Pagi itu udara masih dingin, embun masih menempel di daun-daun pisang di belakang rumah. Suara ayam berkokok terdengar bersahutan, menandai awal hari yang baru.
Arema berdiri di depan gerobak martabak miliknya, bisnis turun temurun dari orang tuanya. Ia menata bahan-bahan dengan langkah pelan. Tangannya mengaduk adonan sambil menatap kosong ke arah jalan yang masih sepi. Aroma mentega dan susu kental manis biasanya cukup untuk membuatnya bersemangat, tapi pagi ini rasanya berbeda. Ada sesuatu yang menyesak di dadanya, seperti beban yang belum selesai semalam.
Ia masih memikirkan kejadian itu, suara Rino yang gugup, panggilan telepon yang tidak diangkat, dan kata "Vher' yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
Arema mencoba menepis ingatan itu, tapi semakin berusaha melupakan, semakin jelas semuanya muncul di kepalanya.
"Udahlah, mungkin cuma salah denger," gumamnya lirih sambil menuang adonan ke atas wajan panas.
Ceceran adonan menimbulkan suara desis yang khas. Ia menaburkan gula, lalu menambahkan sedikit mentega. Uap panas naik perlahan, memenuhi udara dengan aroma manis yang menenangkan. Namun di balik semua itu, pikirannya masih berputar-putar.
"Kenapa aku jadi kek gini, sih?" batinnya. "Baru juga kemarin ketemu Rino, tapi rasanya aneh banget."
Suara kendaraan lalu-lalang di jalan mulai terdengar. Arema melirik ke seberang, beberapa anak sekolah berjalan beriringan sambil tertawa kecil. Ia tersenyum hambar. Entah mengapa, tawa orang lain justru membuat hatinya terasa makin sepi.
Beberapa menit berlalu dalam hening, hingga tiba-tiba terdengar suara dari depan gerobaknya.
"Mbak, martabak manis rasa cokelat keju satu."
Arema tersentak kecil. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis muda berdiri di sana. Rambutnya ikal pendek, kulitnya sawo matang, dan tatapannya netral tanpa ekspresi berlebihan.
"Oh, i-iya, Mbak. Sebentar ya," ucap Arema terbata, sedikit gugup karena terkejut. Ia segera menyiapkan adonan baru, menyalakan kompor, dan mulai bekerja.
Tangannya sedikit bergetar saat menabur cokelat dan keju. Biasanya semua gerakannya cepat dan terlatih, tapi kali ini terasa canggung. Seolah pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Setelah martabak matang, ia memotong dan membungkusnya hati-hati. Gadis itu menerima bungkusan itu tanpa banyak bicara, membayar, lalu pergi begitu saja. Arema memperhatikan langkah gadis itu menjauh hingga hilang di tikungan. Entah kenapa, pandangan itu terasa menggantung di benaknya.
Ia menatap wajan kosong di depannya. "Kok hari ini perasaanku gak enak banget ya." Suaranya nyaris tak terdengar.
Beberapa pelanggan lewat, tapi hanya sekadar melirik tanpa berhenti. Arema duduk di kursi kecilnya, menatap kosong ke arah jalan. Udara mulai hangat, tapi suasana hatinya tetap dingin.
Satu jam berlalu. Arema masih melamun, hingga tiba-tiba suara langkah cepat terdengar lagi. Ia mendongak dan terkejut saat melihat gadis yang sama datang kembali, kini dengan wajah kesal dan tangan memegang bungkusan martabak.
"Mbak, gimana sih jualannya? Ini martabak apa upil sih? Asinnya minta ampun!"
Arema terpaku. "Lho, maaf, Mbak, mungkin aku salah kasih garam, aku pikir gula," ucapnya cepat, wajahnya pucat. Tangannya refleks menyentuh dadanya. "Aku buatin lagi aja ya, gak usah bayar."
Namun gadis itu menggeleng kasar. "Gak usah! Aku udah gak mood. Nih kamu makan sendiri!" katanya ketus sambil melempar bungkusan itu ke meja gerobak. Kertasnya terbuka, isi martabak terjatuh sebagian ke lantai yang berdebu.
Arema terpaku, tak mampu berkata apa pun. Gadis itu pergi begitu saja tanpa menoleh. Beberapa orang yang lewat hanya menatap sesaat, lalu berlalu dengan tatapan iba.
Angin siang berhembus pelan. Kertas pembungkus martabak bergoyang di atas meja, dan aroma manis bercampur asin itu tiba-tiba terasa menyakitkan bagi Arema.
Air mata menetes perlahan di pipinya. "Ya Tuhan, ada apa denganku hari ini?" bisiknya parau.
Ia mengusap air matanya dengan ujung lengan, tapi semakin diusap, semakin deras air mata itu jatuh.
Ia menatap gerobak tuanya. Papan kayu yang sudah mulai pudar warnanya itu seakan memantulkan kembali kenangan ayah dan ibunya dulu berdiri di sana, tersenyum saat melayani pembeli bersama. Kini hanya ia seorang diri, berjuang menahan hati yang sedang goyah.
"Kenapa semuanya kerasa berat banget, sih?" ucapnya lirih. Suara itu tenggelam di antara deru kendaraan yang lewat.
Ia berdiri perlahan, lalu mulai membereskan dagangannya. Tangan yang biasanya cekatan kini bergerak lambat. Ia menutup toples-toples bahan, mematikan kompor, dan menggulung tenda kecil di atas gerobak.
"Udahlah aku pulang aja."
Langkahnya berat, tapi ia tetap memaksakan diri menuntun gerobak menuju rumah. Sepanjang jalan, pikirannya melayang. Antara malu karena kejadian tadi, dan sesak karena bayangan Rino yang tak mau pergi dari kepala.
Arema terus melangkah pulang dengan langkah gontai. Matahari sudah mulai condong ke barat, sinarnya terasa perih di mata, seolah menertawakan nasibnya yang sial hari ini. Plastik berisi bahan-bahan martabak ia jinjing lemah, sementara pikirannya masih berputar pada ucapan kasar gadis tadi. Hatinya nyeri, bukan hanya karena dimarahi pembeli, tapi juga karena pikirannya masih melayang pada sikap aneh Rino kemarin.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya, Bu Salma, sedang menyapu halaman. Wanita itu menatap Arema dengan dahi berkerut.
"Lho, jam berapa ini, kok udah pulang? Emang dagangannya udah habis?" tanya ibunya dengan nada heran.
Arema menunduk, tidak berani menatap mata ibunya. Ia hanya menggeleng pelan, menaruh bahan dagangan di dapur tanpa bicara sepatah kata pun.
"Kenapa dia, Yah?" tanya Bu Salma pada suaminya, Wawan, yang tengah memperbaiki kursi bambu di ruang tamu.
Wawan hanya mengangkat bahu, "Biarin dulu, Bun. Mungkin capek. Nanti juga cerita sendiri."
Arema berlari masuk kamar dan mengunci pintu. Begitu punggungnya bersandar ke pintu, air matanya pecah. Ia menutup mulut agar tangisnya tak terdengar, namun suaranya tetap keluar lirih.
"Kenapa sih aku kayak gini? Baru dimarahin orang aja rasanya kayak pen bunuh diri,” katanya parau. Ia menatap jari-jarinya yang masih berbau mentega dan tepung, tangan yang biasa membuat orang lain tersenyum karena martabak buatannya, kini terasa sia-sia.
Ia menunduk, menatap ponselnya yang tergeletak di kasur. Notifikasi dari Rino tak ada. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar.
"Ah, aku kenapa sih, mikir Rino terus," bisiknya dengan nada getir. "Cuma chat doang, mungkin aja cewek itu emang temennya. Lagian aku juga punya temen cowok dan suka chat biasa juga."
Namun kata-kata itu terasa hambar di telinga sendiri. Ia tahu, hatinya tak semudah itu percaya. Tatapan gugup Rino waktu ponselnya berdering semalam terus terputar di kepala. Dan panggilan 'Vher' itu .…
Arema memejamkan mata, berusaha meyakinkan diri. "Mungkin aku salah denger. Iya, mungkin dia cuma kepleset ngomong."
Tapi setiap kali ia mencoba berpikir logis, bayangan Rino dengan seseorang lain menghantui pikirannya. Ia memeluk bantal erat-erat, seolah benda itu bisa menenangkan luka di dadanya.
Beberapa jam kemudian ....
Suara ketukan lembut terdengar dari luar kamar. "Rema, buka, Nak. Makan dulu, udah sore." Suara Bu Salma terdengar lembut, tapi Arema masih enggan menjawab.
"Nanti aja, Bu. Aku gak laper,” sahutnya pelan, berusaha menahan isak.
"Kalau lagi sedih, jangan dipendem terus, Nak. Mending keluar, makan bareng. Nanti malah sakit," ucap ibunya lagi.
Arema menggigit bibir. Ia ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat. Akhirnya ia hanya diam, menatap foto dirinya bersama kedua orang tuanya yang terpajang di dinding. Di foto itu, ia tersenyum lebar, mengenakan celemek lusuh kesayangannya saat pertama kali ikut berjualan martabak di usia 15 tahun. Ia ingat betapa bangganya waktu itu, betapa bahagianya bisa meneruskan usaha keluarga.
Namun kini, rasa bangga itu berubah jadi beban. Semua terasa menekan, dari pekerjaan, pelanggan, bahkan dari cinta yang mulai ia ragukan.
"Kenapa aku jadi bingung gini," gumamnya lirih sambil menatap langit-langit kamar. "Aku cuma pengin hidup tenang, dagang lancar, Rino setia. Itu aja."
Ia menarik napas panjang, menghapus air mata, lalu beranjak duduk di tepi kasur. "Mungkin besok harus lebih semangat. Aku gak boleh kalah cuma gara-gara satu pelanggan dan pikiran buruk."
Meski mencoba meneguhkan hati, matanya tetap sayu. Dalam diam, ia berharap semoga esok pagi ada kabar baik, baik dari Rino, maupun dari dagangannya.Pagi itu udara masih dingin, embun masih menempel di daun-daun pisang di belakang rumah. Suara ayam berkokok terdengar bersahutan, menandai awal hari yang baru.
Arema berdiri di depan gerobak martabak miliknya, bisnis turun temurun dari orang tuanya. Ia menata bahan-bahan dengan langkah pelan. Tangannya mengaduk adonan sambil menatap kosong ke arah jalan yang masih sepi. Aroma mentega dan susu kental manis biasanya cukup untuk membuatnya bersemangat, tapi pagi ini rasanya berbeda. Ada sesuatu yang menyesak di dadanya, seperti beban yang belum selesai semalam.
Ia masih memikirkan kejadian itu, suara Rino yang gugup, panggilan telepon yang tidak diangkat, dan kata "Vher' yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
Arema mencoba menepis ingatan itu, tapi semakin berusaha melupakan, semakin jelas semuanya muncul di kepalanya.
"Udahlah, mungkin cuma salah denger," gumamnya lirih sambil menuang adonan ke atas wajan panas.
Ceceran adonan menimbulkan suara desis yang khas. Ia menaburkan gula, lalu menambahkan sedikit mentega. Uap panas naik perlahan, memenuhi udara dengan aroma manis yang menenangkan. Namun di balik semua itu, pikirannya masih berputar-putar.
"Kenapa aku jadi kek gini, sih?" batinnya. "Baru juga kemarin ketemu Rino, tapi rasanya aneh banget."
Suara kendaraan lalu-lalang di jalan mulai terdengar. Arema melirik ke seberang, beberapa anak sekolah berjalan beriringan sambil tertawa kecil. Ia tersenyum hambar. Entah mengapa, tawa orang lain justru membuat hatinya terasa makin sepi.
Beberapa menit berlalu dalam hening, hingga tiba-tiba terdengar suara dari depan gerobaknya.
"Mbak, martabak manis rasa cokelat keju satu."
Arema tersentak kecil. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis muda berdiri di sana. Rambutnya ikal pendek, kulitnya sawo matang, dan tatapannya netral tanpa ekspresi berlebihan.
"Oh, i-iya, Mbak. Sebentar ya," ucap Arema terbata, sedikit gugup karena terkejut. Ia segera menyiapkan adonan baru, menyalakan kompor, dan mulai bekerja.
Tangannya sedikit bergetar saat menabur cokelat dan keju. Biasanya semua gerakannya cepat dan terlatih, tapi kali ini terasa canggung. Seolah pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Setelah martabak matang, ia memotong dan membungkusnya hati-hati. Gadis itu menerima bungkusan itu tanpa banyak bicara, membayar, lalu pergi begitu saja. Arema memperhatikan langkah gadis itu menjauh hingga hilang di tikungan. Entah kenapa, pandangan itu terasa menggantung di benaknya.
Ia menatap wajan kosong di depannya. "Kok hari ini perasaanku gak enak banget ya." Suaranya nyaris tak terdengar.
Beberapa pelanggan lewat, tapi hanya sekadar melirik tanpa berhenti. Arema duduk di kursi kecilnya, menatap kosong ke arah jalan. Udara mulai hangat, tapi suasana hatinya tetap dingin.
Satu jam berlalu. Arema masih melamun, hingga tiba-tiba suara langkah cepat terdengar lagi. Ia mendongak dan terkejut saat melihat gadis yang sama datang kembali, kini dengan wajah kesal dan tangan memegang bungkusan martabak.
"Mbak, gimana sih jualannya? Ini martabak apa upil sih? Asinnya minta ampun!"
Arema terpaku. "Lho, maaf, Mbak, mungkin aku salah kasih garam, aku pikir gula," ucapnya cepat, wajahnya pucat. Tangannya refleks menyentuh dadanya. "Aku buatin lagi aja ya, gak usah bayar."
Namun gadis itu menggeleng kasar. "Gak usah! Aku udah gak mood. Nih kamu makan sendiri!" katanya ketus sambil melempar bungkusan itu ke meja gerobak. Kertasnya terbuka, isi martabak terjatuh sebagian ke lantai yang berdebu.
Arema terpaku, tak mampu berkata apa pun. Gadis itu pergi begitu saja tanpa menoleh. Beberapa orang yang lewat hanya menatap sesaat, lalu berlalu dengan tatapan iba.
Angin siang berhembus pelan. Kertas pembungkus martabak bergoyang di atas meja, dan aroma manis bercampur asin itu tiba-tiba terasa menyakitkan bagi Arema.
Air mata menetes perlahan di pipinya. "Ya Tuhan, ada apa denganku hari ini?" bisiknya parau.
Ia mengusap air matanya dengan ujung lengan, tapi semakin diusap, semakin deras air mata itu jatuh.
Ia menatap gerobak tuanya. Papan kayu yang sudah mulai pudar warnanya itu seakan memantulkan kembali kenangan ayah dan ibunya dulu berdiri di sana, tersenyum saat melayani pembeli bersama. Kini hanya ia seorang diri, berjuang menahan hati yang sedang goyah.
"Kenapa semuanya kerasa berat banget, sih?" ucapnya lirih. Suara itu tenggelam di antara deru kendaraan yang lewat.
Ia berdiri perlahan, lalu mulai membereskan dagangannya. Tangan yang biasanya cekatan kini bergerak lambat. Ia menutup toples-toples bahan, mematikan kompor, dan menggulung tenda kecil di atas gerobak.
"Udahlah aku pulang aja."
Langkahnya berat, tapi ia tetap memaksakan diri menuntun gerobak menuju rumah. Sepanjang jalan, pikirannya melayang. Antara malu karena kejadian tadi, dan sesak karena bayangan Rino yang tak mau pergi dari kepala.
Arema terus melangkah pulang dengan langkah gontai. Matahari sudah mulai condong ke barat, sinarnya terasa perih di mata, seolah menertawakan nasibnya yang sial hari ini. Plastik berisi bahan-bahan martabak ia jinjing lemah, sementara pikirannya masih berputar pada ucapan kasar gadis tadi. Hatinya nyeri, bukan hanya karena dimarahi pembeli, tapi juga karena pikirannya masih melayang pada sikap aneh Rino kemarin.
Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya, Bu Salma, sedang menyapu halaman. Wanita itu menatap Arema dengan dahi berkerut.
"Lho, jam berapa ini, kok udah pulang? Emang dagangannya udah habis?" tanya ibunya dengan nada heran.
Arema menunduk, tidak berani menatap mata ibunya. Ia hanya menggeleng pelan, menaruh bahan dagangan di dapur tanpa bicara sepatah kata pun.
"Kenapa dia, Yah?" tanya Bu Salma pada suaminya, Wawan, yang tengah memperbaiki kursi bambu di ruang tamu.
Wawan hanya mengangkat bahu, "Biarin dulu, Bun. Mungkin capek. Nanti juga cerita sendiri."
Arema berlari masuk kamar dan mengunci pintu. Begitu punggungnya bersandar ke pintu, air matanya pecah. Ia menutup mulut agar tangisnya tak terdengar, namun suaranya tetap keluar lirih.
"Kenapa sih aku kayak gini? Baru dimarahin orang aja rasanya kayak pen bunuh diri,” katanya parau. Ia menatap jari-jarinya yang masih berbau mentega dan tepung, tangan yang biasa membuat orang lain tersenyum karena martabak buatannya, kini terasa sia-sia.
Ia menunduk, menatap ponselnya yang tergeletak di kasur. Notifikasi dari Rino tak ada. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar.
"Ah, aku kenapa sih, mikir Rino terus," bisiknya dengan nada getir. "Cuma chat doang, mungkin aja cewek itu emang temennya. Lagian aku juga punya temen cowok dan suka chat biasa juga."
Namun kata-kata itu terasa hambar di telinga sendiri. Ia tahu, hatinya tak semudah itu percaya. Tatapan gugup Rino waktu ponselnya berdering semalam terus terputar di kepala. Dan panggilan 'Vher' itu .…
Arema memejamkan mata, berusaha meyakinkan diri. "Mungkin aku salah denger. Iya, mungkin dia cuma kepleset ngomong."
Tapi setiap kali ia mencoba berpikir logis, bayangan Rino dengan seseorang lain menghantui pikirannya. Ia memeluk bantal erat-erat, seolah benda itu bisa menenangkan luka di dadanya.
Beberapa jam kemudian ....
Suara ketukan lembut terdengar dari luar kamar. "Rema, buka, Nak. Makan dulu, udah sore." Suara Bu Salma terdengar lembut, tapi Arema masih enggan menjawab.
"Nanti aja, Bu. Aku gak laper,” sahutnya pelan, berusaha menahan isak.
"Kalau lagi sedih, jangan dipendem terus, Nak. Mending keluar, makan bareng. Nanti malah sakit," ucap ibunya lagi.
Arema menggigit bibir. Ia ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat. Akhirnya ia hanya diam, menatap foto dirinya bersama kedua orang tuanya yang terpajang di dinding. Di foto itu, ia tersenyum lebar, mengenakan celemek lusuh kesayangannya saat pertama kali ikut berjualan martabak di usia 15 tahun. Ia ingat betapa bangganya waktu itu, betapa bahagianya bisa meneruskan usaha keluarga.
Namun kini, rasa bangga itu berubah jadi beban. Semua terasa menekan, dari pekerjaan, pelanggan, bahkan dari cinta yang mulai ia ragukan.
"Kenapa aku jadi bingung gini," gumamnya lirih sambil menatap langit-langit kamar. "Aku cuma pengin hidup tenang, dagang lancar, Rino setia. Itu aja."
Ia menarik napas panjang, menghapus air mata, lalu beranjak duduk di tepi kasur. "Mungkin besok harus lebih semangat. Aku gak boleh kalah cuma gara-gara satu pelanggan dan pikiran buruk."
Meski mencoba meneguhkan hati, matanya tetap sayu. Dalam diam, ia berharap semoga esok pagi ada kabar baik, baik dari Rino, maupun dari dagangannya.