“Tapi, Bu. Aku enggak suka ama dia. Lagian, mana mungkin aku mencintai wanita milik kakakku sendiri?”
“Iya, tapi kan kakakmu sudah meninggal. Tak ada salahnya mengisi hatinya dia. Toh, kamu juga masih lajang,” jawab Fenny.
Arga menengok ke arah Nabila sejenak ke dalam ruangan itu, dia masih meronta, kedua tangannya diikat menggunakan tali karena kondisi psikisnya semakin tak terkendali, demi melindunginya dari sesuatu yang tak diinginkan. Sementara di sampingnya, ada Tatik yang masih berdiri dengan cemas dan tak tahu lagi apa yang harus dilakukan agar putrinya bisa tenang.
“Maaf, Bu. Aku tak bisa melakukannya,” sahut Arga.
“Lha kenapa? Dia tak jelek-jelek amat, apa cuma karena dia buta yang membuatmu enggak mau sama dia?”
“Bukan itu, Bu, tapi gara-gara wanita itu, kakakku sekarang meninggal! Andai saja Kakak tidak menikah dengan dia, tak mungkin ada kejadian seperti ini, Bu!”
“Semua itu musibah, Nak. Musibah tak ada yang tahu. Bibi Wati juga sebenarnya sudah mewanti-wanti agar menunda perjalanan bulan madu mereka karena usia pernikahan belum ada empat puluh hari. Bibi Wati mengatakan; bisa jadi akan ada hal buruk.”
“Begitu ya? Jadi, Bibi Wati lah yang menyumpahi kakakku sampai seperti ini?”
“Bukan begitu, Nak ....”
“Jadi, Ibu membela Bi Wati? Kalau dia tak mengatakan hal seperti itu, kakakku tak mungkin mengalami kecelakaan, Bu!”
“Arga, dengarkan aku dulu. Kumohon ikuti nasihat Ibu dan lakukan permintaan Ibu ini demi Nabila, keluarga dan yang terpenting demi kakakmu agar tenang di surga. Nabila tenang sejak kau datang."
Arga tak menghiraukannya, ia pun pergi begitu saja meninggalkan ibunya.
“Arga ... Arga ...!” panggil Fenny yang tak didengar olehnya.
Arga melangkah ke suatu tempat, melewati koridor rumah sakit dengan ekspresi wajah tak jelas. Namun, lebih dominan sedih karena berduka setelah kehilangan sosok kakaknya.
Di ruang perawatan, Nabila yang kondisi psikisnya masih belum tenang pun terpaksa disuntik obat penenang lagi oleh seorang dokter. Lambat laun, tubuhnya melemas dan dia pun tertidur.
“Efek obat ini sekitar enam jam, setelah itu, dia akan bangun lagi, tapi bisa jadi lebih cepat, tergantung kondisinya.”
“Oke, terima kasih, Dok.”
“Baiklah, kalau begitu, saya pergi dulu, saya akan kembali lagi ke sini enam jam sesuai perkiraan obat. Banyak pasien juga yang harus saya tangani. Permisi.”
Dokter itu pun pergi, diikuti perawatnya, lalu Fenny masuk ke ruangan dengan raut wajah sedih.
“Bagaimana dengan Arga?” tanya Tatik.
Fenny tak menjawab, dia hanya menggeleng pelan, lalu duduk dan berdiam diri. Dia bingung, harus melakukan apa lagi. Di kala momen bahagia keluarga, malah menjadi kesedihan. Fenny seakan tak percaya, tapi memang itu fakta dan benar adanya. Dia ingin melihat anaknya bahagia membangun rumah tangga yang indah. Namun, takdir berkata lain.
Sementara itu, di lorong rumah sakit yang sepi, langkah Arga terdengar bergema. Wajahnya tegang, matanya berair, seolah menahan sesuatu yang berat di dadanya. Ia berhenti di depan sebuah pintu, menarik napas panjang, lalu mendorongnya perlahan.
Di dalam ruangan itu, suasana begitu hening. Bau obat-obatan bercampur dengan aroma bunga duka yang mulai diletakkan di meja samping. Di tengah ruangan, terbaring sosok yang tak lagi bernapas, sosok itu adalah Dirga, tubuhnya terbujur kaku dengan wajah tenang, seakan sedang tidur panjang. Sementara masih di satu ruangan itu, seorang pria paruh baya sedang mengantuk, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
Arga tak kuasa menahan air matanya. Sebagai adik kandung Dirga, ia merasa berduka sampai hati yang paling dalam. Kakinya lemas saat melihat kenyataan di hadapannya. Ia perlahan membuka kain penutup kepalanya, dan terlihat jelas wajah kakaknya yang pucat dan tak bernyawa.
“Kak …,” bisiknya lirih, suaranya pecah. Ia kembali menutupnya lalu menangis tersedu. Semakin lama ia menatap wajahnya, rasa sedihnya semakin bertambah.
Di sudut ruangan, Harto, yang tadinya tidur sambil duduk pun terbangun setelah kedatangan Arga, ia lantas berdiri dengan wajah yang berusaha tegar meski matanya sembap. Arga mendekat, menggenggam tangan ayahnya erat.
“Ayah … kenapa bisa begini? Kenapa Kak Dirga bisa kecelakaan?”
Harto menarik napas berat sebelum menjawab, suaranya pelan tapi jelas. “Rem mobilnya blong.”
“Rem blong?”
“Iya, kata polisi yang masih mengidentifikasi.”
“Bagaimana bisa blong? Bukankah Kakak itu orangnya sering waspada, dan mana bisa itu terjadi? Ia pasti sudah mengecek mobil sebelum berangkat, kan?”
“Entahlah, yang mengemudikan mobil itu sopirnya, bukan kakakmu. Jadi, semuanya terjadi begitu cepat. Ayah pun masih tak percaya dia bisa mengalami kecelakaan.”
Arga menunduk, giginya terkatup rapat. Air matanya jatuh lagi, kali ini bercampur dengan penyesalan. “Seharusnya aku ada di sana, setidaknya menemani Kak Dirga di hari pernikahannya. Tapi aku sibuk dengan skripsi, dan sekarang aku bahkan hanya bisa melihatnya begini. Kakakku terbujur kaku tak bernyawa.”
Arga bersedih, kepalanya menggeleng pelan. Ia terdiam lama di depan jenazah kakaknya, pikirannya kembali melayang pada satu momen yang tak pernah bisa ia lupakan. Saat itu, dengan jantung berdebar karena rasa bersalah, ia mengetik pesan singkat untuk kakaknya - Dirga.
Ia tahu, tidak mungkin bisa pulang tepat waktu dari kampus untuk menyaksikan prosesi pernikahan sang kakak yang selama ini sangat ia banggakan. Jemarinya sempat ragu, bahkan pesan itu berkali-kali dihapus dan diketik ulang. Baginya, momen pernikahan adalah sesuatu yang sakral, sesuatu yang ia ingin lihat dengan mata kepala sendiri. Namun, kenyataan berkata lain, tanggung jawab kuliah dan jarak membuat langkahnya terikat.
Dengan berat hati, akhirnya pesan itu terkirim. Beberapa menit kemudian, balasan dari Dirga masuk ke layar ponselnya membuat Arga terkejut. Bukan amarah, bukan kekecewaan. Justru sebaliknya, Dirga menuliskan kata-kata yang begitu lembut, penuh kasih sayang, seolah ingin menenangkan adiknya yang sudah lebih dulu dihantui rasa bersalah.
“Tidak apa-apa, Ga. Kuliahmu itu lebih penting. Kalau soal prosesi nikah, kamu bisa lihat nanti dari foto atau rekaman video. Yang penting kamu tetap doakan aku dari sana.”
Arga menatap layar ponsel itu lama sekali, air matanya hampir jatuh kala membaca kalimat demi kalimat yang terasa seperti pelukan. Betapa kakaknya selalu mengerti, selalu menempatkan kebahagiaan dan masa depan adiknya di atas kebutuhannya sendiri. Sejak kecil, Dirga memang begitu, menjadi seorang kakak yang bukan hanya melindungi, tapi juga selalu menenangkan.
Kini, semakin Arga mengingatnya, semakin dalam rasa sedih itu menusuk ke dadanya. Hatinya terasa diremas-remas, karena sosok yang begitu berharga, kakak kandung yang paling baik dalam hidupnya, telah berkata demikian tulusnya di saat-saat yang seharusnya paling membahagiakan bagi dirinya sendiri. Kenangan itu seakan menjadi pisau bermata dua, bentuknya indah karena penuh cinta, tapi menyakitkan karena tak bisa terulang kembali.
Harto menepuk bahu putranya. “Arga, sudahlah. Semua itu terjadi bukan kehendak kita.”
Sementara Arga, di sela tangisnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kata “rem blong” itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Seolah ada yang ganjil, yaitu kemungkinan ada sesuatu yang tersembunyi di balik peristiwa itu.
Ia pun menghapus air matanya. Dalam hati, ia berjanji akan mencari tahu kebenaran di balik kecelakaan itu ....