Second Choice: Matahari Toko Buku
2/22
Bab 2

Toko Buku

Toko Buku

“Fa? Lo kenapa dah, dari tadi bengong mulu. Nggak nyambung lagi kalo gue ajak ngobrol, ada masalah?” Zoya menyenggol lengan cewek berkaos putih yang nampak tidak fokus sejak tadi. Saat ini mereka berdua sudah berada di pelataran toko buku untuk mencari novel incaran.

“Eh-hah? Gimana?” sahut Syifa linglung.

“Tuh kan, lo nggak dengerin gue.” Zoya menekuk wajahnya kesal.

“Lo lagi mikirin apa sih?”

Syifa menatap lekat sahabatnya. Berperang dengan hatinya yang ingin segera menceritakan unek-unek yang cukup menguras pikiran, tetapi dia ragu untuk mengatakannya.

“Cari tempat duduk dulu deh,” putusnya.

Gadis itu menarik Zoya untuk duduk di bangku yang terletak di area parkiran tersebut. Syifa mengedarkan matanya, memastikan tidak ada satu orang pun yang ada didekat mereka. Zoya yang penasaran buru-buru mendekatkan telinganya, karena sepertinya sahabatnya itu akan membisikkan sesuatu penting.

“Lo masih inget sama Mikaeel?” lanjut Syifa dengan pertanyaan. Dan pertanyaan singkat itu sukses membuat Zoya mengerutkan dahinya, bingung.

“Iya, inget. Kenapa?”

“Dia nge-chat gue... lagi,” bisik Syifa. Tapi, sepelan apapun Syifa berbisik, tentu Zoya masih bisa mendengarnya dengan baik, karena gadis itu memposisikan telinganya tepat 5 cm didepan mulut Syifa.

“WHAT?!” pekik Zoya terkejut. Beberapa pengunjung yang sedang memarkirkan kendaraannya sampai menoleh heran ke arah mereka.

“Shhuuttt!”

Syifa langsung membungkam mulut Zoya. Ia kesal sekali karena sahabatnya ini selalu berteriak-teriak padahal jarak mereka sangat dekat.

“Jangan teriak, Monyet! Gue udah bisik-bisik biar nggak ada orang denger, lo-nya malah teriak kenceng gitu,” sungut Syifa kesal.

“Y-ya, tapi....” Sepertinya gadis itu mengalami syok karena ucapan Syifa. Maksudnya, bagaimana bisa?

“Gue tau lo kaget, gue juga sama, Joy. Tapi buat sementara jangan bilang siapa-siapa dulu, lo orang pertama yang gue kasih tau masalah ini,” pinta Syifa tanpa ingin ada penolakan.

Masih dengan wajah kagetnya, Zoya mengangguk pasrah, “Oke, deh. Tapi, kalo ada apa-apa langsung cerita sama gue, ya?”

Syifa mengangguk, mengiyakan. “Ya udah, ayok masuk, kita jelajahi toko buku ini, let's go!”

Butuh waktu berjam-jam bagi dua gadis SMA itu untuk melihat-lihat dan memutari setiap sudut toko buku. Niat awal mereka hanya ingin membeli novel penulis yang terkenal yang launching baru-baru ini.

“Liat-liat dulu yuk, Fac” ajak Zoya setelah keduanya menemukan deretan novel incarannya.

Berjalan-jalan di sepanjang rak buku, menyentuh satu-dua buku, membuka-buka buku yang tidak dibungkus plastik, serta menatap pengunjung lain yang sibuk, sedikit-banyak membantu Syifa melupakan sejenak perasaan aneh yang sempat hinggap beberapa jam yang lalu.

“Syifa, ya?” Suara perempuan yang tidak gadis itu kenali menyapanya.

“Kenalin, gue Jasmine.”

Syifa mengernyitkan dahinya. Nama itu, sepertinya Syifa pernah mendengarnya. Tapi, dimana?

Melihat kerutan dalam di dahi orang yang disapanya, gadis yang mengaku bernama Jasmine itu mengulas senyum mengejek.

“Mika sering ceritain lo ke gue. Ternyata lo emang cantik, tapi masih cantikan gue, sih,” lanjutnya dengan tingkat kepercayaan diri yang mentok.

Syifa malas sekali meladeni cewek yang menurutnya penampilannya seperti tante-tante itu.

“Bedak tebel, make up menor, alis kayak ulat bulu, apa lagi tuh? Muka sama leher kayak siang malem gitu,” batin Syifa yang sedari tadi menahan tawanya agar tidak merembes dari bibirnya. Ternyata selera Mika menurun drastis, pikirnya.

“Ada perlu apa?” tanyanya acuh sembari tetap melanjutkan kegiatannya melihat-lihat jejeran novel di rak.

“Cih, sok dingin, lo,” cibir Jasmine karena respon yang Syifa berikan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Syifa memutar bola matanya jengah. “Terus? Gue harus muji-muji lo, gitu? Minimal bedak lo diratain dulu kalo pengen dipuji gue.”

“Sialan, lo! Jangan macem-macem, ya, sama gue. Mika nggak pernah biarin gue direndahin siapa pun!” semprot gadis itu geram. Sebelumnya ia tidak pernah berpikir jika mantan pacar kekasihnya akan seberani ini mempermalukannya.

“Hadeh... gue diem aja lo merasa tersaingi, gimana kalo gue gerak mbak? Mabok jungkir balik, lo?” ledek Syifa yang terlanjur kesal. Padahal dirinya tidak melakukan apapun sejauh ini. Malahan Mika yang menghubungi lebih dulu tadi.

“Asal lo tau, ya, gue nggak akan deketin mantan gue lagi. Dapet bekas gue aja bangga, lo!”

Jasmine mencebik, kesal karena dirinya kalah telak dari lawan bicaranya. Tidak mau dipermalukan lebih lama lagi, gadis itu pergi dengan menghentakkan kaki-kaki jenjangnya.

“Widiihh... keren lo, Fa.” Zoya terkekeh dari balik rak buku. Untung saja dia tidak ketinggalan menyaksikan perdebatan tidak berfaedah sore ini di toko buku.

Setelah puas berjam-jam memandangi jejeran rak buku yang menurut sebagian orang sangat membosankan, dua remaja itu memutuskan untuk keluar dari sana dengan membawa satu novel yang dibelinya. Ya, anggap saja itu sebagai tiket karena mereka berdua sudah menggunakan tokonya untuk me-refresh otak mereka yang penuh dengan soal-soal latihan untuk ujian akhir.

“Nggak mampir dulu, Fa?” tawar Zoya saat keduanya sampai di kost-an.

Syifa menilik arloji dipergelangan tangannya, lalu menggeleng kecil. “Nggak deh, Joy. Gue mau ke suatu tempat dulu sebelum pulang.”

“Ya udah, hati-hati ya, Fa. Cepet balik kalo udah.”

Remaja itu mengacungkan jempolnya sebelum kemudian ia melajukan motornya keluar dari pelataran kost. Masih pukul setengah delapan malam. Masih belum terlalu malam untuknya pergi ke ‘sana’.

Butuh waktu beberapa puluh menit, sebelum motor matic Syifa memasuki gerbang dari batu bata yang dicat putih yang memudar, dengan tulisan yang cuku besa sehingga orang yang rabun jauh pun dapat membacanya dengan jelas dengan cahaya lampu yang mulai redup.

Tempat pemakaman umum.

“Assalamualaikum, ya ahli kubur,” lirih Syifa begitu masuk ke tempat minim pencahayaan tersebut.

Menyusuri sepanjang jejeran batu nisan, remaja itu berhenti didepan salah satu makam yang menuliskan nama ayahnya di batu nisan putih itu. Ia tidak takut sama sekali datang ke pemakaman malam-malam. Tenang, itu yang Syifa rasakan saat ini.

“Bapak, apa kabar?” sapanya seolah ayahnya dapat mendengar sapaannya.

“Kangen, deh. Bapak kapan pulang? Anin nungguin tau.”

Gadis itu menabur bunga yang sejak awal sudah ia siapkan. Menuang air diatasnya, mengusap batu nisannya, dan yang terakhir mengusap air mata yang ia biarkan turun dari mata indahnya.

“Udah dua tahun, Pak. Masa makin betah di sini, mangnya bapak nggak kangen sama Anin?” Kekehan ringan menyertai air mata yang luruh lamat-lamat.

“Semenjak bapak pergi dua tahun lalu, semua senyum Anin ini bohong, Pak. Anin nggak pernah bener-bener bahagia. Semuanya...,”

Isakan kecil itu mulai muncul. “... jahat.”

Syifa merebahkan kepalanya disamping gundukan tanah yang mengeras itu. Air mata ia tahan mati-matian supaya tidak menetes ke tanah.

“Sekali aja, bapak nggak mau ketemuin Anin, gitu? Nggak apa-apa deh, kalo bapak muncul bentuk pocong, yang penting nggak bawa pasukan aja, hehe.”

Remaja itu sedikit terkekeh karena jokes garing nya yang bahkan sama sekali tidak lucu. Mungkin jika ayahnya mendengar pun tidak akan bisa tertawa karena candaannya itu.

“Rasanya Anin pengen lama-lama disini, deh. Tidur sama bapak semalaman.” Syifa memejamkan matanya, nyaman.

Rangkain kata yang hampir semuanya adalah aduan gadis itu mengalir begitu saja. Menceritakan hidupnya yang hampa setelah ayahnya pergi, menceritakan hidup barunya bersama 'keluarga baru', menceritakan kehidupannya di sekolah--tentang guru-gurunya, tentang mata pelajaran yang tidak disukainya, tentang sahabat baiknya--dan yang terakhir, gadis itu menceritakan seseorang yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.

“Udah malem, langitnya mendung, harus cepat pulang,” sebuah suara terdengar dari arah belakangnya.

Spontan Syifa langsung membuka matanya. Tapi gadis itu belum bergerak sama sekali.

“Bapak dateng beneran?”

Terdengar seseorang terkekeh di belakangnya, “Iya,” sahutnya.

“T-tapi, bapak nggak bawa pasukan, kan?” Gadis itu mencoba bangun dan duduk.

“Tapi kok, suaranya bukan bapak, ya? Apa jangan-jangan bapak ganti suara?”

“Ngaco deh, lo. Ini gue, Mika.”

“Oh, Mika,” sahutnya datar.

Tapi sesaat kemudian...

“HAH, MIKA?!”

Syifa langsung menoleh kebelakang dan benar saja, sosok tinggi besar itu sudah berganti posisi menjadi berjongkok di belakangnya.

“Ng-ngapain lo disini?” tanya Syifa gugup sekaligus terkejut.

“Gue?” tanya cowok itu sembari menunjuk dirinya sendiri.

“Gue ngikutin, lo.”