“Sandra Gunawan?” tanya Nia.
“Benar. Saya Sandra Gunawan.” Sandra menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Bisma tiba-tiba berhenti memainkan gawainya. Kepalanya langsung terangkat melihat siapa wanita yang baru saja memperkenalkan dirinya. Matanya membulat sempurna ditambah wajah yang menegang.
“Oh, silahkan duduk Sandra.” Nia menunjuk pada satu kursi yang terletak di dekatnya.
Sandra segera berjalan menuju kursi yang telah disediakan untuknya. Sandra mencuri pandang sekilas melihat ke sekelilingnya. Ada rasa gugup di hati Sandra melihat semua artis yang datang begitu berkharisma dan berkelas.
Matanya terhenti begitu melihat ke arah Bisma. Jantungnya seakan berhenti. Wajah pria yang ada di hadapannya saat ini begitu familiar baginya. Hal yang sama juga terjadi pada Bisma. Tatapan tegang mereka saling bertemu. Saling mengerti arti tatapan itu meski bibir mereka tidak berkata apapun.
“Oke, kita mulai saja ya. Judul film ini ‘OPIA’. Untuk lebih jelasnya mengenai isi cerita dan alurnya, saya persilahkan Sandra selaku penulis novel ini untuk menjelaskannya.” Nia melihat ke arah Sandra dengan tersenyum, “Silahkan Sandra.”
Bisma akhirnya meletakkan gawainya di atas meja dan melihat ke arah Sandra yang duduk tepat di hadapannya. Tatapannya lekat tak beralih sedikitpun, seakan dia sedang melihat sesuatu yang begitu menarik.
“Terima kasih, Bu Nia,” ucap Sandra sopan. Perhatiannya langsung teralihkan dari Bisma.
“Panggil mbak saja. Saya belum setua itu kan?” seloroh Nia diikuti tawa dari yang lainnya.
“Baik, Mbak Nia.” Sandra membalas senyum Nia. “Opia, novel yang menceritakan tentang trauma seorang gadis yatim piatu karena peristiwa pahit yang dialaminya di masa lalu.”
Bisma melihat ke arah Sandra dengan tatapan serius. Diambilnya skrip yang ada di hadapannya dan mulai membacanya sambil mendengarkan cerita dari Sandra. Sejak skrip itu diberikan padanya, Bisma sama sekali belum berniat untuk serius membacanya.Baru sekarang dia begitu serius membaca skrip itu karena Sandra.
“Gadis yang bernama Anna ini akan diperkosa saat akan pulang dari tempatnya bekerja.” Suara Sandra bergetar.
Semua orang spontan melihat ke arah Sandra termasuk Bisma. Sandra menarik napas dalam. Berusaha mengendalikan emosi dan rasa gugupnya saat itu.
“Kejadian itu membuat hidup Anna semakin hancur dengan kepergian ibunya, satu-satunya orangtua yang dimilikinya karena begitu sedih melihat nasib yang menimpa putri semata wayangnya. Anna yang berprofesi sebagai seorang dokter gigi itu menjalani kehidupannya dalam kesendirian sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang laki-laki baik yang jatuh cinta padanya dan menerima segala masa lalu gelap yang ada pada diri Anna. Begitu alur cerita novel ini secara garis besar.” Sandra mengakhiri ucapannya. Ada helaan napas lega begitu dia berhasil menyelesaikan tugasnya itu.
“Apa ini diambil dari kisah nyata?” tanya Nia.
“Iya. Ini kisah nyata yang dialami oleh orang yang sangat saya kenal.” Sandra tersenyum.
Bisma begitu serius membaca skrip yang ada di tangannya. Entah kenapa dia merasa ada hal yang sangat menarik di dalam novel itu. Novel itu begitu tergambar jelas dipikirannya. Bisma merasakan deja vu begitu membaca cerita itu
“Baiklah. Karena pemeran utama perempuan dalam novel ini harus diganti, jadi sementara saya yang akan membaca bagian Anna dalam skrip ini.” Nia melanjutkan proses pembacaan skrip.
“Sarah tidak jadi ikut, mbak?” tanya Nadine bingung.
“Ya, Dia jatuh dari tangga rumahnya tadi pagi dan mengalami cidera berat di kakinya. Saya akan segera mencari artis lain untuk menggantikan Sarah.”
Nadine tersenyum mendengar ucapan Nia. Ada secercah harapan dalam hatinya untuk dapat menjadi pemeran utama perempuan dalam film itu, bersanding dengan Bisma. Kedekatannya dengan Ibunda Bisma pasti akan membantunya dalam mendapatkan posisi pemeran utama itu, meski dia juga menyadari kalau Nia bukan orang yang mudah disetir oleh siapapun.
Nadine digadang-gadangkan akan dijodohkan oleh Ibunda Bisma dengan Bisma. Namun hal itu masih belum bisa terealisasi karena Bisma masih belum mau menerima Ibunya setelah kejadian pahit yang dialaminya dan ayahnya dulu. Dia masih menyimpan rasa kecewa dan amarah atas kelakuan Ibunya itu.
“Proses syuting akan dilakukan di sebuah desa di luar Jakarta selama dua bulan penuh. Tim kita sudah survey lokasi syuting dan penginapan yang benar-benar cocok untuk cerita novel ini dan juga sesuai dengan kebutuhan kita.”
“Wow, menginap selama dua bulan penuh?” Nadine tersenyum sambil melirik ke arah Bisma.
Pembacaan naskah terus berlanjut. Sandra mendengarkan sambil memberikan pendapatnya tentang penggambaran karakter di dalam novelnya.
Setelah selesai pembacaan naskah. Semua artis pun pamit berlalu dari ruangan itu.
“Sandra,” panggil Nia pada Sandra yang telah bersiap untuk keluar dari ruangan.
“Ya mbak?” Sandra menghentikan langkahnya.
“Bisa kita bicara sebentar?”
“Bisa mbak.” Sandra duduk kembali di tempat duduknya.
“San, Mbak mau kamu yang jadi pemeran utama wanita di film ini menggantikan Sarah. Kamu mau kan?” Nia menatap Sandra dengan penuh harap.
“Tapi aku belum pernah akting sebelumnya mbak. Aku gak yakin bisa melakukannya dengan baik.”
“Tapi mbak yakin kamu bisa. Wajah kamu, cara bicara kamu dan pembawaan kamu itu sangat cocok untuk berperan sebagai Anna. Kamu tegas namun periang. Wajah kamu juga manis.”
“Tapi mbak, aku takut mengecewakan mbak dan yang lainnya.”
“Please, mbak mohon kamu bantu mbak ya. Kamu tinggal bilang berapa honor yang kamu mau. Mbak gak yakin bisa menemukan pemeran Anna yang cocok dalam waktu dekat ini.” Nia memohon.
Sandra terdiam beberapa saat. Kata honor yang tadi diucapkan oleh Nia mampu menggoyahkan hatinya untuk menolak tawaran itu. Sandra memang menggantungkan hidupnya hanya dari penjualan novel-novelnya. Dengan menerima tawaran akting dari Nia, sudah pasti hidupnya lebih terjamin untuk bulan-bulan mendatang. Dengan menekan segala keraguan di dalam hatinya, akhirnya Sandra menganggukkan kepalanya pelan.
“Thank you, Sandra. Nanti asisten mbak akan memberikan kontraknya ke kamu.”
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lagi. Wajah Bisma muncul di balik pintu. Sandra dan Nia spontan terkejut dan melihat ke arah pintu.
“Kenapa balik lagi, Bisma?” tanya Nia.
“Kunci mobilku sepertinya ketinggalan disini mbak,” ucap Bisma, “Apakah aku mengganggu acara kalian?” tanya Bisma sambil melirik ke arah Sandra.
“Tidak. Kami sudah selesai,” ucap Nia.
“Kalau begitu saya pamit pulang ya mbak,” pamit Sandra.
“Oke San. Terima kasih ya. Asisten mbak akan menghubungi kamu tentang kontraknya ya.”
“Baik mbak.” Sandra tersenyum ke arah Nia kemudian berjalan keluar dari ruangan itu dan melewati Bisma yang sedang berdiri di dekat pintu.
“Kontrak apa mbak?” tanya Bisma penasaran sambil duduk di dekat Nia.
“Sandra akan memerankan Anna menggantikan Sarah.”
“Mbak yakin?”
“Sangat yakin. Wajah Sandra manis dan tegas. Hampir mirip dengan Sarah. Ya kan?”
Bisma terdiam mendengar ucapan Nia. Itu berarti dia kan bersanding peran dengan Sandra dalam film ini. Dia menghelakan napasnya dengan berat. Entah bagaimana nantinya dia kan beradu akting sebagai sepasang kekasih dengan Sandra, mantan kekasihnya yang dulu pergi mencampakkannya begitu saja.