Second Choice: Matahari Mawar
3/22
Bab 3

Mawar

Bunga Mawar

Syifa membubuhkan tanda tangan di pojok kanan bawah halaman buku, sebagai sentuhan terakhirnya sebelum menutup buku catatannya. Gadis itu memang memiliki kebiasaan untuk menuliskan hal-hal yang ia anggap istimewa dalam buku catatannya tersebut.

Sepenggal percakapan antara dirinya dengan Mika kembali terngiang di kepalanya. Senyumannya, tatapan teduhnya dan dekapan hangat yang kembali Syifa rasakan setelah setahun terakhir hubungannya dengan Mika kandas begitu saja.

Beberapa saat yang lalu....

“Hah, Mika?!”

Syifa langsung menoleh kebelakang dan benar saja, sosok tinggi besar itu sudah berganti posisi menjadi jongkok di belakangnya.

“Ng-ngapain, lo?”

“Gue?” tanya cowok itu sembari menunjuk dirinya sendiri.

“Gue ngikutin lo.”

“M-maksud gue, ngapain lo ngikutin gue sampe sini?”

Cowok itu melepas jaket kulit yang melapisi kaos tipisnya dan memakaikannya pada Syifa. Aroma maskulin yang khas menyerbu masuk ke indra penciuman Syifa. Dan gadis itu merasakan hangatnya tubuh Mika seolah berpindah dan memeluknya secara tidak langsung lewat jaket itu.

“Pake, disini dingin, baju lo juga tipis.”

Syifa merasa ragu, tapi dirinya juga tak bisa menyangkal bahwa udara disana memang terasa lebih dingin dari sebelumnya.

“Tapi lo juga pake kaos, Ka.”

“Ayok, pulang, nanti tante Syakirah nyariin.”

Mika menggandeng tangan Syifa dan langsung menariknya keluar dari pemakaman.

“Kalau mau ke makam ayah siang aja, emang lo nggak takut malem-malem kesini? Ntar kalo tiba-tiba ada po—”

“Apa maksudnya ini?” Syifa melepas tangan yang menyeretnya. Mereka berdua terpaksa harus kembali berbicara ditengah makam yang minim pencahayaan itu.

“Harus banget ya, gue jawab sekarang?” tanya Mika balik.

“Mendingan lo balik duluan, gue bisa sendiri.” Gadis itu berjalan mendahului Mika. “Oh iya, jaket lo besok gue balikin, makasih.”

“Oke, kalo gitu gue besok ke rumah lo.”

....

Keesokan harinya, pukul 09.03....

“Aniin!”

Pekikan keras itu datang dari dapur. Cepat-cepat Syifa keluar dari kamar dan berlari menghampiri ibunya. Bukan tanpa sebab, karena jika satu menit saja dirinya datang terlambat saat ibunya memanggil, sudah pasti sesi khutbah harian yang akan dapatkan.

“Iya, Bu, Kenapa?” sahutnya begitu menginjakkan kaki di dapur.

“Ibu minta tolong siram bunga yang didepan, ya? Ibu sibuk di dapur,” perintah Syakirah yang masih berkutat dengan alat-alat dapur.

“Kamu ini, dikamar terus! Kamar ada emasnya aja enggak, ditungguin terus setiap jam.”

“Siap, laksanakan!” seru Syifa dengan sikap hormat ala militer.

Gadis mulai mengulur selang yang akan digunakannya untuk menyiram bunga. Hanya tinggal memutar kran, dan air akan menyembur dari ujung selang yang lainnya.

Syifa menatap bunga-bunga yang baru saja disiramnya. Mawar-mawar yang sedang mekar itu seketika mengingatkannya pada seseorang. Dulu, orang itu selalu memberinya setangkai mawar merah setiap minggu—tanpa absen. Karena itulah, saking sukanya pada bunga mawar, Syifa memilih menanamnya sendiri di pekarangan depan rumah.

Terlalu asik dengan kegiatannya, membuat Syifa tidak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dari atas motor sport hitam yang terparkir apik di depan rumah gadis itu. Sejak tadi yang dilakukannya hanya diam, memperhatikan tingkah lucu gadis itu yang sama sekali tidak berubah sejak satu tahun terakhir.

“Sekalian bunga di rumah gue juga disiram, Nin.”

Sontak Syifa memutar kepalanya kearah sumber suara. Dan benar saja, seseorang dengan suara yang sangat ia kenal itu berada tidak begitu jauh darinya.

“Mi-mika...?”

Syifa membatu melihat orang itu sudah berada didepan rumahnya. Jeans hitam panjang dipadu dengan T-shirt putih yang dilapisi jaket kulit andalannya. Bahkan parfum cowok itu bisa tercium sampai tempat Syifa berdiri.

“Kok kaget, sih?” Cowok itu terkekeh geli. Bagaimana ekspresi kaget mantannya berhasil membuat sudut bibirnya terangkat.

“’Kan gue udah bilang semalem?”

Putri ibu Syakirah itu hanya diam saja. Kemudian menatap dirinya sendiri yang hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong Spongebob kesukaannya. Kaos itu merupakan salah satu pemberian dari Mika yang masih Ia gunakan sampai sekarang. Jahitan yang sudah robek di bagian ketiak menambah kesan fresh saat dipakai.

“G-gue mandi dulu.”

Mengambil langkah seribu, Syifa buru-buru mematikan kran air, menggulung selangnya kembali dan langsung berlari ke belakang rumah tanpa memperdulikan Mika yang memandangnya aneh disertai tawa yang tertahan.

“Gue nggak disuruh masuk, Nin?” seru Mika. Tapi terlambat, gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.

Selesai dengan urusan mandi, berdandan dan lainnya, Syifa keluar kamar untuk menemui Mika yang sedang mengobrol dengan Ibunya di teras depan. Sengaja Syifa beritahu ibunya supaya Mika tidak seperti orang hilang saat ia tinggal tadi.

“Bu,” panggil Syifa saat dirinya berdiri diambang pintu.

“Oh, udah selesai ya, kalo gitu ibu masuk, ya.” Syakirah tersenyum lembut, lalu masuk kedalam.

“Jaket lo belum kering, baru aja gue cuci,” ucapnya sembari mengambil alih tempat duduk ibunya.

“Buat lo aja, kebetulan gue punya beberapa,” balas Mika seraya menyerongkan tubuhnya, menghadap Syifa.

“Nggak, nanti kalo udah kering gue balikin, pasti.”

Dengan penekanan diakhir kalimatnya, sepertinya Mika tahu kalau keputusan Syifa itu sudah tidak dapat diganggu-gugat lagi, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mengiyakannya.

Kesunyian melingkupi keduanya, sama-sama terdiam dengan isi kepala masing-masing. Terlalu kaku rasanya untuk membangun sebuah obrolan, lagi, setelah kurang lebih satu tahun hilang kontak.

Mika menghembuskan napasnya kasar. Ia tidak tahan hanya diam terus seperti itu. Sepertinya memang harus dirinya yang memulai pembicaraannya.

“Sorry, Nin, mungkin gue dateng terlalu tiba-tiba,” buka cowok itu sembari mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya.

“Gue pengen deket lagi sama lo,” lanjutnya to the point.

‘Deket lagi’. Syifa tidak tahu bagaimana menjabarkan kalimat itu. Bukannya ia tidak mau atau apa, malahan ia sempat gamon beberapa bulan setelah putus kemarin. Namun saat semuanya mulai membaik, kenapa dia tiba-tiba datang dan berbicara seperti itu? Bukankah ‘rumah’ itu sudah berpenghuni?

“Gue nggak ngerti lo ngomong apa, tapi yang jelas, cewek lo kemaren abis nemuin gue,” ucap Syifa. Beberapa saat kemudian ia tidak sadar ucapannya membuat cowok itu sedikit terkejut.

“Jasmine?”

Tawa kecil meluncur dari bibir Syifa, menanggapi keterkejutan Mika. “Emang cewek lo ada berapa? Pake nanya lagi lo, merica bubuk!”

“Y-ya ... gue kan cuma mastiin, emang lo ketemu dia dimana?”

“Toko buku,” jawab Syifa cepat. Sedetik kemudian, pertanyaan itu muncul dibenaknya, “Lo sering ceritain gue, ke cewek lo?”

Cowok itu mengangguk lemah. Hal ini tentu saja memancing rasa ingin tahu Syifa.

“Kenapa?” tanyanya lagi.

“Karena—”¬¬

Ayaya~ I’m your little butterfly~

Green, black and blue, make the colours in the sky~

Belum selesai Mika dengan kata-katanya, ponsel Syifa berdering keras menggetarkan meja diantara dirinya dan Mika. Nada dering itu, ia setting khusus untuk Zoya, sahabatnya. Jika sudah menelpon seperti ini, pasti ada hal-hal mendesak yang perlu dibicarakan saat itu juga.

“Bentar, Ka, gue angkat telpon dulu.”¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬

Selagi Syifa mengangkat telepon dari Zoya, Mika merogoh ponsel di saku celananya. Setelah beberapa saat melihat notifikasi di ponselnya, ia mengetikan sesuatu untuk orang tersebut dan dengan cepat mengirimkannya. Tidak ada yang tau pesan apa yang ditulisnya, tetapi jika melihat raut wajahnya, dapat dipastikan itu bukan sesuatu yang baik.

Fokusnya kembali pada Syifa yang sedang mengangkat telepon di ambang pintu. Mika tidak tahu dari siapa telepon yang Syifaa jawab, satu yang dia tahu, orang itu pasti sangat dekat dengan Syifa.

“Siapa, Nin?” tanya Mika penasaran, setelah menunggu Syifa berbincang dengan seseorang di telefon.

“Zoya, minta gue temenin nanti malem.”

“Besok ‘kan hari Senin, mau ngapain keluar malem-malem?” sergah Mika bertanya-tanya, mengernyitkan dahinya.

Syifa diam sejenak, menatap Mika dengan tatapan kosong dan berkata, “Emang apa urusannya sama lo?”

Dug!

Mika terdiam. Tak bisa menjawab pertanyaan yang gadis itu lontarkan padanya. Dengan gugup ia meraba sesuatu yang sejak tadi berada di samping tubuhnya. Berharap dengan sesuatu itu, pembicaraan akan teralihkan.

“Ee... lo masih suka mawar? Ini gue ada bawain.”

Syifa menatap setangkai mawar merah yang disodorkan Mika kepadanya. Dulu, setiap kali diberi bunga mawar, ia akan meloncat kegirangan seperti anak kecil, memuji si pemberi bunga dengan amat sangat. Dan respon seperti itulah yang sedang Mika tunggu saat ini.

“Makasih,” ucap Syifa singkat. Ia mengambil mawar itu untuk menghargainya yang mungkin dengan susah payah mendapatkan bunga itu. Tidak ada yang tahu.

Mika tersenyum kaku melihat respon berbeda pada gadis itu. Respon yang terkesan datar, hanya sekadar menerima dan berterimakasih, sebagai formalitas penutupnya.

Mika tidak suka itu. Mika tidak suka jika usahanya hanya di hadiahi ucapan 'terimakasih' bahkan dengan nada rendah nyaris tak terdengar.

“Makasih doang, nih?” tagihnya.

Syifa mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Menatap kumpulan awan tipis yang berjalan tersapu angin.

“Emang lo maunya apa?”

“Em... makan seblak?” tawar Mika dengan sengaja menyebutkan makanan kesukaan gadis berambut coklat itu.

“Serius?!” pekik Syifa tertahan. Matanya berbinar membayangkan seblak seafood super pedas kesukaannya. Dan tanpa berpikir lebih lama, Ia langsung mengangguk setuju.

”Hol up, gue ganti baju dulu, oke? Wait, wait, wait,” ucap Syifa seraya berlalu masuk ke dalam kamarnya.

Mika tersenyum senang karena ternyata masih ada hal yang tidak berubah dari sosok Syifa.