Antara Kucing, Kripto, dan Cinta Bab 2 Menolong Teman
2/30
Bab 2

Bab 2 Menolong Teman

Keesokan harinya, Uyan bangun dengan perasaan seperti habis bermimpi tentang sesuatu yang hampir ia miliki.

Bandung pagi itu basah oleh hujan semalam. Gang sempit di depan rumahnya licin, berkilat seperti kaca buram. Uyan berangkat kerja dengan jaket tipis dan pikiran yang lebih sibuk daripada biasanya.

Di atas motornya ia tidak memikirkan jalan yang macet, knalpot bersahutan, orang-orang menjalankan kendaraannya tergesa-gesa seolah esok kiamat. Ia memikirkan grafik. Ia memikirkan apakah hijau itu masih hijau.

Di lampu merah, ia membuka ponsel.

Grafik turun.

Tidak banyak. Hanya sedikit. Tapi cukup untuk membuat napasnya tertahan. Ia segera menutup layar, seperti orang yang tidak sengaja melihat sesuatu yang belum siap ia terima. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ini wajar. Pasar selalu bernapas. Pasar perlu koreksi. Dan itu sehat.

Ia terus mengulang-ngulang keyakinan yang entah didapatkan dari bacaan atau influecer mana, seperti doa.

Pasar selalu bernapas. Pasar perlu koreksi. Dan itu sehat…

Pasar selalu bernapas. Pasar perlu koreksi. Dan itu sehat…

Suasana kantor terasa lebih ramai dari biasanya. Ada rapat kecil di ruangan kaca. Beberapa wajah tegang. Uyan tidak tahu apa isinya, tapi ia tahu satu hal: perusahaan ini juga sedang bernapas pendek. Banyak klien menunda pembayaran. Banyak tagihan menumpuk. Angka-angka di spreadsheet tidak lagi rapi.

Perusahaan kesehatan di Bandung bukan bisnis baru. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang membuka cabang di kota ini. Perusahaan tempat Uyan bekerja hanyalah salah satu di antara raksasa-raksasa yang siap menjepit para pesaing.

Temannya, Arif, menghampiri.

“Yan,” katanya pelan, “kamu ada dana dingin?”

Uyan mengangkat kepala. “Buat apa?”

Arif mencondongkan badan. Suaranya diturunkan, seperti orang yang sedang membicarakan penyakit yang tidak boleh disebutkan namanya.

“Aku butuh pinjaman cepat. Urgent. Kalau telat, bisa mati.”

Kata mati diucapkan Arif dengan nada setengah bercanda, setengah sungguh. Seperti meme yang terlalu sering dilihat sampai orang lupa bahwa di baliknya ada ketakutan nyata.

Uyan tidak langsung menjawab. Ia mengenal Arif cukup lama untuk tahu bahwa “urgent” punya banyak tingkat. Dari sekadar telat bayar listrik, sampai panggilan tak dikenal yang datang tengah malam. Dari ancaman halus di WhatsApp, sampai emoji tengkorak yang dikirim tanpa konteks.

Arif bukan orang baru dalam hidup Uyan. Mereka satu angkatan kuliah, satu kosan, satu jenis lelah. Rambut Arif mulai menipis di bagian depan, bukan karena usia, melainkan karena stres yang datang terlalu cepat untuk seseorang yang masih berharap hidup bisa ditunda cicilannya. Kemeja kantornya rapi, tapi lipatannya terlalu sempurna—seperti baru disetrika untuk menutupi kekacauan di baliknya.

Arif duduk di kursi seberang, membuka ponselnya sebentar—bukan untuk menunjukkan bukti, melainkan refleks. Layarnya penuh grafik kecil, stiker kucing, dan grup Telegram dengan nama-nama aneh: Meow to the Moon, Oren Reborn, Kitty Whales Only.

Arif sama seperti Uyan. Sama-sama percaya bahwa masa depan bisa datang lewat layar lima inci. Sama-sama yakin bahwa meme tidak selalu berarti lelucon. Bedanya, Arif lebih cepat masuk, dan lebih lambat keluar.

Gajinya sebagai staf operasional tidak besar. Tapi hampir separuhnya sudah lama tidak menyentuh rekening tabungan. Uang itu berpindah tangan terlalu cepat—dari payroll ke aplikasi kripto, dari angka stabil ke token dengan nama lucu. Kucing pakai helm astronot. Kucing berkedip. Kucing yang menjanjikan burn mechanism dan community driven growth.

Arif pernah bilang, dengan mata berbinar seperti baru menemukan agama baru, bahwa “ini bukan judi, Yan. Ini gerakan.”

Gerakan itu kini menagih.

“Aku jamin,” kata Arif lagi, lebih cepat, seperti takut jeda akan membuat Uyan berubah pikiran. “Begitu token ini rebound, aku langsung balikin. Sumpah. Ini tinggal tunggu momentum.”

Uyan menatapnya. Ia tidak melihat penipu. Ia melihat seseorang yang terlalu lama percaya bahwa keberanian selalu dibayar. Seseorang yang sudah menggadaikan logika demi satu grafik hijau yang pernah naik terlalu tinggi.

Rasa panik di suara Arif terasa akrab. Terlalu akrab. Seperti bercermin, tapi pantulannya datang dari beberapa langkah di depan—versi dirinya sendiri jika satu keputusan kecil diambil terlalu jauh.

Uyan memikirkan grafik hijau di ponselnya sendiri. Ia memikirkan bagaimana uang bisa bergerak lebih cepat dari sistem yang ia pahami. Lebih cepat dari gaji. Lebih cepat dari kenaikan pangkat yang tak pernah datang tepat waktu.

Ia memikirkan bagaimana dunia sekarang memberi hadiah pada orang-orang yang berani melompati pagar, meski sering lupa memberi tangga untuk turun kembali.

“Sebentar aja,” kata Arif, nadanya kini hampir memohon. “Aku nggak minta lama. Ini cuma napas.”

Uyan tahu aturan perusahaan. Ia tahu risiko. Ia tahu bahwa pinjaman ini tidak tercatat di mana pun, kecuali di kepala mereka masing-masing. Tapi ia juga tahu bahwa di zaman sekarang, banyak keputusan besar lahir dari rasa takut yang kecil tapi terus menekan.

Ia berkata iya, tapi tidak langsung.

Ia berkata iya dengan syarat-syarat yang ia susun agar terdengar masuk akal. Ia berkata iya seperti orang yang menutup mata sambil melangkah, berharap tanah di depan masih ada.

Hari itu, ia akan melakukan sesuatu yang kelak tidak bisa ia tarik kembali.

Dan di antara dua pria yang sama-sama percaya pada kucing digital yang tersenyum di layar, tidak ada yang benar-benar menyadari bahwa mereka sedang menggali lubang yang bentuknya persis seperti harapan.

Sore harinya, grafik kembali naik. Lebih tinggi dari pagi. Uyan merasakan kelegaan yang hampir euforia. Ia pulang dengan langkah ringan. Di rumah, Luna menyambutnya dengan cerita tentang kucing yang ia lihat di sekolah—kucing oren yang suka tidur di atas sepatu murid-murid.

“Kucing kampung,” kata Luna. “Tapi lucu.”

Uyan tersenyum. “Kucing kampung juga hidup,” katanya, tanpa tahu kenapa ia mengucapkannya seperti pembelaan.

“Hati-hati dengan kucing, Luna,” Dewi menyambung, ia menyiapkan makan malam.

“Aku tidak suka kucing!” teriak Terra, tapi wajahnya datar tak menunjukkan ekspresi. Dewi melihat wajah Uyan yang sedikit senang. Ia tidak bertanya. Ia hanya menyajikan nasi dan sayur, lalu duduk di seberang meja.

“Kamu kelihatan senang,” katanya akhirnya.

“Biasa aja,” jawab Uyan. Ia tidak bohong, tapi juga tidak jujur sepenuhnya.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Uyan kembali membuka ponsel. Grup Telegram ramai. Orang-orang merayakan kenaikan. Meme kucing berseliweran, kali ini dengan mahkota, dengan roket, dengan tulisan-tulisan yang terdengar seperti mantra: to the moon, diamond hands, hold. reversal, bull run.

Uyan membaca semuanya dengan seksama. Ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar—komunitas yang saling menguatkan, saling meyakinkan. Tidak seperti kantor. Tidak seperti rumah. Di sini, tidak ada yang bertanya apakah ia ayah yang baik. Tidak ada yang menghitung kekurangannya.

Beberapa hari berikutnya berlalu dengan pola yang mulai ia hafal. Grafik naik, ia lega. Grafik turun, ia cemas. Ia mulai membuka ponsel lebih sering. Di toilet kantor. Di motor. Di sela-sela percakapan dengan Dewi. Dunia nyata menjadi latar belakang yang terus bergeser.

Di satu malam yang terlalu sunyi, Dewi berkata, “Kamu akhir-akhir ini kayak jauh.”

Uyan ingin menjawab banyak hal. Ia ingin bilang bahwa ia sedang berusaha. Bahwa ia tidak ingin selamanya seperti ini. Bahwa ia ingin Luna dan Tera punya cerita yang lebih baik tentang ayahnya. Yang keluar hanya, “Capek.”

Dewi mengangguk. Ia mematikan lampu. Dalam gelap, Uyan melihat cahaya ponselnya lebih jelas dari wajah istrinya sendiri.

Suatu siang, grafik turun tajam. Tidak seperti sebelumnya. Tidak ada peringatan yang cukup. Grup Telegram berubah nada. Dari yakin menjadi menyemangati. Dari menyemangati menjadi saling menyalahkan. Meme kucing masih muncul, tapi senyumnya terasa dipaksakan.

Uyan menatap layar lama. Tangannya dingin. Ia menghitung cepat. Ia masih belum rugi besar, katanya pada diri sendiri. Ia masih bisa menunggu. Ia masih bisa bertahan.

Luna dan Terra tertawa melihat video kucing di televisi. Dewi melipat pakaian. Uyan berdiri di ambang pintu, memandang mereka seperti orang yang baru kembali dari tempat yang terlalu jauh.

Ia tidak tahu bahwa ini baru permulaan. Bahwa semua yang ia kira sebagai usaha untuk memperbaiki hidup, pelan-pelan justru sedang mengikisnya.

Di malam yang sama, ketika semua tertidur, Uyan bermimpi tentang kucing oren yang berdiri di depan rumahnya, menatap ke dalam, basah oleh hujan, dengan mata yang tidak menuduh—hanya menunggu.

Ia terbangun dengan dada sesak.

Grafik di ponselnya masih bergerak.

Naik dan turun.

Naik dan turun.

Seperti napas terakhir sebelum sesuatu benar-benar berubah.