Malam pertama Naya di rumah lamanya tidak membawa kedamaian yang ia harapkan. Udara di kamarnya terasa diam dan berat, seolah menolak untuk bersirkulasi meski kipas angin di sudut ruangan sudah berputar dengan kecepatan penuh, mengeluarkan bunyi kriet-kriet yang monoton. Kelembapan di desa ini berbeda dengan di kota; ia lengket, menempel di kulit seperti lapisan minyak tipis yang tak kasat mata.
Naya berbaring telentang di atas kasur kapuknya yang mulai menipis, menatap langit-langit kamar yang dihiasi bercak cokelat abstrak bekas rembesan air hujan. Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi matanya menolak terpejam.
Pikirannya adalah medan perang antara logika ilmiah yang ia pelajari bertahun-tahun di universitas dan insting purba yang terbangun sejak ia menginjakkan kaki kembali di tanah kelahirannya.
Aroma busuk dari luar jendela semakin menjadi-jadi saat malam larut. Tanpa matahari yang membakar, gas-gas yang terperangkap di dalam perut gunung sampah seakan mendapat kesempatan untuk merembes keluar, memenuhi atmosfer desa dengan bau telur busuk yang tajam—hidrogen sulfida.
Ini cuma dekomposisi anaerobik, batin Naya mencoba menenangkan diri. Bakteri makan sampah, menghasilkan gas. Gas butuh jalan keluar. Itu fisika dan biologi dasar. Tidak ada yang mistis.
Namun, penjelasan di buku teks itu terasa dangkal saat ia kembali mendengar suara itu.
Dug.
Naya menahan napas. Suara itu pelan, nyaris tak terdengar di bawah deru kipas angin. Tapi Naya merasakannya. Getaran halus yang merambat lewat lantai, naik ke rangka tempat tidur besinya.
Dug.
Itu bukan suara truk sampah yang lewat. Ini terlalu ritmis. Terlalu dalam. Seperti detak jantung raksasa yang terkubur ratusan meter di bawah tanah.
Didorong oleh rasa penasaran yang bercampur kecemasan, Naya bangkit dari kasur. Ia berjalan berjinjit menuju jendela kamarnya yang menghadap ke belakang rumah. Kamarnya berada di lantai dua—sebuah "kemewahan" di desa ini, hasil renovasi Bapaknya dulu sebelum meninggal agar keluarga mereka tidak kebanjiran saat musim hujan. Posisi ini memberinya sudut pandang sempurna ke arah "si raksasa tidur".
Gunung sampah TPA Sindang menjulang di bawah sinar bulan yang temaram, terhalang kabut asap tipis. Siluetnya yang bergerigi tampak mengancam, seperti punggung naga purba yang sedang beristirahat.
Mata Naya, yang sudah terbiasa dengan kegelapan, menyisir lanskap surealis itu. Ia mencari area di sisi utara, tempat yang disebut Ipul sebagai Zona Merah. Area perluasan baru yang tanahnya masih labil, tempat di mana sampah-sampah "segar" dan, menurut rumor, limbah B3 ilegal dari pabrik sering dibuang diam-diam.
Naya menyipitkan mata. Ada sesuatu di sana.
Sebuah titik cahaya kecil.
Cahaya itu berwarna putih kekuningan, bergerak-gerak di lereng bukit sampah yang curam. Itu cahaya senter kepala.
Ipul? batin Naya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Bukannya dia bilang besok pagi? Kenapa dia nekat masuk jam segini?
Naya tahu jawabannya bahkan sebelum ia selesai bertanya. Ipul butuh uang. Info tentang truk limbah pabrik yang masuk malam ini terlalu menggoda untuk dilewatkan. Tembaga dan logam industri harganya mahal di lapak pengepul.
Naya memperhatikan cahaya senter itu bergerak turun ke sebuah cekungan di Zona Merah. Gerakannya lincah, menandakan si pemilik cahaya sudah sangat hafal medan yang berbahaya itu. Naya sedikit lega. Ipul memang "Raja Sampah", dia tahu apa yang dia lakukan.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.
Tiba-tiba, cahaya senter itu berhenti bergerak. Diam di satu titik di dasar cekungan.
Lalu, cahaya itu mulai bergoyang liar. Bukan gerakan orang berjalan, melainkan gerakan panik. Ke kiri, ke kanan, menyorot ke atas langit sebentar, lalu jatuh mengarah ke tanah.
Sesuatu terjadi.
Naya menempelkan wajahnya ke kaca jendela yang dingin. "Pul?" bisiknya tanpa sadar.
Apa yang dilihatnya selanjutnya membuat darahnya sedingin es.
Di sekitar cahaya senter yang jatuh itu, lanskap sampah berubah. Gundukan di sekeliling cekungan itu tidak longsor ke bawah seperti layaknya tumpukan tanah yang labil. Tidak. Sampah-sampah itu—ribuan kantong plastik, ban bekas, kasur rusak—bergerak memutar.
Mereka bergeser mengelilingi titik cahaya itu, seperti pusaran air lambat yang terbuat dari limbah padat. Seolah-olah gunung itu sedang membuka mulutnya.
Ada bayangan gelap, besar, dan tampak cair, yang merayap dari sisi cekungan. Bayangan itu bergerak menutupi area di mana cahaya senter berada.
Satu detik. Dua detik. Cahaya senter itu berkedip sekali, lalu padam total.
Hening.
Di kamar yang remang-remang itu, Naya mundur selangkah dari jendela, tangannya membekap mulut sendiri. Napasnya memburu.
Di luar sana, di kejauhan, suara Dug... Dug... kembali terdengar. Kali ini temponya sedikit lebih cepat. Lebih kuat. Seolah-olah gunung itu baru saja menelan sesuatu yang memuaskan, dan kini sedang mencernanya.
Naya kembali ke kasurnya dengan kaki gemetar. Ia menarik selimut tipisnya sampai menutupi kepala, tindakan kekanak-kanakan yang konyol, tapi satu-satunya bentuk perlindungan yang bisa ia pikirkan saat itu.
Itu cuma longsor, otaknya yang rasional berteriak panik. Tanahnya amblas, Ipul jatuh, senternya rusak. Dia pasti baik-baik saja. Dia tahu cara menyelamatkan diri.
Tapi jauh di lubuk hatinya, di bagian otak reptil yang peka terhadap bahaya, Naya tahu apa yang baru saja ia saksikan.
Gunung itu lapar. Dan ia baru saja makan.
Pagi datang dengan enggan di Desa Sindang. Matahari pagi yang seharusnya cerah terfilter oleh lapisan debu dan asap pembakaran yang menggantung permanen di udara, membuat cahaya yang sampai ke tanah berwarna kekuningan yang sakit.
Naya terbangun dengan kepala pening dan mata bengkak karena kurang tidur. Ia segera bangun, mengabaikan rasa lengket di tubuhnya, dan bergegas ke dapur.
Ibunya sudah di sana, sedang menjerang air di atas kompor gas. Bu Siti menoleh saat Naya masuk, tersenyum tipis. Wajahnya masih terlihat aneh—kulit yang terlalu kencang dan mengilap seperti boneka lilin—tapi pagi ini ia tampak lebih energik.
"Udah bangun, Neng? Mau kopi? Ibu baru beli kopi sachet di warung," tawar Bu Siti.
"Nggak usah, Bu. Naya mau keluar sebentar," Naya menyambar jaket denimnya yang tergantung di kapstok. "Mau ke tempat Ipul."
Alis Bu Siti terangkat sedikit. "Pagi-pagi begini? Si Ipul mah jam segini biasanya udah di gunung, atau lagi tidur di lapak Pak Junaedi."
"Naya cuma mau mastiin dia ada. Semalem... Naya kayak liat dia di Zona Merah."
Mendengar 'Zona Merah', gerakan tangan Bu Siti yang sedang mengaduk kopi terhenti sejenak. Ada kilatan emosi yang tak terbaca di matanya—ketakutan, atau mungkin kekhawatiran yang ditutupi.
"Ya sudah. Hati-hati. Jangan lama-lama, nanti siang panas, asepnya makin tebal," hanya itu yang dikatakan ibunya. Respon yang terlalu datar untuk bahaya yang baru saja disebutkan Naya.
Naya keluar rumah dengan perasaan tak menentu. Ia berjalan cepat menyusuri gang-gang sempit desa. Pemandangan pagi itu sama seperti ingatannya: bapak-bapak yang duduk di teras sambil terbatuk-batuk parah, ibu-ibu yang mengantre di depan keran umum dengan ember, dan anak-anak kecil yang bermain tanah dengan kulit kaki penuh koreng.
Desa ini sedang sakit. Pelan tapi pasti.
Rumah Ipul ada di ujung desa, lebih dekat lagi ke area TPA. Itu hanya sebuah gubuk semi-permanen yang dibangun dari triplek bekas dan spanduk.
"Assalamualaikum! Mak Ijah?" panggil Naya di depan pintu yang terbuat dari seng berkarat.
Hening sejenak, lalu terdengar suara langkah kaki diseret. Pintu terbuka. Seorang wanita tua dengan rambut putih acak-acakan dan mata yang keruh muncul. Mak Ijah, ibunya Ipul.
"Eh, Neng Naya. Kapan pulang?" sapa Mak Ijah dengan suara parau. Sama seperti Bu Siti dan Pak Ujang, kulit tangan dan leher Mak Ijah juga dipenuhi bercak-bercak aneh yang mengilap dan bersisik.
"Kemarin sore, Mak. Ipul ada?" tanya Naya langsung.
Mak Ijah mengerutkan kening, seolah sedang mengingat-ingat. "Si Ipul... belum pulang dari semalem. Katanya mau lembur di Zona Merah. Biasa, kalo dapet barang bagus suka lupa waktu. Paling lagi tidur di pos timbang."
Jawaban santai itu justru membuat Naya semakin panik. "Mak, semalem Naya liat senter di Zona Merah. Terus senternya jatoh dan mati. Naya takut Ipul kenapa-kenapa."
Mak Ijah tertawa kecil, suara yang terdengar kering seperti daun bergesekan. "Ah, si Neng mah ada-ada aja. Si Ipul itu kan anak gunung sini. Dia lahir di sini, gede di sini. Gunung nggak bakal nyakitin anaknya sendiri. Paling kepeleset dikit."
Penyangkalan itu begitu kuat, begitu mengakar. Bagi warga Desa Sindang, gunung sampah itu bukan sekadar tempat kerja, tapi juga pemberi hidup. Mengakui bahwa gunung itu berbahaya sama saja dengan mengakui bahwa hidup mereka di sini adalah sebuah kesalahan.
"Naya mau cari dia ke pos depan," kata Naya tegas, tidak puas dengan jawaban Mak Ijah.
Ia berbalik dan berjalan cepat menuju gerbang utama TPA. Rasa takut yang dingin mulai menjalar di perutnya. Jika Ipul baik-baik saja, dia pasti sudah pulang membawa hasil jarahannya untuk pamer pada Naya.
Gerbang utama TPA Sindang selalu sibuk. Truk-truk antre untuk ditimbang. Debu beterbangan. Bau sampah segar yang baru datang bercampur dengan bau sampah lama yang membusuk menciptakan aroma yang memusingkan kepala.
Di dekat pos satpam, duduk seorang pria tua di atas kursi kayu tinggi, mengawasi lalu lintas truk dengan mata tajam di bawah topi mandornya. Kulitnya legam terbakar matahari, dan dia memegang tongkat kayu panjang yang ujungnya runcing—alat untuk memilah sampah, atau mengusir pemulung liar.
Pak Karta. Sang penjaga.
Naya mendekat, berusaha menahan napas agar tidak tersedak debu. "Pak Karta?"
Pria tua itu menoleh pelan. Matanya yang cekung menatap Naya. Tidak ada keramahan di sana, hanya tatapan menilai yang dingin.
"Anaknya Bu Siti yang kuliah itu ya?" suaranya berat, seperti suara batu yang beradu.
"Iya, Pak. Saya nyari Ipul. Bapak liat dia hari ini?"
Pak Karta tidak langsung menjawab. Dia mengambil lintingan tembakau dari saku rompi kumalnya, menyulutnya dengan korek api gas. Asap tembakau yang keras mengepul, sejenak menutupi bau sampah.
"Si Ipul..." Pak Karta menghembuskan asap ke udara. "Dia anak yang serakah. Sudah dibilang jangan masuk Zona Merah kalau malam Jumat, masih saja nekat."
Jantung Naya serasa berhenti. "Maksud Bapak? Bapak tau dia masuk ke sana semalam?"
"Saya penjaga di sini, Neng. Saya tau semua yang masuk dan keluar dari perut Ibu," kata Pak Karta, menyebut gunung sampah itu dengan sebutan 'Ibu'. Nada suaranya membuat bulu kuduk Naya meremang.
"Terus dia di mana sekarang, Pak? Dia belum pulang."
Pak Karta menatap lurus ke arah gunung sampah yang menjulang di belakang mereka. Ada kilatan aneh di matanya—campuran antara rasa hormat dan ketakutan.
"Mungkin dia sudah dapat apa yang dia cari. Mungkin dia sudah kenyang," jawab Pak Karta ambigu.
"Pak, tolong jangan main-main. Ini nyawa orang!" Naya mulai kehilangan kesabaran.
Pak Karta terkekeh pelan, suara yang tidak mengenakkan didengar. Dia kemudian membungkuk sedikit, mengambil sesuatu dari bawah kursi tingginya.
Dia melemparkan benda itu ke arah kaki Naya.
Benda itu jatuh bergedebuk pelan di tanah berdebu. Naya menunduk.
Itu adalah sebuah topi. Topi baseball merah yang sudah kusam, dengan tulisan sablon yang sudah retak-retak: RAJA SAMPAH.
Topi kesayangan Ipul.
"Itu doang yang tersisa di pinggir cekungan tadi subuh," kata Pak Karta datar, kembali menghisap rokoknya. "Selebihnya... sudah diambil sama yang punya tanah."
Naya menatap topi itu dengan horor. Tidak ada darah. Hanya lumpur hitam lengket yang baunya sangat spesifik—bau lindi yang kental.
Di sekeliling Naya, aktivitas TPA berjalan seperti biasa. Truk menderu, pemulung lain berjalan sambil memanggul karung goni, seolah hilangnya satu nyawa di tempat ini adalah hal yang lumrah, seperti hilangnya satu tutup botol di lautan plastik.
Naya memungut topi itu dengan tangan gemetar. Dan saat itu juga, dia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Lumpur yang menempel di topi Ipul itu... hangat.
(Bersambung ke Bab 3)