Sajadah Untuk Sang Pendosa PELURU DAN DOA
5/13
Bab 5

PELURU DAN DOA

Debu semen beterbangan di udara, bercampur dengan bau mesiu yang menyengat. Gudang tua itu berguncang hebat akibat ledakan di gerbang depan. Arunika meringkuk dalam dekapan Barra, telinganya berdenging, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa organ itu bisa meledak kapan saja.

"Jangan lepaskan tanganku, Nika! Apa pun yang terjadi, jangan pernah lepas!" teriak Barra di tengah suara tembakan yang bertubi-tubi.

Barra menyeret Arunika menuju lorong tikus di belakang gudang. Ia bergerak dengan insting predator yang tajam, setiap gerakannya efisien dan mematikan. Di tangan kanannya, sebuah pistol kaliber sembilan milimeter digenggam erat, sementara tangan kirinya mencengkeram jemari Arunika seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menjaganya agar tidak tenggelam dalam kegilaan.

"Rio! Lindungi pintu samping! Kita keluar lewat dermaga!" Barra memberikan komando melalui handsfree di telinganya.

"Siap, Tuan! Tapi mereka menutup akses jalan raya, kita terkepung!" suara Rio terdengar panik di antara desing peluru.

Barra menggeram. Ia menoleh ke arah Arunika yang wajahnya kini pucat pasi, namun bibir gadis itu masih terus bergerak pelan, merapalkan ayat-ayat perlindungan yang tak henti.

"Berhenti berdoa dan lari lebih cepat, Nika! Tuhanmu tidak akan menghentikan peluru-peluru itu!" bentak Barra, frustrasi karena merasa tak berdaya melindungi gadis itu sepenuhnya.

Arunika menatap Barra dengan mata yang berair namun teguh. "Tuhanku yang memberimu kekuatan untuk membawaku sejauh ini, Barra! Jangan sombong di saat nyawamu hanya tinggal seujung kuku!"

Barra tertegun sesaat, namun suara kaca pecah di atas mereka memaksanya kembali ke realitas. Tiga orang pria bersenjata melompat dari jendela atas, langsung mengarahkan moncong senjata ke arah mereka.

Duar! Duar!

Barra melepaskan dua tembakan cepat yang tepat sasaran sebelum musuh sempat menarik pelatuk. Ia kemudian menarik Arunika bersembunyi di balik tumpukan kontainer besi. Napas Barra memburu, peluh dingin mengucur di pelipisnya.

"Dengarkan aku," Barra mencengkeram bahu Arunika, menatap langsung ke matanya. "Di depan sana ada kapal kecil. Aku akan mengalihkan perhatian mereka, dan kau harus lari ke sana. Rio akan membawamu pergi."

"Lalu kau? Kau akan mati di sini?" suara Arunika bergetar hebat.

"Itu bukan urusanmu. Ini duniaku, Nika. Aku pantas menerima ini, tapi kau tidak."

Arunika menggeleng keras. Ia meraih kerah kemeja Barra dengan tangan gemetar. "Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu mati sebagai iblis! Kau berjanji akan mencuci nodamu, kau berjanji akan menungguku di jalan pulang! Jika kau mati sekarang, semua itu sia-sia!"

Barra terdiam. Di tengah hujan peluru dan bau maut, kata-kata Arunika menghantamnya lebih keras daripada ledakan mana pun. Gadis ini, yang baru saja ia ikat dan ia curigai, kini justru menjadi orang yang paling gigih menginginkannya hidup.

"Kenapa? Kenapa kau peduli pada pendosa sepertiku?" bisik Barra parau.

"Karena setiap pendosa punya masa depan, dan setiap orang suci punya masa lalu," jawab Arunika lirih. "Ayo, lari bersamaku. Kita cari jalan keluar bersama."

Barra memejamkan mata sejenak, lalu ia mengangguk. Ia mengeluarkan sisa peluru terakhir di sakunya, mengisi ulang senjatanya, dan kemudian menggenggam kembali tangan Arunika.

Mereka berlari keluar dari balik kontainer, menuju dermaga yang hanya berjarak lima puluh meter. Namun, musuh tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Sebuah mobil jip meluncur kencang, berusaha menabrak mereka. Barra menarik Arunika menghindar tepat sebelum mobil itu menghantam tumpukan kayu.

"DI SANA MEREKA! HABISI!"

Sekelompok pria bersenjata muncul dari kegelapan. Barra terkepung. Ia mendorong Arunika ke balik tong minyak, lalu ia berdiri tegak, melindungi posisi Arunika dengan tubuhnya sendiri.

Klik.

Suara pistol Barra yang kosong terdengar menyakitkan di tengah kesunyian yang mencekam. Ia kehabisan peluru.

Sepuluh moncong senjata kini terarah tepat ke jantung Barra. Sang pemimpin sindikat saingan, seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pipi, melangkah maju sambil tertawa penuh kemenangan.

"Akhir yang tragis untuk Sang Raja Kegelapan. Mati karena melindungi seorang gadis bercadar. Sangat puitis, bukan?" pria itu mengangkat senjatanya, membidik dahi Barra.

Arunika memejamkan mata. Ia bersujud di balik tong minyak, dahinya menyentuh tanah yang kotor. Dalam tangisnya, ia berteriak dalam hati, meminta keajaiban yang hanya bisa dilakukan oleh Sang Pemilik Alam.

"Ya Allah... Selamatkan dia... Beri dia kesempatan untuk bertobat..."

Tepat saat pria itu hendak menarik pelatuk, suara sirine polisi menderu dari segala penjuru. Lampu-lampu sorot dari helikopter kepolisian tiba-tiba menerangi area dermaga, membutakan mata para penjahat itu.

"POLISI! JANGAN BERGERAK! JATUHKAN SENJATA!"

Kekacauan pecah. Para penjahat panik dan kocar-kacir. Di tengah kegaduhan itu, pria yang tadi membidik Barra melepaskan tembakan liar sebelum melarikan diri.

Duar!

"ARUNIKA!" Barra berteriak saat melihat gadis itu jatuh tersungkur.

Barra langsung menerjang tubuh Arunika, mendekapnya erat di atas aspal dermaga yang dingin. Ia memeriksa tubuh Arunika dengan tangan gemetar, mencari di mana peluru itu bersarang. Namun, ia tidak menemukan darah.

Ternyata peluru itu tidak mengenai Arunika, melainkan menghantam tasbih kayu hitam yang tadi Arunika berikan dan disimpan Barra di saku dadanya. Tasbih itu hancur berantakan, butiran kayunya pecah berkeping-keping, namun benda itu telah menjadi tameng yang menyelamatkan nyawa mereka berdua.

Barra tertegun menatap serpihan tasbih di tangannya. Ia menatap Arunika yang perlahan membuka mata, masih dalam keadaan syok.

"Kau selamat... kita selamat," bisik Barra dengan suara yang pecah. Ia memeluk Arunika begitu erat, tak peduli pada puluhan polisi yang kini mulai mengepung mereka dengan senjata lengkap.

"Menyerahlah, Barra. Ini sudah berakhir," ucap seorang perwira polisi yang melangkah maju pria yang sama yang ada di foto bersama Arunika.

Barra menatap perwira itu, lalu menatap Arunika. Ia tahu, pelarian raganya berakhir di sini, namun ia merasa pelarian jiwanya baru saja dimulai. Ia meletakkan senjatanya yang kosong ke aspal, lalu mengangkat kedua tangannya ke udara.

Arunika bangkit berdiri dengan kaki lemas. Ia melihat Barra diborgol di depannya. Tidak ada perlawanan dari pria itu. Wajah Barra terlihat sangat tenang, sebuah ketenangan yang belum pernah Arunika lihat sebelumnya.

Sebelum dimasukkan ke dalam mobil polisi, Barra meminta izin untuk bicara pada Arunika sejenak. Sang perwira memberikan waktu satu menit.

Barra berdiri di hadapan Arunika. Borgol di tangannya bergemerincing pelan ditiup angin laut.

"Nika," panggilnya lembut.

Arunika menatapnya dengan mata yang sembab. "Ya?"

Barra merogoh saku celananya, mengambil satu butir tasbih yang tersisa, yang tidak hancur terkena peluru. Ia meletakkannya di telapak tangan Arunika.

"Tasbih ini hancur untuk melindungiku, seperti katamu... Tuhanmu punya cara yang aneh untuk menyelamatkan pendosa," Barra tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang mengubah wajah dinginnya menjadi hangat.

Arunika menggenggam satu butir tasbih itu dengan erat. "Aku akan menunggumu di jalan pulang, Barra. Aku tidak akan berhenti menulis, dan aku tidak akan berhenti mendoakanmu."

Barra mengangguk. Saat ia mulai melangkah menuju mobil polisi, ia berhenti sejenak dan menoleh kembali pada Arunika.

"Simpan satu butir itu, Nika. Karena saat aku keluar nanti, aku ingin kaulah yang mengajariku cara merangkainya kembali menjadi sebuah sajadah untuk tempatku bersujud."

Mobil polisi itu melaju pergi, meninggalkan Arunika sendirian di dermaga yang sunyi. Ia berdiri menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip, menyadari bahwa meski Barra masuk ke dalam penjara besi, pria itu akhirnya bebas dari penjara kegelapan jiwanya sendiri.