Menikahi Istri Kakakku Balas Dendam untuk Kakaknya
3/22
Bab 3

Balas Dendam untuk Kakaknya

Ia pun menghapus air matanya. Dalam hati, ia berjanji akan mencari tahu kebenaran di balik kecelakaan itu, apa benar murni takdir, atau ada tangan lain yang bermain. 

Arga masih terisak sambil menatap tubuh kaku kakaknya. “Yah … aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya ada yang janggal. Kak Dirga terlalu hati-hati kalau soal kendaraan. Masa iya rem blong begitu saja? Rasanya … ada sesuatu yang disembunyikan.” 

Harto menatap putranya dengan sorot mata teduh, meski hatinya juga perih. Ia menggeleng perlahan, menepuk bahu Arga. “Nak, jangan terlalu jauh berpikir. Musibah itu datangnya tak ada yang tahu. Kadang Tuhan punya cara sendiri mengambil hamba yang dicintai-Nya.” 

Arga terdiam, bibirnya bergetar menahan protes, tapi ia tak ingin menambah beban ayahnya. Ia hanya kembali menatap mayat kakaknya untuk terakhir kalinya, sebelum jenazah itu dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan. 

Beberapa saat kemudian, petugas rumah sakit datang. Jenazah Dirga yang tak bisa diselamatkan karena lukanya yang sangat serius pun segera dimakamkan. Petugas membawa jenazah Dirga ke mobil ambulans. 

Setelah sampai di rumah duka, acara yang tadinya pernikahan dengan kegembiraan, kini digantikan oleh kedukaan. Sekarang  tak ada canda tawa lagi, menyisakan tangisan pilu. 

Arga yang merasa bersalah karena tak menghadiri acara pernikahannya pun ikut membantu memandikan dan menggotong keranda mayat kakaknya hingga sampai ke kuburan. 

Tak lama, prosesi pemakaman pun dilakukan secara sederhana. Hanya keluarga dekat yang hadir, dan semua sepakat merahasiakannya dari Nabila.

Arga berdiri mematung di samping liang lahat, hatinya kian membara dengan tekad mencari kebenaran. Siang itu, terakhir kalinya ia melihat kakaknya. 

Doa-doa mengalun lirih, isak tangis keluarga dan teman-teman Dirga terdengar di sela-sela takbir yang dipanjatkan.

Harto berdiri paling depan, wajahnya pucat tapi tetap tegar, menatap liang lahat yang perlahan tertutup tanah. Di sampingnya, Arga terdiam dengan mata sembab, menggenggam erat Al-Qur’an kecil di tangannya, sementara kerabat lain ikut menabur bunga di atas pusara. 

Di antara kerumunan, tampak teman-teman Dirga, beberapa menunduk haru, beberapa lainnya masih terisak. Namun, di balik keramaian itu, ada satu sosok yang tampak berbeda. Seorang pemuda asing, berpakaian rapi tapi tidak dikenal oleh siapa pun, berdiri agak jauh di balik pohon rindang. Tatapannya tajam, bibirnya tersenyum tipis yang justru terasa mengerikan di tengah suasana duka. 

Saat gundukan tanah terakhir dirapikan, pemuda itu bergumam pelan, suaranya hampir tak terdengar, “Akhirnya … kau mati juga, Dirga.” 

Matanya berkilat puas, seolah pemakaman itu bukanlah duka baginya, melainkan kemenangan. 

Tanpa ada yang menyadari keberadaannya, ia perlahan berbalik, meninggalkan area pemakaman, menyisakan tanda tanya besar: siapa dirinya, dan apa hubungannya dengan kematian Dirga. 

Saat para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman, Arga masih berdiri terpaku di dekat pusara kakaknya. Pandangannya sempat menangkap sosok pemuda asing yang berdiri di balik pepohonan beberapa saat yang lalu. Namun, ketika Arga mencoba mendekat, pemuda itu lenyap begitu saja, seakan ditelan udara. 

“Ke mana dia?” gumam Arga, jantungnya berdetak cepat. Ada rasa tak enak yang makin kuat dalam hatinya. Seakan-akan kematian kakaknya bukan sekadar kecelakaan biasa. Ia mulai mencurigai pemuda tadi dan ingin mencari tahu siapa orang tersebut. 

‘Kematian kakakku menjadi semakin misterius. Mobil yang remnya blong dan ada seorang pemuda yang tersenyum menyeringai membuatku yakin kalau kakakku sengaja dibunuh, bukan kecelakaan, tapi siapa pelakunya?’ gumam Arga dalam hati. 

Dengan kedua hal tersebut, Arga memberanikan diri mendatangi lokasi kecelakaan. Jalanan masih dipenuhi bekas remuknya kaca mobil dan bekas ban yang tergelincir. Di sisi jalan, mobil yang ditumpangi Dirga sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Bodi depan hancur parah, kaca-kaca pecah, meninggalkan jejak mengerikan dari tragedi yang merenggut nyawa kakaknya. 

Seorang polisi yang melihat kedatangan Arga pun mendekat. “Apa kamu dari pihak keluarga almarhum? Kami sedang melakukan pemeriksaan, sesuai instruksi Pak Harto.” 

Arga mengangguk, menahan napas. Saat itu, polisi itu menunjukkan sesuatu, yaitu sebuah bagian kusam di sisi pintu mobil, yang sebelumnya tak terlalu diperhatikan. Di sana, samar-samar terlihat coretan tulisan dengan ujung benda tajam, mungkin ditorehkan terburu-buru. 

“Lihat ini!” kata polisi itu serius. 

Arga mendekat, matanya melebar saat bisa membaca jelas coretan itu. 

“Jaga istriku, Arga.” 

Arga membeku, darahnya seolah berhenti mengalir. “Apa maksudnya ini?” bisiknya lirih. 

Polisi itu sendiri tampak kebingungan. “Kami juga tidak tahu. Sepertinya ditulis sebelum kejadian. Tapi hanya keluarga yang bisa memahami arti tulisan ini.” 

Arga terdiam lama, pikirannya berkecamuk. Mengapa kakaknya menuliskan pesan itu? Apa Dirga menyadari sesuatu sebelum maut menjemputnya? Dan kenapa harus ia yang menjaga istri kakaknya? 

Pertanyaan demi pertanyaan menghantui Arga, membuatnya semakin yakin bahwa kematian Dirga menyimpan misteri yang jauh lebih dalam daripada sekadar rem blong. 

Arga menatap polisi itu lekat-lekat. “Jadi, maksudnya, rem blong itu bukan kecelakaan biasa?” 

Polisi itu menghela napas panjang, wajahnya serius. “Benar. Dari hasil pemeriksaan awal, ada indikasi rem mobil sengaja dirusak. Tapi kami belum tahu siapa pelakunya. Jadi, kami masih butuh penyelidikan lebih lanjut.” 

“Adakah petunjuk lain yang Anda temukan?” tanya Arga. 

“Untuk sementara, belum ada lagi, Mas. Sidik jari hanya dari tiga orang korban saja. Tak ada orang lain yang terlibat. Memangnya kenapa?” 

Arga mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Kalau begitu, aku akan cari tahu. Aku akan pastikan siapa yang tega membunuh kakakku.” 

Polisi itu hanya bisa menatapnya dengan prihatin, sementara Arga kembali menoleh ke arah mobil hancur itu. Saat pandangannya jatuh pada coretan samar di pintu, yaitu tulisan “Jaga Istriku, Arga” membuat dadanya terasa semakin sesak. Pesan itu bagai wasiat terakhir Dirga yang kini jadi beban berat di pundaknya. 

Dengan tekad membara, Arga pun melangkah pergi, kembali menuju rumah sakit. Ia menaiki motor sportnya sambil memikirkan apa arti tulisan kakaknya itu? Sampai saat itu juga, ia belum bisa mengerti dan memahami apa yang kakaknya inginkan. 

‘Ya Tuhan, kenapa begini? Tak ada petunjuk yang jelas kenapa mobil itu remnya blong,’ batin Arga. Ia pun masih berpikir panjang sambil mengendarai motor menuju ke rumah sakit. 

Tiba-tiba, ia baru saja menyadari satu hal, “mengapa tak terpikirkan dari tadi? Kalau aku setuju menjadi suami palsu Nabila, aku bisa mencari tahu misteri kematian kakakku lewat kesaksiannya.” 

Arga pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, ia semakin dalam menarik tuas gas, tak sabar menuju ke rumah sakit. 

“Baiklah, Kak Dirga. Aku akan mencari tahu siapa orang yang membunuhmu, akan aku balaskan dendamku padanya,” gumamnya lirih ....