Sajadah Untuk Sang Pendosa TINTA YANG TERPERCIK DARAH
1/13
Bab 1

TINTA YANG TERPERCIK DARAH

Aroma kertas baru dan kopi arabika selalu menjadi candu bagi Arunika. Namun malam ini, di dalam toko buku "Cahaya Literasi", aroma itu terasa lebih pekat, seolah sedang berusaha membungkus kegelisahan yang entah dari mana asalnya. Arunika duduk di balik meja kayu jati yang dipenuhi tumpukan novel terbarunya, Lentera di Balik Kelam.

Jari-jarinya yang lentur tak berhenti menari, menorehkan tanda tangan dan doa-doa singkat di setiap halaman pertama buku yang disodorkan para pembaca. Di balik cadar tipis berwarna pastel yang ia kenakan, bibirnya tak henti menggumamkan hamdalah. Baginya, setiap baris kalimat yang ia tulis adalah jembatan menuju hati manusia. Ia ingin tulisan itu menjadi pengingat bahwa tak ada malam yang terlalu gelap bagi cahaya Tuhan.

"Terima kasih ya, Mbak Nika. Tulisan Mbak selalu jadi penguat saya saat putus asa," ucap seorang gadis remaja dengan mata berkaca-kaca.

Arunika tersenyum, matanya menyipit ramah. "Sama-sama, Sayang. Ingat ya, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sedang berusaha kembali. Semangat hijrahnya."

Antrean mulai menipis seiring jarum jam yang hampir menyentuh angka sembilan. Manajer toko buku, Pak Haris, mendekat dengan wajah sedikit cemas. "Mbak Nika, sepertinya kita harus segera tutup. Di luar cuaca mendung, dan... gang di samping toko sedang ada perbaikan lampu, suasananya agak tidak kondusif."

Arunika mengangguk setuju. "Baik, Pak. Tinggal tiga orang lagi, setelah itu saya langsung pamit."

Setelah pembaca terakhir beranjak, Arunika membereskan tas selempangnya. Ia menolak saat Pak Haris menawarkan untuk mengantarnya sampai ke mobil di parkiran samping. Arunika merasa sudah biasa mandiri. Ia memilih melewati pintu keluar khusus staf di bagian belakang, sebuah lorong kecil yang langsung memotong jalan menuju area parkir.

Begitu pintu besi itu terbuka, udara dingin malam langsung menyergap. Langit Jakarta malam ini seolah sedang menahan tangis; mendung kelabu menggantung rendah tanpa bintang. Lampu jalan di gang itu benar-benar mati, hanya menyisakan keremangan dari sisa cahaya lampu toko yang merembes keluar.

Arunika baru saja melangkah lima meter ketika telinganya menangkap suara ganjil.

Bugh!

Itu suara benda tumpul yang menghantam sesuatu yang lunak. Disusul oleh suara rintihan tertahan yang mencekat leher. Arunika berhenti. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Logikanya menyuruhnya lari kembali ke dalam, namun rasa kemanusiaannya membuat ia mengintip dari balik tumpukan palet kayu di sudut gang.

Di bawah temaram lampu neon yang berkedip sekarat dari gedung sebelah, seorang pria tersungkur di aspal yang basah. Tubuhnya gemetar hebat, memohon ampun dengan suara yang nyaris hilang.

Dan di depannya, berdiri seorang pria yang tampak seperti personifikasi dari kegelapan itu sendiri.

Pria itu jangkung, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung kasar hingga siku. Urat-urat di lengannya menonjol, memperlihatkan sisa-sisa tenaga yang baru saja ia ledakkan. Rambutnya hitam legam, sedikit berantakan tertiup angin malam. Wajahnya Arunika sempat terpana sesaat, pria itu memiliki pahatan wajah yang nyaris sempurna, namun dinginnya melebihi es di kutub utara.

"Ampun, Tuan Barra... Saya... saya akan bayar semuanya," rintih pria di aspal itu.

Pria bernama Barra itu berjongkok. Ia menjambak rambut korbannya dengan kasar, memaksa pria itu menatap matanya yang kosong tanpa empati.

"Duniaku tidak mengenal kata 'nanti', Anwar," suara Barra terdengar rendah, baritonnya bergema di dinding-dinding gang yang sempit. "Kamu mencuri barangku, artinya kamu mencuri nyawamu sendiri."

Bugh!

Satu hantaman telak kembali mendarat di rahang pria malang itu. Darah segar menyembur, memercik ke aspal, dan beberapa tetes mendarat di ujung sepatu bot kulit mahal milik Barra.

Arunika menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak horor. Pemandangan di depannya jauh lebih mengerikan daripada konflik mana pun yang pernah ia tulis dalam novel-novelnya. Ini nyata. Darah itu nyata. Kejahatan itu ada tepat di depan matanya.

Karena gemetar yang tak terkendali, tas selempang Arunika merosot dari bahunya. Braakk! Tas itu menghantam kaleng cat bekas di dekat palet kayu.

Suasana mendadak sunyi senyap. Hanya suara tetesan air dari pipa bocor yang terdengar.

Barra perlahan berdiri tegak. Ia tidak terkejut. Ia justru menoleh dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sudah tahu ada tikus kecil yang mengintipnya sejak tadi. Matanya yang tajam seperti elang langsung mengunci posisi Arunika di balik kegelapan.

Arunika membeku. Ia merasa seperti mangsa yang sedang dipelototi predator. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.

Langkah kaki Barra terdengar berat dan berirama di atas aspal. Setiap langkahnya membuat Arunika semakin mundur, hingga punggungnya menabrak tembok bata yang dingin. Barra berhenti tepat di depan Arunika, hanya menyisakan jarak tak sampai satu meter.

Bau parfum woodsy yang mewah bercampur dengan aroma logam darah yang amis menusuk indra penciuman Arunika. Dari jarak sedekat ini, Arunika bisa melihat betapa kotornya tangan pria itu—bukan hanya oleh debu, tapi oleh noda merah yang masih basah.

Barra melirik sebuah buku yang terjatuh dari tas Arunika. Sebuah novel dengan sampul putih bersih bergambar siluet orang sedang bersujud. Di sana tertulis nama penulisnya dalam huruf emas: Arunika Cahaya.

Barra kembali menatap mata cokelat di balik cadar itu. Mata yang penuh dengan ketakutan, namun entah mengapa, masih menyimpan binar kejernihan yang membuat Barra merasa tidak nyaman.

"Penulis?" tanya Barra sinis. Suaranya terdengar seperti gesekan pisau di atas batu.

Arunika mencoba mengatur napasnya. Keberanian yang tersisa ia kumpulkan di ujung lidah. "Apa... apa yang kau lakukan padanya? Itu manusia, bukan binatang. Itu dosa besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti!"

Mendengar kata 'akhirat', Barra tertawa. Itu adalah tawa yang paling hampa yang pernah Arunika dengar. Barra memajukan wajahnya, memaksa Arunika menatap noda darah yang mulai mengering di rahang tegasnya.

"Akhirat?" Barra berbisik tepat di telinga Arunika, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Di duniaku, neraka sudah dimulai sejak kita lahir. Jangan bicara soal Tuhan atau pengampunan padaku, Nona suci. Tempatmu bukan di sini."

Barra meraih novel milik Arunika dari tanah, lalu membolak-baliknya dengan kasar menggunakan jarinya yang berdarah. Noda merah itu mengotori sampul putih yang suci itu. Ia melemparkan kembali buku itu ke dada Arunika.

"Pergilah sebelum aku memutuskan untuk membuatmu menjadi karakter mati di bukumu sendiri," ancam Barra dingin.

Arunika memeluk bukunya erat-erat. Air mata nyaris jatuh, bukan karena takut mati, tapi karena kasihan melihat jiwa yang begitu gelap di depannya. Ia melihat Barra berbalik, hendak meninggalkan korbannya yang tak sadarkan diri.

"Tunggu!" teriak Arunika nekat.

Barra berhenti, kepalanya sedikit menoleh ke belakang tanpa berbalik sepenuhnya. "Apa lagi? Kamu mau menceramahiku?"

Arunika menarik napas panjang, suaranya kini lebih stabil, meski hatinya masih bergemuruh.

"Aku baru saja menulis ratusan halaman tentang hidayah dan jalan pulang di buku ini, tapi sepertinya malam ini Tuhan justru mempertemukanku langsung dengan iblis yang menolak diselamatkan."

Barra terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah pergi menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Arunika yang gemetar di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba turun, mencuci noda darah di aspal, namun tak mampu mencuci ingatan Arunika tentang mata pria itu.