“Dia tidak akan berhenti,” bisik Serelya, matanya menelusuri lorong panjang di luar kamar. Napasnya berat, tapi ada sesuatu yang menahan dirinya untuk tidak mundur.
Rhaiven menatapnya, tubuhnya tegap dan penuh kewaspadaan. “Aku tahu. Itu sebabnya kau tetap di sisiku. Dan malam ini, kau akan mengerti mengapa tidak ada tempat yang aman di dunia ini.”
Serelya menelan ludah. “Apa maksudmu?”
Alpha itu tersenyum tipis. “Maksudku… ini baru permulaan.”
Langkah datang lagi dari lorong. Kali ini lebih cepat, lebih nyata. Angin dingin menyambar dari jendela, membawa aroma logam terbakar yang membuat kulit Serelya merinding. Instingnya, yang biasanya menjadi panduan hidupnya, kini tetap kosong. Ia merasa rentan, tapi ada sesuatu dalam hatinya yang menolak menyerah.
Rhaiven mengangkat satu tangan, memberi sinyal agar Serelya tetap diam. “Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi. Tapi kau akan belajar. Cepat atau lambat, kau harus memilih: bertahan atau menyerah pada ketakutanmu.”
Serelya menelan ludah. “Aku—aku tidak akan menyerah.”
Bayangan itu muncul lagi. Kali ini terlihat lebih jelas, meskipun tetap samar di kegelapan. Bentuknya tinggi, tubuhnya seperti manusia tapi tidak sepenuhnya. Mata yang menatap Serelya dan Rhaiven terasa dingin, penuh perhitungan.
“Siapa kau?” Rhaiven memecah keheningan. Suaranya tegas, memancarkan otoritas alami seorang Alpha.
Bayangan itu tersenyum, suara lembutnya menembus udara. “Aku hanya ingin melihat… siapa yang tersisa ketika semua insting hilang. Siapa yang mampu bertahan ketika kekuatan dan rasa takut diuji sekaligus.”
Serelya merasakan tubuhnya membeku. Ini bukan musuh biasa. Ini sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Rhaiven melangkah maju, menempatkan dirinya di depan Serelya. “Apa yang kau inginkan?” Suaranya rendah, menahan kemarahan yang hampir meledak.
Bayangan itu condongkan kepala, senyum samar tetap terpatri di wajahnya. “Aku ingin melihat pilihan kalian, dan melihat seberapa jauh kalian bisa bertahan sebelum segalanya hancur.”
Serelya menggenggam tangan Rhaiven, napasnya tertahan. “Kita harus bertahan.”
Alpha itu menunduk sebentar, menatap mata Serelya. “Tetap di sisiku. Itu satu-satunya cara kau akan selamat.”
Seketika bayangan itu menghilang, meninggalkan kamar dalam keheningan yang tegang. Serelya menatap Rhaiven, tubuhnya masih gemetar. Ia sadar malam ini bukan akhir ujian, ini hanyalah awal.
“Dia lebih kuat dari apa pun yang pernah aku hadapi,” bisik Rhaiven, matanya tetap menatap ke jendela kosong.
Serelya menelan ludah. “Apa yang harus kita lakukan?”
Rhaiven tersenyum tipis. “Belajar bertahan. Dan belajar mempercayai satu sama lain.”
Malam itu mereka tidak tidur. Setiap suara di lorong, setiap bayangan yang menari di api perapian, membuat Serelya sadar bahwa dunia ini jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Keesokan harinya, Rhaiven membawa Serelya ke ruang latihan di lantai bawah istana. Ruangan itu luas, dindingnya dipenuhi senjata kuno dan patung Alpha yang berlapis debu. Cahaya matahari menembus jendela tinggi, tapi tidak mengurangi kesan suram dan menegangkan.
“Kau harus belajar bertarung,” kata Rhaiven, melepaskan pedangnya dari dudukan. “Bukan untukku, tapi untuk diri sendiri. Malam ini hanyalah permulaan dari apa yang akan kau hadapi.”
Serelya menatap pedang itu. “Aku… belum pernah bertarung sebelumnya.”
Rhaiven mencondongkan tubuh ke depan. “Itu tidak masalah. Instingmu akan muncul ketika kau membutuhkannya. Kau hanya perlu memulai.”
Serelya mengangguk. Ia memegang pedang dengan tangan gemetar, mencoba meniru gerakan Rhaiven. Setiap pukulan dan tebasannya terasa berat, tapi Rhaiven menatapnya dengan penuh kesabaran, membimbing setiap gerakannya.
“Lebih cepat. Lebih pasti. Jangan ragu,” kata Rhaiven. “Keraguan adalah kematianmu.”
Satu jam berlalu, dua jam, Serelya mulai merasakan perubahan. Tubuhnya lebih lincah, instingnya perlahan muncul, meski masih samar. Setiap kali ia salah menebas, Rhaiven menatapnya, tapi tidak marah. Hanya menunggu dan mengamati.
“Lihat,” kata Rhaiven setelah latihan selesai, “kau mulai merasakan ritme. Itu awal dari instingmu kembali.”
Serelya tersenyum tipis, meski lelah. “Aku masih takut.”
Rhaiven menepuk pundaknya. “Itu wajar. Tapi ketakutan bisa menjadi kekuatan jika kau belajar mengendalikannya.”
Mereka beristirahat sebentar ketika suara langkah berat terdengar lagi di koridor. Kali ini lebih dekat, lebih jelas. Serelya menegang.
Rhaiven berdiri, pedang di tangan. “Ini dia. Saat pertama kau menghadapi nyata… dan kau tidak bisa lari.”
Pintu terbuka perlahan, dan sosok tinggi muncul. Kali ini tidak ada senyum samar, hanya keheningan yang mencekam. Mata Serelya terbuka lebar. Tubuhnya membeku.
Rhaiven menatap sosok itu, tubuhnya siap serang. “Siapa kau?” Suara Alpha itu tegas, penuh otoritas.
Sosok itu melangkah maju, satu langkah, lalu berhenti. Udara di sekitarnya bergetar. “Aku datang untuk menguji kalian,” katanya lembut. “Dan kau, Serelya, akan menjadi bagian dari ujian itu.”
Serelya merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menggenggam pedang, menatap Rhaiven. “Apa yang harus kita lakukan?”
Alpha itu tersenyum samar. “Kita hadapi bersama. Tidak ada pilihan lain.”
Bayangan itu bergerak satu langkah lagi, dan mata Serelya menangkap kilau sesuatu yang berkilau di tangan sosok itu. Sebuah senjata? Atau hanya ilusi? Ia tidak tahu.
Rhaiven menatap Serelya, matanya menyala penuh tekad. “Tetap fokus. Percayai aku, dan kau akan selamat malam ini.”Bayangan itu berdiri di lorong, diam tapi penuh ancaman yang tak terlihat. Serelya menatapnya, napasnya memburu, tetapi Rhaiven tidak bergeming. Pedang di tangannya tetap siap, mata abu-abu itu menatap tajam ke arah sosok misterius.
“Kau pikir aku takut?” Rhaiven menegaskan suaranya, tapi di dalam hatinya, ia tahu ini bukan sekadar ancaman fisik. Ini adalah ujian yang jauh lebih berbahaya: ujian insting, ujian pikiran, ujian jiwa.
Sosok itu tersenyum samar, perlahan mengangkat tangannya. Udara di sekitar mereka bergetar, membuat lampu di lorong berayun ringan. “Aku tidak datang untuk membunuh… setidaknya belum. Aku datang untuk melihat seberapa jauh kalian bisa bertahan ketika semua yang kalian percaya tentang kekuatan dan insting diuji.”
Serelya merasakan tubuhnya menegang, tapi ada sesuatu yang aneh—rasa takutnya tidak seperti biasanya. Instingnya, yang seharusnya memberi sinyal bahaya, tetap sunyi. Ia menggenggam pedang Rhaiven lebih erat.
Rhaiven mencondongkan tubuh ke depan, menatap Serelya. “Tetap di belakangku. Apa pun yang terjadi, jangan bergerak sendirian. Percayalah padaku.”
Sosok itu melangkah satu langkah, lalu berhenti. Bayangan tinggi itu diam, tetapi aura kekuatannya terasa menekan hingga dada Serelya sesak. “Aku ingin melihat pilihan kalian,” katanya lembut. “Aku ingin melihat apakah kalian akan bertahan atau menyerah pada ketakutan kalian sendiri.”
Rhaiven menatap mata Serelya, matanya menyala penuh tekad. “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Kita hadapi ini bersama.”
Serelya menelan ludah, jantungnya berdetak kencang. “Apa yang akan terjadi sekarang?”
Bayangan itu tersenyum tipis, lalu menghilang begitu saja. Lorong kembali hening, tetapi udara tetap tegang, seperti menunggu ledakan yang akan datang.
Rhaiven menurunkan pedangnya perlahan, matanya tetap menatap ke arah tempat bayangan itu menghilang. “Ini baru permulaan. Malam ini hanya ujian pertama. Kita akan menghadapi lebih banyak, dan aku berjanji, kau tidak akan tahu apa yang menunggu sampai kau berada di tengahnya.”
Serelya menggenggam tangan Rhaiven. “Aku siap… tapi aku takut.”
Alpha itu menunduk sebentar, menatapnya dengan lembut namun tegas. “Takutmu akan menjadi kekuatanmu, Serelya. Kau akan belajar mengendalikannya, dan malam ini… kau akan mulai memahami siapa kita sebenarnya.”
Mereka melangkah perlahan ke luar kamar, menuju ruang latihan, ketika terdengar langkah berat lagi dari koridor. Kali ini lebih dekat. Rhaiven menatap Serelya dan berkata dengan nada dingin namun tenang: “Bersiaplah. Mereka kembali. Dan kita tidak bisa mundur lagi.”