Second Choice: Matahari Senin Sial
4/22
Bab 4

Senin Sial

Senin Sial

Syifa menelisik isi lemari pakaiannya. Beberapa baju berwarna putih menyita perhatiannya untuk dikenakan malam ini.

Malam ini ia diminta menemani Zoya bertemu pacarnya di Kafe. Entahlah mereka pacaran atau tidak, yang jelas mereka punya hubungan dekat. Walaupun sedikit aneh memang, mereka memilih untuk bertemu di malam Senin bukan Malam minggu. Tapi dia memilih untuk tidak memikirkannya karena itu memang bukan urusannya.

“Bu, Anin mau pergi sama Zoya, ya,” pamitnya saat melewati ruang keluarga. Disana ada ibu dan ayah tirinya sedang menonton televisi.

“Mau kemana?” tanya Syakirah.

“Mau makan di kafe.” Gadis itu beranjak menyalimi ibunya yang nampak belum puas mendengar jawabannya.

“Jam 9 udah harus ada di rumah, lewat dari itu, tidur diluar,” sergah ibunya tegas.

Syifa berdeham malas. Ibunya memang sangat ketat jika sudah menyangkut jam malam. Kalau ia tidak cepat-cepat berlalu, maka ceramah yang akan didapatinya tidak akan habis didengar untuk satu jam kedepan.

Menghabiskan lima menitnya, suara klakson mobil menggema di pekarangan rumahnya. Ya, Zoya datang bersama cowok yang selalu dia puja-puja itu menggunakan mobilnya. Biarlah menjadi obat nyamuk, setidaknya, jalan-jalan malam ini ia terlihat seperti orang kaya.

“Halo, Joy. Hai, Bri.” Syifa menyapa dua orang yang menjemputnya.

“Hai juga, ayo masuk,” sambut Brian ramah.

“Dibelakang nggak apa-apa ya, Pa? Hehe,” tambah Zoya begitu dirinya masuk dalam mobil.

“Santai Joy, gue udah terlatih sabagai obat nyamuk, santai.”

...

“Kafe D'yorel”

Tulisan berjalan diatas pintu masuk itu menyambut kedatangan setiap tamu yang berkunjung. Tempat itu tidak terlalu ramai, mungkin karena malam ini memang bukan weekend yang seharusnya digunakan untuk bersantai ditengah banyaknya tugas-tugas akhir yang menumpuk, terutama untuk yang masih SMA sepertinya.

Begitu masuk ke dalam, mereka langsung disambut alunan lagu dari band pengisi di area panggung. Lampu kerlap-kerlip di sepanjang dinding menambah kesan mewah pada bangunan yang sebenarnya tidak terlalu besar itu.

Dinding kafe seluruhnya diganti menjadi kaca tebal. Dari tempat duduk masing-masing, pengunjung bisa melihat dengan leluasa pemandangan jalan besar yang ramai tepat di depannya. Jalan itu dibelah pembatas setinggi satu jengkal, dengan lampu-lampu putih bundar di setiap beberapa meter. Di sela-sela pembatas itu, ada pot semen berisi rumpun bunga—meski tampak kurang rimbun. Lampu putih bundar itulah yang mencuri perhatian, berpadu dengan ratusan siluet cahaya dari lampu-lampu mobil yang melintas.

“Mbak!” Brian memanggil pelayan kafe sembari mengangkat tangannya. Memilihkan menu yang sebelumnya sudah dirundingkan, lalu memesannya.

“Kalian udah lama pacaran?” Suara bening memecah obrolan. Terhitung sudah ada lima menit berlalu setelah pelayan pergi. Dan mereka masih belum mau buka suara.

Zoya dan Brian saling berpandangan. Entah kode apa yang mereka bagikan, yang jelas Syifa menangkap senyum tipis di wajah mereka.

“Yee... ditanya bukannya jawab, malah tatap-tatapan,” gerutu gadis itu, sebal.

Zoya mencolek bahu Syifa. “Pengen tau aja, apa pengen tau banget?” godanya.

Syifa memutar bola matanya malas. “Bodoamat, gue nggak mau tau!”

“Sebagai cewek, nggak boleh gampang baper gitu, Fa. Nanti keenakan cowok yang deketin lo, less effort dong,” timpal Brian ikut mengompori.

“Dih, siapa yang baperan? Kalian berdua aja yang nyebelin.” cewek itu meraih benda pipih yang bergetar dalam tas kecilnya.

“Lagian lo mau aja diajakin Zoya,” kekeh Brian. Cowok itu sedikit terhibur dengan tingkah teman dadakannya satu itu.

“’Kan gue udah bilang, ini semua demi, G-R-A-T-I-S-A-N!” ucap Syifa dengan penekanan yang amat sangat itu.

Zoya ikut menimpali, “Syifa akan melakukan apapun demi sebuah gratisan, Yang.”

“Yang yong yang yong! Gausah ayang-ayangan disini, pamali bermesraan dihadapan jomblo!” Seisi ruangan refleks menoleh, sementara pasangan yang jadi sasaran cuma bisa nyengir malu.

“Permisi, ini pesanannya.” Candaan mereka terhenti sejenak karena kedatangan pelayan yang membawa makanan pesanan mereka.

“Terimakasih ya, Mba,” ucap Syifa yang sudah tak sabar mencicipi makanan dihadapannya.

“Bismillahirrahmanirrahim, aamiin.”

Tanpa basa-basi lagi, gadis berpakaian serba putih itu mencomot steak pesanannya. Cewek itu tidak mengenal sikap anggun jika sudah berhadapan dengan makanan, ia langsung saja memotong besar-besar steak-nya dan memasukkannya kedalam mulut.

Sambil mengunyah suapan pertama, Syifa memandang bingung kedua temannya yang mentraktir tapi belum juga menyentuh makanan mereka.

“Kenapa? Makanan kalian nggak enak? Mau gue bantu habisin?” tanyanya polos.

Mereka menggeleng cepat. Mungkin, yang ada di pikiran mereka sekarang hanyalah satu hal: jangan pernah ajak Syifa makan bareng lagi. Belum lagi Syifa yang meminta tambahan pesanan, saat makan yang porsinya menurutnya sangat sedikit itu tidak membuatnya kenyang.

Brian hanya bisa diam sambil menggaruk kepala yang tak gatal, memikirkan berapa banyak tagihan yang harus dia bayar untuk makanan yang dipesan teman pacarnya itu.

“Habis ini mau kemana, Yang?” Zoya memilih tidak mempedulikan Syifa yang kini sibuk makan dengan lahapnya seperti belum makan 3 hari itu.

“Masih belum terlalu malem, mau ke mall?” tawar Brian setelah menilik arloji hitamnya.

“Wahh, mau ke mall juga, Bri?” serobot Syifa senang begitu mendengar ucapan Brian.

Brian menghembuskan napasnya. Sial, dia lupa jika sedang membawa dua orang malam ini. Dan tidak mungkin bukan jika dirinya tidak membiarkan gadis itu ikut? Sedangkan posisi mereka sudah dekat dengan pusat kota sekarang.

“Iya, tapi lo jangan beli aneh-aneh, gue bayarin. Maksimal budget satu juta buat lo. Kalo buat ayang gue, mah, bebas.”

“Siap!” seru Syifa bersemangat.


Cahaya matahari pagi menerobos lewat ventilasi udara, membuat gadis itu menyipit karena silau. Matanya perlahan menyesuaikan terang dalam ruangan serba biru itu, sebelum akhirnya melirik jam weker di meja samping ranjang.

Waktu menunjukan tepat pukul 06.30, matanya spontan melebar karena sadar bahwa dirinya bangun terlambat dihari yang penuh aturan. Ya, hari Senin.

“Mampus, telat gue telat.”

Syifa bergegas menyambar handuk yang menjuntai di jemuran kecil dalam kamar dan seragam putih abu-abunya dalam lemari.

“Ibuu! Kok Anin nggak dibangunin, sih?!”

Cewek itu merengut kesal sambil melangkah melewati dapur. Ibunya tampak sibuk memasak di sana, sementara ayah tirinya duduk di meja makan, menyeruput kopi hitamnya dengan santai.

“Kupingmu aja itu yang kesumbat kotoran! Ibu udah bolak-balik bangunin kamu, bukannya bangun malah lanjut tidur!” balas Syakirah ikut kesal.

Syifa dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan kran air supaya tidak lagi mendengar omelan ibunya yang bersautan dengan gerutunya.

Tidak sampai lima belas menit, cewek itu sudah selesai dengan ritual paginya dalam kamar mandi. Gadis kesiangan itu sibuk memakai hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.

Lima menit berlalu, dan kini sudah pukul tujuh kurang sepuluh menit. Syifa bergegas menyambar tas gendong yang sudah disiapkannya sejak semalam, berpamitan pada ibunya, lalu mengeluarkan motor dan segera bergabung dengan banyaknya pengendara di jalanan.

Sepanjang perjalanan, Syifa membacakan ayat kursi dan doa-doa lainnya agar ia tidak dihukum—seperti, semoga hari ini hujan mendadak turun dan upacara dibatalkan, semoga dilanda banjir sehingga ia tidak perlu repot-repot membersihkan kamar mandi sekolah sebagai konsekuensi karena dirinya terlambat.

Syifa menghembuskan nafasnya kasar saat motornya berhenti didepan gerbang sekolah yang sudah tertutup.

“Pak, bukain gerbangnya, dong! Saya buru-buru, nih.”

Satpam dengan cambang lebat dan perut buncit itu mendekat dengan tongkat kecil yang terselip diantara jari tangannya. Perlahan, tangan berototnya membuka rantai besi yang mengunci gerbang besar itu.

“Siniin kontak motornya, nanti ambilnya di kantor.”

Belum sempat cewek itu merespon dengan baik ucapan satpam yang kerap disapa pak Surya itu, kontak berbandul kepala babi itu sudah dirampas paksa oleh penjaga keamanan SMA Merah Putih.

“Motornya didorong sampe parkiran ya, geulis. Jangan lupa diparkirkan yang rapi.”

Dengan berat hati, Syifa mendorong motornya sampai ke parkiran, peluh membasahi tubuhnya. Umpatan dan kutukan mengantre di kepalanya, bahkan nyaris meluncur dari ujung bibir. Untung saja, semua itu masih bisa ia tahan.

Syifa berjalan gontai menuju kelas setelah menyelesaikan hukumannya di kamar mandi. Ya, cewek itu lagi-lagi harus membersihkan kamar mandi yang baunya melebihi kandang kambing—sebagai hukuman karena berdiri di barisan paling belakang saat upacara. Ini sudah kali ketiga ia terlambat upacara di hari Senin.

Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Masih ada sepuluh menit sebelum pelajaran pertama usai. Syifa pun memutuskan memutar arah menuju kantin untuk membeli minuman dingin.

“Bi, air mineral satu, ya.” Syifa berdiri di depan warung makanan dan minuman, menunggu penjual mengambilkan pesanannya.

“Empat ribu ya, Neng,” ucap Bi Tinah, yang menjaga warungnya.

Syifa menyerahkan lembar lima ribuan setelah menerima minumnya, lalu melenggang pergi setelah menerima kembalian.

Ia bergegas menuju kelasnya karena menurut perkiraannya jam pertama sudah usai. Sambil berlari kecil, ia menyusuri koridor yang sepi—semua siswa sedang belajar di dalam kelas. Tapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang terasa familiar... seseorang baru saja masuk ke kelasnya.

“Widihh, ada cogan masuk kelas gue. Ngapain ya dia?” batin Syifa penasaran.

Dengan langkah kecilnya Syifa bergegas menuju kelas yang hanya berjarak beberapa meter saja untuk mencari tau. Dan kebetulan, itu juga kelasnya.

Pintu kelas ia dorong tanpa banyak pikir. Suara bantingannya cukup keras untuk membuat seluruh isi kelas menoleh serempak. Tapi Syifa tak menggubris. Ia bisa merasakan tatapan yang menghujani punggungnya.

Matanya sempat menangkap sosok cowok berseragam putih abu-abu yang jaket kulit hitamnya mencolok di antara barisan. Tapi Syifa memilih berpaling cepat, pura-pura tak melihat, pura-pura tak terusik. Dengan langkah mantap, ia berjalan menuju bangku di samping Zoya. Cewek itu menatapnya dengan dahi mengernyit, tapi Syifa hanya menjatuhkan diri ke kursi tanpa sepatah kata pun.

Ada sesuatu yang berubah pagi ini. Ia tahu itu. Dan mungkin... semua orang juga tahu.

“Kenapa, Joy? Gue cantik, ya?” ucapnya pede dengan senyum mengembang. Tidak sadar bahwa ada sepasang mata tajam yang menatapnya penuh emosi.

“Syifa!”

“Saya, Bu!” Syifa langsung menyahut dan terkejut karena bu Yuli sudah berdiri di depan mejanya.

“–eh? Ibu... hehe....”

“Dari mana, kamu?” tanya guru cantik itu dengan melotot.

Syifa menggaruk tengkuknya, tak mampu menjawab. Gadis itu menyenggol lengan Zoya meminta pertolongan. Bukannya menolong, Zoya malah pura-pura sibuk dengan buku sosiologi di depannya. Padahal jelas Syifa tahu, Zoya hanya membaca buku jika akan ujian.

“Tadi habis disuruh Pak Udin, Bu,” jawab Syifa pelan. Ia tak berani melakukan kontak mata dengan guru sosiologi yang juga wali kelasnya itu.

“Bombastic side eyes!” sempatnya membatin.

“Kali ini saya nggak kasih hukuman apapun karena kamu tidak masuk jam pertama, tapi lain kali—” Bu Yuli menjeda kalimatnya sebentar. “—awas aja, kamu!” lanjutnya yang kemudian kembali ke meja depan.

Syifa menghela nafas lega. Akhirnya hukuman hari ini tidak berlanjut. Mungkin karena ada anak baru di kelasnya, The power of anak baru. Karenanya, Bu Yuli bisa menjadi sedikit lebih lembut.

“Sudah, semua perhatikan ke depan,” ujar Bu Yuli mengalihkan pandanganya pada siswa baru di sampingnya.

“Ayo, perkenalkan diri kamu,” perintahnya.

Setelah dipersilakan oleh Bu Yuli, siswa baru itu mulai memperkenalkan diri. Ia berdeham pelan, mencoba mengusir rasa canggung yang mengganjal tenggorokannya.

“Halo semuanya. Kenalin, gue Nathaniel Kavin Abraham. Kalian boleh panggil Natha atau Kavin, salam kenal.”

Pandangannya sempat bertemu dengan gadis yang duduk kaku di bangku paling depan. Ia tersenyum simpul, lalu berkata, “Gue pindahan dari SMA Cempaka, Semarang. Semoga bisa berteman dengan baik.”

“Bukan, bukan dia. Dia orang yang berbeda.” Syifa mencoba meyakinkan dirinya sendiri, sekuat tenaga.

“Baik, silakan duduk di bangku yang masih kosong.” Bu Yuli mempersilakan.

“Setelah Ibu keluar, jangan ada yang ikut keluar. Tetap di dalam sampai guru mata pelajaran selanjutnya masuk,” pesan guru cantik itu. Ia lalu melenggang pergi, menenteng pouch favoritnya.

...

Bel istirahat pertama berbunyi. Suara sorak langsung menggema di dalam kelas, diiringi suara buku-buku yang ditutup penuh semangat. Pelajaran sejarah barusan sukses membuat sebagian besar dari mereka nyaris tertidur.

“Ayok, Joy, gue laper belum sarapan.”

Syifa yang lebih dulu membereskan alat tulisnya, terduduk lesu sejak tadi. Perutnya keroncongan—cacing-cacing di dalam seolah berdemo, menuntut hak sarapan setelah sejak pagi hanya diisi air minum.

“Makannya, kalo hari Senin, tuh, bangun pagi! Mampus lo kena karma, gara-gara kemaren ninggalin gue!” serunya seraya tertawa. Menertawakan sahabatnya satu itu.

“Yee... gue bangun telat ‘kan, gara-gara nemenin lo seneng-seneng juga semalem,” balas Syifa tidak terima. Keduanya mulai berjalan meninggalkan kelas menuju kantin.

“Kita ‘kan pulangnya baru jam sepuluh, masih sore kali.” Zoya menatap sahabatnya curiga.

“Setela gue sama Brian nganterin lo balik, lo nggak langsung tidur, kan? Ngapain aja lo?” Zoya menyelidik, tentu saja dengan tatapan curiga yang dibuat-buat.

“Makan,” sahut Syifa enteng.

“Makanan yang gue bungkus dari Kafe itu ‘kan banyak. Jadinya gue makan dulu deh sebelum tidur. Dari pada besok di minta adek gue.”

“Makan mulu, badan kerempeng lo! Minimal jadi daging, lah,” sindir Zoya usil.

Syifa membalas dengan tinjuan kecil dipundak sahabatnya. Tidak marah, mereka sudah bisa berteman dengan saling mencela satu sama lain. Bukannya persahabatan seperti itu yang paling bermakna? Ya, paling tidak itu menurut mereka.

Di tengah ramainya siswa yang memenuhi kantin, Zoya sigap bergerak ke antrean mie ayam—satu-satunya menu dengan antrean paling pendek. Sementara itu, Syifa bertugas menjaga tempat duduk mereka, agar tidak diambil siswa lain saat keduanya meninggalkannya.

Syifa memainkan ponselnya sembari menunggu Zoya kembali membawa pesanan mereka. Membalas pesan-pesan yang tidak sempat ia buka tadi pagi.

Dari banyaknya nomor yang mengiriminya pesan, hanya ada satu nama yang membuat tangannya tertarik untuk mengetikkan balasan disana. Mikaeel Sean Samudra:

“Selamat pagi.”

“Semangat ya, buat hari ini.”

Syifa Adnin Ivana:

“Pagi juga.”

“Iya, lo juga semangat, ya”

Baru saja menekan tombol kirim, Syifa melihat status online di nomor itu. Buru-buru ia mematikan data seluler ponselnya untuk mencegah percakapan lebih panjang lagi antara dirinya dan cowok itu.

“Woy, Fa! Bantuin bawa buruan!”

Syifa langsung bangkit begitu Zoya meneriakinya kencang, minta bantuan membawakan pesanan mereka.

“Oke, tunggu.”

Ia menghampiri Zoya, membawa nampan berisi dua mangkuk Mie Ayam. Sedangkan Zoya membawa dua gelas es teh sebagai minumannya. Tapi kemudian....

Brakk!!

“Woy, nggak punya mata lo ya!”

Emosi Syifa langsung meledak begitu seseorang dengan sengaja menabraknya sehingga dua mangkuk mie ayam bawaannya jatuh berceceran.

“Upss, sorry. Nggak sengaja, say,” sahut cewek itu terkesan meledek.

Gadis yang memakai seragam berbeda dengan SMA Merah Putih itu berdiri congkak di sertai dua temannya yang berdiri di sisi kanan dan kirinya.

Syifa tidak mempedulikan Jasmine yang sekarang entah sedang apa mereka berada di sekolah ini. Ia sibuk membereskan pecahan mangkuk dibantu Zoya yang juga nampak geram dengan sikap gadis sok cantik itu.

“Mendingan lo jadi pembantu di rumah gue aja, cocok soalnya,” lanjut Jasmine, tertawa lepas.

Syifa memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya yang cukup populer di sekolahnya maupun di sekolah lain. Prestasinya sudah cukup membuat namanya dikenal kemana-mana.

“Kalo punya mulut di jaga, ya!” Zoya maju sembari menodongkan pecahan beling ditangannya.

“Lo disekolahin biar pinter, songong banget mulut lo! Mau gue robek pake beling?!”

Semua siswa-siswi yang ada di kantin seolah diperintah untuk diam dan menyaksikan pertengkaran mereka. Beberapa dari mereka bahkan ada yang merekam kejadian ini dengan ponselnya. Zoya tersenyum miring melihat adanya ketakutan di wajah lawannya. Walaupun tidak terlalu kentara karena dia pandai memainkan ekspresi, tapi matanya tidak bisa berbohong.

“Udah, Joy. Biarin aja,” ujar Syifa melerai. Tatapannya beralih ke arah Jasmine yang kini terdiam karena Zoya belum menurunkan tangannya dari depan wajahnya.

Melihat Zoya yang semakin emosi, Syifa menarik tangannya ke belakang, dan ia sendiri berdiri di depan Zoya untuk menghadapi langsung geng kurang kerjaan dari sekolah lain itu.

“Ternyata, yang orang lain omongin tentang lo bener.” Syifa mengibaskan rambut kecoklatan nya ke belakang.

“Dan gue, nggak perlu buang waktu buat ngeladenin jamet kayak lo.”

Syifa mundur, menarik tangan Zoya untuk secepat mungkin pergi dari tempat itu. Tak lupa mengucapkan maaf pada semua orang di sekitarnya yang pastinya merasa terganggu dengan pertengkaran mereka, dan berjanji akan mengganti rugi mangkuknya pada Mang Udin yang berjualan Mie Ayam.

“Tunggu!” seru Jasmine ketika Syifa dan Zoya sudah berada di pintu kantin.

“Emang orang lain ngomong apa tentang gue?”

Syifa berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang dan mendapati wajah penasaran milik gadis sok cantik itu. Sebuah senyum penuh arti mengembang di bibirnya—tanpa niat sedikit pun untuk menjawab. Ia lalu melenggang keluar dari kantin, tak menyadari tatapan sinis seorang siswa yang diam-diam memotret dirinya dari jarak cukup dekat.