Antara Kucing, Kripto, dan Cinta Bab 5 Black Swan
5/30
Bab 5

Bab 5 Black Swan

Tidak ada tanggal yang bisa diingat dengan pasti ketika semuanya runtuh. Hari itu tidak datang dengan peringatan. Ia tidak muncul sebagai pengumuman resmi atau pidato darurat. Ia hanya hadir sebagai perasaan aneh sejak pagi, seperti udara yang terlalu berat untuk dihirup meski cuaca cerah.

Uyan bangun lebih awal dari biasanya. Ini hari pertama ia sebagai pengangguran. Ia teringat mimpi semalam, tentang sesuatu yang jatuh, tapi bukan benda. Sesuatu yang jatuh tanpa suara.

Dapur masih gelap. Dewi belum bangun. Luna dan Terra masih tidur dengan wajah yang belum mengenal kerugian. Uyan membuat kopi dengan tangan yang bergerak otomatis. Ia duduk di meja, menyalakan ponsel, meletakan buku catatannya, dan dunia mulai retak tanpa bunyi.

Notifikasi datang bertubi-tubi. Grup Telegram yang biasanya ribut oleh stiker kucing dan jargon optimisme berubah menjadi lorong panjang berisi teriakan. Tidak ada kalimat utuh. Hanya potongan emosi.

Anjlok.

Buset.

Grafiknya kebakaran.

Ini bukan koreksi.

Siapa yang jual?

Semua jual.

Grafik yang muncul di layar tidak lagi menyerupai grafik. Ia seperti jurang. Garis merah jatuh lurus, seolah gravitasi menemukan cara baru untuk bekerja.

Uyan menyesap kopi. Rasanya pahit, tapi bukan itu yang mengganggunya. Ada jeda aneh antara apa yang ia lihat dan apa yang ia rasakan. Seperti tubuhnya menolak mempercayai mata.

Ia membuka aplikasi lain. Sama. Membuka berita. Tidak ada penjelasan yang memuaskan. Kata black swan mulai muncul, berseliweran seperti burung hitam yang terlalu sering disebut sampai kehilangan makna.

Uyan tidak tahu apa itu black swan dalam pengertian teori. Ia hanya tahu artinya dalam bahasa tubuh: sesuatu yang tidak pernah dibayangkan, tapi sekarang sudah terjadi, dan semua orang berpura-pura pernah memikirkannya.

Di dunia kripto hari itu menjadi hari ketika angka berhenti menjadi angka. Ia berubah menjadi darah yang mengalir panjang.

Influencer yang biasanya muncul dengan suara mantap dan senyum percaya diri menghilang. Beberapa akun terkunci. Beberapa mendadak bijak, menulis utas panjang tentang risiko yang sejak awal selalu ada. Kata risiko terasa seperti lelucon yang datang terlambat.

Grup Telegram berubah menjadi ruang doa tanpa Tuhan. Ada yang menulis ayat. Ada yang menulis sumpah serapah. Ada yang menempelkan meme kucing dengan mata besar, tapi sekarang senyumnya terasa beku, seperti topeng.

Token meme kucing—yang selama ini membuat Uyan merasa lebih aman karena lucu—ikut jatuh. Berdarah. Tidak lebih lambat. Tidak lebih sopan. Ia jatuh dengan kegembiraan yang sama seperti ia pernah naik.

Uyan menatap wajah kucing itu di layar. Untuk pertama kalinya, ia merasa kucing itu menatap balik. Bukan sebagai maskot, tapi sebagai saksi.

Ia teringat kucing kampung oren yang sering ia lihat. Kucing itu selalu tampak tenang, bahkan ketika hujan turun tiba-tiba. Tidak pernah terlihat panik. Tidak pernah terlihat berharap apa pun.

Dunia di luar rumah berjalan seperti biasa. Tukang sayur lewat sambil memukul-mukul wadah plastiknya. Motor lewat dengan suara knalpot yang tidak peduli pada kehancuran pasar global. Kereta api lewat dengan klaksonnya yang menggelegar. Bandung tidak berhenti hanya karena beberapa triliun rupiah menguap dari layar ponsel.

Dewi bangun tanpa sepatah kata pun. Uyan pun kehilangan kata-kata. Ia tidak menceritakan apa pun tentang investasinya. Bukan karena ingin menyembunyikan, tapi karena ia sendiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kata rugi terasa terlalu kecil. Kata bangkrut terlalu dramatis. Tidak ada kosakata yang pas.

Lebih dari itu, ia tidak ingin mengabari Dewi dengan kabar buruk bertubi-tubi. Setelah memincamkan uang perusahaan karena belas kasihan, tidak mungkin ia menjelaskan black swan yang terlalu abstrak.

Luna dan Terra berangkat sekolah dengan tas yang terasa lebih besar dari tubuh mereka. Mereka mencium pipi Uyan seperti biasa. Tidak ada yang berubah di wajah mereka. Dunia anak-anak belum mengenal black swan.

Dewi pergi tanpa pamitan. Sejak mendapatkan kabar suaminya kena masalah besar di kantor, Dewi memutuskan bekerja di laundry milik temannya.

Setelah rumah sepi, Uyan duduk lagi. Ia menyiapkan buku catatan kumalnya meski tak tahu apa yang mesti dicatat. Ia membuka ponsel, lalu menutupnya. Membuka lagi, lalu meletakkannya terbalik. Ada dorongan untuk terus melihat, seolah dengan menatap layar lebih lama, garis merah itu akan merasa diperhatikan dan berhenti jatuh.

Media sosial penuh dengan orang-orang yang mulai berlomba-lomba menafsirkan. Ada yang menyalahkan paus. Ada yang menyalahkan negara. Ada yang menyalahkan Amerika. Ada yang menyalahkan China. Ada yang menyalahkan algoritma. Tidak ada yang menyalahkan harapan itu sendiri.

Seseorang menulis: Ini ujian mental.

Seseorang membalas: Ujian biasanya ada hasilnya.

Yang lain menimpal: Hapus aplikasi dan lupakan.

Uyan tersenyum kecil. Humor di tengah kehancuran selalu terdengar seperti orang tertawa di permakaman sendiri.

Ia menghitung-hitung dalam kepala. Tidak akurat, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa lebih sempit. Angka-angka itu tidak lagi mengerikan karena besar, tapi karena cepatnya menghilang. Menjelang siang, ponselnya bergetar. Pesan dari Arif. Singkat. Tidak ada basa-basi.

Aku minta maaf, Yan.

Uyan ingin membalas sesuatu yang pedas. Umpatan paling kasar atau lebih dari itu. Seandainya dunia ini seperti film animasi, ia mungkin bisa masuk ke dalam ponsel dan keluar dari ponsel Arif sambil melayangkan tinjunya.

Tapi ia tidak membalas pesan itu. Dan itu sesuai dengan karakternya selama ini. Ia selalu mudah kasihan dan memaafkan. Walaupun ada kenyataan pahit yang mengganjalnya, seperti kerikil yang menetap di sepatunya saat ia melangkah. Arif masih bekerja. Aman—aman yang sesungguhnya. Kantor tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hasil audit hanya mengarah pada meja Uyan.

Uyan keluar rumah sebentar. Ia berjalan tanpa tujuan jelas. Di ujung gang, ia melihat kucing oren itu lagi. Kali ini kucing itu sedang makan sisa nasi di dekat tempat sampah. Tidak rakus. Tidak tergesa. Seolah tahu bahwa kelaparan tidak akan ke mana-mana.

Uyan jongkok di ujung gang, memperhatikan kucing itu makan. Tiba-tiba kucing itu mendekat tanpa suara, berhenti tepat di samping Uyan.

Uyan tidak sempat menghindar. Ada kehangatan singkat di celana dan tangannya. Refleks yang terlambat. Ia melonjak berdiri dengan umpatan tertahan. Kucing itu sudah pergi, seolah tugasnya selesai.

Uyan memaki pelan, jijik pada dirinya sendiri karena membeku sedetik terlalu lama. Ia mengibas-ngibaskan celana, mencari botol air di tas. Tidak ada. Sudahlah.

Uyan berhenti di tukang kupat tahu. Memesan sarapan. Tanpa berpikir panjang—seperti kebiasaan buruk yang sudah terlalu lama ia pelihara—ia merobek plastik kerupuk dan lupa mencuci tangan. Ada rasa aneh. Asin. Pahit. Ia berhenti mengunyah, menelan dengan ekspresi bingung, lalu menertawakan dirinya sendiri.

Bau itu masih ada, samar tapi nyata, menempel di udara dan kulit.

“Sial,” gumamnya, lebih ke dunia daripada ke kucing.

Ia tidak tahu—dan tidak mungkin tahu—bahwa pada momen sekecil itu, sesuatu yang tidak seharusnya masuk ke tubuh manusia telah menemukan jalannya. Bukan sebagai racun. Bukan sebagai penyakit. Tapi sebagai penumpang asing.

Di kejauhan kucing oren masih makan, tidak peduli. Dunia tidak mencatat kejadian itu. Bahkan Uyan sendiri melupakannya beberapa menit kemudian, terserap kembali ke pikirannya tentang grafik yang jatuh dan angka yang hilang.

Padahal, kadang perubahan besar tidak datang dari keputusan. Ia datang dari kelengahan.

Di kepalanya kata black swan kembali muncul. Ia membayangkan burung hitam besar terbang rendah di atas kota, sayapnya menyentuh atap-atap rumah, membuat bayangan panjang yang tidak bisa dihindari siapa pun.

Burung itu tidak menyerang. Ia hanya lewat. Tapi bekas sayapnya tertinggal di mana-mana. Sore hari, pasar belum pulih. Kata rebound mulai muncul, tapi terdengar seperti doa yang diucapkan setengah hati. Uyan tidak lagi berharap.

Dewi pulang dengan wajah lelah. Mereka makan malam tanpa banyak bicara. Televisi menyala, menampilkan berita yang tidak relevan. Tidak ada yang membahas kripto. Dunia resmi selalu datang terlambat pada tragedi yang dialami individu.

Malam turun pelan. Luna dan Terra tertidur. Dewi masuk kamar lebih dulu. Uyan duduk sendirian di ruang tamu, ponsel di tangan, tapi layar mati. Ia tidak ingin melihat apa pun lagi. Ia tak ingin mencatat apa-apa di buku kecilnya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian dengan pikirannya. Tidak ada grafik. Tidak ada grup. Tidak ada meme kucing yang tersenyum palsu.

Ia menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya kering: ia tidak hanya kehilangan uang. Ia kehilangan keyakinan bahwa dunia bisa diprediksi dengan cukup usaha.

Black swan bukan soal jatuhnya pasar. Ia soal runtuhnya kepercayaan bahwa segala sesuatu bisa dijelaskan.

Seekor kucing melintas di luar jendela. Bukan kucing oren kali ini. Hitam. Langkahnya pelan. Tidak tergesa. Tidak menoleh.

Uyan memperhatikannya sampai menghilang di balik bayangan.

Pada malam itu, sesuatu di dalam dirinya sudah mulai berjalan ke arah yang tidak bisa ia ikuti dengan bahasa manusia.

Dan jauh di dalam sistem yang lebih besar dari dirinya—di server, di algoritma, di keyakinan kolektif—burung hitam itu sudah terbang pergi, meninggalkan manusia-manusia untuk saling bertanya siapa yang pertama kali lupa bahwa harapan dan keruntuhan seperti saudara kembar.