Antara Kucing, Kripto, dan Cinta Bab 1 Grafik Naik
1/30
Bab 1

Bab 1 Grafik Naik

Uyan pertama kali percaya pada kucing dari layar ponsel, di sebuah pagi Bandung yang dinginnya sudah lama tidak menggigit. Bahkan, konon, panasnya sudah menyamai Jakarta.

Dingin yang tersisa hanya ada di kebiasaan—di dinding rumah kontrakan yang lembap, di lantai keramik yang selalu terasa asing bagi telapak kaki, terutama untuk orang-orang yang mudah masuk angin, dan di napas orang-orang yang bangun terlalu pagi karena hidup tidak memberi pilihan lain.

Rumah kontrakan itu berada di Kiaracondong, kampong kota yang tiap satu kilometernya dihuni 15 ribu penduduk, tak jauh dari jalur utama menuju stasiun. Udara pagi di dalam rumah berbau kopi sachet yang baru diseduh, minyak jelantah yang dipakai berulang-ulang, dan sisa nasi semalam yang belum sempat dibuang. Bau-bau yang bercampur, seperti kebiasaan hidup yang dijalani tanpa banyak jeda, tanpa jeda untuk benar-benar berpikir apakah semua ini masih masuk akal.

Dewi masih tidur di kamar, punggungnya menghadap pintu, rambutnya terikat asal. Napasnya teratur, seperti orang yang kelelahan dan akhirnya menyerah pada pagi. Dua anak perempuan mereka—Luna dan Terra—masih terlelap di kamar sebelah. Kasur tipis diletakkan berdampingan di lantai, seprai sedikit kusut. Wajah mereka tenang, seperti dua baris kalimat yang belum selesai dibaca, dan Uyan tidak tahu bagaimana kalimat itu seharusnya diakhiri.

Kontrakan itu tidak besar. Pemiliknya sengaja mendesain kompleks kecil berisi sepuluh rumah, berderet rapat, dengan dinding yang saling berhadapan terlalu dekat. Setiap rumah memiliki lima ruang: dua kamar tidur, dapur yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga, kamar mandi, dan ruang tamu kecil di bagian depan.

Meski tertata rapi, suasana kampung kota Kiaracondong tetap terasa kuat—suasana masyarakat menengah bawah yang hidup berdampingan dengan suara jalan raya, dengan nasib orang lain yang terlalu dekat untuk dihindari.

Letaknya yang berhadapan langsung dengan jalan menuju stasiun membuat rumah itu nyaris tak pernah benar-benar sunyi. Suara mobil dan motor bersahutan sejak subuh. Klakson sesekali memanjang. Setiap beberapa jam, kereta api melintas, mengguncang udara dan membuat gelas-gelas di rak dapur bergetar pelan. Getaran itu seperti pengingat bahwa sesuatu selalu bergerak, menyuruh untuk selalu terjaga, meski hidup di dalam rumah terasa mandek.

Dua kamar tidur yang ada dibagi sederhana: satu untuk Uyan dan Dewi, satu lagi untuk Luna dan Terra, dua gadis yang sedang beranjak dewasa dengan jarak usia tiga tahun. Luna, si sulung, kini duduk di kelas tiga SMA, yang mulai risau dengan masa depannya. Teman seangkatannya sudah banyak yang pacaran, beberapa ada yang hamil lalu menikah. Luna tak mau nasib serupa menimpa dirinya.

Terra, adik Luna, kelas tiga SMP. Tinggi badan mereka hampir sama. Tetangga sering mengira mereka anak kembar, dan Uyan tidak pernah mengoreksi. Kadang, lebih mudah membiarkan orang salah menilai daripada menjelaskan sesuatu yang rumit.

Uyan duduk di meja makan yang juga berfungsi sebagai meja kerja, meja rapat keluarga, dan tempat menaruh tagihan. Meja itu berada di ruang dapur yang menyatu dengan ruang keluarga, menghadap langsung ke pintu depan. Dari sana, ia bisa mendengar semua suara luar tanpa perlu membuka jendela—seolah dunia memang tidak berniat memberi jarak.

Ponselnya menyala.

Di bawah ponsel yang ia pegang tergeletak sebuah buku catatan kecil dan tebal, sampulnya sudah mulai kusam. Ia jarang membukanya lagi, tapi tetap membiarkannya dekat, seperti jimat yang tidak lagi diyakini, namun belum berani dibuang. Seluruh masa depannya seakan ada di ponsel dan buku catatan itu.

Di layar, grafik hijau bergerak naik-turun, tidak pernah benar-benar diam. Naik sedikit. Turun sedikit. Naik lebih tinggi. Turun lebih lambat. Pola yang membuat mata enggan berpaling.

Seekor kucing kartun tersenyum di sudut layar. Lidahnya menjulur. Matanya membulat. Senyum itu terlalu tenang untuk dunia yang selalu berisik dan tergesa-gesa.

Meme kucing.

Uyan tidak ingat kapan pertama kali kucing itu masuk ke kehidupnnya. Mungkin lewat grup WhatsApp teman-teman SMA yang kini lebih sering diisi stiker ketimbang kabar. Mungkin dari Telegram, dari orang-orang dengan foto profil anonim yang bicara seperti nabi dadakan. Mereka menulis dengan keyakinan berlebihan, sangat percaya diri, seolah dunia bisa disederhanakan menjadi lilin hijau dan merah.

Yang jelas, kucing itu datang membawa janji sederhana: uang bisa bekerja sendiri, asal diberi sedikit kepercayaan.

Biarkan uang bekerja.

Uyan bukan orang bodoh. Ia hanya lelah.

Lelah menghitung, lelah menunda, lelah merasa selalu tertinggal satu langkah dari kebutuhan. Ia bekerja di sebuah perusahaan distribusi alat kesehatan di Bandung Timur, bagian administrasi keuangan. Setiap hari berurusan dengan angka, laporan, dan kesalahan kecil yang bisa berujung teguran.

Gajinya tidak besar, tapi dulu cukup. Dulu—sebelum harga segalanya naik tanpa permisi. Sebelum Luna masuk SMA dan Terra membutuhkan biaya sekolah yang lebih mahal. Sebelum Dewi mulai sering terdiam saat menghitung belanja bulanan. Sebelum harga kontrakan merayap naik secara konsisten. Sebelum paylater terdengar seperti solusi, bukan jebakan. Sebelum pinjaman daring menjadi percakapan sehari-hari. Sebelum bank emok mengetuk-ngetuk pintu rumah.

Kripto tidak datang sebagai keserakahan.

Ia datang sebagai penghiburan.

Sebagai cerita yang terdengar masuk akal di tengah dunia yang tidak lagi ramah pada perhitungan konvensional.

“Hanya sedikit,” Uyan pernah berkata pada Dewi, tanpa benar-benar menjelaskan.

“Buat coba-coba.”

Dewi mengangguk. Bukan karena paham, melainkan karena terlalu lelah untuk bertanya lebih jauh. Perempuan asal Surabaya itu sudah belajar satu hal sejak menikah dengan Uyan: beberapa hal lebih baik dibiarkan lewat, seperti motor berisik di gang sempit yang tak akan berhenti hanya karena ditegur.

Di luar rumah, pagi terus berjalan dengan segala keributannya.

Suara kereta kembali melintas. Getarnya merambat sampai ke lantai, ke meja, ke tangan Uyan yang memegang ponsel sedikit terlalu erat.

Grafik hijau itu tiba-tiba melonjak lebih tinggi dari sebelumnya.

Uyan menahan napas.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ada sensasi asing—seperti ketika seseorang menyadari bahwa keputusan kecil barusan mungkin bukan lagi keputusan kecil.

Kucing di layar masih tersenyum.

Senyumnya tidak berubah—tidak peduli pagi atau malam, tidak peduli hujan atau cerah, tidak peduli ada dua anak yang tidur di lantai dan seorang istri yang mulai menabung keheningan.

Kucing itu tidak pernah berkedip.

Dan entah sejak kapan, Uyan merasa seolah senyum itu tidak lagi berada di layar, melainkan ikut memperhatikannya dari sudut-sudut rumah yang sempit ini—dari balik meja, dari balik dinding tipis, dari ruang-ruang yang tidak pernah benar-benar kosong.

Uyan menatap grafik itu sekali lagi.

Naik.

Ia tidak tahu bahwa pagi itu, tanpa suara, tanpa tanda resmi apa pun, sesuatu telah mulai bergerak ke arahnya—sesuatu yang kelak akan menagih kepercayaan yang ia berikan dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

Dan rumah kontrakan di dekat stasiun itu tetap berdiri, menyimpan dengung, getar, dan napas orang-orang yang hidup di dalamnya, tanpa tahu bahwa salah satu napas itu sebentar lagi akan berubah arah.