Gunung Bernapas Zona Merah
4/30
Bab 4

Zona Merah

Bau alkohol dan plastik gosong masih menggantung pekat di kamar Naya, menciptakan aroma kimiawi yang membuat kepala pening. Di atas meja belajar, kerak hitam yang tadinya adalah gumpalan lumpur hidup itu kini diam tak bergerak. Naya menatapnya dengan napas tertahan, seolah-olah benda mati itu bisa melompat menerkam wajahnya kapan saja.

Naya memasukkan kerak hitam itu ke dalam botol kaca bekas selai yang sudah dicuci bersih, lalu menutupnya rapat-rapat dan melapisinya dengan lakban.

Sampel A. Diamankan, batinnya, mencoba berpikir layaknya ilmuwan di laboratorium steril, bukan sebagai gadis desa yang ketakutan di kamar pengap.

Jam dinding menunjukkan pukul dua siang. Matahari sedang terik-teriknya. Panas di luar sana pasti menyengat, tapi Naya tahu ini waktu terbaik. Para pemulung biasanya beristirahat di gubuk-gubuk teduh saat matahari tepat di atas kepala, dan truk-truk sampah dari kota belum datang untuk gelombang sore.

TPA akan sepi. Atau setidaknya, sesepi yang dimungkinkan oleh tempat yang tidak pernah tidur.

Naya mengganti pakaiannya. Ia mengenakan kemeja flanel lengan panjang milik almarhum Bapaknya yang kedodoran, celana cargo tebal, dan sepatu bot karet setinggi betis yang ia temukan di gudang belakang. Ia juga mengenakan masker medis rangkap dua dan kacamata goggle pelindung yang biasa ia pakai saat praktikum kimia organik.

Ia terlihat konyol, seperti astronaut yang tersesat di pembuangan sampah, tapi Naya tidak peduli. Setelah melihat apa yang terjadi pada topi Ipul dan kulit warga desa, ia tidak mau ada satu milimeter pun kulitnya yang terpapar langsung oleh udara atau tanah di sana.

"Ibu, Naya keluar bentar ya," pamitnya dari ambang pintu dapur.

Bu Siti sedang duduk melamun di kursi makan, menatap kosong ke arah tembok yang catnya mengelupas. Tangannya sibuk menggaruk lengan kirinya dengan gerakan ritmis. Krek. Krek. Krek. Bunyi kuku beradu dengan kulit yang mengeras itu terdengar seperti mengikir kayu.

"Jangan sore-sore, Neng. Nanti Bapak marah," gumam Bu Siti tanpa menoleh.

Naya tertegun. "Bapak kan udah meninggal, Bu."

Bu Siti berhenti menggaruk. Ia menoleh perlahan, matanya tampak bingung sejenak, sebelum akhirnya tersenyum canggung. "Eh, iya. Maksud Ibu... Pak RT. Iya, Pak RT suka marah kalau ada yang keluyuran magrib."

Naya menelan ludah. Kebingungan mental. Gejala neurologis. Diagnosis dr. Arif terngiang di kepalanya. Racun itu sudah mencapai otak ibunya.

Dengan hati berat, Naya meninggalkan rumah. Ia tidak melewati jalan utama desa. Ia mengambil jalan tikus, melompati pagar belakang rumah tetangga, menyusuri selokan kering yang penuh botol plastik, menuju sisi utara TPA. Menuju tempat di mana Ipul menghilang.

Zona Merah.

Semakin dekat ia ke kaki gunung sampah, semakin tanah di bawah kakinya berubah karakter. Di desa, tanahnya masih berpasir dan padat. Di sini, tanahnya terasa spongy—lunak dan membal seperti menginjak kasur busa yang basah.

Naya harus berhati-hati melangkah. Di bawah lapisan tanah tipis ini, tertimbun jutaan ton sampah yang usianya mungkin lebih tua dari dirinya. Ada rongga-rongga udara yang terbentuk akibat pembusukan. Salah langkah sedikit, kakinya bisa terperosok ke dalam lubang gas metana, atau lebih buruk lagi, tertusuk besi berkarat yang tersembunyi.

Pemandangan di depannya adalah monumen konsumerisme yang mengerikan. Bukit-bukit sampah menjulang tinggi, membentuk lembah-lembah buatan. Tidak ada pohon hijau di sini. Yang ada hanyalah "pohon" dari kerangka payung bekas, tiang jemuran bengkok, dan sisa-sisa manekin toko baju yang mencuat dari tanah seperti tangan orang minta tolong.

Udara di sini bergetar karena panas. Uap tipis keluar dari celah-celah tumpukan sampah, membawa bau yang membuat mata berair.

Naya mengeluarkan kompas dari sakunya. Jarumnya berputar liar sesaat sebelum menunjuk ke utara. Gangguan magnetik? Mungkin karena banyaknya logam yang tertimbun di bawah sana.

Ia mulai mendaki. Napasnya terdengar berat di balik masker rangkap dua. Keringat bercucuran, membasahi punggungnya. Sepatu botnya berbunyi celepak-celepuk saat menginjak lumpur lindi yang berwarna hitam berminyak.

Setelah dua puluh menit mendaki, Naya sampai di punggungan bukit yang menghadap ke lembah utara.

Ia bersembunyi di balik bangkai kulkas dua pintu yang pintunya sudah copot, mengintip ke bawah.

Inilah Zona Merah.

Berbeda dengan area TPA lain yang sampahnya terlihat kering dan berdebu, area ini terlihat... basah. Tanah dan sampahnya berwarna lebih gelap, seolah-olah baru saja disiram hujan oli.

Di tengah lembah itu, terdapat sebuah genangan besar. Bukan air hujan. Itu adalah danau lindi hitam. Permukaannya tenang, memantulkan cahaya matahari dengan kilap yang tidak wajar.

Dan benar kata Ipul. Tidak ada burung bangau di sini. Tidak ada lalat. Bahkan tikus pun tidak terlihat.

Area ini steril dari kehidupan normal. Sunyi senyap.

Hanya ada satu suara yang mendominasi.

Dug... Dug... Dug...

Suara itu jauh lebih jelas di sini. Naya bisa merasakan getarannya merambat lewat sol sepatu botnya, menjalar naik ke tulang keringnya. Gunung ini benar-benar bernapas. Danau lindi di bawah sana tampak kembang-kempis permukaannya, seirama dengan detak tersebut.

Naya mengeluarkan ponselnya, berniat mengambil foto sebagai bukti. Tapi layarnya berkedip-kedip glitch, menampilkan garis-garis statis sebelum akhirnya mati total.

"Sial," umpat Naya. Medan elektromagnetik di sini terlalu kuat.

Ia menyimpan ponselnya yang tak berguna dan mengeluarkan teropong kecil. Ia memindai area sekitar danau lindi itu. Mencari jejak Ipul. Mencari sobekan baju oranye, atau sepatu, atau apa pun.

Nihil. Sampah di sana tampak rapi, seolah baru saja diratakan.

Tunggu.

Lensa teropong Naya menangkap pergerakan di sisi terjauh danau.

Ada seseorang di sana.

Seorang pria tua berdiri tegak di tepi danau beracun itu. Dia tidak memakai masker. Dia tidak memakai sepatu bot. Kakinya yang telanjang terbenam sebatas mata kaki di dalam lumpur hitam yang mendidih pelan itu.

Pak Karta.

Naya menahan napas. Apa yang dilakukan orang tua itu di sana? Bunuh diri?

Tapi Pak Karta tidak terlihat kesakitan. Dia justru terlihat... khusyuk. Kedua tangannya terangkat ke depan, memegang sebuah karung goni yang isinya bergerak-gerak liar.

Dari balik kulkas tua, Naya melihat Pak Karta membuka ikatan karung itu.

Seekor kambing hitam kecil melompat keluar dari karung. Kambing itu mengembik panik, kakinya terpeleset di lumpur licin. Ia mencoba lari, tapi kakinya terjebak.

Pak Karta tidak mengejarnya. Dia hanya berdiri diam, menatap kambing itu dengan sorot mata sayang, seolah orang tua yang melihat anaknya bermain.

"Makan yang banyak, Ibu..." suara Pak Karta terbawa angin, terdengar jelas di telinga Naya.

Lalu, Naya melihatnya lagi. Pemandangan yang sama seperti saat ia melihat senter Ipul padam.

Permukaan danau lindi itu bergolak. Bukan karena kambing yang meronta, tapi karena cairan itu sendiri bergerak.

Tentakel-tentakel hitam pekat mencuat dari permukaan danau. Mereka bukan tentakel daging, melainkan gumpalan cairan yang melawan gravitasi, membentuk cambuk-cambuk lentur. Tentakel lindi itu melesat cepat, membelit kaki kambing itu.

Kambing itu menjerit—suara yang mirip tangisan bayi manusia.

Sreett!

Dalam sekejap mata, kambing itu ditarik masuk ke dalam danau. Tidak ada cipratan air. Cairan hitam itu menelannya dengan lembut, menyelimutinya seperti selimut sutra, lalu menariknya ke kedalaman tanpa dasar.

Hening kembali. Permukaan danau kembali tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Naya membekap mulutnya di balik masker, menahan keinginan untuk muntah. Itu bukan fenomena alam. Itu predasi. Itu perburuan.

Pak Karta menurunkan tangannya. Dia tersenyum puas. Lalu, perlahan dia memutar kepalanya. Bukan memutar badan, hanya lehernya.

Dia menoleh tepat ke arah bangkai kulkas tempat Naya bersembunyi. Jarak mereka mungkin lima puluh meter, tapi Naya merasa tatapan Pak Karta menembus langsung ke matanya.

Pak Karta melambaikan tangan. Gerakan yang santai, ramah, namun mengerikan dalam konteks ini.

"Neng Naya..." suara Pak Karta bergema, seolah-olah dia berbicara tepat di samping telinga Naya, padahal jarak mereka jauh. "Jangan ngintip. Nanti Ibu marah."

Naya tidak menunggu sedetik pun lagi. Insting fight or flight-nya mengambil alih. Dan kali ini, pilihannya mutlak: Run.

Naya berbalik dan lari sekencang-kencangnya. Dia tidak peduli lagi pada kehati-hatian. Dia berlari menuruni punggungan bukit sampah, tergelincir, jatuh bangun, menabrak tumpukan botol kaca yang pecah berantakan.

Suara tawa Pak Karta terdengar di belakangnya, bergema memantul di lembah sampah.

"Lari, Neng! Lari yang jauh! Tapi percuma! Kalian semua sudah ada di dalam perutnya!"

Naya terus berlari. Kakinya tersandung kabel yang mencuat dari tanah, membuatnya jatuh terjerembap. Wajahnya nyaris menghantam tanah becek.

Saat ia mencoba bangkit, ia merasakan sesuatu mencengkeram pergelangan kakinya.

Naya menjerit, menendang-nendang panik. Ia menoleh ke kakinya.

Itu bukan tangan Pak Karta. Itu bukan tentakel lindi.

Itu adalah kabel. Kabel serat optik hitam yang menjuntai dari tumpukan sampah elektronik di dekatnya. Kabel itu membelit kakinya erat sekali.

Dan kabel itu... hangat.

Naya menarik pisau lipat kecil dari saku celananya—benda yang selalu ia bawa untuk memotong sampel—dan menebas kabel itu dengan membabi buta.

Cras!

Kabel itu putus. Tapi anehnya, dari ujung potongan kabel itu, tidak keluar serabut tembaga atau kaca.

Yang keluar adalah cairan merah kental.

Darah.

Kabel itu berdarah.

Naya merangkak mundur, matanya terbelalak ngeri melihat "luka" pada kabel yang menggeliat kesakitan itu.

Tanah di bawahnya mulai bergetar hebat. Suara Dug... Dug... berubah menjadi DUM... DUM... cepat dan marah.

Gunung ini tahu dia ada di sini. Gunung ini tahu dia melukainya.

Naya bangkit dan memacu kakinya yang gemetar, berlari menembus labirin sampah, menjauh dari Zona Merah, menjauh dari Pak Karta, menjauh dari kenyataan bahwa dunia yang dia kenal telah runtuh.

Dia tidak berhenti berlari sampai dia mencapai batas desa, sampai dia muntah di pinggir selokan kering karena kelelahan dan teror.

Saat dia melihat ke arah kakinya, dia melihat noda darah merah di sepatu botnya. Darah yang berasal dari kabel mati.

Dan di kejauhan, Naya bersumpah dia mendengar suara gemuruh rendah yang terdengar seperti geraman perut raksasa yang belum kenyang.

Satu kambing tidak cukup. Satu Ipul tidak cukup.

Gunung itu menginginkan hidangan utama.

(Bersambung ke Bab 5)