Ulang Tahun
Ulang tahun bagi kebanyakan orang merupakan hari spesial karena hanya terjadi satu kali setahun. Pada momen itulah mereka bisa merayakan hari kelahirannya.
Tapi bagi gadis penyuka segala hal berwarna putih itu, ulang tahun merupakan kesempatan yang diberi Tuhan untuk menangis sendirian, meringkuk di pojok kamar sembari berharap ada manusia yang mengetuk pintu kamarnya dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
Berharap ada keajaiban yang membuat ayahnya terbangun dari tidur panjang, memeluknya, mengelus lembut rambutnya dan mengucapkan 'selamat ulang tahun, Putriku' —padanya. Apakah harapannya terlalu muluk? Apakah harapannya itu terlalu besar sehingga tidak mungkin untuk Tuhan mewujudkannya?
Gadis itu meniup lilinnya setelah memanjatkan doa penuh harapan pada yang Yang Maha Kuasa. Menutup rapat jendela, lalu pergi ke ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum kembali beraktifitas besok.
Salah satu hal yang jarang sekali dilakukan Mika adalah masuk kelas. Baginya, duduk di kursi sempit dan mendengarkan guru bicara sangatlah membuang waktu. Terlebih, ia tidak mengerti apa pun yang diterangkan didepan. Tapi, pagi ini berbeda karena ia sudah ada di sekolah dengan wajah kusutnya, menenteng ransel yang hanya berisi satu buku tulis dan pena dengan tinta beku.
Karena bukan kebiasaan Mika untuk bangun pagi, rasa kantuk mengiringi langkahnya menuju kelas. Ia menguap, setengah terpejam, menggaruk tengkuk yang tak gatal. Hingga tanpa disadari perutnya menghantam sesuatu didepannya, atau lebih tepatnya ia menabrak seseorang, diiringi suara benda jatuh menyusul pekikan seseorang.
“Astaga!”
Perempuan itu membelalak menatap lembaran kertas yang berceceran di lantai, kemudian beralih mendongak menatap Mika tajam.
“Punya mata nggak, sih?! Liat, kertas yang gue jatuh semua!”
Mika mendengus jengah dan mengibaskan kertas yang berserakan diatas sepatunya.
“Minggir,” ujar Mika acuh.
Ia sudah akan berlalu, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti lantaran sepasang tangan yang menarik ranselnya. Ia berbalik dengan setengah mengantuk dan marah.
“Apa, sih!? Gitu aja rewel!”
Layli yang menjabat sebagai sekertaris OSIS di sekolah itu berkacak pinggang.
“Malah ngatain lagi, minimal minta maaf kalo salah!” seru Layli geram.
“’Salah’? Lo yang jalan nggak bener, pake nyalahin orang,” balas Mika tak peduli.
“Lo yang nabrak gue ya, enak aja! Nggak mau tau, pokoknya beresin kertas yang jatuh gara-gara lo, sekarang!” perintah Layli tegas.
“Ogah!” Mika mengibaskan tangannya, melepaskan tarikan Layli dari tasnya seraya melangkah pergi, tidak menghiraukan Layli yang masih terus mengomel dibelakangnya.
Suasana kelas ramai ricuh karena memang bel jam pertama belum berbunyi. Masih tersisa beberapa menit lagi sebelum mereka mulai bergelut dengan angka-angka mematikan di mata pelajaran Matematika.
“Widih... Mika masuk pagi, guys!” seru Kavi heboh mendapati seorang Mika masuk di jam pertama.
“Palingan abis dimarahin neneknya, makannya berangkat sekolah.” Aidan ikut menimpali.
“Bacot, lo.” Mika memaki dua temannya itu sembari melempar ranselnya ke atas tempat duduknya. Pagi ini mood-nya benar-benar buruk karena rangkaian kejadian yang membuatnya emosi.
Kavi dan Aidan kompak menghampiri Mika di mejanya. “Tumben nggak bareng sama nenek lampir. Biasanya pagi-pagi udah ngebucin,” sindir Kavi sembari menggigiti kuaci ditangannya.
“Nggak mau sama gue, mau dianter kakaknya,” jawab Mika asal. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa alasan pacarnya itu tidak mau pergi ke sekolah bersama pagi ini.
Aidan membenarkan kacamata bundarnya, “lo udah pernah ketemu kakaknya Jasmine?”
“Ya enggak lah, gila aja! Gue mau main ke rumahnya aja nggak boleh,” jawab Mika sembari menoyor kepala temannya itu.
Tidak berselang lama, sebuah suara nyaring menusuk telinga ketiga remaja tanggung yang sedang duduk santai di meja kelas Mika.
“Mikaaa!”
Kavi dan Aidan langsung berbalik dan pergi ke tempat duduk mereka masing-masing setelah melihat Jasmine datang tepat saat bel berbunyi. Mereka malas menyimak celotehan cewek itu yang sedikit tidak beres. Itulah kenapa mereka memanggilnya dengan sebutan nenek lampir.
“Pagi, sayang. Berangkat sama siapa?” sapa Mika lembut sembari mengelus puncak kepala Jasmine.
“Aku tadi berangkat dianter Kak Kavin.” Jasmine menggelendot manja di lengan Mika. Sementara 2 teman Mika hanya bisa merinding menahan geli melihat kelakuannya.
“Lah, namanya mirip lo, Kav! Hahaha.” Aidan tertawa lepas saat telinganya yang sangat bisa diandalkan itu mendengar percakapan keduanya.
“Lah, iya, masa gue harus ganti nama gitu? Ya kali nama gue samaan kek nama abangnya nenek lampir! Ogah gue!” seru Kavi menimpali.
“Hahahaha,” kembali mereka berdua tertawa keras tanpa memperdulikan tatapan mengancam yang Mika layangkan pada mereka.
Jasmine menyentuh sisi wajah Mika agar emosi cowok itu tidak meledak.
“Biarin aja, sayang, mereka cuma bercanda, kok.”
Mika balas menatap Jasmine dengan rasa tak enak. Mulut kedua sahabatnya ini memang sangat sopan sekali. Ingin rasanya meninju mereka sesekali.
“Maaf ya, sayang. Kamu balik ke kelas, gih, nanti kelas kamu keburu mulai,” ucap Mika lembut. Jasmine mengangguk, lalu beranjak pergi untuk kembali ke kelasnya.
Mika tersenyum dan melambaikan tangannya melepas perginya Jasmine. Lalu menatap kedua sahabatnya yang memandangnya jenaka.
“Setan lu pada! Nggak gue contekin, tau rasa, lo!”
Sudah dua jam lebih cowok itu berkutat dengan alat lukisnya. Menggoreskan kuasnya dengan sangat hati-hati, seolah melakukan kesalahan adalah dosa baginya. Ia mencampurkan warna-warna yang sesuai agar menghasilkan warna yang diinginkannya. Dengan acuan palaroid yang terjepit di pojok kanan atas kanvas, Ia yakin lukisannya akan sempurna untuk Ia hadiahkan kepada seseorang.
Pintu di ketuk. Mika menghentikan aktifitasnya dan segera berdiri untuk membukakan pintu. Seorang wanita tua yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa sepiring nasi dan lauk pauk.
“Kamu belum makan, kan?” Wanita tua itu menyodorkan piring yang dibawanya.
Mika tersenyum kecil dan menerima makanan yang tampak menggugah selera itu. “Makasih, Nek. Mika makan dulu, ya? Nenek balik ke kamar aja, nanti piringnya Mika cuci sendiri,” tuturnya lembut.
Wanita tua itu menghembuskan napas berat, sesaat setelah Mika menutup pintu kamarnya. Selalu seperti itu, semenjak papa dan mamanya bercerai, Mika tertutup dan tak tersentuh siapapun.
Sementara di dalam kamar, Mika meletakkan piring berisi makanan di meja belajar, tak memakannya. Menghampiri kanvas, dan lanjut menyelesaikan lukisannya.
Ia menatap kagum lukisan itu. Pose yang sempurna. Rencananya, Ia akan berikan lukisannya kepada seseorang nanti malam, sebagai hadiah tentunya.
Melihat jam yang semakin cepat berputar, Mika buru-buru membereskan alat lukisnya. Dan ternyata, pendiriannya tak cukup kuat untuk menahan agar tidak melirik makanan dimeja belajarnya itu. Perutnya yang ribut sejak tadi seolah mendukung keputusannya untuk segera menyuapkan makanan kedalam mulut. Setelah sedikit pertimbangan, akhirnya ia mengambilnya dan menyantapnya, sembari memandangi lukisan agungnya.
Sembari mengunyah makanan dimulutnya, ia mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang di ponselnya.
Mika:
“Nanti temuin gue di taman, Nin. Gue ada perlu sebentar.”
Tak perlu menunggu lama, sebuah balasan masuk. Dan cowok itu langsung tersenyum setelah membacanya.
Syifa:
“Oke.”