Pacarku Menikah dengan Orang Lain Salah Sebut Nama
1/20
Bab 1

Salah Sebut Nama

"Yank, suapin dong apelnya." Suara Arema terdengar lembut dan manja.

"Oke sayang, aaa … buka mulutnya," balas Rino dengan senyum khasnya. Di tangannya ada potongan apel yang sudah ia kupas rapi.

Arema terkekeh kecil, lalu membuka mulutnya sambil memiringkan kepala. Rino menyuapinya dengan senyum yang lebar, lalu menatap wajah kekasihnya yang tampak polos di bawah cahaya lampu ruang tamu.

Hari itu adalah hari libur. Mereka tidak ke mana-mana, hanya duduk santai di sebuah taman yang sudah dua tahun mereka datangi bersama. Di meja ada semangkuk buah, dan dua cangkir teh hangat.

Suasana begitu damai seolah tidak ada yang bisa mengusik kebahagiaan sederhana itu.

Arema tersenyum. "Aku jadi manja banget, ya. Padahal bisa nyuap sendiri."

"Gak papa, biar aku aja, Ma." Rino menatapnya. "Kamu capek kerja seharian, sekarang giliran aku yang manjain kamu."

Ucapan itu membuat pipi Arema sedikit memerah. Ia menyandarkan kepala di bahu Rino, menikmati momen kecil yang selalu membuatnya merasa istimewa. Dua tahun menjalin hubungan, belum sekalipun Rino membuatnya kecewa. Ia selalu ada di saat Arema butuh tempat bersandar. Setidaknya, itu yang selama ini ia percaya.

Namun di balik hangatnya suasana, ada hal kecil yang luput dari perhatiannya. Tatapan Rino sore itu berbeda. Ada kegugupan yang samar, entah karena lelah, atau karena sesuatu yang disembunyikan.

Tiba-tiba ... ting!

Suara notifikasi ponsel terdengar nyaring. Lampu layar ponsel Rino menyala, menampilkan nama yang hanya sempat terlihat sekilas sebelum ia cepat-cepat mematikannya.

Arema mengerutkan kening. "Siapa, Yank, kok nggak diangkat?"

Rino tampak gugup sepersekian detik, lalu tersenyum dibuat-buat. "Em, biasa. Temenku cerewet ngajak mancing terus."

Nada suaranya datar, tidak seperti biasanya. Biasanya, Rino akan langsung mengangkat telepon siapa pun, apalagi kalau itu teman-temannya. Tapi kali ini, ia justru menutup layar, menaruh ponsel terbalik di atas meja, dan berusaha mengalihkan perhatian.

"Temen mancing?" Arema menatapnya heran.

"Biasanya kamu langsung angkat, kan?"

"Ya, males aja. Lagi sama kamu. Ganggu banget kalo ngobrol sama mereka sekarang."

Arema diam. Ada perasaan aneh yang menelusup pelan. Sikap Rino terasa janggal, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi Arema menahan diri untuk tidak berpikir macam-macam. Ia berusaha percaya, karena selama ini, Rino tidak pernah memberinya alasan untuk curiga.

Suasana kembali hening. Rino mengambil potongan apel lain, mencoba mengembalikan suasana yang tadi sempat nyaman. Tapi saat ia hendak menyuapkan lagi, mulutnya justru mengucap sesuatu yang membuat hati Arema bergetar aneh.

"Vher, ayo suap-suapan lagi." Ucapannya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar.

Arema terdiam. Potongan apel di tangannya terhenti di udara. Dahi perempuan itu langsung berkerut.

"Vher?" tanyanya pelan, suaranya serak karena terkejut. "Kamu tadi manggil siapa?"

Rino membeku sepersekian detik, lalu tertawa gugup. "Heh? Gak kok, kamu salah denger kali. Aku bilang, Sayang, ayo suap-suapan lagi."

Arema menatapnya tanpa berkedip. "Gak, aku jelas denger. Kamu bilang Vher. Itu siapa?"

Rino cepat-cepat menunduk, pura-pura sibuk memotong apel lagi. "Ya ampun, Rema sayang, kamu baper banget. Mungkin lidahku keseleo."

Arema menghela napas panjang. Ia tidak ingin memperpanjang. Tapi hatinya menolak diam. Nama itu terdengar asing, tapi entah kenapa terasa menohok.

Mereka melanjutkan makan, tapi suasana sudah berubah. Tawa yang tadi mengalir kini menguap. Arema berusaha menahan diri agar tidak terlihat curiga, sementara Rino berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Lima menit kemudian, layar ponsel Rino kembali menyala. Kali ini Arema sempat melirik sekilas. Nama yang tertera di layar membuat dadanya terasa sesak.

Vheronika

Hanya itu. Satu nama, tapi cukup untuk membuat hatinya berdebar.

Ponsel itu bergetar terus-menerus di atas meja. Rino buru-buru meraihnya dan menekan tombol senyap. Wajahnya tegang. "Aduh, temenku ini ngeselin banget, nggak tau waktu."

"Temen yang namanya Vheronika?" Arema menatapnya lurus. "Baru, ya, temennya?"

Rino tersenyum kaku. "I-iya, kenalan barusan. Orangnya rame, suka bercanda."

"Cewek?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, pelan tapi tajam.

Rino menelan ludah. "Gak penting, Ma. Udah, makan aja dulu. Nih, suap lagi." Ia berusaha tersenyum, tapi senyum itu terasa asing di mata Arema.

Hening. Yang terdengar hanya detik jam di dinding. Arema menatap piring di hadapannya tanpa benar-benar melihat. Ada sesuatu di dada yang terasa berat, semacam firasat buruk yang belum bisa dijelaskan.

Selama dua tahun mereka bersama, Rino selalu terbuka. Tidak ada rahasia di antara mereka. Tapi kali ini, Arema tahu, ada sesuatu yang Rino sembunyikan.

Ia mengenali setiap perubahan kecil pada wajah pria itu, caranya menghindar dari tatapan, caranya tersenyum yang tidak setulus biasanya, dan nada suaranya yang bergetar setiap kali ia ditanya soal telepon tadi.

Arema menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia tak ingin langsung menuduh.

"Rin," panggilnya lembut.

"Hm?"

"Kamu baik-baik aja, kan? Akhir-akhir ini kayaknya sering ngelamun."

Rino tertawa kecil. "Aku? Baik-baik aja, kok. Cuma capek kerja."

Arema menatapnya lama. "Capek kerja atau capek bohong?"

Ucapan itu membuat Rino terdiam. Senyum di wajahnya hilang. "Ma, kamu kenapa ngomong gitu?"

Arema menggeleng cepat, menatap ke arah lain. "Gak. Aku cuma ngerasa kamu aneh belakangan ini."

Rino mendesah pelan. "Kamu kebanyakan mikir. Aku gak aneh, cuma mungkin butuh terlalu capek aja."

Kata-kata itu malah membuat hati Arema semakin perih. Mungkin cuma capek aja, itu kalimat yang sering diucapkan orang yang mulai ingin menjauh.

Ia mencoba tersenyum, meski matanya mulai terasa panas. "Oke. Tapi kalau ada apa-apa, kamu tau aku selalu ada buat kamu, kan?"

Rino menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Iya, aku tau."

Setelah itu, tidak ada percakapan lagi. Arema memilih membereskan meja, sementara Rino sibuk dengan ponselnya yang ia sembunyikan di pangkuan. Dari sudut mata, Arema melihat jemari Rino bergerak cepat mengetik pesan, lalu tersenyum samar. Senyum yang tidak pernah ia lihat sejak tadi.

Hatinya kembali tercekat. Ia berpura-pura sibuk mengumpulkan sampah di meja, tapi pikirannya penuh tanda tanya. Siapa Vheronika? Kenapa nama itu terus muncul? Dan kenapa setiap kali ponsel itu berdering, Rino tampak gelisah?

Ia menggigit bibir, menahan emosi yang mulai naik. Dalam hati, ia masih berharap dugaannya salah. Ia tidak mau mengubah cinta yang selama ini ia jaga menjadi curiga. Tapi firasat buruk sudah menempel di dadanya, menolak pergi.

Beberapa menit kemudian, Rino mendekat. "Ma, kita pulang yuk, aku ada urusan dikit."

"Urusan apa?"

"Temenku ngajak ketemu. Ada bisnis kecil, gitu."

Arema ingin menahan, tapi ia sadar tidak bisa memaksa. "Ya udah ayok."

Rino mengangguk cepat. Ia mengambil jaket, ponsel, dan kunci motor, lalu mengantar Arema sampai depan rumahnya. Kemudian pria itu pergi begitu saja. Tidak ada pelukan, tidak ada cium kening seperti biasanya. Hanya suara pintu yang menutup perlahan, meninggalkan keheningan yang terasa asing.

Arema berdiri lama di dekat pintu. Dadanya terasa sesak, matanya panas, tapi tak satu pun air mata jatuh. "Yank, suapin dong apelnya." Suara Arema terdengar lembut dan manja.

"Oke sayang, aaa … buka mulutnya," balas Rino dengan senyum khasnya. Di tangannya ada potongan apel yang sudah ia kupas rapi.

Arema terkekeh kecil, lalu membuka mulutnya sambil memiringkan kepala. Rino menyuapinya dengan senyum yang lebar, lalu menatap wajah kekasihnya yang tampak polos di bawah cahaya lampu ruang tamu.

Hari itu adalah hari libur. Mereka tidak ke mana-mana, hanya duduk santai di sebuah taman yang sudah dua tahun mereka datangi bersama. Di meja ada semangkuk buah, dan dua cangkir teh hangat.

Suasana begitu damai seolah tidak ada yang bisa mengusik kebahagiaan sederhana itu.

Arema tersenyum. "Aku jadi manja banget, ya. Padahal bisa nyuap sendiri."

"Gak papa, biar aku aja, Ma." Rino menatapnya. "Kamu capek kerja seharian, sekarang giliran aku yang manjain kamu."

Ucapan itu membuat pipi Arema sedikit memerah. Ia menyandarkan kepala di bahu Rino, menikmati momen kecil yang selalu membuatnya merasa istimewa. Dua tahun menjalin hubungan, belum sekalipun Rino membuatnya kecewa. Ia selalu ada di saat Arema butuh tempat bersandar. Setidaknya, itu yang selama ini ia percaya.

Namun di balik hangatnya suasana, ada hal kecil yang luput dari perhatiannya. Tatapan Rino sore itu berbeda. Ada kegugupan yang samar, entah karena lelah, atau karena sesuatu yang disembunyikan.

Tiba-tiba ... ting!

Suara notifikasi ponsel terdengar nyaring. Lampu layar ponsel Rino menyala, menampilkan nama yang hanya sempat terlihat sekilas sebelum ia cepat-cepat mematikannya.

Arema mengerutkan kening. "Siapa, Yank, kok nggak diangkat?"

Rino tampak gugup sepersekian detik, lalu tersenyum dibuat-buat. "Em, biasa. Temenku cerewet ngajak mancing terus."

Nada suaranya datar, tidak seperti biasanya. Biasanya, Rino akan langsung mengangkat telepon siapa pun, apalagi kalau itu teman-temannya. Tapi kali ini, ia justru menutup layar, menaruh ponsel terbalik di atas meja, dan berusaha mengalihkan perhatian.

"Temen mancing?" Arema menatapnya heran.

"Biasanya kamu langsung angkat, kan?"

"Ya, males aja. Lagi sama kamu. Ganggu banget kalo ngobrol sama mereka sekarang."

Arema diam. Ada perasaan aneh yang menelusup pelan. Sikap Rino terasa janggal, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi Arema menahan diri untuk tidak berpikir macam-macam. Ia berusaha percaya, karena selama ini, Rino tidak pernah memberinya alasan untuk curiga.

Suasana kembali hening. Rino mengambil potongan apel lain, mencoba mengembalikan suasana yang tadi sempat nyaman. Tapi saat ia hendak menyuapkan lagi, mulutnya justru mengucap sesuatu yang membuat hati Arema bergetar aneh.

"Vher, ayo suap-suapan lagi." Ucapannya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar.

Arema terdiam. Potongan apel di tangannya terhenti di udara. Dahi perempuan itu langsung berkerut.

"Vher?" tanyanya pelan, suaranya serak karena terkejut. "Kamu tadi manggil siapa?"

Rino membeku sepersekian detik, lalu tertawa gugup. "Heh? Gak kok, kamu salah denger kali. Aku bilang, Sayang, ayo suap-suapan lagi."

Arema menatapnya tanpa berkedip. "Gak, aku jelas denger. Kamu bilang Vher. Itu siapa?"

Rino cepat-cepat menunduk, pura-pura sibuk memotong apel lagi. "Ya ampun, Rema sayang, kamu baper banget. Mungkin lidahku keseleo."

Arema menghela napas panjang. Ia tidak ingin memperpanjang. Tapi hatinya menolak diam. Nama itu terdengar asing, tapi entah kenapa terasa menohok.

Mereka melanjutkan makan, tapi suasana sudah berubah. Tawa yang tadi mengalir kini menguap. Arema berusaha menahan diri agar tidak terlihat curiga, sementara Rino berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Lima menit kemudian, layar ponsel Rino kembali menyala. Kali ini Arema sempat melirik sekilas. Nama yang tertera di layar membuat dadanya terasa sesak.

Vheronika

Hanya itu. Satu nama, tapi cukup untuk membuat hatinya berdebar.

Ponsel itu bergetar terus-menerus di atas meja. Rino buru-buru meraihnya dan menekan tombol senyap. Wajahnya tegang. "Aduh, temenku ini ngeselin banget, nggak tau waktu."

"Temen yang namanya Vheronika?" Arema menatapnya lurus. "Baru, ya, temennya?"

Rino tersenyum kaku. "I-iya, kenalan barusan. Orangnya rame, suka bercanda."

"Cewek?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, pelan tapi tajam.

Rino menelan ludah. "Gak penting, Ma. Udah, makan aja dulu. Nih, suap lagi." Ia berusaha tersenyum, tapi senyum itu terasa asing di mata Arema.

Hening. Yang terdengar hanya detik jam di dinding. Arema menatap piring di hadapannya tanpa benar-benar melihat. Ada sesuatu di dada yang terasa berat, semacam firasat buruk yang belum bisa dijelaskan.

Selama dua tahun mereka bersama, Rino selalu terbuka. Tidak ada rahasia di antara mereka. Tapi kali ini, Arema tahu, ada sesuatu yang Rino sembunyikan.

Ia mengenali setiap perubahan kecil pada wajah pria itu, caranya menghindar dari tatapan, caranya tersenyum yang tidak setulus biasanya, dan nada suaranya yang bergetar setiap kali ia ditanya soal telepon tadi.

Arema menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia tak ingin langsung menuduh.

"Rin," panggilnya lembut.

"Hm?"

"Kamu baik-baik aja, kan? Akhir-akhir ini kayaknya sering ngelamun."

Rino tertawa kecil. "Aku? Baik-baik aja, kok. Cuma capek kerja."

Arema menatapnya lama. "Capek kerja atau capek bohong?"

Ucapan itu membuat Rino terdiam. Senyum di wajahnya hilang. "Ma, kamu kenapa ngomong gitu?"

Arema menggeleng cepat, menatap ke arah lain. "Gak. Aku cuma ngerasa kamu aneh belakangan ini."

Rino mendesah pelan. "Kamu kebanyakan mikir. Aku gak aneh, cuma mungkin butuh terlalu capek aja."

Kata-kata itu malah membuat hati Arema semakin perih. Mungkin cuma capek aja, itu kalimat yang sering diucapkan orang yang mulai ingin menjauh.

Ia mencoba tersenyum, meski matanya mulai terasa panas. "Oke. Tapi kalau ada apa-apa, kamu tau aku selalu ada buat kamu, kan?"

Rino menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Iya, aku tau."

Setelah itu, tidak ada percakapan lagi. Arema memilih membereskan meja, sementara Rino sibuk dengan ponselnya yang ia sembunyikan di pangkuan. Dari sudut mata, Arema melihat jemari Rino bergerak cepat mengetik pesan, lalu tersenyum samar. Senyum yang tidak pernah ia lihat sejak tadi.

Hatinya kembali tercekat. Ia berpura-pura sibuk mengumpulkan sampah di meja, tapi pikirannya penuh tanda tanya. Siapa Vheronika? Kenapa nama itu terus muncul? Dan kenapa setiap kali ponsel itu berdering, Rino tampak gelisah?

Ia menggigit bibir, menahan emosi yang mulai naik. Dalam hati, ia masih berharap dugaannya salah. Ia tidak mau mengubah cinta yang selama ini ia jaga menjadi curiga. Tapi firasat buruk sudah menempel di dadanya, menolak pergi.

Beberapa menit kemudian, Rino mendekat. "Ma, kita pulang yuk, aku ada urusan dikit."

"Urusan apa?"

"Temenku ngajak ketemu. Ada bisnis kecil, gitu."

Arema ingin menahan, tapi ia sadar tidak bisa memaksa. "Ya udah ayok."

Rino mengangguk cepat. Ia mengambil jaket, ponsel, dan kunci motor, lalu mengantar Arema sampai depan rumahnya. Kemudian pria itu pergi begitu saja. Tidak ada pelukan, tidak ada cium kening seperti biasanya. Hanya suara pintu yang menutup perlahan, meninggalkan keheningan yang terasa asing.

Arema berdiri lama di dekat pintu. Dadanya terasa sesak, matanya panas, tapi tak satu pun air mata jatuh.