Gunung Bernapas Infiltrasi
5/30
Bab 5

Infiltrasi

Naya membanting pintu kamar mandi di belakangnya dan mengunci grendelnya dengan tangan gemetar. Napasnya memburu, seolah oksigen di udara telah digantikan oleh gas racun. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu kayu yang lembap itu, merosot duduk di lantai keramik yang licin.

Di luar, matahari sore mulai meredup, tapi di dalam kepala Naya, gambaran mengerikan di Zona Merah tadi masih menyala terang benderang.

Kambing yang ditelan lindi. Pak Karta yang tersenyum gila. Dan kabel... kabel yang berdarah.

Naya menatap sepatu bot karetnya. Di sana, di bagian tumit dan sol yang bergerigi, masih menempel noda merah kental itu. Noda darah dari kabel yang ia potong. Warnanya merah tua, sedikit lebih gelap dari darah manusia biasa, dan baunya... anyir. Bukan anyir besi seperti darah pada umumnya, melainkan anyir yang dicampur dengan bau karet terbakar dan pelumas mesin.

"Tenang, Nay. Berpikir logis. Lo ilmuwan," bisiknya pada diri sendiri, menampar pipinya pelan untuk mengusir histeria.

Ia bangkit dan menyalakan keran air. Air kecokelatan mengalir keluar. Naya menampungnya di ember kecil, lalu mengambil pisau lipatnya yang juga berlumuran darah itu.

Alih-alih langsung mencucinya, insting penelitinya mengambil alih. Naya mengeluarkan dua botol sampel kaca kosong yang tersisa di saku jaketnya.

Dengan hati-hati, ia mengerik sisa darah kering dari bilah pisaunya dan memasukkannya ke botol pertama.

Kemudian, ia menampung air keran kamar mandi itu ke dalam botol kedua. Air yang mereka pakai mandi setiap hari. Air yang ia pakai cuci muka kemarin.

Setelah mengamankan sampel, barulah Naya mencuci sepatu dan pisaunya dengan sabun deterjen bubuk yang banyak, menggosoknya berkali-kali sampai tangannya perih, seolah ingin menghapus dosa karena telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia.

Malam turun dengan cepat di Desa Sindang. Suara jangkrik kalah telak oleh suara derum truk sampah yang masih beroperasi di kejauhan.

Kamar Naya telah berubah fungsi menjadi laboratorium darurat. Tirai jendela ditutup rapat dan dilakban pinggirannya agar tidak ada celah bagi "mata-mata" di luar sana untuk mengintip. Di atas meja belajarnya, mikroskop monokuler tua miliknya—hadiah ulang tahun ke-17 dari Bapak—sudah berdiri tegak, siap menguak rahasia.

Meski tua, lensa mikroskop itu masih tajam. Naya membersihkannya dengan kain microfiber. Ia menyalakan lampu belajar dan mengarahkannya ke cermin pemantul cahaya mikroskop.

"Oke. Mari kita lihat apa kalian sebenarnya," gumam Naya.

Ia mengambil sampel pertama: Darah Kabel.

Naya meneteskan sedikit cairan merah itu (yang sudah ia encerkan dengan sedikit air suling dari botol minumnya) ke kaca preparat. Ia menjepitnya dan memutar fokus lensa objektif ke perbesaran 400x.

Naya mengintip lewat lensa okuler.

Jantungnya berdesir.

Secara visual, cairan itu mengandung sel darah merah. Bentuknya cakram bikonkaf, persis seperti darah mamalia. Tapi ada yang salah. Sel-sel darah itu tidak bergerak mengalir dengan wajar. Mereka terikat satu sama lain oleh benang-benang halus transparan.

Naya menaikkan perbesaran ke 1000x menggunakan minyak imersi.

Benang-benang halus itu terlihat lebih jelas. Itu bukan fibrin (protein pembeku darah). Itu adalah polimer. Serat plastik mikroskopis yang menjahit sel darah merah itu menjadi satu kesatuan.

Dan yang lebih mengerikan, di antara sel darah merah itu, ada partikel-partikel asing berbentuk kubus-kubus kecil berwarna hitam yang bergerak mekanis. Mereka bukan sel darah putih yang bertugas melawan penyakit. Mereka terlihat seperti... nanobot biologis. Atau mungkin, sel kanker buatan yang bertugas memperbaiki jaringan kabel itu.

"Ini hibrida," bisik Naya, keringat dingin menetes di pelipisnya. "Organik dan sintetik menyatu di level seluler."

Gunung itu bukan sekadar menimbun sampah. Gunung itu mendaur ulang sampah menjadi kehidupan baru. Ia meniru biologi makhluk hidup menggunakan bahan dasar yang tersedia: plastik, logam, dan limbah organik.

Kabel itu berdarah karena kabel itu adalah urat nadi gunung tersebut.

Naya menjauhkan wajahnya dari mikroskop, merasa mual. Implikasinya terlalu besar. Jika gunung itu bisa membuat kabel berdarah, apa yang bisa ia lakukan pada manusia?

Ia teringat ibunya.

Dengan tangan gemetar, Naya mengambil sampel kedua: Air Keran Rumah.

Air ini berasal dari sumur bor di belakang rumah. Kedalamannya sekitar dua puluh meter. Selama ini warga desa menganggap air tanah mereka aman meski agak keruh, karena mereka pikir tanah akan menyaring kotoran.

Mereka salah. Mereka lupa bahwa di sebelah rumah mereka ada gunungan limbah B3 yang merembes ke akuifer tanah setiap detik selama puluhan tahun.

Naya meneteskan air keran itu ke kaca preparat baru.

Ia melihat ke dalam lensa.

Awalnya, ia hanya melihat kotoran biasa. Partikel debu, sedikit lumpur. Standar air tanah yang buruk.

Tapi kemudian, ia melihat pergerakan.

Bukan gerakan acak bakteri atau protozoa. Gerakan ini terarah.

Di dalam setetes air itu, berenang makhluk-makhluk mikroskopis yang bentuknya seperti cacing pipih, tapi transparan dan berkilauan seperti kaca. Tubuh mereka terdiri dari segmen-segmen kaku.

Mikroplastik, pikir Naya awalnya.

Tapi mikroplastik tidak punya mulut.

Benda-benda transparan itu memiliki ujung yang runcing, mirip jarum suntik, dan mereka sedang menyerang partikel organik lain di dalam air itu. Mereka menusuk, lalu menyedot isinya.

Dan saat mereka makan, tubuh mereka berubah warna. Dari transparan menjadi merah muda.

Naya teringat warna kulit ibunya. Merah muda pucat yang mengilap.

Naya tersentak mundur, nyaris menjatuhkan mikroskopnya.

Itu bukan cacing. Itu adalah benih.

Air tanah di desa ini dipenuhi oleh larva polimer. Setiap kali warga desa mandi, mencuci beras, atau sikat gigi dengan air ini, mereka memasukkan ribuan larva ini ke dalam tubuh mereka.

Larva-larva ini tidak membunuh inangnya. Tidak langsung. Mereka masuk ke pori-pori kulit, atau tertelan masuk ke pencernaan, lalu mulai bekerja. Mereka mengganti sel-sel kulit manusia yang rusak dengan materi mereka sendiri. Materi plastik.

Mereka sedang melakukan terraforming—pembentukan ulang—pada tubuh manusia. Mengubah warga desa menjadi boneka yang tahan banting, tahan sakit... dan tahan dikendalikan.

"Ibu..." suara Naya tercekat.

Ia melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Ibunya pasti sudah tidur.

Tapi Naya harus memastikan. Dia harus mengambil sampel kulit ibunya sekarang juga. Dia perlu tahu sudah sejauh mana larva-larva ini mengambil alih tubuh wanita yang melahirkannya itu.

Naya menyambar senter dan mengendap-endap keluar kamar. Rumah gelap gulita. Hanya ada cahaya remang dari lampu jalan yang masuk lewat ventilasi.

Ia membuka pintu kamar ibunya perlahan.

"Bu?" panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban. Kasur ibunya kosong. Selimutnya berantakan di lantai.

Kepanikan menyergap Naya. Ke mana ibunya pergi malam-malam begini? Kamar mandi?

Naya berjalan menuju dapur dan kamar mandi belakang. Kosong. Pintu belakang rumah yang menuju ke kebun dan sumur bor terbuka lebar, berderit ditiup angin malam.

"Bu Siti!" Naya mulai berteriak, tidak peduli lagi soal membangunkan tetangga.

Ia berlari keluar lewat pintu belakang. Kebun belakang rumahnya gelap, ditumbuhi pohon pisang dan semak belukar liar. Di ujung kebun, berbatasan langsung dengan pagar seng TPA, ada sumur tua yang sudah ditutup beton, tapi pipa airnya masih menyambung ke mesin pompa.

Naya mengarahkan senternya ke sana.

Dia melihat ibunya.

Bu Siti sedang berjongkok di dekat pipa buangan air sumur yang bocor. Air keruh menetes-netes dari sana, membentuk genangan lumpur.

Tapi Bu Siti tidak sedang memperbaiki pipa.

Dia sedang meminumnya.

Bu Siti menangkupkan kedua tangannya, menampung air mentah yang penuh larva itu, dan meminumnya dengan rakus seperti orang yang kehausan di padang pasir. Suara glek-glek terdengar jelas di keheningan malam.

"Ibu! Jangan!" Naya berlari menerjang, menarik bahu ibunya hingga terjengkang ke belakang.

Bu Siti jatuh terduduk di tanah basah. Wajahnya basah kuyup oleh air keruh.

Saat senter Naya menyorot wajah ibunya, Naya menjerit tertahan.

Mata Bu Siti terbuka lebar, tapi pupilnya... pupil matanya tidak bulat. Pupil matanya melebar tak wajar, dan di bagian putih matanya (sklera), terlihat urat-urat halus berwarna hitam yang bergerak-gerak seperti cacing.

"Ibu haus, Neng..." suara Bu Siti parau, berat, dan ganda. Seperti ada dua pita suara yang bergetar bersamaan. "Airnya manis... seger..."

"Itu racun, Bu! Itu ada cacingnya!" Naya menangis, mencoba menarik ibunya berdiri. "Ayo masuk! Kita harus ke rumah sakit sekarang!"

Bu Siti menepis tangan Naya dengan kekuatan yang mengejutkan. Kekuatan yang mustahil dimiliki wanita tua sakit-sakitan. Naya terlempar mundur sampai punggungnya menabrak pohon pisang.

"Sakit?" Bu Siti memiringkan kepalanya. Gerakannya patah-patah, persis seperti gerakan wayang golek yang kaku. "Nggak sakit lagi, Neng. Ibu udah sembuh. Kulit Ibu udah kuat. Liat..."

Bu Siti mengangkat tangannya ke arah cahaya senter. Dia mengambil sebuah batu tajam dari tanah, lalu dengan senyum lebar yang mengerikan, dia menggoreskan batu itu kuat-kuat ke lengannya sendiri.

Kreeek...

Bunyinya bukan bunyi daging yang robek. Bunyinya seperti paku yang digoreskan ke pipa PVC.

Tidak ada darah yang keluar. Hanya goresan putih di atas kulit yang keras dan mengilap.

"Liat kan? Ibu udah jadi baru," bisik Bu Siti. Dia mulai merangkak mendekati Naya, matanya yang terinfeksi menatap lapar. "Kamu juga harus minum, Neng. Biar jadi kuat. Biar bisa nemenin Ipul... Ipul udah nunggu di dalam."

Naya gemetar hebat. Ibunya sudah hilang. Apa pun yang ada di depannya sekarang, itu hanyalah cangkang kosong yang dikendalikan oleh ribuan parasit mikroskopis.

Dari balik pagar seng TPA di belakang mereka, terdengar suara gemuruh rendah.

Dug... Dug... Dug...

Gunung itu menyetujui. Gunung itu sedang memanggil anak-anak barunya pulang.

Naya bangkit berdiri, air mata mengaburkan pandangannya. Dia tidak bisa melawan ibunya sendiri. Tapi dia juga tidak bisa tinggal di sini.

Malam ini, rumah bukan lagi tempat berlindung. Rumah adalah inkubator.

Naya berbalik dan lari masuk ke dalam rumah, bukan untuk sembunyi, tapi untuk mengambil tas ransel dan laptopnya. Dia harus pergi. Dia harus mencari bantuan. Atau setidaknya, mencari seseorang yang waras.

Saat dia berlari masuk ke kamarnya, ponselnya yang tergeletak di kasur bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Sinyal di desa ini biasanya mati total kalau malam. Tapi pesan ini masuk.

Naya menyambar ponselnya. Nomor tidak dikenal.

Isi pesannya singkat, hanya satu baris:

"Keluar dari desa sekarang. Jangan minum airnya. Gue di jalan."

Pengirim: Reza.

Naya terbelalak. Reza? Teman kampusnya? Anak Teknik Sipil yang skeptis itu? Bagaimana dia bisa tahu?

Tapi pertanyaan itu harus ditunda. Di dapur, terdengar suara langkah kaki berat yang menyeret. Ibunya sudah masuk.

Dan dia tidak sendirian. Dari jendela depan, Naya melihat bayangan orang-orang lain berjalan memasuki halaman rumahnya. Tetangga-tetangganya. Pak Ujang, Bu Darsih... mereka semua datang dengan tatapan kosong yang sama.

Pengepungan dimulai.

(Bersambung ke Bab 6)