Gunung Bernapas Aroma Rumah
1/30
Bab 1

Aroma Rumah

Bus ekonomi "Doa Ibu" merayap pelan di atas aspal yang keriting bergelombang, seolah enggan mengantarkan penumpangnya ke tujuan akhir. AC di kabin atas kepala Naya sudah mati sejak dua jam lalu, digantikan oleh angin panas berdebu yang menerobos masuk dari jendela yang terbuka separuh. Namun, bukan panasnya udara atau guncangan suspensi bus yang mati yang membuat Naya sadar bahwa ia sudah dekat dengan rumah.

Melainkan baunya.

Aroma itu memiliki karakter yang spesifik. Ia tidak menyerang indra penciuman secara tiba-tiba, melainkan menyusup perlahan seperti pencuri. Awalnya, tercium seperti bau sampah dapur yang lupa dibuang semalam—asam dan sedikit menyengat. Lalu, perlahan berubah menjadi bau manis yang memuakkan, aroma fermentasi buah-buahan busuk yang bercampur dengan sisa makanan basi. Dan akhirnya, ketika bus berbelok di tikungan terakhir jalan provinsi, aroma itu menetap menjadi bau logam berat bercampur gas metana yang tajam.

Itu adalah aroma Desa Sindang. Aroma "rumah".

Naya menarik masker kainnya lebih tinggi menutupi hidung, membenarkan letak kacamata minusnya yang berembun. Ia tahu usaha itu percuma. Partikel bau di sini bukan sekadar udara; ia adalah identitas. Bau itu menempel di pori-pori kulit, menyusup ke serat baju, dan bersarang di dalam ingatan bahkan bertahun-tahun setelah seseorang pergi merantau.

"Kiri, Pak! Depan gapura!" seru Naya kepada kondektur yang bergelantungan di pintu belakang dengan rokok terselip di telinga.

Bus berhenti dengan sentakan kasar, diiringi desis rem angin yang panjang dan semburan asap knalpot hitam pekat. Naya turun sambil menjinjing tas ransel gunung besarnya yang berisi laptop dan beberapa helai baju ganti. Kakinya yang berbalut sepatu kets putih—yang sebentar lagi pasti akan berubah warna—menapak di tanah berpasir yang kotor.

Di hadapannya, menjulang sebuah gapura beton setinggi lima meter. Cat putihnya sudah lama menyerah, berubah menjadi abu-abu kusam tertutup debu vulkanik truk sampah. Di bagian atas gapura, tulisan dari besi tempa menyambut siapa saja yang cukup sial untuk datang ke sini:

SELAMAT DATANG DI KAWASAN TPA SINDANG

Bersih, Hijau, Mandiri.

Huruf 'H' pada kata 'Hijau' sudah copot dan tergantung miring, membuat slogan itu terasa seperti lelucon yang satir.

Naya menghela napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang paling tidak beracun yang bisa ia temukan. Mahasiswi tingkat akhir Jurusan Kimia Murni itu akhirnya pulang. Bukan karena rindu, dan bukan juga untuk liburan semester. Ada firasat buruk yang menariknya kembali—sebuah panggilan telepon dari tetangga yang mengabarkan kondisi ibunya yang memburuk, namun menolak menjelaskan detail penyakitnya.

Jalan utama Desa Sindang tidak pernah benar-benar sunyi. Jalan ini adalah arteri kehidupan sekaligus kematian bagi desa. Truk-truk sampah berwarna oranye terang berlalu-lalang tanpa henti, menderu seperti monster besi yang kelaparan. Mereka datang dari kota membawa "makanan"—sisa peradaban urban—untuk dimuntahkan ke perut gunung buatan di belakang desa, lalu kembali ke kota dalam keadaan kosong, meninggalkan jejak air lindi yang menetes di aspal.

Naya berjalan menyusuri pinggiran jalan, melompat kecil menghindari genangan air hitam. Ia memperhatikan wajah-wajah orang yang dilewatinya. Wajah-wajah yang familiar, namun tampak lebih tua, lebih kurus, dan jauh lebih lelah dari yang ia ingat enam bulan lalu.

Rumah-rumah di sini dibangun dengan arsitektur "bertahan hidup". Pagar rumah terbuat dari susunan botol kaca bekas sirup yang disemen. Atap teras disusun dari seng bekas spanduk pemilihan kepala daerah yang sudah pudar wajah calonnya. Pot bunga dibuat dari ban mobil bekas yang dibalik dan dicat warna-warni. Di Sindang, sampah bukan akhir dari sebuah barang, melainkan awal dari fungsi baru.

"Eh, Neng Naya! Udah jadi sarjana?"

Sapaan serak itu menghentikan langkah Naya. Ia menoleh ke halaman sebuah rumah yang dipenuhi jemuran kerupuk. Pak Ujang, tetangga lamanya, berdiri di sana sambil memegang sapu lidi.

Naya tersenyum tipis di balik masker. "Belum, Pak. Masih skripsi. Doain aja lancar. Bapak sehat?"

"Yah, beginilah, Neng. Batuk-batuk dikit. Biasa, musim asep," jawab Pak Ujang sambil terbatuk kering. Suaranya terdengar menyakitkan, seperti kertas ampelas kasar yang digosokkan ke kayu.

Naya memperhatikan lengan Pak Ujang yang memegang sapu. Kulitnya kering, bersisik, dan ada bercak-bercak kemerahan yang aneh.

"Kulit Bapak kenapa? Alergi?" tanya Naya insting ilmiahnya mulai bekerja.

Pak Ujang buru-buru menarik lengan bajunya yang panjang. "Ah, nggak. Gatel biasa. Kutu air mungkin gara-gara sering becek-becekan. Udah sana, kasian Ibu nungguin."

Naya mengangguk sopan dan pamit, tapi pikirannya tertinggal di lengan Pak Ujang. Kutu air tidak tumbuh di lengan, batinnya. Dan tekstur kulit itu... itu tidak terlihat seperti infeksi jamur. Itu terlihat seperti kulit yang terpapar zat korosif dalam jangka waktu lama.

Rumah Naya terletak di gang ketiga, sedikit menjauh dari jalan utama, namun lebih dekat ke kaki bukit sampah. Rumah sederhana dengan dinding batako yang belum diplester halus sepenuhnya. Di depannya, pohon mangga tua berdiri layu, daun-daunnya tertutup lapisan debu abu-abu tebal sehingga tak lagi terlihat hijau.

"Assalamualaikum, Bu?"

Pintu depan tidak dikunci. Naya membukanya perlahan. Engsel pintu berdecit, suara yang sangat ia hafal sejak kecil.

Ruang tamu itu remang-remang dan terasa lembap. Televisi tabung 14 inci menyala di sudut ruangan, menampilkan acara gosip dengan volume yang dimatikan. Di sofa busa yang sudah kempes dan ditambal lakban hitam di sana-sini, ibunya tertidur pulas.

Naya meletakkan tas ranselnya di lantai, lalu berjongkok di samping sofa. Wajah Bu Siti tampak damai dalam tidur, tapi Naya bisa melihat perubahannya. Tulang pipinya lebih menonjol. Dan warna kulitnya... di bawah cahaya sore yang masuk dari ventilasi, kulit ibunya terlihat mengkilap aneh. Seperti dilapisi lilin tipis atau plastik wrapping.

Naya memberanikan diri menyentuh punggung tangan ibunya.

Dingin. Dan kaku.

Bu Siti tersentak bangun, matanya membelalak kaget seolah baru saja dibangunkan dari mimpi buruk. "Eh! Siapa?!"

"Naya, Bu. Ini Naya," Naya buru-buru menggenggam tangan ibunya, mencoba menyalurkan kehangatan.

Kepanikan di mata Bu Siti mereda perlahan, digantikan oleh senyum lelah yang dipaksakan. "Ya Allah, Neng... Kok nggak bilang mau pulang? Ibu nggak masak apa-apa. Cuma ada tempe goreng sisa tadi pagi."

"Nggak apa-apa, Bu. Naya kangen aja," Naya memeluk tubuh ringkih itu.

Saat memeluk ibunya, Naya mencium bau yang asing. Biasanya, ibunya berbau minyak kayu putih atau bedak bayi. Tapi hari ini, bau itu hilang. Digantikan oleh bau tanah basah dan aroma logam yang samar. Aroma yang sama dengan udara di luar.

"Kaki Ibu sakit lagi?" tanya Naya lembut, melirik kaki ibunya yang terbungkus rapat oleh kain sarung, padahal udara sedang panas.

"Ah, gatel-gatel biasa. Air sumur lagi kotor kali," Bu Siti menarik kakinya, menyembunyikannya lebih dalam di bawah meja. Gerakannya defensif. "Kamu mandi gih. Bau asep jalanan. Air di bak mandi jangan diminum ya, lagi keruh, nanti Ibu rebusin air galon."

Naya menurut. Ia masuk ke kamar mandi di bagian belakang rumah. Kamar mandi itu sederhana, lantainya licin oleh lumut. Naya menyalakan keran air. Air yang keluar berwarna kecokelatan dan berbau besi.

Ia menampung air itu di ember, membiarkannya mengendap sebentar. Saat ia membasuh wajahnya, air itu terasa sedikit lengket. Sabun yang ia pakai nyaris tidak berbusa. Hard water, analisis Naya dalam hati. Kandungan mineral atau logam terlarutnya terlalu tinggi.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Naya duduk di teras depan sambil mengeringkan rambut. Matahari mulai terbenam di barat, menciptakan siluet raksasa di ufuk timur, tepat di belakang rumah mereka.

Gunung itu.

Gunung sampah TPA Sindang. Tingginya mungkin sudah mencapai empat puluh meter sekarang, menyaingi bukit alami di sekitarnya. Dari kejauhan, ia tampak seperti gundukan tanah biasa. Tapi jika dilihat lebih jeli, permukaannya adalah mosaik sampah: biru dari kantong kresek, putih dari styrofoam, dan hitam dari pembusukan organik.

Ribuan burung bangau putih beterbangan di atas puncaknya, mencari sisa makanan, terlihat seperti ketombe yang beterbangan di atas kepala raksasa kotor.

"Makin tinggi aja ya?"

Sebuah suara menyapa dari arah pagar.

Naya menoleh. Seorang pemuda kurus dengan kulit gelap terbakar matahari berdiri di sana, menyengir lebar. Ia mengenakan topi yang diputar ke belakang dan kaos jersey bola timnas yang sudah bolong di bagian bahu.

"Ipul!" seru Naya. Rasa lega menjalar di dadanya. Ipul adalah teman masa kecilnya. Teman main kelereng, teman mencuri mangga, teman seperjuangan. Bedanya, nasib membawa Naya ke bangku kuliah di kota, sementara Ipul tetap di sini, meneruskan "bisnis keluarga" sebagai pemulung.

Ipul membuka pagar bambu dan masuk tanpa permisi, duduk di kursi plastik di sebelah Naya. "Gaya bener anak kuliahan. Pulang-pulang makin bening aja, walau muka lu kusut kayak baju belum disetrika."

"Apaan sih. Lo tuh, makin dekil," canda Naya, meninju pelan lengan Ipul. "Gimana lapak? Rame?"

Wajah Ipul yang tadinya cengengesan berubah sedikit serius. Dia celingukan, memastikan tidak ada orang lain yang lewat di gang, lalu mendekatkan kursinya ke arah Naya.

"Lagi panen, Nay. Tapi... aneh."

"Aneh gimana?" Insting Naya langsung siaga.

"Di Zona Merah," bisik Ipul.

Naya tahu tempat itu. Zona Merah adalah area perluasan lahan baru di sisi utara TPA. Area yang seharusnya dilarang dimasuki pemulung karena tanahnya masih labil dan sering terjadi longsor.

"Lo masuk ke sana?"

"Dengerin dulu," potong Ipul. "Di sana lagi banyak 'barang bagus'. Tembaga, kabel, kadang ada HP rusak buangan pabrik. Tapi... tanahnya goyang, Nay. Gue sering ngerasa kayak... kayak lagi berdiri di atas perut orang yang lagi napas. Dug... dug... gitu suaranya dari bawah."

Naya mengerutkan kening. "Itu gas metana, Pul. Tekanan gas di bawah tanah bikin strukturnya nggak stabil. Bahaya. Kalau meledak gimana? Lo jangan ke sana lagi lah."

"Yah, namanya juga cari duit, Nay. Buat beli salep Emak gue juga. Emak gue kulitnya korengan parah, sama kayak Pak Ujang, sama kayak Ibu lo," Ipul menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah gunung sampah yang mulai gelap. "Lagian, Pak Karta bolehin kok. Asal setorannya gede."

"Pak Karta?" Naya teringat sosok tua penjaga TPA yang misterius itu. Pria yang sudah ada di sana sejak TPA ini pertama kali dibuka puluhan tahun lalu. "Dia masih jadi mandor di sana?"

"Masih. Makin aneh tuh orang tua. Suka ngomong sendiri sama tumpukan sampah. Katanya dia lagi 'ngasih makan Ibu'." Ipul tertawa kecil, tapi tawanya terdengar gugup dan hampa. "Gila kali."

Obrolan mereka terpotong oleh suara azan Magrib yang berkumandang dari musala dekat gang. Langit berubah menjadi ungu lebam, seolah memar.

"Gue balik dulu ya, Nay. Besok pagi gue mau masuk lagi ke Zona Merah. Ada info truk limbah pabrik mau buang muatan ilegal malam ini. Biasanya banyak besi tua." Ipul berdiri, menepuk-nepuk debu di celana jeans-nya yang sobek di lutut.

"Jangan, Pul," Naya tiba-tiba merasa cemas. Firasat buruk itu datang lagi, lebih kuat dari sebelumnya. "Muka lo pucet banget. Mata lo juga merah. Istirahat aja besok, ntar gue traktir bakso."

Ipul hanya menyengir, melambaikan tangan sambil berjalan mundur. "Tenang elah. Gue kan Prince of Trash. Raja Sampah. Nggak ada yang bisa nyentuh gue di sana. Duluan ya, Bu Sarjana!"

Naya menatap punggung Ipul yang menjauh, menghilang ditelan kegelapan tikungan gang. Naya tidak tahu, bahwa senyuman kuning Ipul tadi adalah senyuman terakhir yang akan ia lihat dari sahabatnya itu.

Malam itu, Desa Sindang terasa lebih mencekam dari biasanya. Angin malam berhembus membawa suara kresek-kresek plastik yang bergesekan, terdengar seperti bisikan ribuan mulut yang sedang lapar.

(Bersambung ke Bab 2)