Rhaiven Sang Penguasa Awal Ikatan
1/4
Bab 1

Awal Ikatan

“Kneel,” suara pria itu memecah keheningan aula besar.

Serelya Valryn menatap lurus, dagu terangkat. “Aku tidak akan.”

Hening seketika menyelimuti ruangan. Para pengawal berhenti di tempat mereka, mata menatap tajam, seolah menunggu tubuhnya jatuh. Tapi Serelya tidak bergerak.

Pria itu melangkah maju. Aura dominan menyelimutinya seperti kabut gelap yang menekan setiap sudut hati. Rhaiven Draven, Alpha yang seluruh packnya takut bahkan sebelum mengenalnya, menatapnya dengan mata abu-abu dingin.

“Tidak akan?” Suara itu rendah, penuh perintah, tapi ada rasa ingin tahu yang samar. “Kau pikir keberanianmu akan melindungimu?”

Serelya mengangkat bahu, otot-otot tegang tapi tidak gentar. “Aku lebih baik mati daripada tunduk pada seseorang yang tidak aku percayai.”

Rhaiven menatapnya lama, diam. Tidak ada gerakan, tidak ada senyum, hanya ketenangan yang membuat Serelya ingin menarik napas tapi tidak berani. Aula terasa panas, udara seperti menebal di sekitarnya.

Salah satu pengawal melangkah maju. “Majikan, ia tidak seharusnya—”

Rhaiven menoleh. Sekejap mata pengawal itu hilang dari keberanian. “Diam,” katanya. Suara itu tidak meninggi, tetapi setiap kata menancap seperti bilah pisau.

Serelya merasa dingin di tulang punggungnya. Ia tahu menolak Alpha adalah bunuh diri. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang menolak tunduk, sesuatu yang bahkan ia sendiri belum mengerti.

Rhaiven melangkah lebih dekat. Aroma maskulin dan tajam menyeruak ke hidung Serelya. Setiap gerakannya penuh kendali, penuh dominasi. Namun mata itu, meski dingin, menatapnya seolah menimbang sesuatu yang lebih dari sekadar pembangkangan.

“Kau bukan seperti Omega biasa,” katanya pelan. “Ada sesuatu dalam darahmu yang berbeda.”

Serelya tersentak. “Apa maksudmu?”

Rhaiven tersenyum tipis. “Tidak ada maksud. Itu fakta. Dan fakta tidak bisa diabaikan.”

Seluruh aula kembali hening. Mata semua orang tertuju pada mereka. Serelya merasakan semua instingnya berteriak: bahaya, bahaya, bahaya. Tapi ada juga sesuatu yang lain. Dorongan aneh yang membuatnya sadar bahwa dirinya bukan sekadar Omega lemah.

Seketika pintu aula terbuka dan seorang pelayan membawa gulungan dokumen. “Majikan, kontrak baru telah siap.”

Rhaiven mengambil gulungan itu dan menatap Serelya. “Ini akan menjadi ikatan kita. Kau milikku, bukan karena cinta, tetapi karena kontrak. Tubuhmu, hidupmu, aturanmu, semuanya tunduk pada perintahku.”

Serelya menatap gulungan itu dan kemudian ke Rhaiven. “Aku tidak tunduk. Aku tidak akan pernah tunduk.”

Alpha itu tersenyum tipis. “Aku suka keberanianmu, tapi keberanian tidak akan menyelamatkanmu.”

Seketika pengawal membawa Serelya ke samping. Mereka menahan tubuhnya. Serelya menendang dan menjerit, tapi Rhaiven tidak bergerak. Hanya menatap dengan mata yang menilai.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti seabad, Rhaiven melangkah maju, menyentuh dagunya dan memiringkan kepala. “Jika kau berpikir ini soal pilihan, kau salah. Aku bukan seseorang yang ditolak.”

Serelya menelan ludah. “Kalau begitu aku hanya punya satu pilihan.”

“Dan apa itu?”

“Aku tidak akan menyerah padamu,” katanya tegas.

Rhaiven tersenyum, sedikit geli. “Kau akan belajar,” katanya. “Entah kau mau atau tidak.”

Setelah itu, mereka dibawa ke kamar pribadi Serelya di istana Rhaiven. Kamar itu luas, dinding tinggi, hiasan gelap, aroma kayu tua dan api yang menyala di perapian. Semua terasa asing dan menakutkan.

Serelya duduk di tepi ranjang, napasnya masih berat. Ia menatap keluar jendela ke kota yang luas dan gelap. Dunia ini terasa begitu berbeda, dan ia begitu kecil di dalamnya. Namun satu hal jelas: ia tidak akan menyerah. Tidak hari ini, tidak besok, dan mungkin tidak pernah.

Pintu kamar terbuka perlahan. Rhaiven berdiri di ambang, sosoknya tampak seperti bayangan di cahaya perapian. “Kau menolak perintahku, tapi kau tidak takut padaku. Itu menarik,” katanya.

Serelya menatapnya, mata tak gentar. “Aku tidak takut pada siapa pun yang mencoba membeli hidupku.”

Alpha itu melangkah masuk, menutup pintu. “Itu masalah, Serelya. Karena hidupmu sudah menjadi milikku.”

Serelya merasakan darahnya mendidih, instingnya berteriak untuk melawan. Namun di matanya ada ketenangan yang aneh. Ia tahu pertempuran ini baru saja dimulai.

Rhaiven mendekat, tangannya tidak menyentuh, tapi aura dominasi menyelimuti Serelya. “Kau akan belajar tentang rasa sakit, tentang kepatuhan, dan tentang ketakutan,” katanya perlahan. “Dan mungkin, kau akan belajar sesuatu tentang dirimu sendiri.”

Serelya menelan ludah. “Aku tidak akan menyerah padamu,” katanya lagi, lebih tegas dari sebelumnya.

Rhaiven tersenyum samar. “Aku menantikan saat itu.”

Dan tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari aula utama. Kaca jendela bergetar, lampu perapian meredup.

Serelya menatap Rhaiven. “Apa itu?”

Alpha itu mengangkat alis. “Sepertinya, permainan baru saja dimulai.”

Mata Serelya melebar. Ia tidak tahu apa yang akan datang, tapi instingnya sudah memberi peringatan: bahaya datang, lebih besar dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Dan di luar dinding istana, bayangan bergerak cepat, tanpa suara, menunggu. Lampu perapian bergetar, bayangan Rhaiven menari di dinding kamar. Serelya menelan ludah, merasa detak jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya.

“Apakah kau selalu membuat kejutan seperti ini?” tanyanya, suara gemetar sedikit tapi penuh keberanian.

Rhaiven tersenyum tipis, mendekat, langkahnya perlahan tapi pasti. “Hanya pada mereka yang layak mendapatkannya,” katanya. Aura dominannya menekan setiap inci udara di sekitar Serelya. “Dan kau layak diuji.”

Serelya menahan napas. “Ujian apa lagi yang kau maksud?”

Rhaiven berhenti di hadapannya. Mata abu-abu itu menatapnya tajam, tapi ada kilau sesuatu yang tidak bisa ia pahami. “Bukan tentangku,” katanya lembut, “ini tentangmu. Tentang seberapa jauh kau bisa bertahan sebelum menyerah pada apa yang kau tidak ingin kuasai.”

Serelya mengerutkan alis. “Aku tidak akan menyerah.”

Alpha itu tertawa pelan, sebuah suara yang membuat dinding terasa bergetar. “Kau mungkin tidak sadar, tapi kau sudah berada di ujung garis antara hidup dan kehancuran.”

Tiba-tiba, suara keras dari luar kamar terdengar lagi, lebih dekat kali ini. Bunyi langkah berat, logam beradu, dan bisikan yang membuat Serelya merinding.

Rhaiven memiringkan kepalanya. “Mereka datang untukku,” katanya. “Tapi bukan sekadar musuh biasa. Ada sesuatu di luar sana yang bahkan aku tidak tahu bagaimana menghadapinya.”

Serelya menatapnya, jantungnya melonjak. “Apa maksudmu? Siapa mereka?”

Rhaiven mendekat, menaruh satu tangan di dinding di sampingnya, menutup jarak mereka. “Mereka datang untuk menguji kita. Dan kau, Serelya, akan berada tepat di tengah ujian itu.”

Serelya merasa napasnya tertahan. “Kau tidak bisa… aku—”

Rhaiven menatapnya intens. “Kau tidak punya pilihan lagi. Semua yang kau kenal sudah berubah. Aku dan kau, kita hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar dari kita berdua.”

Sekejap, bayangan bergerak di luar jendela kamar. Tidak ada suara langkah, tidak ada tanda-tanda manusia, tapi udara terasa berat. Insting Serelya berteriak. Ini bukan musuh biasa. Ini sesuatu yang lebih… mematikan.

Rhaiven menghela napas panjang, menatap ke arah bayangan itu. “Mereka sudah di sini,” katanya, suara rendah namun tegas. “Dan kau akan melihatnya sendiri.”

Serelya menelan ludah, jantungnya berdetak cepat. “Aku—aku siap,” katanya, walau ketakutan merayap di dalam dirinya.

Alpha itu mengangkat alis, setengah tersenyum. “Siap atau tidak, kau tidak akan bisa lari. Ini akan menjadi malam pertamamu di dunia yang tidak kau mengerti, dan aku… akan menjadi satu-satunya yang bisa menjaga kau tetap hidup.”

Dan tepat saat itu, pintu kamar terbuka dengan sendirinya, perlahan, seperti ditekan oleh tangan yang tak terlihat. Angin dingin menyeruak masuk, memutar rambut Serelya, membuat api perapian menari lebih liar.

Serelya menatap ke dalam kegelapan yang kini masuk ke kamar, merasakan kehadiran sesuatu yang jauh lebih besar daripada Rhaiven, sesuatu yang membuat semua instingnya terdiam.

Rhaiven mencondongkan tubuh ke depan, menatapnya dalam-dalam. “Siapkah kau menghadapi dunia ini?”

Serelya menggigit bibir, merasakan ketakutan dan ketegangan yang bercampur. “Aku tidak punya pilihan lain,” jawabnya.

Alpha itu tersenyum tipis. “Bagus. Karena pilihan sebenarnya… hanya akan muncul ketika kita sudah melewati malam ini.”

Di luar jendela, bayangan itu bergerak lebih dekat. Tidak terlihat wujudnya, tapi Serelya merasakan hawa kematian dan kekuatan yang belum pernah ia temui.