Antara Kucing, Kripto, dan Cinta Bab 4 Niat Baik
4/30
Bab 4

Bab 4 Niat Baik

Uang itu tidak kembali pada hari yang dijanjikan.

Uyan sudah menduganya, tapi dugaan tidak pernah benar-benar menyiapkan seseorang untuk menghadapi kenyataan. Ia membuka ponsel pagi-pagi, sebelum Dewi bangun, sebelum Luna dan Terra meminta sarapan. Tidak ada pesan. Tidak ada notifikasi selain iklan aplikasi kripto yang menyuruhnya stay calm.

Ia memasukkan ponsel ke saku, seperti menyimpan sesuatu yang panas.

Suasana kantor berubah tanpa pengumuman. Beberapa meja tampak lebih rapi dari biasanya. Orang-orang berbicara dengan volume yang sedikit diturunkan. Audit internal berjalan lebih cepat dari yang ia perkirakan. Angka-angka tidak lagi hanya deretan di layar, tapi pertanyaan yang mencari mulut untuk dijawab.

Arif jarang muncul. Ketika muncul, wajahnya lebih sering tertunduk.

“Gimana?” tanya Uyan suatu siang, berusaha terdengar biasa.

Arif menghela napas. “Masih diusahain.”

Uyan mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Ia mulai memahami bahwa beberapa kata—diusahain, sebentar lagi, aman, dan bahkan inshaallah—tidak dimaksudkan untuk menjelaskan, melainkan untuk menunda.

Grafik kripto di ponselnya turun lagi. Tidak drastis, tapi cukup konsisten untuk mengikis keyakinan. Grup Telegram berubah semakin riuh. Orang-orang mulai membagi strategi keluar. Meme kucing kini disertai kalimat penyemangat yang terdengar seperti perpisahan.

Uyan membaca semuanya sambil duduk di toilet kantor, pintu terkunci, lampu putih terlalu terang. Ia menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui: ia lebih panik melihat grafik turun daripada memikirkan uang perusahaan yang belum kembali.

Kesadaran itu datang seperti tamparan pelan.

Sore itu, atasan memanggilnya lagi. Kali ini bukan rapat singkat. Ada dua orang dari bagian audit. Ada berkas-berkas dicetak rapi. Nama Uyan tercantum di beberapa halaman, tidak besar, tapi cukup jelas.

“Kami menemukan ketidaksesuaian,” kata salah satu auditor, suaranya datar, seperti membicarakan musim hujan.

Uyan menjelaskan. Ia tidak berteriak. Ia tidak membela diri dengan dramatis. Ia berbicara tentang niat baik, tentang kepercayaan, tentang uang yang akan kembali. Kata-katanya tersusun rapi, tapi tidak cukup kuat untuk menahan apa pun.

“Aturan tetap aturan,” kata atasannya. Tidak marah. Tidak iba. Hanya lelah.

Uyan mengangguk. Ia merasa seperti kucing yang sudah terlalu jauh masuk ke rumah orang lain dan kini disadari keberadaannya.

Keputusan itu tidak diumumkan hari itu. Tapi Uyan tahu bentuknya. Ia pulang dengan perasaan yang sudah lebih dulu diberhentikan.

Dewi sedang menyetrika ketika Uyan berdiri di ambang pintu lebih lama dari biasanya. Uap tipis naik dari kain, berdesis pelan setiap kali setrika menyentuh lipatan. Suara itu mengisi rumah, seolah menjadi pengganti kata-kata yang tidak segera keluar.

Uyan ingin bicara. Ia tahu itu. Tapi kalimat pertama terasa terlalu berat untuk diangkat. Ia berdiri, memindahkan berat badannya dari satu kaki ke kaki lain, seperti orang yang ragu masuk ke ruangan yang sebenarnya miliknya sendiri.

Dewi menoleh. Tatapan mereka bertemu sebentar—cukup lama untuk membaca sesuatu yang tidak biasa. Ia mematikan setrika, mencabut colokannya, dan meletakkannya di lantai. Gerakannya tenang, nyaris terlatih.

“Ada apa?” tanyanya.

Uyan duduk di kursi plastik dekat meja. Kursi itu mengeluarkan bunyi pendek saat menahan berat tubuhnya. Ia mulai bercerita. Tidak runtut. Tidak rinci. Ia memilih bagian-bagian yang paling aman untuk disebutkan. Soal audit. Soal uang. Soal keputusan yang terasa kecil saat diambil, tapi kini membesar seperti bayangan sore.

Dewi mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya datar, tapi matanya bekerja. Ia menyusun potongan-potongan cerita itu, menautkannya dengan hal-hal yang selama ini ia simpan sebagai kecurigaan sunyi: ponsel yang terlalu sering ditatap, buku catatan yang tak pernah jauh, malam-malam ketika Uyan terjaga tanpa alasan jelas.

Ketika Uyan selesai, rumah menjadi terlalu hening. Bahkan suara dari jalan seolah menjauh. Dewi menarik napas panjang. Bukan napas orang marah, melainkan napas seseorang yang baru menyadari bahwa ketakutan yang ia simpan diam-diam akhirnya menemukan bentuknya.

“Kita gimana?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu tidak menghakimi. Tidak juga menuntut. Tapi justru karena itu, ia terasa lebih berat. Seperti pintu yang terbuka ke ruang tanpa lantai.

Uyan menunduk. Ia tahu tidak ada jawaban yang bisa langsung menenangkan. Yang ada hanya waktu, dan ketidakpastian yang mulai duduk di antara mereka—tidak berbicara, tidak bergerak, tapi jelas ada.

Malam itu, Luna dan Terra tertidur lebih cepat. Dewi masuk kamar tanpa banyak bicara. Uyan duduk di ruang tamu, ponsel di tangan. Grafik kripto naik sedikit, seolah ingin memberi penghiburan yang datang terlambat.

Ia menutup aplikasi itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin melihat kucing yang tersenyum.

Keesokan harinya, surat resmi datang. Bahasa formal. Tanggal jelas. Tidak ada kata maaf. Hanya penjelasan singkat dan ucapan terima kasih atas kontribusi yang sudah diberikan.

Uyan membaca surat itu dua kali. Ia tidak meremasnya. Ia melipatnya rapi dan memasukkannya ke tas. Ia pergi ke kantor untuk terakhir kalinya, mengembalikan kartu akses, membersihkan mejanya.

Tidak ada perpisahan besar. Beberapa rekan kerja menepuk bahunya. Entah kebetulan atau tidak, Arif tidak masuk dengan alasan sakit. Beberapa rekan menghindari tatapan. Dunia bergerak seperti biasa.

Ia melihat lagi kucing kampung berwarna oren itu di benaknya. Kucing yang sama, atau kucing lain yang mirip—Uyan tidak tahu. Kucing itu sedang menjilat bulunya, tenang, seolah tidak ada audit di dunia ini.

Uyan berhenti sejenak. Ia ingin tertawa, tapi yang keluar hanya napas panjang.

Di perjalanan pulang, hujan turun. Bandung menjadi kabur. Uyan mengendarai motor pelan, seperti orang yang takut tiba terlalu cepat di rumah yang kini terasa lebih sempit. Air hujan tak terasa basah.

Dan Dewi sudah tahu. Ia memeluk Luna dan Terra lebih lama dari biasanya. Uyan berdiri di dekat pintu, merasa seperti tamu di hidupnya sendiri.

Malam itu, ketika semua tidur, Uyan membuka ponsel sekali lagi. Grafik kripto anjlok tajam. Grup Telegram penuh dengan kata-kata panik. Meme kucing masih ada, tapi senyumnya kini terasa seperti ejekan.

Uyan menuliskan sesuatu di buku catatannya, mematikan ponsel. Layar itu gelap.

Hujan berhenti. Seekor kucing oren melintas di depan rumah, bulunya basah, langkahnya ringan. Ia tidak menoleh. Ia tidak berhenti.

Uyan menyadari sesuatu dengan kejelasan yang menyakitkan: uang yang ia pinjamkan tidak hanya uang perusahaan. Ia juga meminjam masa depan keluarganya, dengan keyakinan bahwa semuanya akan kembali seperti semula.

Dan seperti kebanyakan pinjaman yang didasarkan pada niat baik saja, tidak ada jaminan apa pun.