHAAN!”

Dimas menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering kemarau panjang. Keringat dingin merembes dari pori-pori lehernya, menempel lengket pada kerah kemeja slim-fit Uniqlo yang baru disetrika rapi pagi tadi. Udara dari ventilasi AC sentral di lantai dua puluh lima gedung pencakar langit Sudirman ini seharusnya sejuk, disetel di angka ideal dua puluh derajat celcius. Namun, bagi Dimas, hembusan angin buatan itu terasa menusuk sumsum, membekukan aliran darahnya.

Ia buru-buru membalikkan ponselnya, menelungkupkan layar neraka itu ke atas meja. Tangannya gemetar pelan saat meraih mouse nirkabel. Berpura-pura sibuk menatap spreadsheet Excel yang angkanya sudah kabur di pelupuk matanya. Di kubikel sebelah, tawa renyah Tasya dan Kevin mengudara, membahas rencana after-office party di sebuah lounge baru di Senopati. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan wangi kopi single origin dari gelas kertas berlogo duyung hijau menguar dari arah mereka.

Kopi. Sialan. Semuanya bermula dari cairan hitam berkafein itu.

Ingatan Dimas terlempar ke enam bulan lalu, minggu pertamanya menyandang status Junior Data Analyst. Saat itu, jam menunjukkan pukul empat sore. Kevin, sang Senior Analyst dengan jam tangan Tag Heuer melingkar di pergelangan, menepuk bahunya. "Ngopi yuk, Dim. Di bawah. Sekalian gue kenalin sama anak-anak dari tim Marketing. Lo harus pinter-pinter networking di sini kalau mau survive."

Dimas, si anak daerah yang baru pertama kali mencicipi gemerlap Ibu Kota, mengangguk antusias. Ia mengira "ngopi" adalah duduk di kantin bawah tanah, memesan es kopi susu lima belas ribuan. Nyatanya, Kevin menggiringnya ke sebuah kafe artisan berdesain industrial di lobi utama. Secangkir Iced Caramel Macchiato dengan tambahan oat milk dan ekstra shot espresso dibanderol seharga enam puluh lima ribu rupiah. Belum termasuk pajak dan layanan.

Hari itu, Dimas membayar dengan senyum kaku. Hari-hari berikutnya, ajakan brunch cantik berkedok brainstorming, makan siang sushi seratus ribuan di Grand Indonesia, hingga sesi drinks di Jumat malam menjadi rutinitas wajib. Gaji pokoknya yang hanya mepet UMR Jakarta tersedot habis di minggu kedua.

Lalu, iklan sialan di Instagram itu muncul. "Butuh dana cepat untuk gaya hidupmu? Cair dalam 5 menit! Cukup KTP!"

Klik. Daftar. Cair. Lima juta rupiah masuk ke rekeningnya. Malam itu, Dimas bisa mentraktir Kevin dan dua anak Marketing craft beer impor. Ia merasa diterima. Ia merasa menjadi bagian dari roda gigi elite Sudirman. Sebuah ilusi murahan yang kini mencekiknya perlahan.

Kini, enam bulan berlalu. Lima juta itu beranak pinak menjadi rantai setan. Gali lubang, tutup lubang. Untuk menutupi bunga aplikasi A, ia meminjam di aplikasi B. Untuk melunasi penalti aplikasi B, ia mengunduh aplikasi C, D, dan E. Total utang pokoknya dua puluh juta. Dengan denda keterlambatan dan bunga mencekik khas rentenir digital? Angkanya membengkak jadi empat puluh lima juta.

Trrrttt... trrrttt...

Ponselnya bergetar lagi. Dimas memejamkan mata kuat-kuat. Kepalanya berdenyut hebat. Layar monitor di depannya seolah berputar. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Data kuartal tiga yang seharusnya ia analisis sejak tiga hari lalu masih berupa deretan baris mentah yang berantakan.

"Dimas," sebuah suara dingin memotong lamunannya.

Dimas tersentak. Mbak Vanya, Head of Data Analytics, berdiri tepat di belakang kursinya. Wanita berusia pertengahan tiga puluhan itu mengenakan blazer Zara warna navy, menatapnya dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca. Tangan kirinya memegang iPad, sementara tangan kanannya menggenggam gelas kopi keramik.

"Ke ruangan gue sekarang."

Dua kalimat. Tanpa nada tinggi, tapi cukup untuk membuat jantung Dimas berhenti berdetak sejenak.

Langkah Dimas terasa seperti menyeret dua bongkahan beton saat mengikuti Vanya menyusuri lorong berkarpet tebal. Ruangan kaca di sudut lantai itu kedap suara. Begitu pintu tertutup, suasana berubah hening, hanya menyisakan gemericik hujan sore yang mulai menampar kaca jendela raksasa. Di luar sana, jalanan Sudirman sudah menjelma menjadi lautan lampu rem merah dari ribuan mobil yang terjebak macet.

Vanya duduk, meletakkan iPad-nya di atas meja dengan bunyi ctak pelan. Ia menatap Dimas yang berdiri canggung di seberang meja.

"Duduk, Dim," perintahnya singkat.

Dimas menarik kursi dan duduk dengan punggung tegak kaku. Matanya tak berani menatap langsung wajah atasannya. Ia lebih memilih memandangi pantulan lampu neon pada meja kayu oak di depannya.

"Gue nggak mau basa-basi," Vanya memulai, suaranya setajam silet. "Lo distracted banget akhir-akhir ini. Report mingguan lo banyak typo fatal, analisis lo dangkal, dan puncaknya... data audiens buat campaign bulan depan yang lo kirim ke gue tadi pagi itu salah narik database. Lo sadar nggak kalau gue forward itu ke klien, agensi kita bisa dituntut?"

Bahu Dimas merosot. "Saya... saya minta maaf, Mbak. Saya kurang teliti. Akan saya perbaiki malam ini juga."

Vanya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi ergonomis. Ia memutar-mutar pena Montblanc di sela-sela jarinya. "Masalahnya bukan cuma soal kerjaan lo yang berantakan, Dim."

Jantung Dimas berpacu dua kali lipat lebih cepat. Ia menahan napas.

"Tadi siang," Vanya melanjutkan, nadanya kini turun satu oktaf, terdengar lebih lelah daripada marah. "Resepsionis di lobi bawah ditelepon sama nomor nggak dikenal. Tiga kali. Orang itu teriak-teriak, nyariin nama Dimas Aryo. Dia bilang staf kita bawa kabur uang perusahaan mereka."

Darah Dimas serasa surut dari wajahnya. Pucat pasi. Ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa seperti ruang sauna yang kehabisan oksigen. Dinding-dinding kaca seolah menyusut, menghimpitnya dari segala arah.

"Mbak... itu..." Bibir Dimas bergetar. Ia mencoba merangkai dusta, tapi otaknya lumpuh.

"Gue nggak peduli urusan personal lo, Dim," potong Vanya cepat, mengangkat satu tangan. "Lo mau gaya-gayaan beli kopi mahal tiap hari, lo mau hangout di SCBD tiap malam, itu urusan lo. Duit lo. Tapi begitu debt collector pinjol lo mulai neror nomor kantor dan ganggu operasional, it becomes my problem."

Hening seketika mencekik ruangan itu. Hanya suara deru hujan di luar yang mengisi kekosongan. Dimas menunduk dalam-dalam. Rasa malu menampar wajahnya bertubi-tubi, menelanjangi semua harga diri palsu yang ia bangun susah payah selama enam bulan terakhir. Di mata Vanya, ia bukan lagi fresh graduate berpotensi. Ia cuma anak kampung yang mabuk gaya hidup Ibu Kota sampai rela menggadaikan ketenangannya.

"Ini SP-2 buat lo," Vanya mendorong sebuah map tipis berwarna biru melintasi meja. "Gue kasih lo waktu satu minggu buat beresin masalah lo di luar. Kalau resepsionis kita masih dapat telepon dari rentenir murahan itu... HR will terminate you immediately. Paham?"

Dimas menatap map biru itu dengan pandangan nanar. Tangannya yang dingin dan gemetar perlahan meraih pinggiran map tersebut. "Paham, Mbak Vanya."

"Keluar."

Mentari baru saja tergelincir, digantikan oleh langit kelabu Jakarta yang menangis tumpah ruah. Dimas tidak kembali ke mejanya. Ia langsung mematikan laptop, menyambar tas ranselnya, dan melarikan diri dari gedung itu secepat kakinya bisa melangkah.

Satu jam kemudian, ia sudah terduduk di tepi kasur busa tipis di kamar indekosnya yang sempit di kawasan Karet Tengsin. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng terdengar seperti tepuk tangan mengejek dari semesta. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu pengap, berbau campuran kamper dan kaus kaki basah. Kontras sekali dengan wangi ruangan Mbak Vanya atau lobi kantornya.

Dimas menatap layar ponselnya. Angka tagihan dari lima aplikasi berbeda berjajar seperti vonis mati. Empat puluh lima juta tujuh ratus ribu rupiah.

Tabungannya? Tersisa seratus dua puluh ribu rupiah.

Ia tidak punya aset untuk dijual. Laptop miliknya adalah inventaris kantor. Harga ponsel kendati baru enam bulan pasti sudah melorot drastis. Ia tidak punya teman yang bisa dipinjami uang sebanyak itu. Teman-teman hangout-nya di kantor? Mereka pasti akan menertawakannya atau langsung menjauhinya seperti membawa penyakit menular jika tahu kebenarannya.

Dalam keputusasaan yang absolut, ibu jarinya menggulir layar ke daftar kontak. Berhenti di satu nama yang sudah berminggu-minggu tak ia hubungi. Ibu.

Tangan Dimas bergetar saat menekan tombol panggil. Tuut... tuut... Nada sambung terdengar lambat, diiringi suara kresek statis khas sinyal buruk di daerah.

"Halo? Le? Tumben jam segini nelepon, nggak lembur tah?" Suara khas ibunya, dengan logat Jawa Tengah yang kental, mengalir dari pelantang suara. Hangat. Tulus. Dan seketika itu juga, pertahanan Dimas runtuh berkeping-keping.

Bahu pemuda itu terguncang hebat. Napasnya tertahan di kerongkongan, berubah menjadi isakan tertahan. Pandangannya memburam karena genangan air mata yang akhirnya tumpah menetes ke atas layar ponsel.

"Loh, Dim? Dimas? Kamu kenapa, Le? Kok nangis? Ada apa? Sakit kamu?" Suara ibunya berubah panik.

"Bu..." Suara Dimas parau, nyaris tak terdengar. "Dimas... Dimas hancur, Bu. Dimas minta maaf."

"Hancur gimana? Cerita pelan-pelan sama Ibu. Tarik napas dulu."

Di bawah derai hujan Karet Tengsin, Dimas menelanjangi kebodohannya sendiri. Ia menceritakan semuanya. Tentang kultur kantor yang memaksanya berbaur. Tentang secangkir kopi seharga beras sepuluh kilo di kampung. Tentang aplikasi pinjaman yang menjebaknya dengan bunga harian. Tentang SP-2 dari atasannya dan ancaman pemecatan. Tentang angka empat puluh lima juta yang kini mengikat lehernya seperti tali tambang.

Ia bersiap mendengar jeritan ibunya. Ia bersiap dimaki, dituduh anak durhaka yang tidak tahu diuntung, disumpahi karena menghambur-hamburkan uang demi gengsi.

Namun, di seberang sana, tidak ada jeritan. Hanya terdengar helaan napas panjang. Berat, tapi anehnya, terasa sangat tenang.

"Sudah nangisnya?" tanya ibunya lembut.

Dimas mengusap ingusnya dengan punggung tangan, bingung dengan reaksi wanita yang melahirkannya itu. "Bu... Ibu nggak marah?"

"Marah buat apa, Le? Nggak bakal bikin utangmu lunas kan?" Ibunya terdiam sejenak. Terdengar suara kursi kayu ditarik di latar belakang. "Kamu ingat, lima bulan terakhir kamu selalu kirim Ibu uang tiap habis gajian? Bulan pertama tiga juta. Bulan kedua naik jadi lima juta. Sampai bulan lalu kamu kirim enam juta."

Dimas tertegun. Ya, ia ingat. Uang itu juga hasil tarikan pinjol. Ia mengirimkannya ke rumah hanya untuk membuktikan narasi palsu yang ia bangun: bahwa kariernya di Jakarta meroket tajam, bahwa ia sukses, bahwa ia bukan pecundang.

"Ibu itu orang desa, Dim," lanjut ibunya, nada suaranya kini terdengar sedikit bergetar, namun penuh ketegasan. "Tapi Ibu nggak bodoh. Ibu tahu gaji anak baru training di Jakarta itu berapa. Tetanggamu, si Rian yang kerja di pabrik Cikarang saja cuma bisa kirim sejutaan sebulan. Waktu kamu kirim uang sebanyak itu, Ibu sudah curiga. Ibu takut kamu ikut yang nggak-nggak. Narkoba, atau apalah."

Udara di paru-paru Dimas seakan tersedot habis. "Jadi... uangnya..."

"Satu perak pun nggak ada yang Ibu pakai," jawab ibunya mantap. "Ibu buatkan rekening baru di KUD desa. Ibu simpan semuanya di situ. Ibu tunggu saja sampai kamu jujur atau sampai kamu butuh. Totalnya ada dua puluh empat juta. Besok pagi-pagi, Ibu ke bank di kecamatan. Ibu tarik semua, Ibu transfer balik ke kamu. Ditambah tabungan jual hasil panen cengkeh kemarin, ada lah sekitar dua puluh juta lagi. Cukup buat nutup pokok utangmu."

Dada Dimas serasa dihantam palu godam. Rasa bersalahnya kini berganti wujud menjadi pisau kasat mata yang mencabik-cabik ulu hatinya. Ibunya yang menahan lapar, menahan keinginan membeli baju baru, menyisihkan setiap sen hasil panen, justru menjadi dewa penyelamat dari jurang neraka yang ia gali sendiri dengan gaya hidup sok kayanya.

"Bu..." Hanya satu kata itu yang bisa keluar dari bibirnya sebelum ia kembali menangis sesenggukan, kali ini lebih keras. Merutuki kebodohannya hingga suaranya serak.


Malam semakin larut. Hujan di Sudirman menyisakan genangan air di aspal yang memantulkan cahaya neon warna-warni dari papan reklame. Dimas berjalan gontai keluar dari stasiun MRT Dukuh Atas. Angin malam menampar wajahnya yang masih sembab.

Ponsel di saku jaketnya tak lagi bergetar liar. Setengah jam yang lalu, ia menelan ludah pahit, menelepon kelima customer service pinjaman online itu satu per satu. Ia menegosiasikan pembayaran pokok utangnya. Tentu saja, prosesnya tidak mulus seperti di sinetron. Mereka menolak keras. Mereka menuntut denda dan bunga keterlambatan sebesar dua belas juta rupiah dibayar penuh. Birokrasi pelunasan mereka sengaja dibuat berbelit-belit bak benang kusut, memaksanya mengirim puluhan email persetujuan restrukturisasi yang entah kapan akan dibalas.

Empat puluh empat juta dari ibunya akan masuk besok pagi, melunasi utang pokoknya. Namun sisa denda belasan juta itu? Itu adalah hukuman nyata yang harus ia cicil dengan gaji bulanannya selama setahun ke depan. Sisa gajinya kelak mungkin hanya cukup untuk makan mi instan dan ongkos KRL. Tidak ada lagi brunch. Tidak ada lagi baju branded. Tidak ada lagi taksi online.

Dimas berhenti melangkah saat melihat seorang penjual kopi keliling - Starling - duduk di trotoar di atas sepedanya. Termos air panasnya mengepulkan uap tipis ke udara malam.

"Kopi, Mas?" tawar bapak penjual itu, tersenyum ramah memperlihatkan giginya yang tak lagi utuh.

Berjalan mendekat, Dimas merogoh saku celananya. Mengeluarkan selembar uang lima ribuan lecek. "Kopi hitam satu, Pak."

"Siap, Mas. Pahit ya." Bunyi srek-srek bungkus kopi saset dirobek, disusul suara byur air panas yang dituang ke dalam gelas plastik tipis. Aroma kopi instan murahan menyeruak, berbaur dengan bau asap knalpot motor-motor yang melintas.

Dimas menerima gelas plastik panas itu, membiarkan kehangatannya merambat ke telapak tangannya yang sedingin es. Ia menyesap cairan hitam pekat itu perlahan. Rasanya pahit, kasar, dan meninggalkan jejak sepat di lidah. Sama sekali tidak ada aroma karamel, oat milk, atau wangi biji kopi Kolombia.

Tapi anehnya, malam ini, kopi lima ribuan itu terasa jauh lebih melegakan dari apapun yang pernah ia minum di kafe lobi SCBD.

Gemerlap lampu gedung pencakar langit di sekelilingnya masih terlihat megah. Roda gigi ibu kota masih berputar, siap menggilas siapa saja yang lengah. Besok pagi, Dimas masih harus menghadapi tatapan sinis Mbak Vanya. Ia masih harus menahan godaan ajakan Kevin. Ia masih harus berdebat dengan penagih utang yang pasti menagih sisa denda.

Masalahnya belum selesai. Sama sekali belum selesai. Masih berantakan, masih menyisakan jalan terjal berbatu.

Sambil menatap pantulan dirinya di genangan air hujan, Dimas tersenyum kecut. Ia menyesap kopinya sekali lagi. Menelan rasa pahit itu dalam-dalam, membiarkannya membangunkan akal sehatnya yang selama ini tertidur pulas dibuai ilusi. Setidaknya, malam ini, ia berdiri di atas tanah realita. Menjadi dirinya sendiri. Alias, manusia beneran yang tahu di mana kakinya harus berpijak.