Mendadak Kawin Salah Paham
4/30
Bab 4

Salah Paham

DI LOKASI SYUTING

“SANDRAAA!!”

Teriak Andita begitu dia tiba di depan rumah Sandra. Rumah itu terlihat begitu sepi.

“Mana sih nih anak. Pasti masih tidur. Jelmaan kalong ya begini emang. Meleknya malam doang,” omel Andita sambil terus mengetuk pintu rumah Sandra.

Sandra membukakan pintu rumahnya. Wajahnya yang masih sembab dengan mata yang menyipit begitu sinar matahari masuk ke dalam pupilnya.

“Ngapain sih lu gedor-gedor rumah orang siang-siang gini, Ta? Baru juga gue mau masuk dunia mimpi,” ucap Sandra sambil mengarut kepalanya yang tidak gatal dan mulut yang menguap.

“Lu menang, San!” Wajah Andita berbinar.

“Menang apaan?”

“Menang kontes menulis. Naskah novel lo bakalan dijadiin film!”

“Gimana jalannya? Orang gue kagak pernah masukin naskah gue ke kontes manapun,” jawab Sandra sambil menatap Andita dengan tatapan malas.

“Lu bangunin gue cuma karena halusinasi lo, Ta? Gue baru selesai nulis jam delapan pagi tadi. Gue belum tidur sama sekali semalaman. Pedih nih mata gue,” timpal Sandra lagi.

“Gue yang udah masukin naskah lu ke konntes itu, San. Abisnya waktu gue kasih tahu ke lu tentang kontes itu kesadaran lu sedang di ambang batas. Mana waktu kirim naskahnya mepet lagi. Jadi gue ambil aja langsung dari laptop lu dan gue kirim sendiri waktu lu tertidur. Tadi gue buka pengumumannya, naskah lu yang menang!”

“Astaga, naskah gue yang mana yang lu kirim, Ta?” Sandra membelalakkan matanya karena begitu terkejut.

“Sini gue lihatin ke lo.”

Andita berjalan masuk ke dalam rumah Sandra dan langsung melengos ke dalam kamarnya dimana meja kerja Sandra berada.

“Hidupin laptop lo,” perintah Sandra.

“Gimana caranya lu kemarin ngambil naskah gue? Kan laptop gue dikasih password,” tanya Sandra bingung sambil terus menuruti perintah Andita membuka laptopnya.

“Waktu itu lu ketiduran waktu lagi nulis, jadi laptop lu kebuka. Ya udah gue ambil sendiri deh.”

Sandra menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan dari sahabatnya itu. Pengen marah, tapi menang. Ya gimana dong?

“Nih.” Sandra memperlihatkan laptopnya yang sudah dibukanya.

Andita tampak mengetik sesuatu di laman pencarian online setelah menekan tombol enter, mereka berdua tampak serius melihat ke arah jendela laman pencarian itu.

“Tuh kan, lu menang, San!”

Sandra membaca dengan cermat pengumuman kontes itu.

“Astaga, lu kirim OPIA gue ke kontes?” teriak Sandra.

“Iya, emang kenapa?”

“Itu kan..” Sandra memegangi kepalanya.

“Hadiahnya lumayan, San. Pembacaan naskahnya jam 3 sore ini dan lu di undang untuk datang ke acara itu.”

“Sore ini?” Sandra membelalakkan matanya, “Ini sudah jam 11 dan aku masih belum ngapa-ngapain, Ta!”

“Ya udah, buruan siap-siap sana!”

“Astaga!”

Sandra tersentak bangun dari mimpinya. Kejadian dua hari lalu sampai terbawa ke dalam mimpinya karena otaknya terus berkutat pada penyesalannya.

Sandra menghelakan napasnya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Seandainya Andita tidak iseng memasukkan Novelnya dalam kontes yang diselenggarakan oleh production house milik Mbak Nia, Sandra pasti tidak akan berada di tempat itu.

*“Bagaimana bisa aku menikah dengan komodo itu?” *

Sandra masih tidak percaya dengan nasib yang sedang terjadi padanya. Dikibaskannya selimut yang menutupi tubuhnya dan segera beranjak menuju ke dalam kamar mandi. Dia perlu membersihkan pikiran dan juga tubuhnya saat ini.

Pukul enam pagi, Sandra sudah bersiap untuk syuting pertama mereka hari itu. Nadine, teman satu kamarnya menggeliat bangun dari tidurnya. Begitu melihat Sandra yang duduk di sebuah kursi menghadap ke arahnya dengan pakaian yang sudah rapi, tubuhnya tersentak bangkit dan terkejut.

“Sandra!”

“Apaan sih lu kayak baru liat setan aja,” ucap Sandra sambil melihat sekilas ke arah Nadine sambil terus mengikat tali sepatu ketsnya.

“Kapan kamu kembali ke kamar? Bukannya semalam kamu tidur di pendopo itu?”

“Gak. Gue balik ke kamar.”

“Lo ketemu kan dengan laki-laki di sana?” tanya Nadine antusias.

Tangan Sandra berhenti bergerak. Matanya menatap tajam ke arah Nadine.

“Laki-laki? Lo tahu di pendopo itu ada laki-laki?”

“Itu.. Anu.. Gue hanya menebak saja. Warga di desa ini tampaknya sangat suka berkeliling di malam hari. Bisa aja kan kamu ketemu seseorang di pondok itu.”

Sandra mengalihkan tatapannya, “Gue gak ketemu siapa-siapa.”

Nadine mengernyitkan keningnya, seakan masih belum terima dengan jawaban Sandra barusan.

“Tapi tunggu dulu, kalau Lo tahu warga di sini suka berkeliling. Kenapa Lo nyuruh Gue sendirian di sana? Apalagi waktu itu keadaan gue kan lagi gak baik? Jangan-jangan Lu sengaja ya ngejebak gue?” Sandra kembali menatap tajam nadine.

“Apaan sih Lu, suudzon aja. Gue juga panik kali Lu meringis kepanasan semalam. Masih untung Gue tolongin kasih solusi. Udah ah Gue mau mandi.”

Netra Sandra mengikuti gerakan Nadine yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.


Nia datang ke lokasi syuting. Semua set sudah mulai di persiapkan. Matanya mengedar, mencari dua orang yang sudah membuat tidurnya tidak nyenyak sejak subuh tadi.

“Baguslah dua orang itu tetap bersikap profersional,” batin Nia.

Nia berjalan mendekati sutradara yang sedang membaca skrip di depan kamera.

“Semua aman, Mas?” tanya Nia sambil duduk di samping sutradara.

“Aman. Semoga hari ini cerah, jadi semua scene bisa di ambil.”

Nia menganggukkan kepalanya.

“Sandra, Bisma,” panggil Angga, Sang Sutradara.

Dua orang yang barusan di panggil namanya datang mendekat.

“Kalian sudah baca skrip scene yang akan diambil kan? Kita mulai dari pertemuan Anna dan Nicho kembali setelah lima tahun tidak bertemu. Di sini Nicho akan marah pada Anna karena dulu meninggalkannya begitu saja.” Angga mulai menjelaskan scene yang akan diperankan oleh Bisma dan Sandra.

“Bisma, kamu harus keluarkan semua ekspresi marah kamu. Bayangkan kekecewaan yang mendalam dan kekesalan pada orang yang kamu cintai saat meninggalkanmu begitu saja.”

“Dan kamu Sandra, tunjukkan wajah merasa bersalah namun jangan mengemis. Karena disini kamu memiliki alasan yang kuat untuk meninggalkan kekasih kamu namun kamu tidak bisa mengatakannya. Kalian sudah mengerti?” tanya Angga sambil melihat ke arah talentnya bergantian.

“Mengerti, Mas,” jawab Sandra yang diikuti anggukan kepala dari Bisma.

“Baiklah, kita mulai syutingnya,” teriak Angga memberikan aba-aba pada semua krunya.

Dua orang make up artis dengan cepat mengoreksi kembali penampilan Bisma dan Sandra.

Sandra dan Bisa berjalan menuju ke lokasi shoot mereka yang sudah diset. Mereka berdua berdiri berhadapan saling pandang.

Bisma menatap Sandra dengan tatapan sendu. Dia tidak menyangka bisa kembali menatap dua mata indah yang sejak dulu menjadi favoritnya itu.

“Oke, bersiap semuanya. Camera rolling, sound rolling and action!”

“Bagaimana kabarmu? Sudah jauh lebih bahagia sekarang? Setelah kamu pergi meninggalkan aku begitu saja, sekarang kamu malah muncul kembali di hadapanku. Mau apa lagi kamu?” ucap Bisma melafalkan skrip bagiannya sambil berusaha memasang ekspresi marah di wajahnya.

Tiba-tiba tangan Sandra melayang ke udara dan menampar kuat pipi Bisma. Matanya menyiratkan amarah dan itu terlihat begitu natural.

Bisma memegangi pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan Sandra barusan sambil menatap Sandra dengan bingung.

Semua orang di lokasi syuting terkejut melihat adegan yang di lakukan Sandra dan spontan memegangi pipi mereka, seakan mereka bisa ikut merasakan kepedihan dari tamparan itu.

“Apa ini ada dalam skrip?” tanya Nia pada Angga. Sisa syok masih terasa di wajahnya.

“Tidak ada. Tapi ini improvisasi yang bagus. Kita teruskan saja,” jawab Sang sutradara itu dengan antusias.