Sesampainya di hadapan Nabila, ia berhenti sejenak, lalu menundukkan kepala dan memberi ciuman kecil di keningnya.
Arga duduk di samping ranjang, lalu membiarkan tangannya digenggam erat. Hatinya terasa teriris, tapi bibirnya terpaksa melontarkan kata-kata yang bukan seharusnya.
“Iya, sayang, aku di sini. Aku mencintaimu.”
Arga mencoba untuk tetap tenang dan tidak gugup agar Nabila tak curiga. Memang, sekilas suaranya sama dengan suami yang telah meninggal.
Nabila tersenyum tipis, bahagia dengan kata-kata itu. “Aku juga cinta kamu, Dirga … meski aku nggak bisa lihat, aku masih bisa rasain cintamu.”
Arga hanya bisa menatapnya dengan pandangan kosong, sementara di sudut ruangan Fenny dan Tatik berdiri diam, menyaksikan kebohongan yang mereka semua sepakati. Mereka tahu, ini demi kestabilan psikis Nabila, meski artinya Arga harus mengorbankan perasaannya sendiri dengan berpura-pura menjadi kakaknya yang sudah tiada, dan entah sampai kapan sandiwara itu harus terus ia lakukan.
Malam itu, Arga yang kelelahan karena aktivitasnya seharian penuh pun tertidur di kursi ruangan. Di sebelahnya, Nabila masih menatapnya kosong sambil terus mengelus tangan Arga yang sebenarnya bukanlah suaminya.
**
Pagi itu, sinar matahari menembus kaca jendela rumah sakit, memberikan cahaya hangat setelah malam yang panjang. Dokter akhirnya memberi izin Nabila untuk pulang, dengan catatan ia tetap harus banyak beristirahat dan ada yang menjaganya.
Di ranjang, Nabila tampak lebih tenang. Senyum kecil terukir di wajahnya meski matanya tetap kosong, tak bisa melihat apa pun. Ia menggenggam tangan Arga erat, seolah takut kehilangan lagi.
“Dirga, kamu bakal selalu di samping aku, kan? Jangan tinggalin aku, ya,” ucapnya dengan suara lembut tapi penuh desakan.
Arga tercekat. Ia menoleh ke arah ibunya dan Tatik, berharap ada jalan keluar. Namun, kedua perempuan itu hanya menunduk, seakan menyerahkan semua pada Arga.
Dengan berat hati, ia mengangguk, berusaha tersenyum. “Iya, aku di sini, aku nggak akan pergi ke mana-mana.”
Nabila langsung memeluknya erat, tubuhnya bergetar karena rasa takut kehilangan. “Jangan tinggalkan aku lagi, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Meski saat itu kau mengalami kecelakaan hebat, tapi aku yakin kamu kuat, kamu masih bisa hidup.”
Arga diam, membiarkan pelukan itu. Dalam hatinya, ia merasa makin terjebak. Sandaran psikis Nabila sepenuhnya tertuju padanya, dan semakin lama ia berperan sebagai Dirga semakin sulit baginya untuk melepaskan diri.
Saat kursi roda didorong keluar, menuju mobil keluarga, Arga tetap berada di sisi Nabila. Ia sendiri yang mendorongnya demi berperan menjadi suami yang baik. Nabila tersenyum dan menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Arga yang di belakangnya pun tersenyum juga, tapi senyum tipisnya hanya topeng; di baliknya, hatinya penuh luka. Ia tahu sejak hari itu, dirinya tak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tapi untuk sebuah kebohongan besar yang entah kapan akan berakhir.
Setibanya di rumah, suasana hening terasa kental. Fenny dan Tatik sibuk membereskan kamar Nabila, memastikan segalanya nyaman untuknya. Sementara itu, Arga hanya duduk di kursi ruang tamu, masih belum percaya dengan peran yang kini harus ia jalani.
Tatik yang saat itu beru keluar dari mobil, meminta izin pada Nabila dan yang lainnya untuk pergi sebentar, karena masih ada urusan.
“Lho, bukannya Ibu mau menjagaku juga?” tanya Nabila.
“Maaf, Nabila. Ibu ada urusan, kamu kan sudah ada yang jaga, di sana ada ...,” kata Tatik melirik ke arah Dirga. “Dirga dan Bu Fenny. Tenang saja, Ibu nanti akan ke sini, kamu baik-baik ya!”
Nabila pun mengangguk, semua orang melambai ke arah Tatik. Arga pun kembali mendorong kursi roda Nabila masuk ke dalam rumah dan membawanya ke kamar.
Tak lama, suara Nabila memanggil lembut dari kamarnya, “Dirga, kamu di mana? Bisa bikinin aku minuman kesukaanku, nggak?”
Arga sontak berdiri kaku. Ia melirik ibunya, wajahnya kebingungan. Perlahan ia masuk ke kamar, menatap Nabila yang tersenyum sambil meraba-raba tempat tidurnya. “Minuman kesukaanmu?” Arga bertanya ragu. “Maksudnya, biasanya aku. Eh, maksudnya bikin apa, sih?”
Nabila tertawa kecil, seperti bernostalgia. “Kamu lupa saat kita masih pacaran dulu? Biasanya kamu bikinin aku kopi campur susu, tapi ada cara khusus. Susunya jangan kebanyakan, nanti jadi kemanisan. Aduk pelan, terus kamu suka kasih aku cicip dulu sebelum kamu bikin untuk dirimu, dan satu lagi, saat kau mengaduknya, bersamaan dengan memberikan air panas. Cara itu membuat kopi berasa berbeda, lebih enak.”
Arga menelan ludah. Ia benar-benar tidak tahu detailnya, tapi berusaha mengangguk, menyembunyikan kepanikan. “Oh iya, aku ingat sekarang. Tunggu sebentar, ya. Aku akan buatin untuk kamu.”
Nabila tersenyum lega. “Aku percaya sama kamu. Kamu selalu tahu apa yang aku suka.”
“Iya, maafkan aku Nabila, mungkin karena benturan itu yang membuatku melupakan sebagian ingatanku,” dalih Arga. Ia terpaksa mengatakan hal itu agar kebohongan itu tetap aman. Jadi, Arga harus tahu kebiasaan kakaknya itu.
Arga keluar dari kamar dengan langkah gontai. Sesekali ia berpikir, bagaimana cara membuat kopi sesuai permintaan Nabila?
Di dalam pikiran yang bimbang itu, ia melihat ibunya di dapur.
Arga segera menghampiri ibunya, berbisik lirih dengan nada panik, “Bu, tolong aku, gimana caranya bikin kopi susu yang biasanya Kak Dirga buat? Aku nggak pernah tahu.”
Fenny menahan napas, lalu menjawab pelan, “Tenang, Nak. Ibu tahu resepnya. Dulu sering lihat Dirga bikinin buat Nabila. Biar Ibu ajarin kamu.”
“Bagaimana kalau ibu saja yang buatin untuk Nabila?”
“Eh, sebaiknya jangan! Nabila itu peka. Ia bisa merasakan apa aja hanya dari perasaannya.”
“Tapi, kok bisa, ia merasa kalau aku ini Kak Dirga?”
“Entahlah, yang penting kamu ikuti aja demi kebaikan Nabila.”
Arga mengangguk, berusaha menenangkan diri. Di satu sisi, ia merasa konyol. Sebab, seorang adik yang kini harus mempelajari kebiasaan kakaknya sendiri, demi menutupi kebohongan besar ini. Namun di sisi lain, ia sadar: semakin lama, semakin dalam ia terjebak dalam peran yang bukan miliknya. Pada akhirnya, ia pun membuat kopi sesuai yang dikatakan ibunya, meski tak sama seperti yang dibuat kakaknya, ia berharap, Nabila bisa merasakan kopi yang seperti dibuat Dirga.
Arga menurunkan langkahnya perlahan, kedua tangannya berhati-hati menggenggam cangkir kopi susu hangat yang baru saja ia buat di dapur. Aroma kopi samar-samar bercampur dengan manisnya susu menyeruak ke udara, membuat pikirannya berputar. Ia tahu, setiap tegukan kopi ini menyimpan risiko, bukan sekadar soal rasa, melainkan tentang perannya yang harus dimainkan dengan sempurna.
Saat ia memasuki kamar, pandangannya jatuh pada Nabila yang tengah bersandar di ranjang dengan selimut tipis membungkus tubuhnya. Wajah pucat itu menoleh pelan, bibirnya melengkung samar ketika menyadari kehadiran Arga. Hati Arga mendadak mencelos, ada rasa iba sekaligus perasaan bersalah yang kian menusuk.
“Aku bawakan minuman,” ucap Arga dengan suara lembut, berusaha terdengar alami. Ia mendekat, meletakkan cangkir itu di telapak tangannya sendiri, lalu perlahan membantu menyodorkannya ke bibir Nabila.
Dengan penuh percaya, Nabila menyeruput pelan. Namun, hanya dalam sekali teguk, ekspresinya langsung berubah. Dahi berkerut, bibirnya mencebik. “Kok… rasanya beda?” tanyanya heran, suaranya terdengar polos tapi sekaligus menekan ....