Rhaiven Sang Penguasa Malam Pertama di Dunia Rhaiven
2/4
Bab 2

Malam Pertama di Dunia Rhaiven

“Apakah kau mendengar itu?” suara Serelya bergetar, tapi bukan karena takut sepenuhnya. Ada campuran penasaran dan ketegangan.

Rhaiven berdiri di sampingnya, tubuhnya setengah menutupi cahaya perapian. “Dengar apa?” Suaranya tenang, tapi penuh kewaspadaan. “Aku tidak mendengar apa-apa.”

“Langkah,” Serelya menekankan, matanya menelusuri bayangan gelap di luar jendela. “Logam, seperti… senjata.”

Rhaiven mengerutkan alis. “Ini bukan musuh biasa. Kau akan segera mengerti.” Ia mencondongkan tubuh, menatapnya. “Bersiaplah, Serelya. Dunia ini tidak memberi ampun.”

Serelya menelan ludah, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang menolak rasa takut itu. Sejak awal ia sadar, menjadi bagian dari dunia Rhaiven bukan tentang nyaman atau aman. Ini tentang bertahan, belajar, dan menemukan kekuatan yang bahkan ia tidak tahu ada.

Tiba-tiba suara keras terdengar dari koridor luar kamar. Pintu yang tidak terkunci terbanting terbuka, dan bayangan tinggi meluncur masuk. Serelya menjerit dan melangkah mundur.

Rhaiven melangkah cepat, berdiri di depan Serelya, tubuhnya membentuk perisai alami. “Tetap di belakangku,” katanya. Suara itu rendah, tegas, tidak bisa ditawar.

Bayangan itu berhenti. Perlahan, seperti menyadari kehadiran Alpha. Tidak ada wajah yang terlihat, tapi aura kematian dan kekuatan mengelilinginya.

Serelya merasakan darahnya berdesir. Instingnya berteriak, tapi anehnya, ia tidak merasakan apa pun tentang bayangan itu, tidak ada rasa takut, tidak ada sinyal bahaya yang biasa.

Rhaiven menatapnya tajam. “Kau merasakannya juga?”

Serelya mengangguk, tapi suaranya lemah. “Aku… tidak merasakan apa-apa.”

Alpha itu menelan ludah. “Ini tidak normal. Tidak ada yang bisa menghapus insting begitu saja. Tidak kecuali… sesuatu yang jauh lebih kuat dari kita.”

Bayangan itu bergerak lebih dekat, perlahan, hampir seperti menari di udara. Rhaiven mencondongkan tubuhnya, siap menyerang. “Siapa kau?” Suara itu menembus hening, tapi tetap lembut.

Bayangan itu tersenyum, dan untuk pertama kalinya, Serelya merasakan hawa ketenangan yang aneh. “Aku hanya ingin melihat,” kata suara itu. “Siapa yang tersisa ketika insting sudah tidak berfungsi.”

Serelya merasakan tubuhnya membeku. Ini bukan manusia biasa. Ini bukan musuh yang bisa diukur dengan kekuatan fisik. Ini sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Rhaiven melangkah maju, memosisikan diri di depan Serelya. “Jangan mendekat!” tegasnya.

Bayangan itu mengangkat tangan, tapi gerakannya lambat, tidak mengancam secara langsung. “Aku tidak akan menyakiti… setidaknya belum,” katanya. Suara itu seperti musik gelap yang memutar di udara, membuat pernapasan Serelya tertahan.

Rhaiven menatapnya penuh kewaspadaan. “Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin melihat,” jawab bayangan itu. “Apa yang tersisa ketika seorang Alpha kehilangan semua yang ia tahu tentang insting, tentang kekuasaan, tentang rasa takut.”

Serelya menatap Rhaiven. Mata Alpha itu gelap, menahan ledakan kemarahan, tapi ada sesuatu yang lain—ketakutan tersembunyi yang jarang terlihat oleh orang lain.

“Dia bisa memutuskan semua,” bisik Serelya. “Semua insting, semua ikatan, semuanya…”

Rhaiven menatapnya, dan untuk sesaat, ia terlihat rapuh. Tapi kemudian matanya kembali dingin dan penuh kendali. “Kau akan tetap di sisiku. Aku tidak membiarkan apapun mengambilmu dariku.”

Bayangan itu melangkah mundur, senyumnya samar. “Aku akan menunggu. Dan ketika waktunya tepat, kau akan melihat kebenaran yang tak bisa kau hindari.”

Tiba-tiba, ia menghilang begitu saja, meninggalkan udara tegang dan hening yang terasa seperti dicabut dari waktu.

Serelya menatap Rhaiven, masih terengah. “Siapa itu?”

Alpha itu mengerutkan alis, menatap ke jendela kosong. “Sesuatu yang lebih kuat dari kita berdua. Dan dia baru saja mulai.”

Serelya menelan ludah, tubuhnya gemetar. Ia sadar bahwa dunia Rhaiven lebih gelap, lebih luas, dan lebih berbahaya daripada yang bisa ia bayangkan.

Rhaiven menunduk, menyentuh bahu Serelya dengan lembut tapi tegas. “Ini baru permulaan. Kau harus belajar cepat, bertahan lebih cepat, dan mempercayai aku lebih cepat.”

Serelya menatapnya, campuran takut dan kagum. “Aku tidak tahu apakah aku siap.”

Rhaiven tersenyum samar. “Siap atau tidak, kau tidak punya pilihan. Dan malam ini, kau akan melihat siapa kita sebenarnya.”

Dan di luar jendela, bayangan itu kembali muncul, lebih dekat, lebih nyata, tetapi tetap tak terlihat wujudnya. Angin dingin menyeruak masuk, membawa aroma logam dan api yang terbakar.

Serelya merasakan instingnya berteriak, tapi tetap kosong. Ia menggenggam tangan Rhaiven. “Apa yang harus aku lakukan?”

Alpha itu menatapnya dalam-dalam. “Tetap di sisiku. Hanya itu yang akan menyelamatkanmu.”

Serelya menggenggam tangan Rhaiven lebih erat, napasnya masih terengah. Angin dingin dari jendela membawa aroma logam dan kayu terbakar, menyelimuti kamar dengan rasa tegang yang hampir bisa disentuh.

“Dia kembali,” Serelya berbisik, matanya menelusuri bayangan di luar jendela. “Aku bisa merasakannya.”

Rhaiven menunduk, jaraknya satu napas dari wajahnya. “Aku tahu. Itu alasan aku tidak membiarkanmu keluar sendirian. Bahkan aku pun tidak tahu apa yang dia inginkan.”

Serelya menatapnya, ada campuran takut dan penasaran. “Jika dia bisa memutuskan semua insting kita… apa yang tersisa untuk kita?”

Alpha itu menarik napas panjang, kemudian menatap lurus ke matanya. “Yang tersisa adalah kita sendiri. Dan hanya itu yang akan menentukan siapa yang bertahan.”

Tiba-tiba, dari lorong panjang di luar kamar, terdengar suara langkah cepat, kasar, tapi tidak ada bayangan yang bisa dilihat. Suara itu bergaung, menempel di telinga Serelya seperti peringatan yang samar namun menakutkan.

Rhaiven menggeram pelan. “Dia mendekat. Aku bisa merasakannya dalam setiap sudut udara ini.”

Serelya menggigit bibir, jantungnya berdegup kencang. “Apa yang harus kita lakukan?”

Alpha itu melangkah ke samping, menutup jalannya ke jendela. “Kita tunggu. Dan ketika dia muncul, kau tetap di belakangku. Jangan bergerak, jangan bicara, jangan hiraukan apapun kecuali aku.”

Serelya mengangguk, tapi ada rasa gelisah di dadanya. Instingnya, yang biasanya menjadi panduan hidupnya, kini sunyi. Tidak ada rasa takut, tidak ada sinyal bahaya, hanya kekosongan yang membuatnya merasa rentan.

Lalu, bayangan itu muncul lagi. Kali ini lebih dekat. Mata Serelya terbuka lebar. Sesosok tinggi, sosok manusia tapi tidak sepenuhnya, berdiri di ambang pintu lorong kamar. Udara di sekitarnya bergetar dengan kekuatan yang tidak bisa dijelaskan.

Rhaiven maju, tubuhnya membentuk benteng alami. “Siapa kau?” Suaranya tegas, menahan gemuruh kemarahan dan kewaspadaan.

Bayangan itu melangkah lebih dekat, senyum samar di wajahnya. “Aku hanya ingin melihat. Melihat siapa yang tersisa ketika semua insting telah hilang. Melihat apa yang tersisa ketika Alpha dan Omega menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar dari mereka.”

Serelya merasakan tubuhnya membeku. Ini bukan musuh biasa, bukan tantangan yang bisa diukur dengan kekuatan fisik atau strategi. Ini sesuatu yang jauh lebih mematikan, sesuatu yang bisa menghapus identitas dan instingnya sendiri.

Rhaiven menatap bayangan itu lama. “Apa tujuanmu?”

Bayangan itu mencondongkan kepala, senyumnya tetap samar. “Tujuanku sederhana. Aku ingin melihat pilihan kalian, dan aku ingin melihat seberapa jauh kalian bisa bertahan sebelum segalanya hancur.”

Serelya menatap Rhaiven, tubuhnya gemetar tapi tidak mundur. “Kita harus… bertahan,” bisiknya.

Alpha itu menunduk, menyentuh pipinya sebentar. “Tetap di sisiku, Serelya. Tidak ada yang bisa menyentuhmu selama aku ada di sini.”

Bayangan itu tiba-tiba menghilang, meninggalkan kamar dalam keheningan yang menegangkan. Serelya menelan ludah, tubuhnya masih gemetar. Ia sadar malam ini bukanlah akhir dari ujian mereka. Ini hanyalah awal.

Rhaiven menatapnya lama, matanya abu-abu dingin namun penuh tekad. “Malam ini kau belajar sesuatu penting. Dunia ini tidak memberi ampun, dan aku… aku akan menjadi satu-satunya yang menjaga kau tetap hidup.”

Serelya menelan ludah, merasakan getaran ketegangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Aku siap,” katanya pelan, meski hatinya penuh ketakutan.

Alpha itu tersenyum samar. “Siap atau tidak, kau tidak punya pilihan. Dan malam ini… kau akan melihat siapa kita sebenarnya.”

Di luar jendela, bayangan itu muncul kembali, lebih dekat, lebih nyata. Angin dingin menyelimuti kamar, membuat api perapian menari liar. Serelya menatap Rhaiven, napasnya tertahan. “Apa yang akan terjadi sekarang?”

Rhaiven mencondongkan tubuhnya, menatap dalam matanya. “Apa pun yang terjadi… kita hadapi bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita.”

Dan bayangan itu bergerak sekali lagi, menghilang ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan aroma logam dan hawa kematian yang membuat seluruh tubuh Serelya tegang.