“Aku berada di sini bukan untuk menemuimu. Jika memang kita di takdirkan untuk bertemu kembali, itu bukan kesalahanku.” Sandra berjalan meninggalkan Bisma.
“Anna! Tunggu sebentar, Anna. Aku belum selesai. Anna!” teriak Bisma.
“Oke, cut!” teriak Sang sutradara dengan pengeras suara di tangannya.
Make up artist dan stylist langsung berjalan cepat mendekati artis mereka masing-masing dan mengoreksi kembali penampilannya.
“Improvisasi yang kamu lakukan tadi sangat bagus, Sandra. Saya yakin penonton akan sangat terkejut dan penasaran dengan kelanjutan filmnya dengan adegan tamparan yang kamu lakukan tadi. Saya benar-benar kagum. Akting kalian berdua sangat natural,” puji Angga, Sang sutradara.
“Kamu juga benar-benar aktor berbakat, Bisma. Ekspresi kesakitan di wajah kamu benar-benar seperti nyata. Saya yakin jika semua pemeran dalam film ini secerdas dan senatural ini, film ini pasti akan booming dengan rating tertinggi,” lanjut Angga tersenyum bangga.
Bisma menatap tajam ke arah Sandra sambil mengelus pipinya. Rasa pedih itu masih kentara. Ekspresi yang di tunjukkan Bisma saat shoot tadi bukan sekedar akting..
“Aku mau ke toilet dulu,” ucap Sandra sambil berjalan pergi menuju ke kamarnya. Bisma melihat ke arah punggung Sandra yang semakin menghilang.
Sandra memijit pelan pelipisnya sambil berjalan menuju ke kamarnya. Kepalanya terasa penuh. Pikirannya kacau. Dia sama sekali tidak menyangka akan menampar Bisma seperti itu. Hal itu merupakan reflek dari rasa marah dan kesalnya.
Tubuh Sandra tersentak begitu merasakan ada yang mendorongnya masuk ke dalam kamarnya begitu tangannya baru saja menempelkan kartu pintu kamarnya.
“Lu gila ya? Mau apa kamu kesini? Kalau ada yang lihat gimana, Bisma?” tanya Sandra dengan wajah menegang.
Bisma segera menutup pintu kamar itu.
“Lu sengaja kan tadi?”
“Sengaja apa?” Sandra balik bertanya.
Bisma memiringkan kepalanya. Memperlihatkan pipinya yang masih terlihat memerah karena tamparan Sandra tadi.
“Gue tidak sengaja. Gue emosi .”
“Karena kejadian semalam?”
Sandra menatap tajam Bisma.
“Kan kita sama-sama gak sengaja melakukannya, Sandra,” ucap Bisma.
“Segampang itu?” ucap Sandra dengan suara tinggi yang ditahan.
Sandra menggeram. Tubuhnya terjatuh lemas ke lantai. Kedua tangannya mengusap kasar wajahnya.
“Terus harus bagaimana? Gue juga tidak ada rencana untuk begini kan?” Bisma ikut duduk di lantai mengimbangi Sandra.
“Gimana kalau Gue hamil?” Sandra mulai terisak.
“Lah, kan Lu sudah punya suami sekarang.”
Sandra menatap tajam Bisma. Ingin rasanya dia kembali menampar wajah yang sok polos itu. Sepertinya satu tamparan masih kurang untuk membuatnya otaknya berjalan dengan baik.
“Lagian Lu tidak mungkin hamil, Sandra,” lanjut Bisma.
“Kenapa begitu yakin?”
“Karena Gue gak menembaknya di dalam,” jawab Bisma polos.
“Brengsekk! Berarti Lu sadar semalam?” kedua mata Sandra membesar sempurna dan maksimal. Salah satu tangannya sudah terangkat ke atas.
“Gak kok.” Bisma menggelengkan kepalanya, “Gue hanya ingat bagian itu aja. Yang lainnya Gue benar-benar gak ingat. Sumpah!” Bisma memegangi kedua pipinya. Khawatir Sandra akan kembali lepas kendali dan mendaratkan tangannya lagi di pipinya.
“Sandra, kamu baik-baik aja kan?” terdengar suara seseorang di luar kamar Sandra.
Sandra dan Bisma tersentak berdiri. Mereka saling pandang beberapa saat kemudian melihat ke sekitarnya dengan panik.
“Lemari. Masuk lemari sekarang,” ucap Bisma sambil berbisik sambil menunjuk ke arah lemari.
Sandra menganggukkan kepalanya sambil berjalan dengan cepat masuk ke dalam lemari. Wajah mereka terlihat begitu tegang seakan sedang kedatangan malaikat pencabut nyawa.
“Lu yang harusnya masuk, Bisma! Ini kan kamar Gue!” Sandra keluar lagi dari dalam lemari begitu menyadari ada yang salah.
“Astaga, iya juga ya.” Bisma menepuk pelan kepalanya kemudian berjalan masuk ke dalam lemari menggantikan Sandra.
Sandra memastikan pintu lemari itu sudah tertutup dengan rapat setelah itu dia berjalan ke arah pintu.
“Kamu tidak apa-apa, Sandra? Kamu sakit perut?” tanya seorang kru yang di suruh untuk menjemput Sandra karena mereka harus take adegan berikutnya.
“Tidak, aku sudah selesai,” jawab Sandra sambil tersenyum lebar.
“Baguslah. Kita harus take adegan selanjutnya. Ini Bisma kemana lagi. Dicariin dari tadi gak ketemu-ketemu. Katanya mau ke toilet, apa lewat Bekasi dulu dia.”
“Mungkin sebentar lagi dia datang sendiri. Ayo kita ke lokasi, Mbak,” ajak Sandra sambil menutup pintu kamarnya.
Begitu mendengar suara pintu yang tertutup, dengan pelan Bisma mulai membuka pintu lemari tempat dia bersembunyi.
Bisma melihat ke arah pintu kamar itu. Tidak ada lagi suara terdengar dari luar.
“Syukurlah mereka sudah pergi. Gue tunggu beberapa menit lagi saja baru Gue keluar.” Bisma mendaratkan tubuhnya di atas kasur sambil menghelakan napasnya lega.
Tiba-tiba netranya menangkap sesuatu dari dalam sebuah koper yang terbuka. Bisma mendekatkan langkahnya kemudian mengambil benda itu.
“Dia masih menyimpan ini? Pake di bawa lagi ke sini,” batin Bisma sambil tersenyum melihat benda yang baru diambilnya.
Bisma mengambil skrip yang tadi di letakkannya di atas meja kemudian membacanya. Dia sengaja mengambil posisi duduk tepat di samping Sandra yang juga sedang membaca skripnya.
“Gue dengar Lu sudah menikah,” ucap Bisma.
Sandra tersadar dari fokusnya membaca skrip kemudian melihat ke arah Bisma.
“Lu bilang apa tadi?”
“Gue dengar Lu sudah menikah, Sandra.” Bisma mengulangi kalimatnya lagi sambil menatap ke arah Sandra.
Sandra terlihat panik begitu mendengar ucapan Bisma barusan kemudian melihat ke sekitarnya.
“Gak ada siapa-siapa disini. Cuma kita berdua. Jawab aja pertanyaan Gue. Lu udah menikah kan?” Bisma menatap Sandra dalam.
“Iya, Udah. Sama komodo!” kedua mata Sandra menyalak ke arah Bisma kemudian kembali fokus pada skripnya.
“Komodo? Siapa Komodo?” tanya Bisma polos bercampur bingung.
Sandra menghelakan napasnya dengan kasar kemudian mengambil sesuatu dari atas meja.
“Mau liat komodo kan? Nih Dia.”
Sandra menghadapkan sebuah cermin kecil ke depan wajah Bisma.
“Udah lihat kan Komodonya! Pertanyaan aneh!”
Bisma melihat wajahnya di dalam cermin yang sedang di pegang oleh Sandra.
“San!” panggil seseorang, membuat Sandra segera menurunkan tangannya dan meletakkan kembali cermin yang dipegangnya ke atas meja.
“Alex?”
“Makan siang bareng yuk. Makan siangnya udah Gue siapin itu di sana.”
“Udah masuk jam makan siang ya? Boleh, yuk.” Sandra berdiri dari tempat duduknya.
Bisma ikut berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.
“Ayo,” ajak Bisma yang sudah bersiap-siap berjalan mengikuti ajakan Alex.
“Gue cuma pengen berdua dengan Sandra, Bisma.”
Alex meraih tangan Sandra tepat di depan kedua mata Bisma kemudian menariknya pergi dari hadapannya.
*“Kagak ada harga dirinya banget gua jadi suami. Istri digandeng laki-laki lain tepat di depan mata gue.” Bisma mengelus pelan dadanya. *
Tidak mungkin dia marah dan melarang Alex menggandeng Sandra pergi. Bisa-bisa gosip tentang hubungannya dengan Sandra terbongkar.
Bisma menghelakan napasnya. Dia masih begitu ingat bagaimana Sandra pergi begitu saja meninggalkannya dulu. Dan alasan yang pernah didengarnya dulu, Sandra pergi karena akan menikah dengan laki-laki pilihan ibunya.
Tapi kenapa Sandra sama sekali tidak mengatakan hal itu saat mereka menikah kemarin?
Tiba-tiba ponsel Bisma berdering. Sebuah nomor baru tampil di layar ponselnya. Bisma sempat ragu untuk mengangkatnya karena dia tidak suka jika ada nomor baru menghubungi kontaknya.
“Jangan-jangan ini nomor kontak pengurus pemakaman Papa yang baru kemarin. Aku kan lupa menyimpan kontaknya,” pikir Bisma.
Dengan cepat Bisma mengangkat panggilan telepon itu.
“Halo?” ucap Bisma.
“Sayang,”
“Mama?” Bisma sangat mengenal suara wanita yang telah berjasa melahirkannya itu.
“Mama senang kamu mau mengangkat panggilan telepon Mama.”
“Mau apa lagi?” tanya Bisma malas. Wajahnya langsung berubah kesal.
“Mama rindu mendengar suaramu. Kamu baik-baik saja kan?”
“Aku sedang syuting. Lain kali saja jika ingin mengobrol,” ucap Bisma.
“Baiklah kalau begitu. Jaga kesehatan ya, Sayang. Mama sayang kamu.”
Bisma segera menutup panggilan telepon itu. Mamanya sengaja menghubunginya dengan menggunakan nomor baru karena tahu Bisma tidak akan mengangkat panggilan teleponnya jika menggunakan nomor kontaknya yang sudah di simpan oleh Bisma.
“Entah rindu apa yang dia maksud,” gumam Bisma sambil kembali duduk dan membaca skripnya.