Sajadah Untuk Sang Pendosa PENJARA TANPA JERUJI
3/13
Bab 3

PENJARA TANPA JERUJI

Arunika tidak pernah menyangka bahwa udara di luar gedung apartemen mewah itu bisa terasa begitu menyesakkan. Meski ia sudah berada di dalam taksi yang membawanya pulang, perasaan diawasi itu tidak hilang. Ia menggenggam erat tasbih hitam milik Anwar yang tadi diberikan Barra, tasbih yang kini menjadi saksi bisu pertemuannya dengan sang penguasa kegelapan.

Sesampainya di rumah, Arunika langsung mengunci pintu rapat-rapat. Ia bersandar di balik pintu, napasnya tersengal. Kalimat ancaman Barra terus terngiang, beradu dengan detak jantungnya yang tak beraturan.

"Hidupmu adalah milikku," gumam Arunika menirukan suara Barra. Ia bergidik. "Tidak, Tuan Barra. Hidupku hanya milik Allah."

Ia melangkah menuju meja kerjanya. Di sana, laptopnya masih terbuka, menampilkan draf novel yang terasa begitu kontras dengan realitas yang baru saja ia alami. Ia biasanya menulis tentang kedamaian, tentang cinta yang tumbuh di pelataran masjid, tentang hidayah yang datang lewat mimpi indah. Tapi sekarang, ia sedang berhadapan dengan hidayah yang mungkin harus diperjuangkan lewat darah dan air mata.

Arunika mengambil ponselnya, hendak menghubungi Pak Haris atau polisi, namun jemarinya ragu. Ia teringat sorot mata Barra. Pria itu tidak main-main. Melaporkannya sekarang tanpa bukti kuat hanya akan membahayakan orang-orang di sekitarnya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

“Jangan berpikir untuk menelepon polisi, Nona Cahaya. Aku bisa melihat layar ponselmu dari sini.”

Darah Arunika rasanya tersedot habis dari wajahnya. Ia segera berlari menuju jendela, menyibak sedikit gordennya. Di seberang jalan, di bawah keremangan lampu merkuri, sebuah mobil SUV hitam terparkir diam. Kaca filmnya begitu gelap, namun Arunika tahu, di dalam sana ada mata yang sedang memperhatikannya.

Ia segera menutup gorden dengan tangan gemetar. Ini bukan lagi sekadar peringatan. Ini adalah penjara tanpa jeruji.

Sementara itu, di dalam mobil SUV hitam, Barra duduk menyandarkan punggungnya sambil menyesap sebatang rokok. Di pangkuannya, sebuah tablet menampilkan layar CCTV yang berhasil disadap anak buahnya dari gedung di sekitar rumah Arunika.

"Tuan, kenapa kita tidak langsung menghabisinya saja jika dia berbahaya bagi organisasi?" tanya Rio, orang kepercayaan Barra yang duduk di kursi kemudi.

Barra terdiam, membiarkan asap rokok mengepul di udara kabin yang dingin. "Dia tidak berbahaya bagi organisasi, Rio. Dia hanya... mengganggu."

"Mengganggu?"

"Suaranya," bisik Barra lebih kepada dirinya sendiri. "Dia bicara seolah dia tahu segalanya tentang aku. Dia bicara seolah Tuhan itu benar-benar sedang memperhatikanku lewat matanya."

Barra kembali menatap layar tablet. Ia melihat siluet Arunika yang mondar-mandir di balik gorden yang tertutup. Ada rasa haus yang aneh di dalam diri Barra. Sepanjang hidupnya, ia dikelilingi oleh wanita yang memuja kekuasaannya atau takut pada kekejamannya. Tapi gadis bercadar itu? Dia menatapnya dengan rasa kasihan. Dan itu membuat Barra merasa telanjang, seolah semua dosa yang ia sembunyikan di balik jas mahalnya bisa dibaca dengan mudah.

"Terus awasi dia. Jangan ada satu orang pun yang mendekati rumah itu tanpa seizinku. Termasuk anak buah lawan," perintah Barra dingin.

Tiga hari berlalu, dan hidup Arunika berubah menjadi simulasi ketakutan yang konstan. Setiap kali ia pergi ke toko bahan makanan, pria-pria berpakaian hitam akan mengikuti di belakangnya dengan jarak sepuluh meter. Mereka tidak menyentuhnya, tidak bicara padanya, tapi keberadaan mereka adalah teror mental yang nyata.

Puncaknya terjadi pada Kamis malam. Arunika baru saja pulang dari pengajian rutin di masjid komplek. Suasana sudah sangat sepi. Saat ia hendak membuka pagar rumah, dua orang pria dengan jaket kulit kusam yang jelas bukan anak buah Barra mencegatnya.

"Nona Arunika? Kami dengar kamu punya hubungan spesial dengan Barra," ucap salah satu pria dengan seringai busuk. Ia memainkan sebilah pisau lipat di tangannya.

"Saya tidak punya hubungan apa pun. Tolong biarkan saya lewat," suara Arunika bergetar, ia mencoba merogoh tasnya untuk mengambil semprotan merica.

"Jangan bohong. Barra tidak pernah mengirim pengawal untuk wanita kecuali wanita itu sangat berharga. Jika kami membawamu, Barra pasti akan memberikan apa pun yang kami minta."

Pria itu merangsek maju, hendak mencengkeram lengan Arunika. Arunika memejamkan mata, bibirnya berbisik, "Hasbunallah wanikmal wakil..."

CRAKK!

Bukan jeritan Arunika yang terdengar, melainkan suara tulang yang bergeser.

Arunika membuka mata. Barra sudah ada di sana. Pria itu muncul entah dari mana, mencengkeram pergelangan tangan si penyerang dan memutarnya hingga pria itu berlutut di aspal dengan teriakan histeris. Wajah Barra malam itu tampak lebih mengerikan dari malam di gang. Ada kemarahan murni yang terpancar dari rahangnya yang mengeras.

"Sudah kubilang," suara Barra terdengar seperti geraman serigala, "dia milikku. Menyentuhnya berarti memesan tiket ke liang lahat."

Barra menghantam wajah pria itu dengan lututnya hingga tersungkur pingsan. Teman pria itu, yang melihat rekannya tumbang dalam hitungan detik, langsung lari tunggang langgang ketakutan.

Barra berdiri tegak, napasnya sedikit memburu. Ia berbalik menatap Arunika yang masih terpaku di depan pagar. Ia melangkah mendekat, mengabaikan fakta bahwa tangannya kembali berlumuran darah kali ini darah orang yang mencoba menyakiti gadis itu.

Arunika mundur, tapi punggungnya menabrak pagar besi. Barra berhenti tepat di hadapannya. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat hening, hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan di bawah langit malam.

"Kamu terluka?" tanya Barra. Nada suaranya sedikit berbeda masih keras, tapi ada nada cemas yang tersembunyi sangat dalam.

Arunika menatap tangan Barra yang berdarah, lalu menatap mata pria itu. "Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau selalu muncul dengan darah di tanganmu?"

"Karena dunia ini tidak diselesaikan dengan doa, Nika! Jika aku tidak datang, mereka sudah membawamu!" Barra membentak, frustrasi oleh keteguhan hati gadis di depannya.

Arunika menggeleng perlahan, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Allah yang mengirimmu untuk melindungiku, Tuan Barra. Tapi kau terlalu sombong untuk mengakuinya. Kau pikir kau penyelamatku? Kau justru sedang menghancurkan dirimu sendiri dengan terus melakukan kekerasan."

Barra tertawa pahit, ia mendekatkan wajahnya ke cadar Arunika, sangat dekat hingga Arunika bisa merasakan panas dari tubuh pria itu. "Kalau begitu, mintalah pada Tuhanmu agar Dia berhenti mengirimku. Karena selama aku masih bernapas, tidak akan kubiarkan satu iblis pun menyentuhmu, selain aku."

Arunika terdiam. Ia merasakan ketulusan yang aneh di balik kalimat kasar itu. Namun, ia tahu ia tidak boleh luluh. Ia harus tetap pada tujuannya: membawa pria ini kembali ke jalan yang benar, atau menjauh darinya selamanya.

Arunika merogoh tasnya, mengambil tasbih hitam yang tempo hari ia bawa. Ia meraih tangan Barra tangan yang masih berlumuran darah itu dan meletakkan tasbih itu di sana.

Barra tertegun. Ia hendak menarik tangannya, tapi jemari kecil Arunika menahannya dengan kekuatan yang mengejutkan.

"Bersihkan tanganmu, Tuan Barra. Bukan dengan air, tapi dengan ini," bisik Arunika lirih. "Setiap butiran ini menunggu namamu untuk disebut dalam tobat."

Barra menatap tasbih di tangannya, lalu menatap Arunika yang kini sudah membuka pagar dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup, menyisakan Barra yang berdiri sendirian di kegelapan malam.

Ia menggenggam tasbih itu erat-erat hingga butirannya menusuk kulit telapak tangannya. Tiba-tiba, ponsel di saku Barra berdering. Itu dari bos besar sindikat pusat.

Barra mengangkatnya dengan suara dingin. "Ya?"

"Barra, ada kebocoran informasi. Polisi sudah mengantongi jadwal pengiriman besok malam di pelabuhan. Dan mereka bilang, ada 'informan' dari dalam yang dekat denganmu. Apa itu si penulis cadar?"

Barra terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap jendela kamar Arunika yang baru saja lampunya menyala.

"Jika dia benar-benar mengkhianatiku, aku sendiri yang akan memastikan tanganku ini menjadi hal terakhir yang dia lihat sebelum maut menjemputnya."