Menikahi Istri Kakakku Keputusan yang Terpaksa
4/22
Bab 4

Keputusan yang Terpaksa

“Baiklah, Kak Dirga. Aku akan mencari tahu siapa orang yang membunuhmu, akan aku balaskan dendamku padanya,” gumamnya lirih.

**

Sementara itu, di ruang perawatan, Nabila bangun dari tidurnya, psikisnya sudah stabil. Efek obat itu tak mampu bertahan selama enam jam, sehingga dokter belum datang.

Saat kesadarannya sudah pulih, ia mencium bau obat dan mendengar suara mesin monitor mengisi telinganya. Selain itu, Nabila merasakan kepalanya berat, tubuhnya lemah, tapi suaranya berhasil keluar dari mulutnya meski lirih, bibirnya pun bergetar. “Mas Dirga ….” Namun, setiap kali ia memanggil nama suaminya, ia tak mendengar ada jawaban. Hanya pandangan gelap yang menemani dirinya yang terbaring.

‘Aku tak bisa mengingat apa-apa,’ batinnya dalam hati.

“Mas Dirga …,” bisiknya lirih dengan tubuh sedikit gemetar. “Di mana kamu?”

Akan tetapi, masih saja tak ada jawaban, yang terdengar hanya bunyi mesin monitor di sampingnya.

Nabila mencoba mengangkat tubuh, tapi terlalu lemah. Ia hanya bisa berbaring, menunggu seseorang yang datang. Ia tak tahu apa yang terjadi sebelumnya, mendapati kedua tangan dan kakinya masih terikat tali.

Pintu ruangan tiba-tiba berderit. Suara langkah kaki mendekat. “Nyonya Nabila, akhirnya kamu sadar juga.”

Nabila langsung mencari ke sumber suara itu dengan tangan yang berusaha memegang apa yang ada di depannya.

“Ke mana semua orang? Ke mana Dirga?”

“Dirga!” Nabila berseru panik, air mata mengalir di pipi. “Mana suamiku? Mana Dirga?!” Ia mengingat mobil yang ditumpangi Dirga masuk jurang, tapi tak tahu apa yang terjadi pada suaminya.

Nabila memaksa perawat itu menjawab, tapi ia tak mau buka suara, masih sibuk memperbaiki posisi infus Nabila yang tadinya sempat terlepas akibat mengamuk tadi.

“Di mana suamiku?” tanya Nabila lagi.

Perawat itu terdiam, matanya bergetar cemas. Ia ingin menjawab pertanyaan Nabila, tapi lidahnya seolah terkunci. Suasana ruang perawatan mendadak terasa kaku.

“Tuan Dirga, sudah ...,” ucap perawat tadi belum selesai. Tepat saat itu, langkah tergesa terdengar dari koridor, melangkah masuk ke ruang perawatan.

Pintu terbuka, muncul Fenny dengan wajah yang berusaha tegar, diikuti Tatik yang segera meraih bahu putrinya.

“Kamu sudah sadar, Nabila,” kata Tatik.

“Jangan khawatir,” ujar Fenny dengan suara pelan, tapi bergetar. “Dirga sudah pulih dari lukanya, dia baik-baik saja.”

Nabila menatap penuh harap, meski matanya sudah buta. Ia ingin memercayai ucapan itu dengan mendengar suaranya, apakah ibu mertuanya berbohong atau tidak.

Sementara itu, Fenny dan Tatik saling bertukar pandang. Tatapan singkat, seolah mengikat perjanjian tak terucap. Mereka sudah sepakat sebelumnya, mereka sudah tahu tentang kebutaan yang dialami Nabila setelah mendengar diagnosis dokter.

‘Apa pun yang terjadi, Nabila tidak boleh tahu kebenaran. Sekarang belum saatnya ia mengetahui kenyataan pahit bahwa Dirga sebenarnya sudah tiada,’ batin Fenny. Kedua keluarga sudah sepakat dengan hal itu demi kebaikan Nabila. Untuk saat itu, pasti hatinya terguncang apabila tahu bahwa suaminya telah tiada. Maka dari itu, pihak keluarga memilih waktu yang tepat di lain hari.

Fenny menepuk lembut tangan Nabila, mencoba menenangkan. “Kamu cukup berdoa saja, Nak. Biarkan kami yang mengurus semuanya. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja dan akan indah pada waktunya.”

Di balik kata-kata itu, tersimpan rahasia besar yang keduanya rela pikul, meski harus menyembunyikan kenyataan dari Nabila.

“Tapi, Bu. Aku sudah tak bisa melihat lagi! Aku buta, bagaimana bisa aku melihat wajah suamiku dan apa dia mau menerimaku dengan keadaanku seperti ini?”

“Jangan khawatir, Nak. Nanti kamu akan sembuh, itu bukan buta permanen,” kata Tatik sambil mengusap dahi putrinya. Meski dia sebenarnya berbohong. Sebab, kata dokter, kebutaan itu akan sulit disembuhkan.

Nabila terdiam sejenak, lalu tangannya meraba-raba udara di sekelilingnya dengan gelisah. Matanya yang kosong basah oleh air mata. “Kenapa … kenapa aku, Bu?” suaranya pecah, penuh rasa tidak terima. “Kenapa aku tidak bisa melihat? Aku ingin lihat dunia, aku ingin lihat wajah suamiku, aku ingin lihat Dirga!”

Tangisnya pecah dan tubuhnya bergetar. Tatik langsung meraih tangan putrinya, memeluk erat sambil mengusap punggungnya dengan lembut. Air mata Tatik ikut jatuh, tapi ia berusaha tetap kuat.

“Sayang, sabar ya, ini ujian dari Tuhan,” bisik Tatik dengan suara parau. “Ibu tahu kamu masih muda, ibu tahu kamu ingin melihat semua yang indah. Tapi percayalah, kesabaranmu ini akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik.”

Nabila menggeleng keras, seolah menolak nasihat itu. “Aku tidak mau begini, Bu, aku ingin melihat wajah Dirga.”

**

Sementara itu, di lorong rumah sakit yang sunyi, Arga melangkah pelan dengan tatapan kosong.

‘Kak … aku nggak punya pilihan lain. Aku akan jaga dia, meski harus membohonginya dengan memakai namamu.’ Namun, di sisi lain, wajah Novita, pacarnya yang setia menunggu selama ini, juga muncul dalam benaknya.

Arga menghentikan langkah, lalu duduk di sisi koridor. Ia bimbang, mengusap wajah dengan kedua tangannya, frustrasi. “Novita, maafkan aku. Aku nggak ada niat mau bohongin kamu, tapi aku juga nggak bisa biarin Nabila selalu bersedih.”

Hatinya semakin berat. Ia tahu, jika Novita tahu kebenaran ini, mungkin ia akan merasa dikhianati. Namun apa daya, kondisi keluarga memaksanya untuk memerankan sosok kakaknya yang sudah tiada.

Arga menunduk, berbisik lirih pada dirinya sendiri. ‘Aku nggak mau kecewain kamu, Novita, tapi ini semua demi keluarga, demi Kak Dirga. Aku harus jaga istrinya, meski dengan cara yang salah, dan dengan cara ini aku bisa tahu, siapa orang yang berani menyabotase keluargaku.’

Dari kejauhan, lampu ruang perawatan Nabila masih menyala.

Ia mengepalkan tangan, menahan gemuruh di dadanya. “Baiklah, pilihanku sudah aku putuskan. Tekadku sudah bulat.”

Di dalam ruang perawatan itu, Fenny duduk di depan ruangan, sementara Tatik masih berdiri di dekat Nabila.

Melihat anak laki-lakinya datang, seketika, mata sang ibu berkaca-kaca.

“Arga, jadi kau sudah mantap dengan keputusan itu?”

“Tak ada jalan lain lagi, Bu. Aku lakukan ini demi semuanya.”

Air mata sang ibu jatuh, tapi kali ini bukan hanya karena sedih, melainkan campuran antara haru dan beban yang terasa lebih ringan, lebih dominan dengan hati yang senang. Ia merasa, meski kehilangan anak pertamanya, jika anak keduanya bahagia, bisa mengobati kesedihan itu.

“Kau anak yang baik, Ga. Ibu tahu ini tidak mudah, tapi Nabila tidak bisa dikendalikan lagi. Kau satu-satunya harapan yang bisa membuatnya benar-benar waras.”

Arga mengangguk pelan, meski hatinya sendiri bergetar hebat.

“Aku akan berusaha membahagiakannya, Bu. Aku tidak ingin dia merasa sendirian. Selama dia butuh Dirga, aku akan ada untuknya.”

Sang ibu tersenyum tipis, meski matanya masih basah. Ia menepuk punggung tangan Arga dengan lembut.

“Semoga Tuhan menguatkanmu, Nak. Semoga Nabila tidak pernah tahu kebohongan ini, sampai saat yang tepat.”

Arga menghela napas panjang, lalu menatap pintu ruang perawatan yang sedikit terbuka. Di balik sana, seorang perempuan yang hancur karena kehilangan sosok yang dicintai masih menunggu, meyakini bahwa Dirga-nya belum pergi. Kini, Arga harus benar-benar memainkan peran itu.

“Nak, Nabila mencarimu lagi. Dia baru bisa tenang kalau kamu ada di sisinya. Masuklah dan hiburlah dia.”

Arga menoleh, wajahnya letih. Ia pun mengangguk, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk menuju ruangan.

Begitu pintu terbuka, Nabila langsung menoleh dengan mata kosongnya, meski tak bisa melihat, ia bisa merasakan keberadaannya. “Dirga, kamu ke mana aja? Tetaplah di sini.”

Arga melangkah pelan, masuk ke ruangan tersebut. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia berusaha tegar. Sesampainya di hadapan Nabila, ia berhenti sejenak, lalu menundukkan kepala dan memberi ciuman kecil di keningnya ....