“Astaga! Apa yang kalian perbuat di sini?”
Terdengar suara ribut yang akhirnya membuat Sandra menggeliat dan membuka paksa matanya yang masih terasa perih.
“Kenapa sih ribut-ribut?” gumam Sandra.
Netra Sandra yang tadinya menyipit sontak membelalak lebar begitu melihat sekerumunan orang di dekatnya. Dengan cepat dia bangkit dari baringnya. Sandra terkejut melihat roknya yang sudah tersingkap dan kaus yang dipakainya sedikit terangkat.
“Astaga!” ucap Sandra spontan menurunkan rok dan bajunya.
“Kalian berbuat mesum disini?” lontar salah seorang warga dengan emosi.
“Me-mesum? Apa maksudnya?” tanya Sandra bingung sekaligus terkejut dengan tuduhan yang di lontarkan padanya barusan.
“Kamu ngapain tidur disini dengan laki-laki itu?”
Dengan takut Sandra melihat ke arah yang di tunjuk oleh orang sedang menatap tajam ke arahnya itu.
“Astaga, Bisma!” teriak Sandra sambil membelalak sempurna melihat Bisma tertidur bertelanjang dada di belakangnya.
Tak lama kemudian terdengar suara kaki berlarian mendekat ke arah mereka.
“Astaga, Sandra! Bisma!” teriak Nia begitu melihat apa yang terjadi di sana smabil menutup mulutnya.
“Kalian ngapain disini berdua tengah malam begini?” lanjutnya histeris.
Beberapa warga memang memanggil beliau begitu menangkap basah Bisma dan Sandra. Bisma menggeliat. Hanya teriakan Nia yang akhirnya mampu membangunkannya.
“Sebentar lagi, Mbak. Masih ngantuk ini,” ucapnya meracau dengan mata yang masih tertutup.
Nia segera naik ke atas pondok dan menarik kuat tubuh Bisma hingga terduduk.
“Bangun, Bisma!” bentak Nia sambil terus mengguncang tubuh Bisma.
“Astaga, Mbak. Ini masih malam. Ngapain nyuruh bangun sih?”
Bisma yang akhirnya membuka paksa kedua matanya yang masih terasa perih.
“Bawa mereka ke balai desa!” perintah kepala desa yang juga di hadirkan di sana.
“Balai desa? Mau ngapain?” tanya Bisma bingung. Kesadarannya masih belum terkumpul sempurna.
“Pakai bajumu! Jelaskan nanti di balas desa!” Nia membelalakkan kedua matanya ke arah Bisma.
“Mbak, ini gak seperti yang mbak pikir, Mbak. Aku gak tahu kenapa aku ada di sini, Mbak,” ucap Sandra sambil memegangi tangan Nia dengan wajah panik.
Nia memejamkan matanya sambil menghelakan napas dengan berat.
“Kita ikuti mereka dulu. Mereka yang punya wilayah ini, Sandra. Baru saja tadi malam mbak memperingatkanya.”
Nia, Bisma, Sandra dan manager Bisma berjalan mengikuti warga menuju ke balas desa. Disana Bisma dan Sandra menjelaskan apa yang mereka ketahui sebelum kejadian itu terjadi.
“Bisa-bisanya kamu mabuk di tempat seperti ini, Bisma!” Nia menggeram.
“Sepertinya ada yang mengerjai Sandra dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya, Mbak,” bisik Doni, Manager Bisma begitu mendengar penjelasan dari Sandra dan Bisma selama interogasi tadi.
Nia menghelakan napasnya dengan berat.
“Saya selaku penanggungjawab mereka meminta maaf atas kesalahan dan keteledoran mereka. Sepertinya mereka sama-sama tidak menyadari apa yang terjadi pada mereka semalam karena suatu hal. Setelah ini saya janji dan pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi,” ucap Nia berusaha meredam amarah warga.
“Tidak bisa hanya dengan minta maaf. Mereka harus dinikahkan sekarang juga demi nama baik desa kami," ucap kepala desa yang diikuti anggukan dari warga yang lain.
“Apa? menikah?” teriak Sandra dan Bisma histeris dan hampir bersamaan.
Bisma memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Karena kecerobohannya sekarang dia harus duduk di depan seorang penghulu yang di panggil oleh kepala desa. Sebuah peci pinjaman dari salah satu warna telah terpasang di kepalanya. Sementara Sandra, wanita yang menemuinya di pendopo itu terus menghapus air matanya yang mengalir di balik selendang panjang yang juga di dapatnya dari salah satu warga di desa ini.
“Sudah siap?” tanya penghulu yang ada di depan Bisma.
“Sudah, Pak.” Bisma menganggukkan kepalanya.
“Sudah hapal?”
“Sudah, Pak.” Bisma kembali menganggukkan kepalanya.
Bisma sudah lama berlatih mengucapkan ijab itu. Sejak dia mulai mencintai wanita itu, Bisma selalu bermimpi akan menjadikan Sandra sebagai pendamping hidupnya selamanya.
“Baiklah kita mulai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya dengan Sandra Alisya Gunawan Binti Gunawan Sutiyoso dengan mas kawin uang senilai satu juta di bayar tunai!”
“Sah?”
“Sah!”
“Alhamdulilah!” ucap saksi dan semua warga yang berada di dalam ruangan itu.
Bisma mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Sandra yang hanya menunduk dalam diam.
“Hari ini kalian sudah sah sebagai suami dan istri.”
Nia menatap Bisma dan Sandra yang sedang berdiri di sampingnya. Sebuah helaan napas kasar terdengar dari mulutnya.
“Saya mewakili seluruh warga desa ini minta, hal seperti ini tidak terjadi lagi. Kami akan mengusir dan menuntut kalian jika hal seperti ini terjadi kembali,” ucap kepala Desa yang berada di hadapan mereka.
“Kami minta maaf sedalam-dalamnya karena sudah berbuat hal yang tidak baik dan meresahkan di Desa ini.” Nia menundukkan kepalanya sebagai tanda permintaan maafnya.
Nia melihat ke arah sampingnya. Sepasang manusia yang hari ini membuatnya kesal dengan kelakuan mereka hanya terdiam tanpa merasa bersalah.
“Apa hanya aku yang merasa bersalah di sini?” ucap Nia setengah berbisik sambil menatap tajam ke arah Bisma dan Sandra.
Bisma dan Sandra melihat ke arah Nia dan baru tersadar dengan sindiran yang dilontarkan oleh Nia setelah melihat tatapan tajam dari kadua netra Nia ke arah mereka.
“Kami juga minta maaf karena sudah membuat kesalahan yang meresahkan di Desa ini, Pak,” ucap Sandra dengan sopan.
“Ya, saya juga, Pak.” Bisma menimpali.
“Baiklah. Silahkan kalian meneruskan urusan kalian di Desa kami.”
Kepala desa itu pergi meninggalkan Nia dan sepasang manusia yang baru saja menjalani ijab kabul hari itu.
Nia memijat pelipisnya yang terasa sakit, “Jangan sampai hal ini diketahui oleh siapapun. Cukup hanya kita berempat. Kalian mengerti?” ucap Nia sambil melihat ke arah sepasang pengantin baru yang ada di depannya.
“Kamu benar-benar dalam masalah besar, Bisma. Kalau sampai hal ini diketahui oleh publik, karirmu akan hancur dalam seketika. Bukan hanya itu, semua brand yang mendapukmu sebagai ambassador mereka juga akan meminta ganti rugi pinalti atas skandal yang kamu buat ini. Mereka tidak akan terima skandal ini merusak citra brand mereka yang kamu usung.” Doni, manager Bisma tak kalah kusut.
“Iya Mas, Mbak. Aku mengerti kok kekhawatiran kalian. Aku akan menjaga rahasia ini dari siapapun,” ucap Bisma sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sandra?” Nia melihat ke arah Sandra yang sejak tadi tertunduk diam.
“Hah? Ya, Mbak?” Sandra mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Nia dengan tatapan bingung. Lamunannya yang tiba-tiba buyar membuatnya linglung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh sekitarnya.
“Kamu mau kan merahasiakan hal ini dulu dari siapapun?” tanya Nia pada Sandra.
Sandra menganggukkan kepalanya pelan, “Mau, Mbak.”
Bisma melirik ke arah Sandra. Suara Andra terdengar begitu pelan dan lemah. Sangat menggambarkan keadaan hatinya yang sedang sedih dan menyesal.
“Bagus. Setidaknya kita harus merahasiakan hal ini sampai film ini selesai ditayangkan nanti dan semua kontrak ambassador Bisma selesai,” sambung Doni, Manager Bisma.
“Sudahlah. Kita harus segera kembali ke penginapan. Mereka bisa curiga kalau melihat kita kembali subuh-subuh begini. Semoga tidak ada yang bangun saat kita tiba nanti.”
Nia berjalan mendekati kepala desa yang sedang duduk berbincang dengan warga lain untuk berpamitan setelah itu dia mengajak Sandra, Bisma dan Doni kembali ke penginapan.
“Segera masuk ke kamar kalian masing-masing. Masih ada waktu untuk beristirahat sekitar satu jam lagi sebelum syuting pertama kita hari ini,” ucap Nia begitu mereka berada di depan penginapan mereka.