Malam di Jakarta tak pernah benar-benar sunyi, namun bagi Barra, keheningan yang menyelimuti kabin mobilnya terasa mencekik. Kata-kata dari bos besar sindikat di telepon tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Informan. Pengkhianat. Si penulis cadar.
Barra menatap tasbih kayu hitam yang masih ia genggam. Benda itu terasa panas, seolah-olah setiap butirannya mengandung bara api yang siap membakar telapak tangannya. Ia ingin membuangnya ke jalanan, namun entah mengapa, jemarinya justru mencengkeramnya lebih kuat.
"Tuan, kita harus bergerak sekarang. Jika polisi benar-benar tahu jadwal di pelabuhan, kita harus mengubah rute pengiriman," suara Rio, orang kepercayaannya, memecah kesunyian.
Barra tak menjawab. Matanya masih terpaku pada jendela lantai dua rumah Arunika yang lampunya baru saja dipadamkan. Di matanya, rumah itu bukan lagi sekadar hunian, melainkan sebuah teka-teki yang bisa menghancurkan imperium yang ia bangun dengan darah.
"Rio," panggil Barra dengan suara rendah yang berbahaya. "Menurutmu, mungkinkah seorang gadis yang bicara soal surga setiap hari bisa merencanakan neraka untuk orang lain?"
Rio terdiam sejenak, menatap spion tengah. "Di dunia kita, Tuan, wajah paling suci seringkali menyimpan belati yang paling tajam. Dan Nona Arunika... dia masuk ke hidup Tuan di saat yang sangat tepat untuk menjadi mata-mata."
Rahang Barra mengeras. Ia menyimpan tasbih itu di saku celananya, lalu memberikan perintah singkat. "Bawa aku ke gudang pusat. Dan bawa gadis itu ke sana. Sekarang."
Arunika terbangun saat pintu depannya digedor dengan kasar. Ia belum sempat mengenakan cadarnya, hanya sempat menyampirkan jilbab besar untuk menutupi rambutnya ketika tiga orang pria berpakaian hitam merangsek masuk setelah mendobrak pintu.
"Apa yang kalian lakukan?! Keluar dari rumahku!" teriak Arunika ketakutan.
"Tuan Barra ingin bertemu. Sekarang, Nona. Jangan buat kami menggunakan kekerasan," ucap salah satu pria dengan wajah tanpa ekspresi.
Tanpa sempat membela diri atau membawa ponselnya, Arunika diseret masuk ke dalam mobil. Hatinya mencelos. Apakah ini akhir dari segalanya? Apakah doa-doanya tidak cukup kuat untuk melunakkan hati pria seperti Barra?
Perjalanan itu berakhir di sebuah gudang tua di pinggiran dermaga. Bau garam laut bercampur dengan aroma karat dan bahan kimia yang menyengat. Di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang bergoyang, Barra berdiri membelakangi pintu.
"Tuan Barra!" Arunika berseru saat ia didorong masuk. "Apa maksud semua ini? Kenapa kau membawaku ke tempat kotor ini seperti tawanan?"
Barra berbalik perlahan. Cahaya lampu yang bergoyang menciptakan bayangan yang mengerikan di wajahnya. Matanya yang biasanya dingin kini terlihat berkilat penuh amarah dan kekecewaan yang mendalam.
"Kotor?" Barra tertawa, suara tawanya bergema di dinding gudang yang kosong. "Tempat ini memang kotor, Nika. Tapi tempat ini jauh lebih jujur daripada bibirmu yang terus menyebut nama Tuhan sementara tanganmu menusukku dari belakang."
Arunika tertegun, langkahnya mundur saat Barra mendekat dengan langkah predator. "Apa yang kau bicarakan? Aku tidak pernah melakukan apa pun padamu!"
Barra melemparkan sebuah amplop cokelat ke kaki Arunika. Isinya berhamburan beberapa lembar foto yang menunjukkan Arunika sedang berbicara dengan seorang pria di sebuah kafe dua hari lalu. Pria itu adalah seorang perwira intelijen yang sudah lama mengincar sindikat Barra.
"Siapa dia, Nika?" tanya Barra, suaranya kini merayap pelan namun mematikan. "Jangan katakan dia pembaca novelmu yang ingin meminta tanda tangan. Karena aku tahu dia adalah orang yang akan menggerebek pelabuhanku besok malam."
Arunika menatap foto itu dengan mata membelalak. "Dia... dia memang pembaca bukuku! Dia datang menanyakan tentang riset naskah baruku tentang dunia kriminal. Aku bersumpah, aku tidak tahu kalau dia polisi!"
"Bohong!" Barra berteriak, suaranya menggelegar hingga membuat Arunika terjatuh di lantai yang berdebu. "Semua orang di sekitarku adalah pengkhianat, dan aku bodoh karena sempat berpikir kau berbeda. Kau menggunakan agama, kau menggunakan cadarmu, kau menggunakan doa-doamu hanya untuk membuatku lengah, bukan?"
Barra berjongkok di depan Arunika, mencengkeram dagu gadis itu dengan kasar. Air mata Arunika luruh, membasahi kain jilbabnya.
"Katakan padaku, Nika. Berapa mereka membayarmu untuk menjatuhkanku? Atau ini hanya caramu untuk melakukan 'dakwah'? Menghancurkanku agar aku membusuk di penjara?"
"Demi Allah, Barra... aku tidak tahu apa-apa tentang rencana polisi," rintih Arunika di tengah tangisnya. "Aku hanya ingin kau berhenti berbuat dosa. Jika aku ingin kau tertangkap, aku sudah melakukannya sejak malam pertama kita bertemu di gang itu! Kenapa aku harus menunggu sampai sekarang?"
Pertanyaan Arunika membuat Barra terdiam sejenak. Logikanya mulai berperang dengan amarahnya. Benar, jika Arunika ingin menghancurkannya, malam di parkiran toko buku itu adalah kesempatan terbaik. Tapi pengkhianatan di dunianya seringkali berliku.
"Tuan, polisi sudah bergerak ke arah pelabuhan!" teriak Rio yang baru saja masuk dengan wajah panik. "Seseorang benar-benar membocorkan koordinatnya!"
Barra kembali menatap Arunika. Sorot matanya kini penuh kebencian. "Bawa dia ke ruang belakang. Ikat dia. Jika pengiriman besok gagal dan anak buahku tertangkap, dia akan menjadi orang pertama yang membayar harganya."
"Barra, jangan!" Arunika menjerit saat dua anak buah Barra menyeretnya ke sebuah ruangan gelap di pojok gudang. "Kau sedang difitnah! Seseorang sedang mengadu domba kita! Barra!"
Pintu besi ruangan itu tertutup rapat, menyisakan Arunika dalam kegelapan total. Ia meringkuk di lantai yang dingin, tangannya diikat ke belakang dengan tali plastik yang menyakitkan. Di tengah ketakutannya, ia tidak berhenti berdoa. Bukan meminta keselamatan untuk dirinya sendiri, melainkan meminta agar kebenaran terungkap.
Di luar, Barra mondar-mandir dengan gelisah. Ia telah memerintahkan pembatalan pengiriman, yang berarti kerugian miliaran rupiah. Namun bukan uang yang ia pikirkan. Ia memikirkan getaran di suara Arunika tadi. Getaran yang terdengar sangat jujur.
"Rio, periksa ponsel Anwar. Pria yang kuhajar di gang itu," perintah Barra tiba-tiba.
"Anwar? Tapi dia masih di rumah sakit, Tuan."
"Lakukan saja! Periksa semua log panggilannya satu minggu terakhir."
Setengah jam kemudian, Rio kembali dengan wajah pucat. Ia menyerahkan sebuah rekaman suara yang berhasil disadap dari ponsel Anwar sebelum pria itu "dihilangkan" oleh sindikat lain.
Di dalam rekaman itu, terdengar suara Anwar sedang berbicara dengan seseorang. "Tenang saja, Bos. Saya sudah mengatur semuanya. Saya akan membuat seolah-olah penulis itu yang membocorkan info ke polisi. Barra sangat terobsesi pada gadis itu, dia akan hancur jika mengira gadis itu mengkhianatinya. Saat dia lengah, kita ambil alih wilayahnya."
Barra mendengarkan rekaman itu hingga selesai. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena murka yang luar biasa. Ia baru saja melakukan kesalahan besar. Ia telah menyakiti satu-satunya orang yang tulus mendoakannya.
Tanpa membuang waktu, Barra berlari menuju ruang belakang. Ia menendang pintu besi itu hingga terbuka.
Di sudut ruangan, ia melihat Arunika tertidur karena kelelahan menangis, atau mungkin pingsan. Wajahnya yang biasanya tertutup cadar kini terlihat jelas di bawah cahaya lampu senter milik Barra. Begitu pucat, begitu rapuh, namun memancarkan ketenangan yang aneh.
Barra berlutut di sampingnya, dengan tangan gemetar ia memotong tali plastik yang mengikat pergelangan tangan Arunika. Kulit putih gadis itu memerah dan lecet.
"Nika... bangun," bisik Barra, suaranya serak karena rasa bersalah yang menghantam dadanya seperti palu godam.
Arunika membuka matanya perlahan. Saat melihat wajah Barra, ia secara refleks meringkuk ketakutan. "Jangan... jangan sakiti aku lagi..."
Hati Barra yang selama ini sekeras batu, rasanya retak saat itu juga. Ia tidak pernah merasa sehina ini. Ia yang selalu merasa berkuasa, kini merasa kecil di depan gadis yang ia ikat ini.
"Maafkan aku," ucap Barra lirih, sebuah kata yang hampir tidak pernah keluar dari bibirnya selama sepuluh tahun terakhir.
Arunika menatap mata Barra. Ia tidak melihat iblis di sana malam ini. Ia melihat seorang pria yang hancur oleh dunianya sendiri. Dengan sisa tenaganya, Arunika meraih tangan Barra yang memegang pisau lipat, pisau yang tadinya ia gunakan untuk memutus tali.
"Sudah kubilang, Tuan Barra," bisik Arunika dengan suara parau. "Fitnah akan selalu mengejarmu selama kau masih berdiri di tempat yang kotor ini. Sampai kapan kau mau hidup seperti ini?"
Barra terdiam, ia membiarkan Arunika menggenggam tangannya. Namun, momen itu tidak berlangsung lama. Suara tembakan terdengar dari luar gudang, disusul suara ledakan yang menggetarkan seluruh bangunan.
"BARRA! KELUAR KAU PENGKHIANAT!" teriak sebuah suara dari pengeras suara di luar.
Itu bukan polisi. Itu adalah sindikat saingan yang merasa rencana fitnah mereka gagal dan kini memutuskan untuk menghabisi Barra secara langsung.
Barra segera berdiri, ia menarik Arunika ke dalam pelukannya untuk melindunginya dari serpihan kayu yang beterbangan akibat tembakan.
"Tetap di belakangku, Nika. Jangan berhenti berdoa, karena sepertinya malam ini... aku benar-benar butuh Tuhanmu untuk tetap hidup."
Barra mencabut pistol dari pinggangnya, sementara tangan satunya tetap menggenggam tangan Arunika yang dingin. Ketegangan baru saja dimulai.