Rhaiven Sang Penguasa Ujian Pertama
4/4
Bab 4

Ujian Pertama

“Apakah kau merasakannya?” Serelya menatap Rhaiven, tangan masih menggenggam pedang. Tubuhnya gemetar, tetapi matanya tidak menoleh ke belakang.

Rhaiven mengangguk, matanya menelusuri lorong gelap. “Aku merasakannya. Mereka mendekat. Ini bukan sekadar ujian fisik, Serelya. Ini ujian insting, dan aku tidak bisa melindungimu dari semua hal itu.”

Serelya menelan ludah. “Aku… aku siap.”

Alpha itu tersenyum samar. “Kau pikir begitu? Malam ini akan menguji seberapa jauh kau bisa mempercayai dirimu sendiri. Dan seberapa jauh kau bisa mempercayai aku.”

Langkah-langkah terdengar lagi, lebih cepat, lebih jelas. Sosok bayangan muncul dari sudut koridor, tubuhnya bergerak seperti udara yang menyelimuti. Tidak ada mata yang bisa ditangkap, hanya aura kematian yang terasa menekan setiap tarikan napas Serelya.

Rhaiven mengangkat pedangnya, menempatkan tubuhnya di depan Serelya. “Tetap di belakangku. Jangan bergerak.”

Bayangan itu berhenti, lalu melangkah satu langkah ke depan. Udara di sekitarnya bergetar, hampir seperti medan magnet yang menolak mereka. “Aku ingin melihat siapa yang tersisa ketika insting kalian hilang,” suara bayangan itu lembut, tetapi menembus seluruh lorong.

Serelya menatap Rhaiven, matanya gelap. “Apa yang harus kita lakukan?”

Alpha itu mencondongkan tubuhnya, menatap tajam ke bayangan itu. “Kita hadapi. Tidak ada pilihan lain.”

Bayangan itu tersenyum tipis, langkahnya terhenti. Lalu, tanpa peringatan, ia menyerang. Cepat, tepat, tetapi tidak terlihat oleh mata biasa. Rhaiven menebas udara, pedangnya menahan serangan yang hanya bisa dirasakan lewat getaran di kulit.

Serelya menggenggam pedangnya, mencoba meniru gerakan Rhaiven. Instingnya mulai muncul—samar, tetapi cukup untuk memberinya arah. Setiap serangan bayangan terasa seperti menebas bayangan sendiri.

“Fokus!” Rhaiven berteriak, tubuhnya bergerak cepat, menangkis serangan yang seakan muncul dari segala arah. “Jangan hanya menebak, rasakan!”

Serelya menelan ludah, matanya mengikuti bayangan itu. Ia menendang ke arah kaki sosok itu, tapi udara terasa kosong, tidak ada tubuh yang bisa disentuh. Hanya gelombang kekuatan yang menolak geraknya.

“Instingmu hilang karena dia,” Rhaiven menjelaskan sambil menangkis serangan lain. “Dia bukan sekadar musuh. Dia bisa mematikan persepsi kita sendiri!”

Serelya terengah. “Aku tidak merasakannya… aku tidak merasakan apa-apa!”

Rhaiven menunduk sebentar, menatapnya dengan serius. “Itulah tujuannya! Kau harus tetap bertahan, walau instingmu sunyi. Gunakan akal, gunakan keberanian, gunakan aku!”

Sosok bayangan itu menebas udara, menyerang cepat ke arah Rhaiven. Alpha itu menghindar, tubuhnya gesit seperti predator sejati. “Serelya! Jaga sisi kananmu!”

Serelya menoleh, melihat bayangan itu bergerak ke arahnya. Ia menebas udara, hanya merasakan tekanan yang memantul dari tangannya. Instingnya mencoba menyesuaikan, tapi kosong. Ia mengangkat pedang, menahan rasa takut yang hampir menelannya.

“Percaya padaku!” teriak Rhaiven, tubuhnya melesat ke sisi bayangan, menyerang dengan kecepatan yang membuat Serelya tertegun. “Ini hanya latihan pertama. Pelajari gerakannya!”

Serelya meniru gerakan Rhaiven, pedangnya menghantam udara, menciptakan suara yang menembus keheningan. Bayangan itu mundur sebentar, tampak mengamati. “Kau mulai belajar,” suara lembut itu berkata, hampir seperti memuji.

Serelya merasakan sedikit keyakinan muncul. Ia menggerakkan tubuhnya lebih cepat, mencoba mengikuti gerakan bayangan itu. Tidak ada rasa takut, hanya konsentrasi murni.

Tiba-tiba bayangan itu menghilang, meninggalkan lorong kosong. Serelya berdiri terengah, tubuhnya basah oleh keringat. “Dia… pergi?”

Rhaiven menurunkan pedangnya, matanya tetap waspada. “Untuk sekarang. Tapi dia akan kembali. Dan saat itu, instingmu akan diuji lebih keras daripada sebelumnya.”

Serelya menggenggam tangan Rhaiven. “Aku… aku tidak tahu apakah aku bisa.”

Alpha itu tersenyum tipis, lalu menepuk bahunya. “Itu normal. Tapi kau lebih kuat daripada yang kau pikirkan. Ingat malam ini, Serelya. Ingat bahwa meski instingmu sunyi, kau masih bisa bertahan. Dan kita akan bertahan bersama.”

Di luar jendela, bayangan itu muncul lagi, menyelinap di antara cahaya dan kegelapan, menatap mereka diam-diam. Suara langkahnya hampir tidak terdengar, tapi kedatangannya terasa.

Rhaiven menatap ke luar jendela. “Ini belum berakhir. Malam ini hanyalah awal. Kita harus siap untuk yang lebih buruk.”

Serelya menelan ludah, tubuhnya gemetar, tapi matanya menatap Rhaiven. “Aku akan bertahan… bersamamu.”

Bayangan itu menatap mereka dari luar jendela, tubuhnya samar tapi aura kekuatannya menekan hingga menimbulkan rasa dingin di tulang. Rhaiven menatapnya, mata abu-abu tajam, setiap ototnya tegang.

“Kau merasa dia menunggu sesuatu,” bisik Serelya, menempel di sisi Rhaiven. Napasnya masih berat, tapi matanya mulai terbuka terhadap dunia yang sebelumnya terasa kosong.

Alpha itu mengangguk. “Dia menunggu pilihan kita. Setiap gerakan, setiap keputusan, akan menentukan siapa yang akan selamat.”

Serelya menelan ludah. “Tapi bagaimana kita bisa memilih ketika insting kita hilang?”

Rhaiven mencondongkan tubuh ke arahnya, menatap mata Serelya penuh tekad. “Kita tidak perlu insting untuk ini. Kita punya satu sama lain. Ingat itu. Jangan biarkan kekosongan itu menguasai pikiranmu.”

Bayangan itu menghilang perlahan, meninggalkan lorong kembali sunyi. Tapi udara tetap tegang, seakan menyimpan janji akan ujian yang lebih besar.

Rhaiven menarik napas panjang, lalu menepuk bahu Serelya. “Ini baru permulaan. Malam ini kau belajar sesuatu penting: bahkan ketika instingmu sunyi, keberanian dan akalmu bisa menjadi senjata. Ingat itu.”

Serelya menatapnya, tubuhnya masih gemetar tapi ada secercah keyakinan. “Aku… aku akan bertahan. Bersamamu.”

Alpha itu tersenyum samar, menatap ke arah lorong kosong. “Dan ketika dia kembali… kita harus siap. Lebih cepat, lebih kuat, lebih waspada. Tidak ada yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi.”

Dari luar, angin malam berdesir melalui jendela, membawa aroma logam dan kayu terbakar. Bayangan itu tampak menunggu, mengamati, bersiap untuk langkah berikutnya.

“Rhaiven…” suara Serelya hampir tak terdengar, gemetar tapi tegas. “Dia… dia kembali.”

Alpha itu menoleh, mata abu-abu menyapu lorong gelap. “Aku tahu. Kau merasa ada sesuatu di udara. Kuatkan dirimu.”

Bayangan itu muncul dari sudut, bergerak perlahan, tapi setiap langkahnya terasa menekan seluruh lorong. Insting Serelya tetap sunyi, tapi ada sesuatu yang membuat hatinya berdegup kencang, seolah tubuhnya tahu bahaya datang meski pikirannya tidak dapat memahaminya.

Rhaiven mengangkat pedang, tubuhnya tegap. “Siap? Kita tidak punya jalan mundur.”

Serelya menggenggam pedangnya, tangan gemetar. “Aku siap.”

Bayangan itu berhenti, memiringkan kepala. “Aku ingin melihat bagaimana kalian bertahan… ketika yang kalian percayai tentang kekuatan hilang.” Suaranya lembut, tetapi setiap kata terasa menusuk tulang.

Rhaiven melangkah maju, menahan napas. “Kau ingin melihatnya? Baik. Kita akan tunjukkan padamu.”

Tiba-tiba bayangan itu menyerang, cepat dan tak terduga. Rhaiven menebas udara, pedangnya memantulkan serangan yang tak bisa dilihat. Serelya menendang ke arah bayangan itu, tubuhnya kaku, tapi instingnya mulai merespons sedikit demi sedikit.

“Fokus! Rasakan, bukan lihat!” Rhaiven berteriak, tubuhnya gesit menghindari serangan lain. “Instingmu akan kembali jika kau percaya!”

Serelya menelan ludah. Ia menebas udara, pedangnya bertemu kekosongan, tapi ada getaran yang memantul ke tangannya. Lambat laun, ia mulai merasakan sedikit ritme serangan bayangan itu, langkahnya, gerakan tangannya sendiri.

Bayangan itu tertawa lembut. “Kau mulai merasakan… sedikit. Tapi itu belum cukup.”

Rhaiven melompat ke samping, menyerang bayangan itu dari arah lain. “Serelya! Jangan berhenti! Setiap gerakanmu penting!”

Serelya menatap Rhaiven, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan keberanian mengalir bersamaan dengan ketakutan. Ia memutar tubuhnya, mengayunkan pedang, dan udara bergetar ketika bayangan itu menangkis. Sebuah kontak, sekecil apa pun tapi cukup untuk menandai kemenangan pertama.

Bayangan itu tersenyum samar. “Menarik. Kau memiliki potensi. Tapi kita belum selesai.”

Suara langkah lain terdengar dari lorong belakang. Rhaiven menoleh sekejap, lalu menatap Serelya. “Siap?”

Serelya mengangguk. “Aku siap.”

Sosok ketiga muncul lebih tinggi, lebih gelap, dan aura kekuatannya menekan hingga membuat udara terasa panas. Ini bukan hanya ujian fisik lagi. Ini ujian ketahanan mental dan insting.

Rhaiven menatapnya, pedangnya terangkat. “Kau pikir kami takut? Kami akan bertahan.”

Sosok itu tertawa pelan, suara yang membuat dinding bergetar. “Aku ingin melihat apakah kalian benar-benar Alpha. Apakah instingmu cukup untuk bertahan… atau kau hanya akan tersingkir.”

Serelya menatap Rhaiven, jantungnya berdetak kencang. “Apa yang harus kita lakukan?”

Alpha itu menunduk sebentar, menatap matanya. “Kita hadapi. Bersama. Tidak ada pilihan lain. Ingat malam ini, ketakutanmu bisa menjadi kekuatanmu, tapi hanya jika kau percaya pada dirimu sendiri.”

Pertarungan mulai meningkat. Bayangan itu menyerang dari berbagai arah, menolak semua gerakan mereka. Serelya mulai merasakan instingnya muncul perlahan, tubuhnya menyesuaikan gerakan Rhaiven. Setiap tebasan terasa sinkron, setiap langkah terasa seperti tarian mematikan.

Rhaiven berbisik saat menangkis serangan, “Kau merasakannya? Ritme mereka? Itu instingmu yang kembali. Jangan biarkan takut menguasai.”

Serelya menelan ludah, memusatkan diri. Ia mengayunkan pedangnya, kali ini tidak kosong. Udara terbentur, dan bayangan itu tersentuh, mundur sebentar.

“Bagus,” bisik Rhaiven, matanya bersinar. “Itu baru permulaan. Kau lebih kuat dari yang kau pikirkan.”

Namun, bayangan itu tersenyum, satu tangan terangkat, dan udara di sekitar mereka membeku. “Sekarang aku akan menguji kalian dengan yang paling penting. Tidak ada insting, tidak ada keberanian… hanya pilihan.”

Serelya merasakan tubuhnya kaku. Rhaiven menatapnya, tegas. “Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama. Jangan bergerak sendirian.”

Bayangan itu menghilang begitu saja, meninggalkan lorong kosong tapi bergetar dengan energi tak terlihat. Napas mereka berat, keringat mengalir, tapi mereka tetap berdiri.

Serelya menatap Rhaiven. “Itu… itu baru ujian pertama, kan?”

Alpha itu menatap ke lorong kosong, matanya menyala. “Benar. Dan besok… ujian yang lebih besar akan datang. Mereka tidak akan memberi kita kesempatan untuk bernafas.”